
MANTINGAN DAN Kana baru menjumpai jalan besar ketika matahari telah sampai di ufuk tengah, yang jika dilalui akan mengarahkan mereka ke sisi timur atau barat Gunung Kubang. Sekira-kiranya, inilah jalanan yang dilewati Bidadari Sungai Utara dan rombongan permaisuri untuk menuju Perguruan Angin Putih.
Mantingan lekas berbelok ke arah timur jalan, yang segera saja diikuti oleh Kana di belakangnya. Jikalau mereka terus berjalan kaki, tanpa berkelebat atau tanpa tunggangan, maka sekira-kiranya mereka akan sampai dalam waktu tiga sampai enam hari lagi.
Ketimbang harus berkelebat sambil menggendong Kana, yang akan secara serta merta membuat anak itu tidak dapat mengambil terlalu banyak pelajaran, Mantingan memilih untuk berjalan kaki saja. Meski hanya membawa beberapa keping emas dan tanpa perbekalan makanan maupun minuman.
Mengenai uang, Mantingan langsung teringat akan kemurahan hati Dara ketika dirinya menyampaikan maksudya hendak mengembalikan 20 Batu yang senilai 20.000 keping emas itu.
Saat itu Dara langsung menolaknya tanpa pikir panjang. “Itu untukmu. Daku memiliki banyak Batu yang tak akan sanggup menukar kehadiranmu di sini. Katakan saja jika engkau menginginkan Batu seperti itu lagi, berapapun akan kuberikan.”
Dara pula membayar seluruh barang belanjaan yang seharusnya dibayar menggunakan uang Mantingan. Lebih-lebih saat mengetahui bahwa Mantingan tidak mendapatkan beberapa tanaman obat karena kekurangan uang, gadis itu langsung memerintahkan anak buahnya untuk secepat mungkin pergi ke kota sebelah yang mana ada sebuah tempat yang menjual segala kebutuhan pengobatan.
Mengingat itu, Mantingan tersenyum pahit. Ia terlalu banyak menerima pemberian dari Dara, sedangkan ia hampir tidak pernah memberikannya sesuatu. Awalnya, Mantingan ingin memberikannya sebuah kitab persilatan sebagai tanda terima kasih, tetapi kemudian diingatnya bahwa mengambil kitab di bundelannya itu bukanlah tanpa tanggungan yang besar. Sebab bundelannya itu berada di dalam kereta kuda yang ditumpangi Bidadari Sungai Utara.
Hingga saat ini pun, Mantingan tidak yakin apakah dirinya saat ini bebas dari penguntit atau tidak. Tetapi seandainya ternyata dirinya diikuti penguntit, Mantingan merasa tidak ada masalahnya. Toh ia hanya berjalan bersama Kana, sama seperti yang dibeberkannya secara lantang ketika acara lelang tengah berlangsung di kota perbatasan yang menjadi persinggahan rombongan permaisuri itu.
Saat ini Mantingan dan Kana berjalan tanpa membawa perbekalan baik itu makanan maupun air minum, tidak sedikitpun mereka mengkhawatirkan persoalan itu. Sebab betapapun jua, sebagai dua orang penyoren pedang, kelaparan akibat kekurangan makanan bukanlah menjadi momok yang pantas ditakuti. Yang sudah sewajar dan semestinya mereka takuti adalah pertarungan atau serangan mendadak yang dapat muncul secara tiada terduga.
__ADS_1
Keduanya meningkatkan kewaspadaan berupa penglihatan, pendengaran, perabaan, bahkan penalaran untuk berjaga-jaga dari serangan mendadak seperti yang dikhawatirkan.
Mantingan pun selalu memasang Ilmu Mendengar Tetesan Embun meski dengan ketajaman yang dikurangi guna memangkas tenaga dalam yang dipakai. Setidaknya dalam jarak lima tombak, Mantingan dapat mendengar segala sesuatunya jika ia menginginkan.
***
MANTINGAN DAN Kana mengunjungi sebuah kedai persinggahan, yang jika dilihat ke arah timur maka kedai itu berada di sisi kiri jalan. Mantingan langsung mengarahkan Kana untuk memilih meja di sudut ruangan yang bersebelahan dengan jendela besar, sedangkan dirinya pergi ke meja pemesanan untuk tentunya memesan hidangan untuk mereka santap malam ini.
Mantingan memilih tiga jenis makanan; nasi, daging beserta kuah kaldu, serta sayur mayur yang direbus pula bersama kuah kaldu kambing gunung. Setelah memesan hidangan sekaligus membayarnya di muka, Mantingan bergerak menuju meja yang dipilih Kana.
Pemuda itu duduk dan melepas capingnya, dan untuk sesaat melemaskan punggung dan kakinya. Sedangkan Kana hanya melepas pedang yang terikat di punggungnya untuk kemudian diletakkan di atas meja.
Mereka bercakap-cakap dengan lugas. Mantingan pun tidak merasa kaku, meski yang diajaknya berbincang adalah anak berusia tigabelasan, tetapi pemikiran Kana boleh dikata jauh lebih dewasa ketimbang anak-anak seusianya.
Setelah beberapa saat keduanya saling bercakap-cakapan, hidangan diantar pula sesuai dengan pesanan. Mantingan dan Kana tanpa berbasa-basi lagi segera menyantap seluruh hidangan dengan lahap, sebab perut belum terisi semenjak malam kemarin dan mereka berdua telah menempuh jarak yang bukan pendek.
“Habiskan saja, Kana,” kata Mantingan di sela-sela makannya, “kalau kurang, kita tinggal pesan lagi.”
__ADS_1
Ucapan Mantingan itu bukanlah berarti sebuah kesombongan. Bukan pula sebuah pemborosan. Mantingan berpikir bahwa dirinya terlalu keras dalam melatih Kana, padahal anak itu bukanlah muridnya dan tidak harus pula menjadi sepertinya.
Memberi anak itu sedikit banyak makanan enak sebagai bentuk penghargaan adalah hal yang bagus. Lagi pula, bukankah Kana sering memintanya untuk berkunjung ke kedai makan selama masih berjalan bersama Bidadari Sungai Utara tetapi dirinya tidak pernah mengabulkan?
“Tidak, tidak, cukuplah segini.” Kana mendorong mangkuknya yang telah tiada lagi makanan di dalamnya. “Jika daku makan lagi, kaki ini tidak akan sanggup melangkah dan ulu hati terasa amat sakit nantinya.”
Mantingan menganggukkan kepalanya, apa yang dikatakan Kana itu banyak benarnya pula. Bagi seorang penyoren pedang, makan terlalu banyak sangatlah tidak disarankan.
Bukan hanya akan menyiksa selama dalam perjalanan, tetapi pula akan membawa akibat yang mematikan ketika sedang menghadapi pertarungan.
Maka dari itu, biasanya setelah selesai makan, seorang penyoren pedang akan meminum secangkir atau dua cangkir teh. Meskipun dapat dikatakan bahwa kebiasaan itu telah menjadi sebuah keharusan, tetap saja tidak diperkenankan terburu-buru dalam meminum teh.
Ketika seorang penyoren pedang meminum teh setelah makan, mulut dan tenggorokannya akan terasa segar dan bebas dari rasa makanan menempel yang terkadang dapat membuyarkan kewaspadaan karena terlalu menikmatinya.
Meminum teh juga dapat meningkatkan kesadaran dan ketenangan. Dan setelah teh itu dihabiskan secara tidak terburu-buru, maka makanan yang tadi mereka makan telah benar-benar turun ke lambung sehingga tidak akan mengganggu perjalanannya maupun pertarungannya.
Maka berdasarkan hal itu, Mantingan memesan dua cangkir teh panas tanpa pemanis untuk mereka berdua nikmati sebelum memulai perjalanan setelah teh itu habis.
__ADS_1