
Jaring raksasa itu langsung mengurung Gema di dalamnya. Serangan yang begitu mendadak sehingga bahkan pendekar itu tidak sempat mengubah raut wajahnya. Serangan yang telah begitu cepat dan singkat itu dilanjuti kembali oleh serangan yang pula begitu cepat dan singkat!
Mantingan mengeluarkan lima lembar Lontar Sihir Penikam Elang, yang langsung saja mengirimkan aksara demi aksara untuk menikam tubuh Gema Samudradvipa. Betapa kemudian terdengar jerit kesakitan serta terperciknya cairan darah, sebab memanglah aksara-aksara yang menikam tubuh Gema dari segala penjuru itu mampu membuat luka tusuk yang setara dengan tusukan pisau terbang. Maka begitulah tubuh Gema terajam sedemikian rupa hingga menjadi sulit untuk dikenali.
Mantingan menyabetkan pedangnya untuk mengakhiri penderitaan Gema Samudradvipa.
***
MANTINGAN hinggap di pucuk pohon, sedang tubuh Gema yang telah terbelah dua itu terus meluncur ke bawah. Ia kemudian memandangi Pedang Savrinadeya yang berlumuran darah. Sulit dipercaya, tetapi baru saja pedangnya itu membelah tubuh Gema semudah menebas angin belaka, padahal sebelumnyalah pedang itu sama sekali tidak mampu memotong dendeng yang pada kenyataannya jauh lebih lembut ketimbang tulang manusia!
Namun biarpun keterkejutannya telah teramat sangat besar, yang sama besarnya dengan rasa penasaran akan keterajaiban Pedang Savrinadeya, Mantingan tetap merasa bahwa meninggalkan tubuh Gema Samudradvipa begitu saja bukanlah hal yang sama sekali baik. Betapa pun, pendekar bercaping itu adalah kawan lamanya.
Mantingan melompat turun dengan ilmu meringankan tubuh yang cukup tinggi, sehingga melayang turunlah tubuhnya seringan kapas yang jatuh dari pohonnya. Sembari terus bergerak turun, dirinya menatap iba pada tubuh Gema yang tampak seperti onggokan daging tidak berharga. Sungguh sama sekali tidak disangka olehnya, bahwa satu-satunya kawan sebaya di Suvarnadvipa mati mengerikan di tangannya. Sungguh, barang sedikitpun tidak disangkanya.
“Maafkan diriku yang tidak bergerak membantumu, Anak.” Terdengar sebuah suara yang sepertinya berasal dari Tapa Balian, tepat sesaat sebelum kaki Mantingan menyentuh tanah Tapa Balian muncul dari semak belukar.
“Bapak ....”
__ADS_1
“Daku hanya ingin melihat sampai sejauh mana kemampuanmu berkembang,” lanjut pria tua itu sambil berjalan mendekat dengan senyum pahit. “Dan dikau berhasil mengalahkan Caping Jerami Berpedang, itu adalah suatu hal yang luar biasa. Siapa pun di Pasemah dan Tulang Bawang mengetahui jati diri pendekar yang bernama Gema Samudradvipa itu, dan semuanya juga mengetahui betapa dirinya tidak dapat dikalahkan oleh siapa pun jua di tempat ini. Dikau telah mengalahkannya, Anak, betapa hal itu telah membuktikan kemampuanmu.”
Mantingan menggelengkan kepalanya beberapa kali dengan raut penyesalan yang tak terkirakan dalamnya. “Dia adalah kawanku, Bapak, dan kini daku harus membunuhnya dengan tanganku sendiri.”
“Begitulah jalan persilatan adanya, Anak.” Tapa Balian menepuk pundak Mantingan. “Hal inilah yang diinginkan oleh dirinya dan oleh setiap pendekar di telaga persilatan, mati di tangan lawan yang lebih kuat.”
Mantingan hanya mengembuskan napas panjang, memilih untuk tidak membantah lagi meskipun dirinya tetap tidak setuju. “Daku harus menyempurnakan raganya di sini, Bapak.”
“Biar kubantu.” Pria berusia lanjut itu menunjukkan senyum hangatnya.
***
Tapa Balian tampak dengan senyum lebar yang sudah menjadi ciri khasnya, sedangkan di tangannya telah terdapat sebuah bungkusan kain yang entah berisikan apa.
“Dikau telah berlatih sangat keras selama empat bulan ini, Mantingan. Kemampuanmu telah berkembang pesat dari yang semula daku lihat. Dikau telah berhasil memperdayakan lengan kirimu untuk menggunakan pedang, maka tibalah saatnya bagi diriku untuk memberikan sebuah barang yang daku buat selama dikau berlatih.”
Mantingan sedikit mengernyitkan dahi sebab tidak mampu menahan kebingungannya. Barang apakah gerangan yang Tapa Balian buat selama dirinya berlatih, yang sama saja empat bulan lamanya? Mengapakah harus baru diberikan ketika kemampuannya telah berkembang pesat?
__ADS_1
Namun, rasa penasarannya itu akan segera terjawab, sebab Tapa Balian mulai membuka bungkusan kain di tangannya. Ketika melihat wujud dari barang itu, mata Mantingan melebar dengan menampilkan rasa ketidakpercayaan.
“Inilah lengan buatan yang mampu menggantikan tangan kananmu yang hilang itu, Anak. Daku membuatnya dengan sepenuh hati, dan janganlah dikau berpikir bahwa daku mengharap imbalan atas barang ini. Daku tahu bahwa dikau adalah murid dari orang tua gila teh itu, Mantingan, tak peduli seberapa besar usaha dikau untuk menutup-nutupinya dariku.”
Pandangan Mantingan beralih menatap wajah Tapa Balian dengan berlinangan. Mengharu betel perasaannya. Tak terbayangkan bagaimana rasanya ketika seseorang bertangan cacat mengetahui bahwa tangannya akan kembali lagi!
“Tidak perlulah seperti itu tanggapanmu, ini sama sekali tidak seberapa jika dibandingkan dengan tindakanmu yang telah menyelamatkan Delima, dan setelah semua yang diberikan Kedai kepadaku. Mungkin inilah yang dapat kulakukan untuk membayar rasa bersalahku karena tidak dapat menemui gurumu itu.” Tapa Balian mulai menyodorkan barang itu kepada Mantingan. “Sekarang kubantu dikau untuk memasangkannya. Mari duduk terlebih dahulu.”
Mantingan dan Tapa Balian kemudian duduk berhadap-hadapan di atas bongkahan batu besar yang ada di dekat mulut goa. Ketika itulah Tapa Balian mulai memasang lengan tiruan itu pada sambungan lengan atas Mantingan, sebab memanglah yang terpotong sewaktu bertarung di tengah laut kala itu hanya sampai sebatas siku saja. Tapa Balian kemudian menceritakan segala sesuatu tentang lengan tiruan ciptaannya itu.
“Lengan tiruan ini masih termasuk pada Golek Jiwa, tetapi daku telah merancangnya sedemikian rupa hingga berhasil membuat benda ini tidak perlu dikendalikan menggunakan jari melainkan pikiran. Selain merancangnya memakan waktu yang tidak sebentar, membuatnya pun membutuhkan waktu yang tidak sebentar sebab dibutuhkan ketelitian yang teramat sangat. Salah sedikit saja, maka daku harus mengulanginya dari awal lagi. Maka dari itu, dibutuhkan waktu hingga empat purnama untuk menyempurnakan lengan tiruan ini. Daku menolak seluruh pesanan senjata yang datang, sebab kurasa pembuatan lengan tiruan ini harus diselesaikan sesegera mungkin.”
Mantingan semakin terharu dibuatnya. “Mengapakah Bapak tidak memberitahuku tentang lengan tiruan ini kepadaku sejak awal? Daku pasti bisa meringankan pekerjaan Bapak.”
“Sebab jika dikau mengetahui tentang ini sejak awal, sudahlah pasti dikau akan menjadi malas melatih lengan kirimu untuk dapat menggunakan pedang. Daku ingin dirimu mampu memainkan pedang di tangan kanan dan pula tangan kiri. Kejadian tadi pagi tadi ... daku memang telah lama berencana untuk menantangmu bertarung, sebab lengan tiruan untuk tangan kanan ini baru akan kuberikan setelah dikau berhasil mengalahkanku dengan hanya mengandalkan lengan kiri.”
Seketika itu pula Mantingan tersadar bahwa yang dilakukan oleh Tapa Balian itu adalah suatu kebenaran, bahwa dirinya justru akan malas melatih lengan kiri jika sudah mengetahui bahwa lengan kanannya akan didapatkan kembali meski hanya tiruan saja. Kini sebagai hadiahnya, Mantingan serasa memiliki dua lengan andalan.
__ADS_1
“Bahan baku lengan tiruan ini adalah kayu ulin jenis terbaik yang sama sekali kuat dan tahan lama. Daku telah mencampurkannya dengan ramuan andalanku untuk membuatnya kebal terhadap api dan kelembapan.”