
MANTINGAN SEMAKIN mengernyitkan dahi. Sejak kapan kertas lontar memiliki berbagai cap-cap seperti ini? Dan apakah rasa penulisannya tidak jauh berbeda, jauh berbeda, atau malah sama saja? Selama ini Mantingan hanya membeli lontar buatan pedagang di pasar umum, tidak mengetahui bahwa telah ada berbagai macam cap lontar seperti yang dikatakan oleh penjual lontar.
“Jikalau Pahlawan Man masih bingung, aku akan ambilkan kedua cap-cap lontar yang telah aku sebutkan tadi."
“Sebentar, Paman, bukankah itu untuk dijual?”
Paman penjual lontar tertawa renyah. “Anggaplah ini sebagian kecil dari perjamuan.”
“Tapi, Paman ....”
“Aku akan ambilkan sekarang, Pahlawan Man.” Penjual lontar tidak menunggu lebih lama lagi.
Mantingan hanya bisa tersenyum melihat paman penjual lontar berdiri dan mengambil beberapa dus lontar dari dalam lemari yang terletak di ujung ruangan, penjual lontar kembali lagi dengan membawa dus itu.
Mantingan memperhatikan satu per satu dus lontar yang ada di atas meja. Terdapat nama Cap dan lukisan yang selaras dengan nama Cap-nya masing-masing.
“Silakan dicicipi sendiri, Pahlawan Man. Lontar-lontar ini pada pinggirannya telah diberi lubang agar bisa diikati tali dan dijadikan satu dengan lembar lontar lainnya.”
Mantingan mengangguk sebentar sebelum tangannya bergerak mengambil lontar Cap Cap Macan. Dengan jari-jarinya, Mantingan meraba permukaan lontar. Jauh lebih halus ketimbang permukaan lontar lainnya.
“Aku akan mengambil tintanya, tunggu sebentar.” Namun barus sebentar paman penjual lontar berdiri, dirinya kembali berbalik. “Ah, ya, cap tinta apakah yang Pahlawan Man suka?”
***
__ADS_1
ADA BEBERAPA hal penting yang Mantingan ketahui setelah beberapa saat bercakap-cakap dengan sang penjual lontar. Pertama, nama penjual lontar itu adalah Balakosa, pria parobaya itu nyaman disebut Paman Bala. Kedua, menurut penuturan Paman Bala, Mantingan adalah pendekar pertama yang dikenal sebagai pahlawan dan sebagai buronan sekaligus. Yang terakhir adalah sekumpulan kabar-kabar tentang apa yang terjadi di Tanjung Kalapa.
Namun saat Paman Bala hendak bercerita tentang situasi Tanjung Kalapa, istrinya menghampirinya dan berkata bahwa jamuan sudah siap semua. Jujur, saat-saat seperti itu adalah saat yang paling canggung bagi Mantingan. Ia tidak terlalu suka menghadiri perjamuan tanpa temannya.
Selain mengenai tiga hal itu, Mantingan juga mengetahui dan merasakan sendiri lontar Cap Macan dan Cap Cadas. Keduanya benar-benar berbeda dan memberikan pengalaman menulisnya masing-masing.
Setelah diketahui, ternyata harga satu dus masing-masing lontar itu adalah 200 keping emas, satu dus berisi 100 lontar. Pada awalnya, Mantingan ingin membeli beberapa dus lontar cap Macan, tetapi segera mengurungkan niat setelah tahu harganya. Harga setinggi itu hanya untuk 100 lembar lontar, Mantingan merasa tidak terlalu membutuhkannya sehingga tidak membelinya.
Namun sekali lagi, tetap saja Paman Bala memberikan Mantingan dua dus lontar cap Macan dan cap Cadas secara cuma-cuma. Oleh-oleh katanya. Sekali lagi Mantingan menolak, sekali lagi Paman Bala bersikeras, sekali lagi Mantingan menerima.
Saat ini, Mantingan diajak masuk lebih ke dalam toko yang ternyata merupakan rumah Paman Bala. Paruh baya itu menjelaskan bahwa dirinya memang sengaja membangun rumah di dalam pasar dan menyatu dengan tokonya, agar saat bekerja tidak berada jauh dari keluarganya.
Mereka sampai di ruang makan. Terdapat meja panjang di sana. Hanya ada dua kursi yang diperuntukkan Mantingan serta Paman Bala, mereka akan duduk berhadapan. Beragam lauk-pauk mengisi meja yang lumayan panjang itu, ada pula dua teko berisi minuman segar serta beberapa cangkir di tengah meja.
“Silakan, Pahlawan Man.” Paman Bala tersenyum, mempersilakan Mantingan duduk.
“Aku tidak terbiasa berbicara sambil makan, jadi maafkanlah jika perjamuan ini akan jadi sedikit hening.” Kini gantian Paman Bala yang tersenyum canggung sedang Mantingan tersenyum lebar.
“Tidak mengapa, Paman Bala, memang tidak baik makan sambil berbicara.”
“Baiklah kalau begitu, kita mulai saja. Jangan sungkan mengambil apa pun di atas meja.”
Mantingan sebenarnya merasa semua hidangan ini terlalu berlebihan jika hanya untuk dua orang saja, maka Mantingan memilih untuk tidak menyentuh beberapa hidangan walau sedikit, agar bisa dimakan keluarga Paman Bala lain waktu. Jadilah saat itu Mantingan hanya mengambil tiga jenis hidangan saja.
__ADS_1
Meskipun begitu, Paman Bala sudah melakukan hal yang benar. Yaitu menghormati tamu yang datang. Secara tidak langsung dia memperlihatkan kondisi keluarganya yang makmur dan berkecukupan. Tamu juga harus pengertian, tidak mengambil hidangan terlalu banyak.
Perjamuan berlangsung cukup lama, karena dua orang pria itu memilih untuk menikmati hidangan. Terlebih Mantingan yang sehari-harinya hanya makan dendeng kering yang diseduh air panas, hidangan dari keluarga Paman Bala ini terasa seribu kali lebih melezatkan.
Di akhir acara perjamuan itu saat makanan di piring keduanya sudah hampir habis, Mantingan baru teringat Bidadari Sungai Utara yang menunggunya di dasar lembah. Di tengah hutan, sendirian, gadis itu pasti ketakutan.
Mantingan menahan napasnya. Bagaimana dirinya bisa lupa seperti itu? Malah enak makan dan mencoba berbagai cap lontar. Bukankah itu sama saja meledek Bidadari Sungai Utara yang sedang makan dendeng dan baca lontar buluk di dasar lembah?
Mantingan mempercepat gerakan makannya. Paman Bala yang melihat itu segera berbuat hal yang sama, agar mereka bisa selesai bersamaan. Terkejut juga pria paruh baya itu melihat perubahan sikap Mantingan.
Dengan meneguk secangkir minuman selasih segar, makanan yang tersangkut di tenggorokan Mantingan bisa kembali melanjutkan perjalanannya ke lambung. Mantingan terbatuk pelan beberapa kali. Hidangan di piringnya selesai dihabisi, begitu juga dengan hidangan di piring Paman Bala.
“Ada apakah terburu-buru, Pahlawan Man?”
“Paman, aku harus cepat-cepat pergi,” kata Mantingan tanpa memberi rincian dari tujuannya untuk kembali itu.
“Ah, sepertinya ada sesuatu yang begitu mendesak Pahlawan Man.” Paman Bala mengangguk sekali. “Tetapi anakku tidak kunjung juga kembali, ke manakah dirinya?”
Mantingan turut khawatir. Telah lama anak perempuan Paman Bala berangkat ke pasar untuk membeli segala kebutuhan perbekalan Mantingan, akan tetapi sampai sekarang masih belum kembali. Yang Mantingan khawatirkan adalah terdapatnya suatu permasalahan dengan harga atau barang yang habis ketersediaan sehingga menahan perempuan itu untuk kembali.
“Lebih baik aku menyusulnya saja, Paman.”
“Sebaiknya aku juga begitu. Marilah.”
__ADS_1
Mantingan mengangguk sekali lagi sebelum mendorong bangku ke belakang dan berdiri. Mereka kemudian berjalan cepat menuju ruang pembuatan lontar, karena di sanalah tempat bagi barang bawaan Mantingan sekaligus tempat persenjataan Paman Bala.
Apa pun yang terjadi atas anak Paman Bala harus segera diketahui, karena ini adalah pasar tempat para pendekar berbagai aliran berkumpul. Sama saja tempat segala kejahatan berkumpul.