Sang Musafir

Sang Musafir
Selamat Tinggal


__ADS_3

MANTINGAN segera berkelebat ke arah suara itu ketika semburat matahari bertambah semakin banyak di ufuk timur. Kini, hari barulah dapat disebut sebagai terang tanah.


Sesampainya di ujung pulau, Mantingan melihat sesosok perempuan berdiri membelakanginya dengan rambut berkibar-kibar ditiup angin laut. Arah pandang perempuan itu tertuju pada satu titik, yakni semburat-semburat mentari di ufuk timur.


Melihat sosok tersebut, raut wajah Mantingan lekas kembali menunjukkan kedukaan yang tak terkira dalamnya. Kemudian ia menurunkan peti kayu berisi Sepasang Pedang Rembulan begitu saja di atas pasir pantai.


Tanpa perasaan takut maupun ragu, Mantingan melangkah mendekati perempuan itu. Namun tak seberapa lama kemudian, dirinya kembali berhenti setelah suara dari sosok tersebut kembali terdengar.


“Berhentilah di sana, Mantingan. Satu langkah lagi dikau maju, maka itu adalah cangkupan wilayah serangku. Jangan pernah memasukinya dengan keadaan tak berwaspada.”


Chitra Anggini kemudian mencabut sebilah pedang yang semula tertancap ke dalam pasir pantai. Itulah Pedang Kiai Kedai, yang memang semestinya masih berada di tangannya.


“Aku kemari bukan untuk menempurimu, Chitra.” Mantingan berkata cukup kuat guna meningkahi deru angin. “Kita tidak pernah harus menempuri satu sama lain.”


Perempuan itu perlahan membalikkan badan, memperlihatkan wajah jelitanya yang kini merangkum segala perasaan duka. Jelas untuk menempuri Mantingan dirinya pun tidak ingin, tetapi bagaimana jadinya bila memang telah menjadi sebuah keharusan dari kelompoknya?


“Tidakkah kau membaca surat yang kutitipkan pada Rashid untukmu? Bukankah di sana telah kujelaskan tentang kemestian kita mengadakan pertarungan?”


Mantingan tidak menjawab, tetapi jelas sorot matanya menunjukkan keengganan yang besar. Dirinya telah menganggap Chitra Anggini sebagai adik perempuannya sendiri yang mesti ia lindungi apa pun taruhannya, tetapi kini ia justru harus melawannya mati-matian.


“Tiada perlu keraguan.” Chitra Anggini mengangkat pedangnya. Satu-dua lembar dedaunan mulai berterbangan di sekitarnya. “Aku juga memiliki alasan lain untuk menempurimu.”


Seketika itu pula, sepasang alis Mantingan mengendur. Benar-benar tidak percaya dengan apa yang baru saja didengarnya. Perempuan itu memiliki alasan lain untuk bertarung dengannya?


“Alasan semacam apakah?”

__ADS_1


“Kamu tidak perlu mengetahuinya sekarang,” jawab Chitra Anggini. “Bersiaplah, aku tidak akan menahan diri!”


Maka seketika itu pula dirinya berkelebat menerjang Mantingan dengan Pedang Kiai Kedai terhunus, melaju tanpa keraguan meskipun memainkan pedang bukanlah menjadi keahliannya. Belasan dedaunan tajam ikut berkelebat bersamanya. Melesat dengan kecepatan amat tinggi. Dia benar-benar tidak menahan diri!


Mantingan lekas mencabut Pedang Savrinadeya dari sabuk pinggangnya untuk menangkis sabetan Pedang Kiai Guru Kedai dari Chitra Anggini. Tidak sedikitpun dirinya menyangka pedang itu akan berbalik melawannya, tetapi tidaklah pula sedikitpun ia merasakan kekesalan.


Bila pedang tersebut dipegang oleh Chitra Anggini meski dengan tujuan untuk membunuh dirinya, maka hal itu tidak akan menjadi permasalahan sekecil apa pun. Ia tidak pernah menganggap perempuan itu sebagai musuh.


Mantingan menjejak pasir pantai sehingga tubuhnya melesat mundur ke belakang. Ditangkisi saja seluruh serangan dari Chitra Anggini tanpa membalasnya, meskipun dirinya dapat melihat banyak celah pertahanan dari perempuan itu, sehingga bila yang dihadapinya saat ini bukanlah kawan seperjalanan maka akan mudah saja bagi dirinya untuk menusukkan Pedang Savrinadeya pada titik-titik mematikan di tubuh Chitra Anggini.


Mantingan terus bergerak mundur. Terkadang ia memasuki hutan, terkadang pula kembali lagi memijak pasir pantai. Semua gerakan yang dilakukannya hanya bertujuan untuk menangkisi serangan dari perempuan itu, dan sekali lagi, tanpa membalasnya.


Demi menyadari bahwa Mantingan tidak berminat melangsungkan pertarungan dengan sungguh-sungguh, Chitra Anggini menghentikan serangannya.


Mantingan hanya menggeleng pelan. Tidak sanggup dirinya mengatakan apa pun setelah merasakan sendiri betapa Chitra Anggini benar-benar berniat membunuhnya dalam pertarungan barusan. Teriris benaknya ketika orang yang amat dipercayainya itu kini justru berbalik menyerangnya.


“Salahmu sendiri telah memercayai pendekar golongan bawah seperti diriku, Mantingan.” Chitra Anggini berkata lirih. “Tiada kejujuran sedikitpun di antara kami.”


“Tetapi dikau berbeda, Chitra. Sungguh kau berbeda. Kutahu betul bahwa dalam lubuk benakmu tiada sedikitpun keinginan mengkhianatiku.”


Seolah perkataan itu telah benar-benar menghunjam dirinya, Chitra Anggini tak dapat menahan air mata. Meski telah kuat-kuat dirinya memejamkan kelopak mata, bulir-bulir air perangkum keharuan itu tetap merembes keluar dari deretan bulu mata yang melentik indah.


Namun sesaat kemudian, perempuan itu kembali menyerang, bahkan dengan serangan yang jauh lebih dahsyat daripada sebelumnya!


Chitra Anggini tidak hanya sekadar menggunakan Pedang Kiai Kedai, melainkan pula menggunakan belasan dedaunan tajam yang sedari tadi mengikuti pergerakannya ke mana pun jua itu.

__ADS_1


Demi menghadapi serangan berlipat ganda itu, keadaan Mantingan menjadi amat terdesak. Terpaksalah ia menggunakan ilmu pembacaan pertanda, meski telah diniatkan untuk tidak menggunakan ilmu tersebut saat menghadapi Chitra Anggini.


Kemampuan membaca pertanda bukanlah tanpa memiliki kemungkinan yang membahayakan, sebab ilmu tersebut terhubung langsung pada naluri, sedangkan penguasaan ilmu bertarung yang dimilikinya pun berhubungan pula dengan naluri. Seringkali ilmu pembacaan pertanda membuat tubuhnya bergerak tanpa sadar secara naluriah.


Dalam pertarungan di mana dirinya tidak ingin melukai siapa pun, penggunaan ilmu tersebut sangatlah rawan.


Namun tepat setelah pembacaan pertanda digunakan, Mantingan tidak lagi mengalami kesulitan semacam apa pun ketika dirinya harus menangkis seluruh serangan yang datang dari Chitra Anggini.


Letupan api tercipta manakala Pedang Savrinadeya dengan Pedang Kiai Kedai berbenturan. Serpihan dedaunan yang terbelah dua tepat di tengahnya berterbangan bebas ditiup angin. Dan dentang pedang memekikkan telinga.


Setelah beberapa saat, Mantingan akhirnya memilih untuk menyudahi pertarungan sia-sia ini. Cukuplah ia mencicipi kemampuan Chitra Anggini sebagai tanda mata sebelum dirinya berpisah jauh-jauh dari gadis itu, sebab memang amat tidak baik bila keduanya bertemu lagi setelah ini.


Dengan begitu, Mantingan lekas menotok jalan darah si perempuan hingga kaku tak bergerak. Bagaikan patung, Chitra Anggini berdiri kukuh di atas pasir pantai. Pedang Kiai Kedai jatuh terpelanting, lepas dari tangannya. Meskipun perempuan itu tidak dapat membuka mulutnya untuk sekadar berkata-kata, matanya telah menyampaikan rasa amarah yang bukan kepalang besarnya.


Totokan yang diberikannya pada Chitra Anggini bukanlah termasuk pada totokan berat, sehingga dapat dengan mudah terlepas setelah waktu sepeminuman teh terlewati.


‘Bunuhlah saja aku! Sedaripada kita berdua mati sia-sia!’ kata perempuan itu dalam pandangan matanya.


“Tanganku ini tidak akan pernah mampu sampai membunuhmu, Chitra. Lebih baik kita berdua mati saja ketimbang aku harus membunuhmu.” Mantingan kemudian memungut Pedang Kiai Kedai yang tergeletak di atas hamparan pasir kelabu. “Selamat tinggal, Chitra. Sungguh diriku sebenarnya tidak menghendaki perpisahan ini. Aku selalu  ingin mengembara denganmu mengunjungi peradaban-peradaban yang belum pernah kita lihat. Namun keadaan agaknya tidak lagi dapat memungkinkan. Biarlah aku menjauh, tidak perlu kamu mengejarku dan tidak perlu pula aku kembali padamu.”


Tepat setelah mengatakan itu, Mantingan berbalik dan berjalan pergi. Demi menyadari betapa pandangannya menjadi kabur akibat air mata yang menggenang, dirinya menengadahkan kepala. Berharap tiada setetespun yang jatuh. Mestilah ia memahami bahwa perpisahan selalu mengiringi pertemuan. Cepat atau lambat, menyenangkan atau menyakitkan, perpisahan dan pertemuan tidak mampu dipisahkan dengan cara apa jua.


Diangkutnya kembali kotak kayu berisi Sepasang Pedang Rembulan itu. Namun kemudian jantungnya bagai berhenti berdetak, bilamana ia merasakan kotak kayu  itu menjadi jauh lebih ringan dari sebelumnya!


Mantingan segera menarik Pedang Savrinadeya dari sabuk pinggangnya ketika kemampuan membaca pertanda menangkap pegerakan secepat pikiran yang begerak menuju dirinya!

__ADS_1


__ADS_2