Sang Musafir

Sang Musafir
Pertarungan Pasar Lelang


__ADS_3

MANTINGAN MELANGKAH dengan langkah pendek, sangat berhati-hati. Pemuda itu akan mengintip keluar, tetapi tidak dengan menyembulkan kepalanya. Jika ia melakukan itu, maka sama saja bunuh dengan cara yang paling konyol. Andaikan saja kepalanya menyembul keluar, mengintip, maka puluhan pisau terbang akan menancap di batok kepalanya yang tidak terlindungi sama sekali.


Maka dari itu, Mantingan langsung menggerbak keluar. Memunculkan seluruh tubuhnya. Ia mengangkat kelewangnya setinggi dada setelah mendarat di jalanan pas. Bersiap menerima serangan. Matanya bergerak-gerak dengan cepat, memeriksa isi pasar dengan cepat pula. Sampailah Mantingan terkejut.


Keadaan pasar yang terlihat sekarang ini masihlah sama dengan yang terakhir dilihat. Sepi tanpa satupun pengunjung atau pedagang di dalamnya. Namun bukan itu yang membuat Mantingan terkejut. Ialah tidak ada pendekar musuh sejauh mata memandang. Apakah mereka benar-benar telah kembali?


Mantingan memilih untuk tetap berwaspada. Tetap mengangkat pedangnya setinggi dada, tidak kurang dan tidak pula lebih. Mantingan bergerak maju, selangkah kecil demi selangkah kecil. Sambil terus mencermati keadaan sekitar dengan matanya.


Ke manakah mereka? Sebenarnya jika dipikir-pikir ulang, agak tidak masuk akal jika pihak musuh begitu mudah menyerang. Keberadaan Mantingan dan Bidadari Sungai Utara di celah itu sebenarnya juga dapat menguntungkan bagi musuh. Namun mengapakah mereka tidak memilih menyerang dan malah memilih kabur? Ataukah ada pendekar kuat penjaga pasar yang tidak suka keributan?


Namun sesaat kemudian, Mantingan tersadar bahwa Bidadari Sungai Utara masih berada di celah dua bangunan. Wajahnya lekas memburuk. Mantingan memutar diri ke belakang. Waktu seakan berjalan sangat lambat, Mantingan tak dapat bergerak cepat.


Yang telah Mantingan lakukan itu sebenarnya mencipta celah pertahanan yang teramat besar. Musuh bisa langsung menghabisi Mantingan tanpa perlu bersusah payah. Namun apalah Mantingan yang lebih mementingkan keselamatan kawan terdekatnya ketimbang dirinya sendiri?


Setelah berbalik ke belakang, Mantingan berteriak keras. Sekeras dan secepat mungkin. “PERGI DARI SANA!”


Bidadari Sungai Utara menyadari kekeliruannya. Sama seperti Mantingan, secepat mungkin ia menggerakkan tubuh. Mantingan bisa bernapas lega setelah melihat gadis itu meluncur ke depan, namun kelegaannya itu tidak bisa bertahan lama.


Tubuh Mantingan terhempas kuat ke belakang, tanpa bisa dihentikan, tak ayal menghantam dinding dengan kuat. Namun tidak cukup kuat untuk membuatnya pingsan. Mantingan mengerang kesakitan sebelum bangkit kembali.


Ia melihat dua bangunan di depannya telah runtuh sebagian. Debu-debu masih bertebaran, dan puing-puing jatuh dari atas langit. Belum sempat Mantingan memikirkan Bidadari Sungai Utara, dirinya telah dihadapkan beberapa pisau terbang yang meluncur ke arahnya.

__ADS_1


Mantingan menggerakkan kelewangnya dengan sangat cepat. Percikan api tercipta ketika pedangnya beradu dengan pisau terbang. Lima serangan pisau terbang telah dipatahkannya tanpa tenaga dalam.


Mantingan mundur beberapa langkah, mencari keberadaan musuh. Di saat yang bersamaan, Bidadari Sungai Utara berhasil keluar setelah menyibak puing-puing bangunan yang menimpanya.


Mantingan mendengar suara kelebatan angin di belakangnya, segeralah ia berbalik. Menjumpai musuh yang tertutupi bayangan hitam. Dengan sangat beringas, orang itu menyerang Mantingan dengan belati panjang. Dengan sigap, Mantingan menangkis seluruh serangan mematikan itu sambil melangkah mundur.


Sungguh di situasi seperti itu, Mantingan tidak bisa memikirkan keselamatan Bidadari Sungai Utara. Sedang musuh di depannya terus menyerang. Mantingan harus memikirkan titik lemah dan celah pertahanan pada musuh. Bahkan untuk memikirkan keselamatannya sendiri, Mantingan tidak sempat.


Mantingan terus melakukan pengamatan pada gerakan musuhnya. Maka dari itu, ia hanya akan terus menangkis, setidaknya sampai ia menemukan titik kelemahan musuh.


Dan tanpa Mantingan sadari, ia menangkis seluruh serangan musuh dengan gerakan yang indah. Seperti sebuah tarian memukau. Meskipun musuhnya adalah seorang pendekar, tidak sedikitpun tenaga dalam yang Mantingan dikeluarkan untuk menghadapinya.


Musuh melakukan gerakan memutar. Pedangnya dibawanya ke belakang, lalu disabetkannya ke depan. Tepat mengincar tengkuk Mantingan. Mantingan menekuk punggungnya ke depan selayaknya busur. Belati panjang itu lewat sejengkal di atas hidungnya.


Mantingan mendorong tubuhnya ke belakang sebelum kembali berdiri tegak. Musuh mengambil ancang-ancang untuk kembali menyerang dengan cara yang sama. Dia memutar tubuh ke belakang, membawa pula pedangnya berputar ke belakang. Namun sebelum dirinya dapat menebaskannya ke depan, Mantingan telah lebih dulu menusuk pinggang musuhnya itu dengan kelewang.


Bukannya berputar, orang itu justru jatuh terguling-guling. Mantingan mundur beberapa langkah meninggalkannya, tidak membunuh musuhnya itu. Dan tiba-tiba saja, dari arah belakangnya menyeruak suara derau angin. Belumlah sempat bagi Mantingan untuk berbalik atau menghindar, kepalanya telah terbentur keras.


***


SAAT MANTINGAN membuka matanya, ia mendapati dirinya berada di dalam kamarnya. Pikiran Mantingan masih segar untuk mengingat apa yang telah terjadi di malam itu. Namun tidak cukup segar untuk mengingat apa yang telah terjadi pada Bidadari Sungai Utara selepas ia tak sadarkan diri.

__ADS_1


Mantingan tidak mau berlama-lama lagi. Bidadari Sungai Utara sedang dalam bahaya. Segera bangkit. Menyibak kain yang menyelimutinya. Disambarnya Pedang Kiai Kedai yang tergeletak di atas meja. Lalu dengan kerasnya membuka pintu. Berlari keluar. Harus pula menuruni tangga.


Namun setelah sampai di bawah, Mantingan mendapati sesuatu yang mengejutkan, sekaligus mencanggungkan. Dapat dilihat olehnya Bidadari Sungai Utara, Kana, dan Kina sedang berkumpul di meja ruang tengah. Mereka bertiga sama terkejutnya setelah melihat Mantingan.


“Kak Maman?” Kina yang lebih dahulu bereaksi.


“Kak Man? Bagaimana bisa Kakak bangun secepat ini?”


Kini Mantingan mengetahui mengapa mereka terkejut dan mengapa pula ia terkejut. Tentu saja mereka bertiga tidak mengetahui bahwa Mantingan berlari turun dari lantai dua, membawa Pedang Kiai Kedai, dan bertampangan bugar. Padahal sebelumnya ia terbaring di kamar, tak sadarkan diri. Dan mengapa pula dirinya harus terkejut jika Bidadari Sungai Utara berada dalam keadaan selamat?


“Saudara Man.” Bidadari Sungai Utara menyapanya dengan hangat. “Senang melihatmu kembali sehat.”


Mantingan berdeham beberapa kali sebelum bertanya pada Bidadari Sungai Utara, “Saudari, apakah yang sebenarnya terjadi? Mengapakah daku bisa terbaring di kamar?”


Bidadari Sungai Utara tersenyum canggung. Entah apa yang telah membuatnya merasa begitu canggung. “Maafkan daku, Saudara, tetapi diriku malu untuk mengungkapkannya.”


“Malu? Mengapa harus malu? Saudari, aku perlu mengetahui apa yang telah terjadi setelah diriku jatuh tak sadarkan diri tadi malam.” Mantingan berusaha mempertegas kalimatnya.


Bidadari Sungai Utara memandangi Kana dan Kina secara bergantian. Berusaha meminta pendapat dari mereka.


Kana berkata, “Ceritakan sajalah, Kakak Sasmita.”

__ADS_1


__ADS_2