
KETIKA Mantingan masih termenung itulah ibu pemilik kedai kembali berucap, “Bila dikau masih belum memahaminya, maka mestilah kukatakan bahwa memang begitu cara wanita bekerja untuk pria yang benar-benar dicintainya. Tak peduli apakah kemudian cintanya akan terbalas atau tidak, tetapi mereka tetap akan mengorbankan seluruh hidupnya hingga bagai tiada tersisa sesuatupun untuk diberikan pada diri sendiri. Mereka akan merasa lebih mulia hidup dalam pengorbanan, ketimbang berdiam diri melihat pria yang dicintai itu bersusah payah mati-matian.”
Bukankah sedemikian pula yang terjadi antara dirinya dengan Dara? Tidakkah perempuan itu telah mengorbankan seluruh hidupnya untuk Mantingan, satu-satunya pria yang sungguh benar dicintainya?
“Pengorbanan wanita, kalau bisa janganlah engkau menolaknya. Akan tambah sakit perasaan kami bila telah bersakit-sakit untuk berkorban, tetapi justru menerima penolakan. Sambutlah dengan baik dan penuh rasa terima kasih. Tidak perlu memberi rasa belas kasihan yang berlebihan. Para wanita pun ingin menunjukkan harga dirinya di hadapan para pria.”
Mantingan mengangkat wajahnya sedikit. Ibu pemilik kedai itu balik menatapnya dengan bersungguh-sungguh.
“Ada apa dengan gurat wajahmu?” lanjut perempuan itu lagi. “Dikau mengalami persoalan yang sama?”
Mantingan hanya mengangguk. Dirinya memilih untuk jujur, meski sungguhlah tidak mesti secara terang-terangan.
“Kedaiku ini agaknya beruntung.” Ibu pemilik kedai tertawa pelan. “Selalu saja datang orang patah hati dalam waktu yang tidak berjauhan. Daku jadi dapat berbagi cerita dengan kalian. Tetapi dirimu ini benar-benar berbeda, Anak Muda.” Ditataplah Mantingan dengan selekat-lekatnya. “Hanya dikau yang tidak menawar tubuhku. Beruntunglah dikau, sebab siapa pun yang berani menawar diriku selalu mati barang sekedip mata setelah menyelesaikan ucapannya.”
Mantingan hanya tersenyum tanpa menanggapi lebih jauh. Entah perempuan itu hendak mengancamnya atau hanya sekadar menakut-nakutinya, tetapi sungguh Mantingan tidak merasakan kegentaran dalam benaknya.
Ia mengangkat cangkir teh sebelum menegak isinya hingga habis, saat itulah didengarnya suara langkah kaki menuruni tangga yang sungguh dapat Mantingan kenali betul berasal dari Chitra Anggini, maka lekas saja dirinya menoleh.
Melalui tatapan mata, perempuan itu meminta Mantingan untuk keluar dari kedai dengan bersegera mungkin, yang lekas saja dipahami oleh pemuda itu bahwa telah terjadi suatu kegentingan yang tidak dapat Chitra Anggini ceritakan di sini.
Namun ketika ia baru hendak mengangkat tubuh dari bangkunya, tetiba saja ibu pemilik kedai menyahut, “Dikau tidak perlu pergi ke mana-mana bila bertujuan ke Kedai Seribu Cangkir.”
Chitra Anggini melebarkan matanya, lantas dengan langkah cepat menghampiri Mantingan dan ibu pemilik kedai itu.
“Inikah Kedai Seribu Cangkir?” tanya Chitra Anggini.
“Tidak salah, dikau datang ke tempat yang tepat.”
“Tetapi ... bagaimana bisa?”
“Suatu kebetulan yang seolah saja tiada kebetulan, bukan?” Ibu pemilik kedai itu mengangkat alisnya seraya tersenyum lebar. “Kalian kembalilah ke kamar. Seharusnya kita baru boleh bercakap-cakap di waktu yang telah ditetapkan.” Mata perempuan itu kembali melirik Mantingan. “Ya ... kecuali jika pemuda ini masih hendak mengutarakan sedikit isi hatinya ....”
“Tidak.” Mantingan tersenyum. “Terima kasih telah bersedia bercerita kepadaku.”
__ADS_1
Tentulah Mantingan menganggap bahwa ibu pemilik kedai itu yang bercerita kepadanya, dan bukan sebaliknya. Ia langsung beranjak dari tempat duduknya dan berjalan bersama Chitra Anggini menuju kamar sewaannya di lantai dua.
***
“Isi surat ini telah berhasil kubaca,” kata Chitra Anggini sambil menunjukkan selembar lontar yang diberikan secara diam-diam oleh seseorang misterius di perlelangan Dara. “Mau kubacakan atau kutuliskan?”
Mantingan menjawab, “Tolong bacakan saja.”
“Kamu yakin tidak ada yang menguping?”
“Bukankah kita selalu dapat berbicara tanpa bersuara?”
Chitra Anggini mengangguk sebelum menatap Mantingan lekat-lekat, yang dengan begitu dapatlah tersampaikan isi surat berbahasa dan beraksara sandi tersebut.
Pergi ke Penginapan Seribu Cangkir
ketika matahari baru tenggelam
jangan membawa kawanmu atau sesiapa pun
pesan dari Puan Kekelaman
hancurkan setelah membaca
“Telah jelas bahwa hanya dirimu yang diperkenankan,” kata Chitra Anggini kemudian. “Apakah yang mesti kulakukan sekarang?”
Mantingan terdiam beberapa saat untuk berpikir, sebelum akhirnya berkata, “Pergilah ke Pemukiman Kumuh Kotaraja dan bagikan makanan. Aku akan mendatangkan daging dalam jumlah yang teramat banyak, orang-orang di sana akan bertengkar sampai mati untuk memperebutkan makanan bila tidak ada yang dapat mengatur keadaan.”
“Daging?”
“Ya. Daging yang kudapatkan dari hasil memburu siluman beberapa hari lalu.”
“Di mana kau menyimpannya?”
__ADS_1
Untuk pertanyaan itu, Mantingan tidak menjawab, melainkan hanya tersenyum tipis. Ia merasa lebih baik untuk menunjukkan langsung pada Chitra Anggini, untuk itulah dirinya berujar, “Kita pergi sekarang pula, daku akan menunjukkan sesuatu kepadamu.”
“Dapatkah kita sampai tepat waktu?” Kembali Chitra Anggini bertanya.
“Seharusnya begitu.” Mantingan melirik keluar jendela, sekiranya masih membutuhkan waktu sepeminuman teh lagi sampai matahari benar-benar tenggelam.
***
“Aku tidak menyangka akan kembali lagi ke tempat busuk ini.” CHITRA Anggini berkata dengan raut wajah buruk. Entah apakah perkataannya itu dimaksudkan untuk keluhan atau penghinaan.
Benarlah, saat ini mereka berada tepat di halaman Penginapan Permata Malam, penginapan yang mereka sewa selama beberapa hari terakhir sebelum meninggalkannya sebab mesti mengikuti Perhelatan Cinta.
“Jika kau meninggalkan daging-daging itu di tempat ini dalam keadaan yang masih belum diasapi, maka tentulah saat ini sudah tidak layak makan, akan lebih baik bila mereka memakan mayat teman-temannya saja.”
“Kau ini bicara apa, Chitra?” Mantingan menggeleng pelan. Tidak mengerti hal semacam apakah yang membuat kata-kata yang dikeluarkan perempuan itu begitu teramat pedas. “Daging siluman yang kudapatkan ini tidak akan bisa membusuk kecuali setelah dicerna. Aku telah mencobanya sendiri, dan rasanya cukup lezat—”
“Tak perlu berbasa-basi lagi,” potong Chitra Anggini. “Dapatkah kiranya kamu menunjukkan keberadaan daging siluman yang tidak dapat membusuk kecuali setelah dicerna itu? Biarlah aku menyelesaikan pekerjaan ini sebelum malam benar-benar larut, dan betapa pun kamu juga harus kembali ke Penginapan Seribu Cangkir sebelum matahari tenggelam.”
“Aku masih membutuhkan kepastian darimu, tentang apakah kaumampu menahan lautan orang-orang tanpa menyakiti apalagi sampai membunuh mereka?”
“Mengapa begitu?” Chitra Anggini balas bertanya. Kini raut wajahnya tampak lebih bersungguh-sungguh.
“Karena kau akan mengalami hal sedemikian,” balas Mantingan, sebelum dirinya kembali bertanya, “bagaimana?”
“Aku memiliki beberapa jurus untuk melakukan itu, tetapi aku tidak menjamin bahwa itu tidak akan melukai siapa pun,” kata Chitra Anggini, yang sungguh dapat Mantingan rasakan kejujurannya.
“Baiklah, itu bukan masalah untuk melukai beberapa orang jika memang benar-benar terpaksa. Sekarang kaumundurlah sedikit.”
Chitra Anggini menurut saja, meski sungguh tidak mengetahui apa yang ingin pemuda itu lakukan.
Mantingan berjalan sedikit untuk menempatkan dirinya di tengah halaman penginapan itu, sebelum membentang lengan kirinya. Tentulah lengan kanannya tidak dapat dipakai untuk jurus apa pun, sebab itu hanyalah lengan kayu yang tidak terhubung dengan peredaran cakra.
Tepat setelah itu, Chitra Anggini membeliakkan matanya demi melihat pemandangan mengejutkan tepat di hadapannya!
__ADS_1