Sang Musafir

Sang Musafir
Mantingan Melawan Pendekar Seribu Kitab


__ADS_3

UNEDITED VERSION


***


ORANG tua itu hanya membalas dengan senyum mengerikan sebelum kembali melangkahkan kaki. Masuk lebih dalam ke tokonya. Dengan begitu, Mantingan tidak dapat menahannya lagi.


Tak berselang lama kemudian, orang tua itu kembali dengan sekeropak lontar berukuran besar di tangannya. Senyum mengerikan itu masih belum hilang dari wajahnya.


Si orang tua berkelebat melompati meja tokonya. Sigap dan teramat cekatan gerakannya, bagaikan tubuhnya itu bukan telah uzur dan bungkuk. Melihat dari gerakannya saja, Mantingan sudah mampu menilai bahwa orang tua itu memiliki kemampuan yang tidak sembarang. Jika seandainya ia harus bertarung dengannya, itu akan menjadi hal yang merepotkan.


Mantingan segera mundur satu langkah. Menjaga jarak. Dalam ancang-ancang siap menarik Pedang Kiai Kedai yang tersoren di pinggangnya.


“Bukankah dikau menginginkan kitab ini, Anakku? Mengapa sekarang seolah saja menolaknya?”


“Bapak masih belum menjawab pertanyaanku.” Suara Mantingan memang terdengar halus serta ramah, tetapi tatapan matanya justru mengatakan yang sebaliknya.


Sambil tersenyum lebar, orang tua itu berkata, “Daku dikenal sebagai Pendekar Seribu Kitab, yang hingga setua ini masih belum sempurna hidupnya sebab belum menemukan lawan sepadan. Mungkin hanya oleh dikaulah daku dapat disempurnakan.”


“Bapak menginginkan pertarungan?” Mantingan bertanya tajam.


“Tidak salah lagi.” Orang tua yang menyebut dirinya sebagai Pendekar Seribu Kitab itu menganggukkan kepala.


“Sungguh-sungguhkah yang Bapak katakan itu?” Sekali lagi Mantingan memastikan, sebab betapa pun tidak ada jaminan sama sekali bahwa dirinya dapat mengalahkan Pendekar Seribu Kitab dan keluar hidup-hidup.


Ia pernah mendengar sedikit tentang Pendekar Seribu Kitab dari gurunya. Tidak banyak memang, tetapi sekiranya cukup untuk menyatakan jati diri orang tua itu.

__ADS_1


“Pendekar Seribu Kitab selalu mencuri kitab-kitab pilih tanding di telaga persilatan untuk kemudian dijualnya pada jaringan-jaringan rahasia. Terkadang dirinya menyalin kitab-kitab curiannya dan menjualnya dengan harga yang jauh lebih murah, meski hasilnya tidak sebagus kitab sejati. Dunia persilatan mengetahui bahwa pekerjaannya itu sama sekali tidak dapat dibenarkan, tetapi tetap saja masih banyak pendekar yang membeli kitab darinya,” jelas gurunya suatu ketika.


Jadi, berkemungkinan besar bahwa kitab yang Mantingan inginkan dari Pendekar Seribu Kitab itu sebenarnyalah hasil curian, sebab belum tersiar kabar bahwa Pendekar Seribu Kitab mengambil kitab secara baik-baik atau bahkan menciptakan kitabnya sendiri.


“Daku memanglah pendekar beraliran hitam, tetapi janganlah dikau menganggap diriku senang bermain-main dengan perkataan,” jawab Pendekar Seribu Kitab sedikit tersinggung.


Mantingan mengembuskan napas panjang sebelum berkata, “Mengapakah kiranya Bapak sangat menginginkan kesempurnaan yang berupa kematian?”


“Sebab itulah cara satu-satunya menghentikan diriku sendiri untuk berbuat kekejian. Seseorang pendekar harus membunuhku karena tidaklah mungkin daku tega mengangkat nyawaku sendiri.”


Jadi begitukah alasan Pendekar Seribu Kitab meminta kesempurnaan? Jika alasan tersebut memang benar adanya, maka Mantingan merasa memiliki kewajiban untuk membunuhnya.


Sungguh masuk akal bila ternyata Pendekar Seribu Kitab telah banyak berbuat keji, sebab mencuri kitab-kitab pilih tanding bukan berarti tidak melawan pendekar-pendekar yang melindungi kitab tersebut.


Ditambah lagi dengan menyebarkan kitab-kitab pilih tanding itu ke jaringan bawah tanah dunia persilatan yang telah pasti berlaku keji tak pandang bulu, maka dapat dianggap bahwa Pendekar Seribu Kitab mengambil andil dalam kekejian mereka.


Dengan begitu, ditariklah Pedang Kiai Kedai dari sangkarnya. Begitu pula dengan Pedang Savrinadeya, yang hanya dengan mengalirkan sedikit tenaga dalam maka bilahnya akan membelah lilitan kain yang membungkusnya.


Maka begitulah kini Mantingan menggenggam pedang di masing-masing tangannya.


“Sudah daku duga, pahlawan tetaplah pahlawan. Meskipun mengaku tidak layak menjadi pahlawan, tetapi dirinya tetap bersikap seperti seorang pahlawan bersikap.” Pendekar Seribu Lontar terkekeh pelan sambi menyimpan keropak lontar incaran Mantingan ke dalam pakaiannya. “Dikau menguasai dua pedang rupanya, Anak? Tetapi daku melihat ada sesuatu yang aneh pada lengan kananmu, mengapa dililit begitu?”


Mantingan melirik lengan kayunya yang memang dililit bebat putih untuk menutupi rupa aslinya. Bahkan Rashid yang telah dekat dengan Mantingan sekalipun merasa tidak ada yang aneh dengan lengan kanannya. Memang patut diakui bahwa mata Pendekar Seribu Kitab sangatlah cermat.


“Kapankah kiranya Bapak akan menyerang? Ataukah diriku yang harus menyerang terlebih dahulu?” Mantingan tidak berbasa-basi, langsung menyebarkan nafsu pembunuhnya ke segala penjuru.

__ADS_1


“Baiklah jika Anak memang tidak senang bercakap-cakap basi, biarlah diriku yang menyerang terlebih dahulu. Tetapi, kurasa tempat ini tidaklah terlalu sesuai untuk bertarung. Tiada mengapa bila kita pindah keluar, bukan?” Mata pendekar tua itu melirik jendela terbuka yang letaknya tidak terlalu jauh dari mereka.


Mantingan balas mengangguk. Alasan apakah yang membuatnya tidak setuju? Bertarung di lantai kelima Perpustakaan Kotaraja ini hanya akan menyebabkan kekacauan yang tidak perlu.


Maka begitulah tak kurang dari sekejap mata kemudian, Mantingan berkelebat keluar melalui jendela yang terbuka itu, sedang Pendekar Seribu Kitab lekas-lekas menyusulnya!


Setelah keduanya berada di luar bangunan perpustakaan, Pendekar Seribu Kitab membuka serangan dengan mengirim serangan tapak!


Gulungan angin berwarna kehitaman melesat menuju dada Mantingan, yang dengan mudah saja ditangkis menggunakan Pedang Kiai Kedai oleh pemuda itu. Namun, dorongan dari angin itu tetap membuatnya terdorong cukup jauh ke belakang.


Ketika sedang menarik napas untuk melancarkan serangan balasan, Mantingan membeliakkan mata lebar-lebar. Betapa di dalam udara yang dihirupnya itu terdapat racun serbuk!


Kiai Guru Kedai pernah berkata, “Dapat pula racun disebarkan melalui udara, yakni dengan membuatnya menjadi serbuk-serbuk yang teramat sangat kecil dan ringan. Sebutir serbuk itu bila sampai terhirup telah cukup mengantar orang ke alam baka dalam hitungan sekedip mata.”


Bukankah itu berarti Mantingan akan mati hanya dalam sekedip mata setelah menghirup serbuk-serbuk racun tersebut? Lantas mengapakah hingga setelah lebih dari dua kejap mata tidak pula dirinya mati atau hanya sekadar merasakan sakit?


Mantingan tidak memiliki waktu untuk memikirkan hal tersebut. Jika dirinya tidak mati meski telah menghirup ribuan butir serbuk racun, maka itu bagus. Tetapi jika pada akhirnya ia tetap mati, maka itu juga tidak mengapa, bukankah Mantingan menganggap bahwa dirinya telah mati sejak malam itu?


Segera saja Mantingan balas menyerang dengan Tapak Angin Darah setelah melepaskan Pedang Kiai Kedai di tangan kirinya untuk sejenak, tetapi serangan itu pun terlalu mudah untuk dihindari bahkan ditangkis pula oleh Pendekar Seribu Kitab.


Mereka lantas meluncur turun ke bawah sambil terus bertukar serangan tapak dari kejauhan. Perlahan-lahan jarak antara keduanya semakin menipis, hingga dapat dipastikan keduanya akan berada dalam jarak pertarungan dekat setelah menyentuh tanah. Namun sebelum hal itu terjadi, Mantingan dan Pendekar Seribu Kitab tidak henti-hentinya bertukar serangan!


______


catatan:

__ADS_1


Episode bulan: 13/40


__ADS_2