Sang Musafir

Sang Musafir
Pembudidayaan Bunga Sari Ungu; Bunga-Bunga yang Dilelang


__ADS_3

Bunga Sari Ungu dicabut dari tanah terlebih dahulu. Mantingan benar-benar berupaya keras dan hati-hati agar tidak banyak akar yang putus. Setelah itu, mengambil jarak sekitar satu jengkal ke atas dari pangkal batang, Mantingan memotong batangnya. Itu memisahkan antara bunga dan akarnya.


Selesai dipotong menjadi dua bagian batang--yaitu batang bawah dan batang atas, Mantingan menanam dua batang itu kembali ke dalam tanah. Yang satu batang dengan akar, tetapi tiada bunga. Yang satu lagi berkebalikannya, dengan bunga dan daun, tapi tidak memiliki akar. Bagian bawah yang berakar akan menumbuhkan tubuh dan bunga; bagian atas yang tidak memiliki akar akan tumbuh akarnya hingga menghasilkan bunga lebih banyak lagi.


Jika cara ini benar-benar berhasil, itu artinya Mantingan memiliki dua tanaman Bunga Sari Ungu. Tetapi jika tidak berhasil, Mantingan akan kehilangan semua bunga itu. Tentu itu sama saja membunuh tanaman langka seperti Bunga Sari Ungu ini.


Setelah penanaman usai, Mantingan meninggalkan ruang tanam, kembali menuju tempat api unggun.


Di depan api unggun yang menyala kecil, Dara masih terlihat merenung. Kali ini Dara tidak merenung dengan kesedihan, ia merenung dengan wajah berseri-seri.


“Mantingan,” panggilnya saat melihat Mantingan datang. “Apakah aku bisa belajar di Perguruan Angin Putih?”


Menghadapi pertanyaan itu membuat Mantingan tersenyum serba salah. Ia sendiri tidak mengetahui bagaimana caranya mengajukan diri untuk menjadi murid dari Perguruan Angin Putih. Jika Mantingan dapat bergabung karena Perguruan Angin Putih sendiri yang menjemputnya, lalu bagaimanakah dengan Dara yang sama sekali tidak diundang? Apakah bisa Mantingan mengundang Dara masuk ke dalam perguruan itu?


“Aku sendiri tidak mengetahuinya, Dara. Perguruan Angin Putih agaknya serba tertutup. Guruku pernah berkata, bahwa kebanyakan murid di Perguruan Angin Putih adalah anak dari pendekar-pendekar yang bergabung dengan perguruan itu.” Mantingan menjelaskan.


Dara menghela napas panjang dan mengangguk. “Ya sudahlah, sepertinya memang bukan waktuku untuk belajar silat. Bisa jadi, saat aku keluar dari perguruan, usiaku telah menginjak paruh baya.”


Mantingan tersenyum, lalu berkata, “Bukankah engkau memiliki jaringan untuk mendapatkan kitab-kitab persilatan?”


Dara mengangguk. “Ya, apa kau mau aku belikan beberapa kitab persilatan?”

__ADS_1


“Itu bagus, tetapi bukan itu yang ingin aku sampaikan,” katanya. “Kau bisa memanfaatkan jaringan itu untuk mencari kitab persilatan yang sekiranya cocok untukmu.”


Dara tersenyum malu. “Aku sudah mencobanya, tetapi aku terlalu malas membacanya.”


Mantingan menggeleng pelan, lalu ia ingat akan sesuatu yang perlu disampaikan pada Dara. “Dara, apakah bisa aku meminta bantuan padamu?”


Dara tersenyum lebar penuh antusias. “Katakan saja, aku pasti akan membantumu.”


Mantingan tersenyum hangat mendengar jawaban itu. “Dara, aku memiliki beberapa bunga langka, seperti Bunga Sari Ungu dan Bunga Aroma Kematian. Apakah engkau bisa melelangnya?”


“Tunggu, Mantingan.” Dara mengernyitkan dahi. “Apakah aku tidak salah mendengarnya? Bunga Sari Ungu yang langka itu ada di tanganmu?”


Mantingan mengangguk. “Aku masih berusaha membudidayakannya.”


Mantingan mengangguk pelan. “Esok kau bisa membawa beberapa Bunga Aroma Kematian. Untuk Bunga Sari Ungu masih dalam tahap pengembangbiakan. Jualah dengan harga yang pantas, Dara, jangan terlalu mahal. Masalah keuntungan ....”


“Apakah aku masih bisa mengambil keuntungan darimu, Mantingan? Kau telah menyelamatkan nyawaku dua kali!”


Mantingan tersenyum canggung mendengar itu. “Akan tetapi, tidak mungkin kau bekerja tanpa keuntungan ....”


Dara menutup telinganya. “Aku tidak mau dengar.”

__ADS_1


Dengan begitu, usailah bantahan Mantingan. Jika Dara memang ingin membalas kebaikannya, apakah melarangnya berbuat itu adalah perbuatan yang bijak? Mantingan hanya bisa mencari cara lain untuk membalas kebaikan Dara secara tidak langsung.


***


Matahari sepenuhnya tenggelam. Mantingan duduk bersila di depan api unggun yang berkobar-kobar kecil. Hutan sedikit terang karenanya. Menerima kehangatan darinya. Kini tidak lagi ia pakai baju lamanya, melainkan pakai baju yang telah dibelikan Dara untuknya. Memang baju itu terlalu ketat dan tidak enak dilihat.


Dara berada di dalam tendanya, setelah sedari tadi dipaksa untuk mau tidur di dalam tenda. Memang tadinya juga, Dara bersikeras agar Mantingan saja yang tidur di dalam tenda. Tetapi Mantingan mengatakan, bahwa tidak baik wanita mengalah pada pria, ia menambahkan pula bahwa keadaan di luar tenda saat malam hari benar-benar berbeda dengan keadaan di kota. Pada akhirnya, Dara setuju untuk tidur di dalam tenda.


Sedangkan Mantingan sepertinya tidak berniat tidur malam ini. Di sampingnya adalah tumpukan kitab untuk ia baca sepanjang malam. Pendekar sekelas dirinya hanya membutuhkan samadhi beberapa saat saja, tetapi itu sudah mengimbangi tidur semalaman.


Akan tetapi, saat Mantingan membaca lembaran-lembaran lontar di dalam kitab, pikiran Mantingan melayang ke mana-mana, bukan pada bacaannya.


Ia tengah berpikir, sampai kapankah akan mendekam di jantung hutan seperti ini? Sedang catatan Birawa mengatakan, bahwa Kembangmas berada di Suvarnadvipa saat terakhir kali dijumpai.


Awalnya bunga itu memang berada di dataran Taruma, akan tetapi entah bagaimana bisa menyeberangi laut sampai ke Suvarnadvipa.


Alasan mengapa Mantingan masih bertahan di sini tentu saja karena ia mengharapkan Kembangmas kembali ke daerah asalnya, Tarumanagara. Akan tetapi, Mantingan masih tidak menemukan tanda-tanda atau jejak keberadaan Kembangmas sampai sekarang ini.


Dan berapa banyak jantung hutan lain yang harus Mantingan jelajahi satu-satu? Mantingan khawatir, usianya telah lebih dahulu habis sebelum semua jantung hutan ia jelajahi.


Sedangkan, melupakan tujuan dan harapannya bersama Kenanga bukanlah sebuah pilihan. Mantingan telah berjanji padanya. Selayaknya pedang yang telah terhunus, Mantingan tidak akan menarik janji itu sebelum tergenapi sudah.

__ADS_1


Mantingan mendesah pelan, mengganti kitab di tangannya itu dengan lembar lontar kosong dan alat pengukir. Terbentuklah aksara-aksara pawala yang jika dibaca akan menjadi runtutan kisah perjalanan seorang Mantingan. Baik itu kisah suka maupun duka, ditulis semuanya. Tanpa melebih-lebihkan suatu kejadian yang sebenarnya.


Hingga tengah malam itu, Mantingan sampai pada bagian tentang kematian Rara. Lontar kosong miliknya telah habis, saat itu pula ia belum terlalu siap untuk menuliskan kematian Rara. Kejadian yang tidak disengaja ini membuat Mantingan harus menghentikan kegiatan tulis-menulisnya. Lain waktu, ia akan menulisi kematian Rara, ia pula akan menulis bagaimana dendamnya membara dahulu. Dan suatu saat, Mantingan akan menulis tentang perdamaiannya, perdamaian dengan kematian Rara yang tidak adil.


__ADS_2