
Kilat menyambar-nyambar, banyak kali dan di mana-mana. Angin tiba-tiba saja berembus kuat. Daun-daun kering maupun daun yang pegangannya lemah terhempas dari pohon, jatuh dan akan membusuk di tanah. Mantingan kembali mengadah ke langit, benar-benar mengerikan pemandangan ini. Andai saja ia melihat tiga tahun yang lalu, pastilah ia akan lari kocar-kacir ketakutan.
Api unggun menari-nari hampir tidak beraturan, menyambar-nyambar udara, hingga akhirnya Mantingan memutuskan untuk memadamkan api unggun, agar tidak menyambar salah satu bangunannya atau bahkan tendanya.
Lalu Mantingan masuk ke dalam tendanya, menutup tirai rapat-rapat.
Di dalam tendanya, Mantingan menyalakan lentera kecil. Sungguh terasa hangat dan nyaman di dalam tenda kecilnya itu.
Di dalam tenda itu terdapat kitab-kitab persilatan maupun kitab tentang Kembangmas. Untuk mengisi waktu luangnya, Mantingan membaca kitab-kitab itu. Walau ia sudah pernah membaca itu sebelumnya.
Tetapi Kiai Guru Kedai berkata, bahwa untuk benar-benar mendapat pemahaman akan suatu bacaan, perlu setidaknya enam kali pembacaan ulang.
Sedangkan Mantingan baru membaca kitab-kitab itu sebanyak satu kali. Dan setelah selesai membaca kitab, Mantingan akan mencoba menuliskan kembali kisah petualangannya. Sudah tiga tahun lamanya ia belum menulis kisah perjalanannya itu, karena selain gurunya melarang ia melakukan hal itu, Mantingan juga tidak ingin perhatian untuk latihannya terpecah oleh tulisannya.
Sedang Mantingan membaca kitab-kitab itu bersinar lentera kecil, hujan semakin menggila. Angin kencang mengguncangkan tenda Mantingan. Hingga lenteranya pun ikut bergoyang-goyang, hingga Mantingan tidak bisa tenang membaca kitab. Terlebih jika sudah seperti ini, Mantingan harus menutup atap ruang tanam. Atau jika tidak, angin bisa dan air masuk dan bisa merusak tanah bahkan tanaman itu sendiri.
Mantingan memasang capingnya, lalu melesat dengan kecepatan melebihi angin menuju ruang tanam. Cara Mantingan memandang tetesan air hujan kali ini sungguh berbeda saat Mantingan belum menjadi pendekar dulu. Kini Mantingan bisa melihat gerakan lambat dari tetesan-tetesan air hujan yang mengikuti arah angin itu. Mantingan pula dapat merasakan bagaimana ia menabrak setiap tetesan air hujan. Laju geraknya jauh lebih cepat ketimbang laju tetesan air hujan itu.
Bagi Mantingan, ini adalah pemandangan yang luar biasa. Untuk pertama kali dalam hidupnya.
Dengan kecepatan melebihi kecepatan angin ribut itu, Mantingan bisa dengan cepat sampai di ruang tanam. Benar sesuai dugaannya, Bunga Sari Ungu tengah bergoyang-goyang dihantam angin, tanah-tanah pula banyak terdapat lubang akibat tetesan air hujan. Dengan cepat Mantingan menutup atap ijuk atas ruangan, lalu mengikatnya kuat-kuat sebelum melesat kembali ke dalam tendanya.
Kini tubuh Mantingan setengah basah oleh air hujan. Ia menghela napas panjang, memilih untuk mematikan api lentera dan memulai samadhi.
***
__ADS_1
Ketika paginya tiba, Mantingan membuka mata. Hujan baru benar-benar berhenti, langit masih gelap tertutup awan. Mantingan tidur dalam posisi samadhi tadi malam, walau itu sebenarnya sulit jika dikatakan dalam kondisi tertidur.
Mantingan membuka tirai tenda yang semulanya tertutup rapat. Pemandangan cukup mengejutkan dapat dilihat dari perkemahan Mantingan. Becek di mana-mana, seakan-akan tanah adalah lumpur. Tempat api unggun basah kuyup, dan abu api unggun itu terpencar mengikuti aliran air hujan. Atap-atap ijuk dari bangunan di sekitar tenda terlihat lembab, sebagian atap ijuk terlihat rusak.
Mantingan kembali menarik napasnya, enggan mengeluh dan siap bekerja kembali. Lihatlah betapa hujan sebenarnya sangat tidak merugikan. Mantingan dapat membayangkan, betapa anak-anak desa bersorak gembira karena kemarau telah lewat.
Tetapi apakah yang terjadi selama masa lima tahun pemerintahan Punawarman? Apakah kemarau sudah dapat diatasi, hingga tidak terjadi lagi kematian akibat kehausan dan kelaparan? Mantingan percaya, bahwa Punawarman adalah raja yang baik dan raja yang mempedulikan kondisi rakyat di bawahnya.
Tiga tahun Mantingan melalui masa pelatihannya, dan itu tidak mendengar kabar Negeri Taruma. Mantingan kini ingin sekali rasanya pergi ke sebuah kedai, lalu mendengar kabar-kabar terkini dari perbincangan pelanggan kedai. Sedari dahulu, kedai terkenal sebagai tempat penyebaran berita paling cepat selain pasar.
Mantingan juga masih menunggu kabar tentang jalannya gejolak di Sundapura, dan terdapatkah kerajaan-kerajaan kecil yang memisahkan diri dari Tarumanagara.
Jika saja gejolak ini akan sangat merugikan rakyat, maka Mantingan merasa harus bergerak. Gurunya selalu menekankan, bahwa tujuan Mantingan menjadi pendekar haruslah tetap baik, termasuk untuk selalu membantu orang lemah tertindas yang ditemuinya.
Tepat saat Mantingan hendak menyimpan kembali perkakasnya ke dalam ruang penyimpanan, ia mendengar suara gemersak langkah kaki orang yang datang beramai-ramai. Mantingan awalnya waspada, tetapi sesaat kemudian menurunkan kewaspadaannya. Orang-orang itu datang dengan terbuka, bukan menyusup. Setelah meletakkan semua perkakas pada tempatnya, Mantingan bergerak untuk menyambut orang-orang yang datang itu.
“Mantingan!”
Tak jauh di depan Mantingan, Dara beserta orang-orang suruhan sedang berusaha menerobos semak belukar menuju tempat Mantingan berada. Mantingan melambaikan tangan dan tersenyum. Di hutan yang sepi seperti ini, bertemu dengan manusia merupakan anugerah tersendiri bagi Mantingan.
Hingga pada akhirnya Dara berhasil menerobos semak belukar dan menghampiri Mantingan, tetapi langkah gadis muda itu terhenti karena kakinya merasakan gatal luar biasa. Meski begitu, Dara tetap berusaha menunjukkan senyum pada Mantingan.
“Dara, adakah sesuatu?” Mantingan kemudian melihat orang-orang suruhan Dara yang masing-masingnya membawa banyak sekali barang, maka pahamlah Mantingan dengan maksud kedatangan Dara.
“Daku sudah berjanji pada dikau, maka daku akan tepati,” kata Dara masih dengan tersenyum.
__ADS_1
“Tidak perlu seperti ini ....”
“Tak mengapa, Mantingan, daku memiliki banyak uang dan dikau di sini membutuhkannya.” Dara melihat Mantingan dari atas sampai bawah, lalu menyunggingkan senyum aneh. “Masih saja pakai pakaian ketat ....”
Mantingan menepuk dahinya. “Aku lupa. Sebentar, biar aku ambil jubahku ....”
“Tidak perlu repot-repot.” Dara menahan Mantingan. “Daku sudah membawakan pakaian-pakaian yang cocok untuk anak petualang seperti dirimu.”
“Randu, bawa kemari!” Dara memanggil salah satu suruhannya.
Seseorang bernama Randu yang Mantingan kenal menghampiri dirinya, memberikan dua bundelan langsung pada Mantingan.
“Di dalam sini terdapat pakaian yang kumaksud untukmu, kau bisa langsung mencobanya nanti.”
“Dara, ini sangat tidak perlu.” Mantingan menolaknya dengan halus.
“Terima saja, Mantingan!”
Mantingan akhirnya menerima bundelan itu seraya berkata, “Terima kasih.”
____
catatan:
Waktu sepeminuman teh sekitar 20 sampai 30 menit.
__ADS_1