
Mantingan tahu bahwa yang diucapkan Sena itu tidak sungguh-sungguh, hanya candaan khas pendekar kawakan.
“Hebatnya lagi,” kata Randu, “mampu membawakan nangka ini di saat-saat genting.”
“Dan mampu mencuci otak Nyai agar mau dengannya yang jelek itu.”
Mantingan mengendurkan senyum, mengerutkan dahinya. Jelas perkataan itu bukanlah perkataan yang pantas untuk candaan. Mereka bukan bercanda.
“Tidak perlu naif, Mantingan. Kami tidak menyukai keberadaanmu dengan Nyai Dara.”
Mantingan bertanya, “Mengapa?”
“Jelas engkau tahu, Nyai adalah orang yang terkenal. Kecantikannya tiada dapat ditandingia. Semua pria, termasuk kami ingin selalu mendapatkannya. Engkau adalah penghalang kami."
Mantingan terdiam sejenak, lalu tersenyum. “Untuk apakah sebenarnya kalian bekerja padanya?”
“Tentu engkau tahu.”
Mantingan tersenyum lebar. “Jadi, Nyai Dara saat ini berada dalam bahaya, ya?”
Sena turut tersenyum lebar. “Engkau bisa bergabung dengan kami, kami tidak akan menjadikan engkau sebagai musuh.”
“Apa yang membuat kalian berpikir rencana kalian ini dapat berhasil?” Mantingan bertanya, masih dengan senyum terkembang.
“Lihatlah di jantung rimba ini. Tidak akan ada bantuan yang datang untuk Dara.” Sena tertawa. “Jika engkau mau membantunya, aku sarankan pikirkan itu lagi. Kami sama sekali tidak takut terhadap engkau. Kau sendirian, dan kami bertujuh di sini. Bisa apa kau memangnya?"
“Bagaimana jika ternyata daku sudah menyiapkan jebakan untuk kalian?” Mantingan berbohong sedikit.
Sena tertawa lebar. “Mantingan, jangan anggap perkataan kami serius. Kami hanya melawak saja.”
__ADS_1
Mantingan menampilkan embusan napas lega. “Kalian benar-benar menakutiku.”
Sena tertawa sekali sebelum lanjut melahap nangka. Begitu pula dengan yang lain. Nangka itu habis dengan cepat. Mantingan hanya mengambil dua biji nangka, setelah obrolan tadi, ia tak mengambil nangka sama sekali.
Mantingan memusatkan tenaga dalam di lengannya untuk mengeringkan getah. Entah apa maksudnya itu.
Sampai terdengarlah gemersak langkah kaki. Baik Mantingan maupun pendekar-pendekar di depannya menoleh ke asal suara. Diri Dara mulai terlihat, berjalan mendekat ke perkemahan. Dirinya terlihat sudah baikan. Wajahnya tidak lagi seperti kepiting rebus, kini malah berbinar-binar senang.
“Mantingan, obatmu mujarab sekali!” kata Dara setelah sudah cukup dekat dengan Mantingan.
Mantingan dengan jelas merasakan suasana yang menegang. Pula ia merasakan nafsu pembunuh yang datang dari setiap pendekar suruhan Dara. Kini Mantingan menghitung jumlah mereka. Seluruhnya berjumlah tujuh orang, dengan tingkat kependekaran sedikit berada di bawahnya.
Mantingan mulai membuat perhitungan demi perhitungan. Ia sangat jelas mengetahui, bahwa ucapan mereka yang tadi itu tidaklah untuk candaan. Mereka bersungguh-sungguh mengatakan hal itu. Dan kini Mantingan juga merasakan nafsu pembunuh datang dari tujuh orang tersebut.
Niat mereka buruk sekali pada Dara. Padahal Dara telah membayar mereka untuk melindunginya, bukan malah menyerangnya. Terlebih, mereka jelas tidak berniat langsung membunuh Dara.
Jika pendekar itu menyerang Dara bersamaan, maka sudah jelas Dara tidak akan bisa melawan sama sekali. Kalah dengan telak tanpa perlu dilukai.
Andai mereka masih mempertahankan nilai kependekaran, Mantingan akan menantang mereka maju satu per satu. Akan tetapi, kemungkinan itu sangatlah kecil. Pendekar yang kalap akan nekat melakukan apa pun, walau itu melanggar hukum kependekaran sekalipun.
Hitung-hitungan Mantingan harus terhenti sampai di sini. Salah satu pendekar itu membuat pergerakan tiba-tiba. Mantingan meraih pedang yang ada di belakangnya, bergerak secepat kilat ke hadapan Dara.
Gerakannya yang terlampau cepat itu mengejutkan Dara, karena tiba-tiba saja Mantingan sudah berada di depannya. Sama terkejutnya dengan pendekar yang tadi membuat pergerakan, ia segera menghentikan geraknya.
Terlambat jika mereka ingin berpura-pura. Pendekar tadi sudah menunjukkan keinginannya bergerak ke arah Dara. Ia berhenti karena ia tidak bodoh, berhadapan langsung dengan Mantingan sendirian akan membuatnya terbunuh. Kini pendekar itu menatap geram Sena, yang sepertinya pemimpin komplotan itu. Ia diperdaya dengan sengaja menghadapi Mantingan terlebih dahulu agar kekuatan asli Mantingan dapat terukur.
Dara dapat menebak apa yang terjadi. Ia memandang mereka dengan tatapan tidak percaya.
Sena masih bersila sambil menyilangkan tangannya. Lalu ia berguman, “Dara, kau sudah mengetahui yang sebenarnya di sini. Daku hanya ingin engkau menyerahkan diri, dengan begitu mungkin daku bisa membebaskanmu dari pembunuhan.”
__ADS_1
Dara balas menggeram. “Bangs*t! Pengkhianat sepertinya tidak pantas hidup! Biar kubunuh kau!!!”
Mantingan menahan Dara dan menggeleng pelan. “Jangan bertindak gegabah. Mereka bukan lawanmu.”
“Mantingan! Jangan sok jadi pahlawan kau!” Sena berkata dengan nada tinggi. “Pergilah dari sini, niscaya kau masih bisa melihat mentari esok hari!”
“Lebih baik aku tidak melihat matahari sampai kapanpun, ketimbang menatap tanah penuh kepengecutan!”
“Oh, baiklah jika memang itu pilihanmu.” Sena terkekeh pelan. Perlahan ia bangkit dari duduknya. “Maafkan daku yang terpaksa menyerang kalian berbarengan, tetapi kami tiada pilihan.”
Benar rupanya. Mereka tidak menghargai hukum kependekaran. Telah merobek jati diri kependekaran. Mereka pula telah melanggar nilai Kebenaran, sedang Kebenaran itu dari Gusti yang menciptakan mereka! Mantingan tidak punya alasan untuk tidak lekas membunuh mereka. Membunuh, atau dibunuh,
Mantingan menyentuh gagang pedangnya. Belum ia tarik jika musuh tidak benar-benar membahayakan. Karena saat pedang terhunus, sama saja kalimat membunuh terucapkan, sedang kalimat tidaklah boleh sembarang ditarik kembali.
Mata Mantingan tajam menatap tujuh pengkhianat itu. Di satu sisi ia harus melindungi diri sendiri, di sisi lain ia harus melindungi Dara. Singkat kata, Dara tidak boleh terlalu jauh darinya.
“Jika kalian pendekar, bertandinglah satu orang lawan satu orang. Daku tidak setuju dengan pengeroyokan ini.”
“Setuju tidak setuju, kami akan tetap menyerang.” Sena menyeringai ngeri, sebelum tubuhnya melesat cepat.
Mantingan dapat melihat dengan jelas ke arah mana Sena melesat. Sena bergerak secepat kilat memutari Mantingan, mengincar Dara yang berada di belakangnya. Enam pendekar lain bergerak menyerang di muka Mantingan.
Andai hanya Sena saja yang menyerang, Mantingan bisa menghadapinya dengan cukup mudah. Tetapi selain Sena yang hendak menyerangnya dari belakang, terdapat enam pendekar lain termasuk Randu yang menyerang dari depan.
Apa yang harus Mantingan lakukan?
Dalam latihan, ia sering menerima keadaan menekan seperti ini. Tetapi ini bukanlah latihan, Mantingan jelas tidak terbiasa!
Tujuh pendekar itu semakin mendekat. Mantingan tidak punya banyak waktu untuk berpikir. Leka ia berbalik menghadap Dara, memeluknya dan mengentak kaki kuat-kuat. Ini sebenarnya bukan cara menghindar yang bagus, dikarenakan musuh dapat dengan mudah menyerang kembali bersamaan ke atas.
__ADS_1
Benar saja, tujuh pendekar itu mengentak kakinya sama kuatnya dengan Mantingan, menghunuskan belatinya ke atas. Mantingan masih memeluk Dara, dan kini ia berpikir cepat untuk melihat hal apa lagi yang bisa ia lakukan.