Sang Musafir

Sang Musafir
Pertarungan dengan Pendekar Tanpa Suara


__ADS_3

MANTINGAN memilih untuk tetap diam. Mengamati dan menilai keadaan. Betapa pada saat kedudukan lawan sama sekali tidak diketahui, tindakan gegabah sama sekali tidak diperlukan.


“Pahlawan Man, pastinya dikau telah mengetahui bahwa tujuanku mencarimu adalah untuk untuk menantang dikau bertarung sampai mati. Duhai, betapa daku merasa sedikit tidak setuju saat telaga persilatan menumpahkan wibawa Pemangku Langit kepada dikau. Dikau masih teramat muda, Pahlawan Man, terlalu muda malah. Dikau belum cukup menelan garam dunia persilatan. Kutaksir, dikau hanya menguasai satu-dua jurus andalan yang entah mengapa dapat membunuh begitu banyak pendekar tanpa keadaban sama sekali. Dikau hanyalah anak sapi baru lahir yang berlagak bisa mengalahkan seluruh harimau di hadapannya. Lantas bagaimanakah dengan diriku yang telah tiga puluh enam tahun berenang di telaga persilatan dengan segala kesusahannya? Ini sama sekali tidak adil, Pahlawan Man. Daku ada di sini untuk menegakkan keadilan yang sudah semestinya kudapatkan.”


Suara itu tetap terdengar halus dan lembut, tetapi jelas mengandung kebencian yang teramat besar. Siapa pun bisa merasakan itu. Ketika inilah Mantingan memutuskan untuk buka suara.


“Jika dikau berniat mengambil wibawa Pemangku Langit itu, maka ambil dan pergilah. Daku sama sekali tidak menginginkannya.” Mantingan berkata tenang.


“Dikau bersedia untuk kubunuh, wahai Pahlawan Man?”


Mantingan tersenyum tipis seraya menggelengkan kepala. “Sama sekali tidak.”


“Dikau berbicara omong kosong. Mengambil wibawa Pemangku Langit sama saja dengan membunuh pendekar yang memilikinya!” Suara itu mulai mengeras.


“Jika dikau memang menghendaki pertumpahan darah, maka daku merasa berhak untuk membela diri.”


“Itulah yang kuinginkan, Pahlawan Man: pertarungan. Daku berharap dengan pertarungan, dapat kurasakan satu-dua jurus yang membuat dikau dipuja-puja setengah mati oleh banyak orang. Bersiaplah.”


Desing puluhan pedang yang dicabut secara bersamaan seketika membuncah kesunyian malam. Hawa pembunuh begitu kentara hingga membuat udara malam yang sudah terasa sangat dingin menjadi tambah menusuk lagi.


Mantingan mengembuskan napas panjang sebelum mengeluarkan seluruh hawa pembunuh yang dimilikinya. Maka udara malam yang sedari awal memang telah teramat dingin, yang kemudian ditambah dingin serta menusuk lagi oleh hawa pembunuh dari lima puluh pendekar musuh, dan kini jauh-jauh lebih membekukan lagi setelah bertambahnya hawa pembunuh dari Mantingan yang besarannya bahkan melebihi hawa pembunuh dari 50 pendekar itu jika digabungkan!


Mantingan mengangkat hulu Pedang Savrinadeya hingga setinggi dada, dengan bilah yang berhadap-hadapan dengan wajahnya. Bersiap menerapkan Pendirian Manusia. Namun sebelum pertarungan benar-benar dimulai, terlebih dahulu ia berkata, “Kukira dikau tidak keberatan jika kita berhadapan satu melawan satu ketimbang dikau mesti menerjunkan lima puluh pendekar yang telah pasti akan terbuang sia-sia nyawanya.”


“Apakah dikau takut tidak bisa keluar hidup-hidup, Pahlawan Man?” Suara halus tanpa wujud itu kembali terdengar, membalas perkataan Mantingan dengan sinis.


Mantingan menggelengkan kepalanya pelan, lantas ia mengungkapkan isi pandangannya dengan jujur. “Lima puluh pendekar itu hanya akan mati sia-sia tanpa sempat membantumu sama sekali. Boleh daku katakan, mereka semua dapat kulumpuhkan hanya dalam waktu sekejap mata. Namun, daku baru akan melakukan itu jika mereka menyerangku terlebih dahulu. Jika mereka tidak menyerang, maka daku juga tidak akan menyerang. Maka, alangkah baiknya jika kita bertarung satu melawan satu.”


“Engkau benar-benar tampak sangat ketakutan saat ini, Pahlawan Man. Tetapi maafkanlah, daku bukan termasuk orang yang mudah untuk dikau tipu dengan segala ucapan manis dari mulut busukmu. Daku bukan orang-orang Taruma yang bodoh itu.”

__ADS_1


Mantingan kembali tersenyum sembari menggelengkan kepala. “Kalau begitu, tidak perlu berlama-lama lagi. Segeralah dikau memulainya, maka daku pula akan segera menyelesaikannya.”


“Sombong!”


Tepat setelah itu, terdengarlah suara kelebatan-kelebatan yang datang dari segala penjuru arah yang disertai pula dengan suara desing logam!


Mantingan memejamkan mata. Memusatkan segala daya pikiran dan perhatian. Lantas membuka mata. Memutar tubuhnya bagaikan baling-baling. Kilauan-kilauan logam memecah tetesan air hujan, berjumlah puluhan. Sebuah gulungan angin setipis benang, dengan panjang berbelas-belas depa, melesat secepat petir, membelah apa pun di depannya, yang niscaya jika terdapat seutas rambut maka terbelahlah menjadi tujuh bagian!


“Buk!”


“Buk!”


“Buk!”


Barang sekejap mata kemudian, bayangan-bayangan hitam menghantam tanah dengan lunglai tanpa daya, disertai dengan suara gedebuk yang tepat sebanyak lima puluh kali. Jika keadaan sedang terang-benderang, maka terpampanglah puluhan mayat yang bergelimpangan di sekitar Mantingan!


Terdengar dengusan napas tajam dari pemuda itu. Jelaslah kepada siapa dengusan tersebut diperuntukkan!


Suara halus tanpa wujud itu berganti dengan suara kelebatan angin. Namun, persoalan bukannya menjadi mudah, justru bertambah rumit dan genting! Suara kelebatan angin itu muncul dari empat arah mata angin dengan kecepatan tak terkirakan!


Mantingan tidak memiliki banyak waktu untuk berpikir. Serangan membingungkan ini dilakukan dengan teramat sangat mendadak. Pendekar manapun akan sulit menghalaunya. Nyawa akan melayang dalam waktu yang bahkan tidak memungkinkan mata untuk berkedip. Ini jelas saja telah menyamai kecepatan berpikir!


Dalam keadaan yang telah sedemikian mendesaknya itu, tiba-tiba saja Mantingan merasa seluruh tubuhnya laksana tersedot ke dalam sebuah lubang kecil, yang sedemikian kecil hingga rasa-rasanya tidak memungkinkan bahkan seekor semut pun untuk masuk ke dalam lubang itu.


Mantingan mengambang bebas tanpa terkendali. Di antara kekelaman tiada berujung. Di tengah kesunyian yang begitu sunyinya hingga menulikan pendengaran.


Mantingan memejamkan mata. Ia seperti pernah mengalami perasan ini sebelumnya. Perasaan tenggelam dalam lautan tak berdasar, dengan ketenangan yang sebenar-benarnya ketenangan. Dan ketika membuka matanya kembali, ia telah mengetahui apa yang sedang terjadi.


Dirinya sedang berada dalam keadaan Tanpa Ruang dan Tanpa Waktu! Di mana jiwanya telah benar-benar terlepas dari ruang dan waktu dunia, menyelam dalam samudra pikirannya yang bagai tanpa batas.

__ADS_1


Mantingan terkejut bukan main ketika menyadari bahwa kemampuan membaca pertanda miliknya berhasil mengenali empat suara kelebatan angin yang pula berasal dari empat penjuru mata angin itu! Ia mengetahui kelebatan manakah yang berasal dari tubuh sejati lawannya!


Meski dengan segala pertanyaan yang semakin bertumpuk-tumpuk di dalam pemikirannya, Mantingan tetap tidak akan membuang kesempatan untuk mengalahkan lawannya. Betapa kesempatan ini hanya datang selintas dan teramat sangat singkat.


Mantingan segera mengeluarkan dirinya dari keadaan Tanpa Ruang dan Tanpa Waktu, kembali pada kehakikatan dunia!


Maka begitulah dalam sekali tebasan panjang, Mantingan membelah dada lawannya yang lekas saja langsung jatuh tersungkur tepat di hadapannya.


Tangan dari pendekar yang nyata-nyatanya telah tampak berumur dengan kulit keriput dan jenggot putih panjang itu menggapai kaki Mantingan. Dia tidak terlihat seperti ingin memberi perlawanan terakhir yang jelas saja tidak akan berarti lagi, maka Mantingan merendahkan diri dengan berlutut dan menggenggam tangan pendekar sepuh itu.


“Pahlawan Man, maafkan daku yang telah larut dalam ketidakpuasan sehingga merepotkanmu untuk membunuh pria tua tak berharga seperti diriku ini. Engkau memang telah sepantasnya menyandang wibawa Pemangku Langit dengan segala kemampuan yang engkau miliki. Apalah arti daku yang tidak berbakat dalam ilmu bela diri ini, harus mengakui tunas unggul yang baru saja tumbuh.” Pendekar tua itu terbatuk beberapa kali. “Daku, Pendekar Tanpa Suara, menghaturkan penghormatan yang sedalam-dalamnya pada Pahlawan Man!”


Setelah berkata lantang seperti itu, nyawa Pendekar Tanpa Suara melayang dari raga. Tangannya yang masih tergenggam oleh Mantingan menjadi lunglai hingga akhirnya dibiarkan jatuh ke tanah.


Mantingan mengembuskan napas panjang sambil mengusap wajahnya yang basah oleh air hujan. Chitra Anggini yang telah menghampirinya itu lantas meremas pundak Mantingan, mengatakan dengan lembut bahwa pendekar tua itu telah sempurna jalan persilatannya.


___


catatan:


Daftar bonus episode sebelum 30 April:


Favorit 1370\= 2 episode [TERPENUHI]


Favorit 1400\= +3 episode [TERPENUHI]


Vote 950\= 2 episode [TERPENUHI]


Vote 1000\= +5 episode

__ADS_1


Event bonus episode selesai dengan tiga target dari empat target yang terpenuhi. Jujur saja, ini jauh lebih besar daripada harapan saya. Terima kasih bagi yang telah berkontribusi 🙏


__ADS_2