Sang Musafir

Sang Musafir
Kekuatan Tak Terduga dari Chitra Anggini


__ADS_3

KEDUANYA terdiam cukup lama di tengah deru kelebatan pasangan-pasangan pendekar lain yang masih bertarung dengan alangkah sengitnya. Beberapa tubuh tergeletak di sekitar mereka, tanpa nyawa di raga, dengan kekasih yang menangis di sisinya.


Tak seberapa lama dari itu, Chitra Anggini kembali berkata, “Dikau tidak boleh terus bergantung pada perempuan licik itu. Dengan kematianku, maka kau tidak membutuhkan bantuan semacam apa pun darinya.”


Chitra Anggini kembali melesat menerjang Mantingan dengan sebuah serangan tapak pamungkas. Pemuda itu lekas menyilangkan kedua lengannya untuk menangkis serangan tersebut, dan sekali lagi dirinya terdorong sejauh beberapa depa ke belakang!


Raut wajah Mantingan berubah seketika setelah menerima serangan tersebut. Tampak jauh lebih bersungguh-sungguh ketimbang sebelumnya. Jelas saja masih sulit menduga bahwa Chitra Anggini memiliki kekuatan yang sedemikian besarnya dengan hanya bertangan kosong!


Maka begitulah kemudian Mantingan tidak lagi bermain-main dengan pertarungannya. Pula dengan caranya memperlakukan Chitra Anggini, tak lagi dirinya pandang dengan mata terpejam-pejam, serangan gadis itu semakin berbahaya hingga sampai pada taraf mematikan.


Kini Mantingan menggunakan kedua tapaknya untuk menghadapi serangan demi serangan yang datang dari perempuan itu. Sungguh rupanya Chitra Anggini tidak pantas diberi rasa remeh, seluruh serangannya dapat langsung membunuh seorang pendekar setingkat Pemangku Langit hanya dengan sekali lancaran!


Satu-dua kali, Mantingan balas menyerang perempuan itu, meski yang disasarnya bukanlah titik-titik mematikan atau bahkan hanya sekadar udara kosong. Serangan-serangan tersebut hanya dimaksudkan untuk menggertak dan menekan gadis itu, sehingga suatu ketika akan menampakkan celah terbuka, yang langsung dapat Mantingan manfaatkan untuk melumpuhkannya dengan totokan.


Namun, agaknya Chitra Anggini telah mengetahui apa yang Mantingan rencanakan, sehingga dirinya lekas melompat mundur jauh-jauh ke belakang dan melepas diri dari jebakan tersebut.


Mantingan tersenyum kecut. Dirinya telah menduga bahwa Chitra Anggini pastinya akan mengetahui apa yang telah disiasatkannya. Mereka telah bersama untuk waktu yang cukup lama, dan hubungan mereka pun boleh dikata sangat dekat, bagaimanakah kiranya tidak dapat membaca isi pikiran satu sama lain?


Membalas senyum kecut Mantingan, Chitra Anggini justru tersenyum lebar. Selebar-lebarnya sebuah senyuman, sehingga bahkan tampak amat mengerikan. Dan tetiba saja, kedua telapak tangannya memancarkan sinar kehijauan yang berpijar terang, bagaikan dua lembar daun segar berselimut embun yang dipancar sinar mentari pagi!

__ADS_1


“Inginkah dikau merasakan salah satu jurus dari Seni Tarian Daun Jatuh?” Chitra Anggini berbisik pelan, terdengar amat pelan, sungguh pelan hingga bagaikan sebuah desisan ular semata, tetapi sungguh mampu ditangkap telinga Mantingan dengan sejelas-jelasnya!


Seketika itu pula Mantingan dilanda kebimbangan. Dirinya dapat merasakan pancaran aura pembunuh yang begitu kuat setelah Chitra Anggini mengeluarkan jurus tersebut. Dan jelaslah dirinya mengetahui pula betapa nyawa akan melayang bila tidak menerapkan suatu jurus untuk mengimbangi perempuan itu, meski hal tersebut dapat saja melukai Chitra Anggini dengan cukup parah!


Angin bersiur cukup kuat saat itu. Memainkan rambut panjang Mantingan yang setengah tergelung dan setengah tergerai. Tatapan pemuda itu tetaplah kosong. Matanya terbuka, tetapi bagai tidak melihat sesuatu apa pun. Pikirannya masih terus berkecamuk dalam kebimbangan.


“Daku tidak akan menunggumu selesai berpikir, Mantingan!” Setelah berkata begitu, Chitra Anggini melesatkan tubuhnya sejurus ke arah pemuda itu sambil membentak keras.


Pandangan mata Mantingan yang semulanya kosong itu pada akhirnya berganti menjadi tajam, setajam-tajamnya sebuah ketajaman pandangan, hingga bahkan pandangannya itu telah membuat Chitra Anggini sedikit kehilangan kendali atas serangannya!


Dengan kecepatan yang sungguh tak dapat terbahasakan, tetapi dengan kelambatan yang selambat-lambatnya bagi penalaran Mantingan, ditariklah sebelah kakinya ke belakang, sebelah tangannya ke depan, dan sebelah tangan lainnya terbentang ke hadapan. Dirinya mempraktikkan salah satu sikap dari Pendirian Manusia; Sikap Menghadang!


Ketika tapak bercahaya hijau milik Chitra Anggini hanya tinggal sejengkal dari wajahnya, di saat itulah Mantingan bergerak dengan kecepatan yang bukan alang kepalang!


Tangannya yang terjulur ke depan berhasil menghambat pergerakan Chitra Anggini, sedangkan tangannya yang terbentang ke atas berjaya menghantam leher Chitra Anggini dan memberikannya sebuah totokan pelumpuh!


Semua itu berlangsung dengan kecepatan yang telah melebihi kata cepat sekalipun. Bahkan Chitra Anggini tidak sempat terkejut saat tubuhnya tidak bisa digerakkan sama sekali, sebegitulah kecepatannya!


Sejurus setelah perempuan itu diam di tempatnya, Mantingan segera mengangkat tangannya ke arah petugas perhelatan yang mengawasi jalannya pertarungan di sebuah menara yang terletak pada pinggir lapangan. Segera setelahnya, petugas itu memberi tanda kepada mereka untuk menepi.

__ADS_1


Mantingan menyentuh bagian belakang leher Chitra Anggini sambil berbisik pelan, “Mereka telah memberi kita izin untuk menghentikan pertarungan. Jika kau kembali menyerangku nanti, maka bukan tidak mungkin mereka akan sangat mencurigai kita.”


Tepat setelah mengatakan itu, Mantingan segera melepaskan totokannya dengan hanya menepuk bagian belakang leher gadis itu. Chitra Anggini dapat kembali bergerak dengan leluasa, tetapi matanya sungguh tajam menatap Mantingan, seolah dengan melepaskan totokannya justru membuat perempuan itu tidak senang.


“Jika bukan karena pikiranku masih jernih, mungkin kau akan terkena masalah.” Chitra Anggini berkata begitu sambil berlalu ke tepi lapangan.


Kegiatan pertama dalam lelang itu, yang berupa pertarungan gila melawan pasangannya masing-masing, dengan cepat dapat diselesaikan.


Sebagian besar pasangan pendekar memilih untuk tidak membunuh satu sama lain, tetapi tak dapat dipungkiri bahwa sebagian kecilnya haus dengan kekuasaan, sehingga membunuh pasangannya sendiri bukanlah hal yang terlalu besar untuk dikorbankan.


Terhitung lebih dari 400 pendekar terkapar tak bernyawa di tengah Halaman Seribu Rumah Istana yang begitu luasnya. Bersimbah darah. Sebagian dengan kekasih hati yang masih menemani sambil menangis tersedu-sedu, sebagian lainnya ditinggalkan seorang diri.


Hingga tampaklah seorang pendekar lelaki yang tiba-tiba saja menyambar pedang pasangan yang baru saja dihabisinya itu. Para petugas perhelatan melesat secepat mungkin ke arahnya, tetapi sungguhlah mereka terlambat. Pedang tersebut telah menembus jantung sang pendekar lelaki, mengantarnya mati dalam senyuman tulus, berharap dapat bertemu kembali dengan kekasih hati di alam baka untuk sekadar menyampaikan maaf.


Semua pendekar yang dapat melihat kejadian itu hanya menggelengkan kepala dan mengembuskan napas berat, tanpa dapat berbuat sesuatu apa pun.


“Ini agak gila.” Chitra Anggini bergumam pelan. “Apakah yang sebenarnya diinginkan oleh Koying? Di satu sisi, mereka tampak seperti ingin mengubah pendirian-pendirian dasar dalam telaga dunia persilatan. Namun di sisi lain, mereka justru tampak ingin melestarikannya.”


Mantingan tidak dapat menjawab ucapan itu sama sekali. Apakah kiranya yang perlu ia balas?

__ADS_1



__ADS_2