
Malam itu di halaman kediamannya, Mantingan duduk bersila dan menyerap tenaga dalam di sekitarnya. Memang di wilayah kediamannya, tidak terlalu banyak tenaga dalam yang bisa diserap, tetapi akan lebih baik untuk menyerapnya daripada tidak sama sekali.
Angin bersemilir pelan membelai pohon-pohon dan rumput di sekitar Mantingan. Mantingan tersenyum sebelum menyerap lebih banyak tenaga dalam lagi. Angin selalu membawa tenaga dalam, maka dari itulah banyak sekali pendekar-pendekar yang menyerap tenaga dalam di wilayah berangin seperti gunung atau yang lainnya.
Seorang prajurit yang diketahui namanya adalah Mandu berjalan perlahan-lahan mendekat kepada Mantingan. Hingga jaraknya cukup dekat, ia berbicara pelan agar dengan begitu tidak mengagetkan Mantingan.
“Saudara Man, Saudara Man ...."
Mantingan masih dengan posisi bersila dan mata terpejam mengangguk pelan dan memberi isyarat bagi Mandu untuk meneruskan ucapannya.
“Perwira memanggil dirimu. Ia berkata agar kau langsung saja ke tendanya,” tutur Mandu.
Mantingan membuka matanya perlahan sebelum menarik napas panjang. Ia tahu sesuatu yang tidak baik sedang atau akan terjadi.
“Terima kasih, Mandu.” Mantingan berkata pelan. Mandu mengangguk sebelum pergi dari halaman.
Mantingan berdiri dan meluruskan kakinya sebentar, dan dalam satu entakan kaki melesat pergi.
***
“Perwira memanggilku?” Mantingan berucap setelah ia masuk ke dalam tenda perwira.
Perwira terlihat membelakangi Mantingan. Terdengar helaan napas panjang darinya.
“Mantingan, aku harus menyampaikan kabar yang dibawa telik sandiku.” Perwira membalik badannya menghadap Mantingan, terlihat raut wajahnya yang gelisah. “Telik sandiku baru kembali tadi, ia melaporkan bahwa pasukan musuh sudah mulai bergerak. Kita harus mempersiapkan diri sebelum mereka benar-benar tiba di sini.”
Mantingan diam sejenak sebelum mengangguk. Ia tahu sedari awal bahwa hal ini cepat atau lambat akan terjadi.
__ADS_1
“Perwira, sahaya akan pasang semua Lontar Sihir yang kita punya. Sahaya juga akan mengabarkan prajurit-prajurit di kediaman untuk ke sini dan bersiap-siap.”
Perwira mengangguk. “Segera laksanakan, Man. Dan terima kasih atas segala kebaikan yang telah kau berikan.”
Mantingan tersenyum dan berkata, “Itu bukan masalah besar.”
Saat itu pula Mantingan berpamitan dan kembali ke kediamannya.
Mantingan meminta seluruh prajuritnya untuk dikumpulkan di halaman. Tiga belas prajurit segera berkumpul dalam kondisi siap, biasanya mereka dikumpulkan setiap tengah malamnya untuk menjalani latihan.
Tetapi ini terlalu dini untuk disebut tengah malam. Mantingan juga tidak terlihat membawa alat-alat yang biasa digunakan untuk latihan. Maka dengan sedikit rasa penasaran mereka menunggu.
“Kawan-kawan, malam ini sepertinya tidak akan ada latihan. Kalian harus kembali dan bersiap-siap. Musuh sudah bergerak, kita tidak tahu kapan mereka akan tiba, jadi lekas-lekaslah kembali.”
Ekspresi prajurit-prajurit itu berubah setelah mendengar ucapan Mantingan. Mereka tidak bisa menolak apa yang Mantingan perintahkan, karena memang itu sesuai perjanjian awalnya.
Di bawah bimbingan Mantingan, mereka hanya butuh selangkah saja untuk menjadi pendekar. Tentu mereka tidak ingin berpisah dengan Mantingan. Namun, Mantingan telah menekankan sebelumnya, bahwa apa yang mereka pelajari saat bersamanya harus berguna untuk pertempuran.
Mantingan menggeleng pelan. “Dengan kalian terus membela Kebenaran, maka itu akan jadi persembahan paling baik untukku.”
Prajurit-prajurit itu terdiam lagi. Mereka sudah menebak Mantingan akan berkata seperti itu. Apakah yang dituntut oleh orang baik seperti Mantingan?
“Aku ada sedikit pesan untuk kalian.” Mantingan berdeham beberapa saat sebelum melanjutkan, “jika di antara kalian ada yang berhasil hidup setelah bertempur, kembalilah ke sini untuk menguburkan saudara-saudara kalian yang gugur. Dan jika kalian semua berhasil bertahan, kembalilah ke sini untuk makan malam. Ingat kebiasaan kita, jika ingin makan malam, semua saudara harus berkumpul bersama, dan jika tidak lengkap maka tidak ada makan malam hari itu.”
Mereka mengangguk lemah. Agak berat rasanya jika salah satu dari mereka harus gugur dalam pertempuran setelah sekian lama bersama.
“Dan jika aku mati ....”
__ADS_1
“Saudara Man jangan berkata seperti itu! Kami siap melindungi Saudara Man dengan jiwa raga kami, Saudara Man tidak akan mati.”
Mantingan menggeleng pelan lalu tersenyum. “Jika aku ditakdirkan untuk mati, sebagai manusia aku bisa apa? Maka jika aku mati, bakarlah dan taruhlah abuku di bawah pohon rindang bersama kendi kecil yang ada bersamaku saat ini.”
Tiga belas prajurit itu ingin membantah lebih lanjut dan juga ingin mengatakan bahwa Mantingan tidak akan mati sebelum mereka semua mati, tetapi Mantingan memberi isyarat pada mereka untuk tidak membantah lagi.
“Sekarang kalian bisa mulai berkemas. Di masing-masing bundelan kalian telah aku sisipkan Lontar Sihir, simpan itu baik-baik dan gunakanlah di situasi mendesak.” Mantingan menyunggingkan senyum perpisahan. “Bubar.”
Barisan 13 prajurit terlatih itu bukan lagi prajurit yang cengeng di bawah pelatihan Mantingan. Walau mereka tahu perpisahan dengan Mantingan adalah hal yang sangat menyedihkan, mereka tetap membubarkan barisan berjalan kembali ke dalam kediaman untuk berkemas-kemas.
Selayaknya prajurit terlatih, mereka sadar bahwa malam ini mungkin saja adalah malam terakhir mereka.
***
Di bawah cahaya bintang yang berkelip, dan rembulan yang sejuk. Mantingan terus bergerak menjauhi kota setelah berhasil diam-diam keluar kota.
Mantingan bukannya ingin melarikan diri dari kota. Kepergiannya memang senyap, tetapi itu dilakukan bukan untuk melarikan diri. Mantingan melakukan hal itu dilandasi oleh kecurigaannya terdapat mata-mata di dalam pihak kawan. Ia tidak ingin pergerakannya diketahui oleh mata-mata musuh.
Tujuan Mantingan adalah mencari keberadaan musuh untuk memperkirakan besaran kekuatan musuh. Bahkan jika memungkinkan, Mantingan akan melumpuhkan pendekar-pendekar musuh yang dianggap berbahaya.
Mencari keberadaan sepasukan yang bergerak secara senyap bukanlah perkara mudah. Selain Mantingan harus bergerak sangat cepat, Mantingan juga perlu memasang penuh kewaspadaannya.
Jika saja ia bergerak cepat, tetapi tidak berwaspada, mungkin saja dirinya akan langsung menabrak barisan balatentara musuh.
Itu bukanlah hal yang baik. Walaupun Mantingan adalah pendekar tingkat tinggi, tetapi dikeroyok satu pasukan sekaligus bisa membuatnya tewas di tempat.
Beberapa saat Mantingan melesat, akhirnya ia menemukan tanda-tanda pergerakan tentara musuh. Dari kejauhan ia mendengar suara derap langkah kaki. Lantas saja Mantingan menghentikan lajunya dan hinggap di sebuah pohon beringin yang rimbun.
__ADS_1
Mantingan menyamarkan dirinya di antara rimbunan pohon. Berkawan desis ular dan suara burung hantu yang seakan mengusirnya, Mantingan berusaha menghiraukan itu.
Derap langkah pasukan itu semakin mendekat. Tentu mereka tidak bergerak secara baris-membaris, sebab jalur yang mereka lewati adalah perhutanan. Mereka berjalan di bawah pepohonan tanpa membentuk barisan, meskipun begitu derap langkah mereka tetap terdengar jelas. Tanda kekuatan musuh yang besar.