Sang Musafir

Sang Musafir
Membutuhkan Sedikit Hiburan


__ADS_3

MANTINGAN menggali ingatan terdalamnya hingga ditemukanlah sepotong perkataan Kiai Guru Kedai.


“Pendekar tetaplah manusia; dan manusia tetaplah membutuhkan cinta. Dan engkau bertanya apakah yang salah jika pendekar jatuh cinta? Tentu saja jika cinta itu membutakan segala penglihatan lahir dan batinnya.”


Sekali lagi Mantingan membuka matanya, mengusir segala bentuk suara Rara yang telah menutupi pandangan batinnya untuk berpikir sesuai akal sehat.


Bolehkah jika Mantingan lebih percaya pada perkataan gurunya ketimbang perkataan Dara yang dapat dikatakan sama sekali tidak berdasar itu?


Bukankah pendekar adalah manusia, dan betapa pun manusia ialah makhluk pecinta?


Bukankah manusia dapat mencintai segalanya dengan apa pun bentuknya itu? Tidak semata kecintaan pada manusia lawan jenis, manusia pun dapat mencintai manusia sesama jenis. Bahkan bukan saja dapat mencintai sesama manusia, manusia pun dapat mencintai benda semacam lukisan, patung, atau hal-hal lain yang tiada pernah terduga sekalipun.


Namun kecintaan pada siapakah atau pada apakah yang sebenar-benarnya harus dicintai segenap manusia?


Untuk itu, Kiai Guru Kedai melanjutkan perkataannya ketika menasihati Mantingan soal perkara cinta:


“Sebenar-benarnya kecintaan manusia adalah kecintaan kepada Gusti.”


Mantingan mengingat bagaimana dirinya merasa tidak setuju waktu itu sehingga sekali lagi melontarkan pertanyaan.


“Bagaimanakah kiranya mencintai sesuatu yang tak berbentuk dan tidak pula berwujud? Bagaimanakah kiranya mencintai sesuatu yang daku sendiri tidak mengetahui apakah Dia wanita ataukah lelaki?”


Dan Mantingan ingat betul gurunya tertawa seketika setelah pertanyaan tersebut terlontarkan.


“Biar kutanyakan pada dikau sebelum kujawab pertanyaan itu: apakah kiranya yang akan kaulakukan untuk orang yang kaucintai?”


“Tergantung siapakah yang kucintai itu, Kiai Guru.”


“Anggaplah itu Rara-mu.”


Kala itu Mantingan menjawab sambil berpikir, “Pertama, daku akan terus bersamanya ... lalu tidak akan pernah mengingkari cinta dan kepercayaannya ... akan kulakukan segalanya untuk yang kucintai itu, serta ... akan kukorbankan hidupku untuknya jika memang diperlukan. Tetapi yang paling terpenting adalah memahami keinginannya, kurasa begitu.”

__ADS_1


“Benar.” Kiai Guru Kedai menganggukkan kepalanya. “Jawabanmu yang terakhir sangat benar malahan. Anggaplah sekarang yang kaucintai itu adalah Gusti. Dikau pahami dulu kehendak dan keinginannya, baru dikau bisa mencintainya.”


“Meskipun Dia tidak pernah menyampaikan maksud keinginannya kepadaku barang satu kali saja, Kiai Guru?”


“Dia tidak pernah menyampaikannya secara langsung kepadamu. Suatu saat nanti, engkau akan memahaminya sendiri melalui tabir alam semesta. Semoga Gusti selalu memberikan cintanya kepadamu.”


Mantingan memandang ke sekitar. Ditemukannya bahwa hari telah menjadi pagi. Langit gelap berganti menjadi penuh dengan semburat kejinggaan dan keunguan. Dari jendela kamarnya yang menghadap ke sebelah timur, Mantingan melihat setengah badan matahari yang seolah berusaha mendaki dari ujung samudra luas.


Sedang Mantingan masih pula berdiri di tempatnya sedari tengah malam tadi tanpa bergerak barang sejengkal pun. Nyata, kehadiran Rara ke dalam alam pikirnya sungguh membuat penglihatan batinnya tertutup betul-betul. Beruntunglah petuah dari Kiai Guru Kedai mampu menyelamatkannya dari keterhanyutan yang amat sangat menyesatkan itu.


Kendati telah berdiri semalaman tanpa jeda, Mantingan tidak merasakan kelelahan barang sedikit pun. Bagaimanakah ia mampu melewati itu sedang seharusnya seseorang akan langsung tak sadarkan diri jikalau berdiri terus menerus tanpa henti, meski kurang dari waktu setengah hari saja?


Mungkin istilah waktu berlalu begitu saja memang amat cocok dengan apa yang ia alami saat ini. Segalanya serasa berlalu begitu saja tanpa meninggalkan apa pun, kecuali tentunya lirih bisikan penuh kesedihan dari Rara yang sungguh tidak akan pernah dilupakannya seumur-umur.


Meskipun sama sekali tidak merasakan kelelahan maupun kantuk, Mantingan tetap merebahkan tubuhnya di atas ranjang dan mencoba untuk tertidur. Namun bagaimanakah kiranya ia mampu mendapatkan tidur nyenyak jikalau matanya terus terbuka? Bagaimanakah jika seisi kepalanya terus dipenuhi ingatan akan suara-suara Rara?


“Mulai cintakah engkau dengannya, Mantingan?”


“Mulai kauberi hati wanita itu, Mantingan?”


“Buang saja, Mantingan! Buanglah seperti dikau membuang cintamu padaku!”


“Buang! Buang! Buang sajalah!”


Mantingan seketika mencabut paksa kendi abu dari kalungnya itu dan menggenggamnya erat-erat menggunakan kedua tangannya seolah angin dapat saja mencuri dan membawa kabur kendi abu itu dengan memapas pula Bidadari Sungai Utara dari Javadvipa!


“Jika daku menjadi pendekar seperti dirimu, takkan pernah daku bermain-main dengan cinta.”


Mantingan menengkurapkan tubuhnya di atas ranjang. Kendi itu disimpannya rapat-rapat dalam dekapannya. Barang siapa pun jua tidak boleh menyentuh benda itu meski hanya sekejap mata jikalau masih berada dalam dekapannya! Tidak boleh!


***

__ADS_1


MANTINGAN terbangun ketika merasakan seseorang menggoyang-goyangkan tubuhnya. Diangkatlah kelopak matanya yang masih terasa berat sekali. Ditatapnya sosok orang yang berhasil membangunkannya itu.


“Akhirnya engkau terbangun, Saudara, kukira engkau tak sadarkan diri sebab terlalu larut menulis lontar.” Terpampang sosok Bidadari Sungai Utara dengan pakaian barunya yang berwarna-warni cerah. “Dikau membiarkan makan malammu basi, Saudara. Apakah sarapan ini hendak engkau perlakukan seperti itu pula?”


Mantingan mengangkat tubuh hingga terduduk di atas kasurnya. Kendi abu Rara masih berada dalam genggamannya, diam-diam disembunyikan di belakang punggung.


“Daku akan memakannya makanan itu, Saudari, maafkan soal makan malam yang kusia-siakan begitu saja.” Mantingan berkata pelan sambil tersenyum.


Namun Bidadari Sungai Utara agaknya berhasil menebak bahwa Mantingan sedang tidak baik-baik saja. Dahinya mengerut bingung. “Apakah telah terjadi sesuatu pada pekerjaanmu, Mantingan?”


“Tidak. Semuanya berjalan lancar dan aman.”


“Ada masalah pada kesehatanmu?”


Kini dahi Mantingan pun berkerut bingung. “Tidak pula, Saudari. Mengapakah engkau tiba-tiba bertanya seperti ini kepadaku?”


Bidadari Sungai Utara tidak menanggapi pertanyaan Mantingan, justru melemparnya dengan pertanyaan lain, “Jika bukan pekerjaan atau kesehatanmu, lalu apakah yang membuat dikau tampak tak baik-baik saja seperti ini, Saudara?”


Mantingan mengerutkan dahinya. “Kenapakah? Diriku merasa baik-baik saja selama ini.”


Gadis itu menatapnya tajam. “Penglihatanku tidak salah. Engkau tampak tidak sehat, entah itu tidak sehat badan atau tidak sehat pikiran; jelasnya, engkau tidak sedang sehat. Ini semua pasti disebabkan oleh karena pekerjaanmu memantrai lontar-lontar itu.” Bidadari Sungai Utara lalu mengetuk-ngetuk kepalanya dengan jari telunjuknya, berusaha berpikir. “Saudara, kurasa engkau membutuhkan sedikit hiburan.”


“Hiburan?” Mantingan mengangkat alisnya. “Di tengah pelabuhan seperti ini memangnya ada hiburan?”


“Mungkin memang tidak ada di sini. Tetapi ada di kota lain. Dan mungkin saja engkau akan merasa kembali senang setelah melihat tarian wanita-wanita wayang, bukan?”


Mendengar perkataan Bidadari Sungai Utara, Mantingan terbatuk-batuk.


___


catatan:

__ADS_1


Bonus episode spesial 70k like: 1/2



__ADS_2