
“Jika daku mirip orang yang dikau sebutkan tadi, maka diriku tidak boleh memiliki sifat buruknya. Agar ada perbedaan di antara kami. Katakanlah sifat buruknya dan apa yang ingin dikau ubah darinya?”
WALAU BIDADARI Sungai Utara tahu balasan pria bercaping di hadapannya itu memang tidak bersangkutan dengan percakapannya, tetapi jika pertanyaan itu menyangkut tentang Mantingan ia tak akan malas menjawabnya.
“Dia jelas mengetahui bahwa diriku mencitainya, tetapi dia sama sekali tidak menghargai perasaanku.”
“Apakah yang dimaksud Saudari dengan tidak menghargai perasaan?”
Bidadari Sungai Utara mendengus napas kesal. “Dia tidak berusaha membalasnya, bahkan secara terang-terangan dia menuturkan bahwa ada gadis lain yang masih dicintainya. Padahal, gadis itu sudah meninggalkan dunia, mati!”
“Saudari meminta balasan seperti apa?”
“Daku hanya berharap dia mencintaiku. Daku dipeluknya dengan hangat dan tulus. Daku dikecupnya lembut. Apakah keinginanku ini termasuk aneh jika daku sudah bersama dengannya cukup lama? Akan tetapi sayang sekali, saat ini daku harus melanjutkan perjalanan seorang diri.”
Mantingan terbatuk pelan beberapa kali sebelum berkata kemudian, “Apakah kalian adalah sepasang suami-isteri? Jika begitu, orang yang tadi dirimu sebutkan itu sangat tidak bertanggungjawab."
Bidadari Sungai Utara tercekat dan diam untuk waktu yang tidak sebentar. Dalam mengisi keheningan itu, mereka saling terbenam dalam pikirannya masing-masing. Mantingan tengah berpikir apakah ini adalah waktu yang tepat untuk membongkar jadi dirinya?
Sedangkan Bidadari Sungai Utara tengah berpikir apakah orang di depannya ini adalah Mantingan yang menyamar ataukah bukan, namun keraguan Bidadari Sungai Utara itu tidak semakin bertambah karena selama dirinya bersama Mantingan, ia tidak pernah melihat Mantingan menunjukkan gejala-gejala Racun Tidak Bernama.
Mantingan memutuskan untuk tidak membongkar jati dirinya saat ini dan tetap pada penyamarannya sebagai pemuda bercaping; Bidadari Sungai Utara juga memutuskan untuk tidak membongkar jati diri pemuda bercaping bernama Mantingan itu.
“Kami memang bukan suami-isteri, Saudara, tetapi salahkah aku berharap hal-hal itu terjadi?”
“Menurutku, itu salah besar!” Mantingan mengencangkan suaranya, berlainan dengan suara aslinya yang lembut dan pelan saat sedang berceramah. “Kalau kata Bapak, daku tidak boleh berpelukan, berciuman, bersentuhan, bahkan bertatapan dengan wanita yang bukan keluargaku.”
Bidadari Sungai Utara mengernyitkan dahi tanpa bisa Mantingan lihat. “Tadi aku menyentuhmu, apa itu bukan masalah?”
Mantingan pura-pura terperanjat. “Aduh! Sepertinya aku berada dalam masalah! Tetapi tunggu sebentar, bukankah itu dilakukan demi menyelamatkan hidupku sendiri? Bapak pasti tidak mempermasalahkannya.” Mantingan tersenyum lebar walau Bidadari Sungai Utara tidak bisa melihat itu, yang ia lihat hanyalah punggung Mantingan. “Tapi perkara Saudari dan orang yang Saudari cintai ini sangatlah berbeda. Bukankah kalian tidak sedang terdesak sampai harus melakukan hal-hal itu?”
“Daku akan menyiapkan ramuan obatnya, kau bisa kembali besok.”
__ADS_1
Mantingan tersenyum kecut, tidak puas karena pertanyaannya belum dijawab tuntas. Namun, ia tidak mau membuat Bidadari Sungai Utara curiga dengan bertanya lagi.
“Terima kasih, Saudari dari Negeri Atap Langit. Berapakah kiranya yang perlu daku bayar untuk hari ini?”
“Tidak ada, tapi besok kausiapkan uang.”
“Sungguhkah?"
“Bekerjalah yang giat, semoga esok hari engkau dapat uang.” Bidadari Sungai Utara bangkit berdiri, mengulurkan tangannya pada Mantingan. “Tadi aku merasakan peredaran tenaga dalam di tubuhmu, apakah kau adalah pendekar?”
Mantingan menggapai tangan Bidadari Sungai Utara untuk berdiri. “Ya, aku seorang pendekar pengembara yang baru-baru ini masuk ke dalam dunia persilatan.”
Bidadari Sungai Utara mengangguk pelan, tetapi matanya tajam menyorot wajah Mantingan yang tertutup bayangan hitam.
Mantingan buru-buru menarik capingnya ke bawah. “Apakah ada yang salah dengan wajahku, Saudari?”
“Wajahmu tertutup bayangan caping, aku tidak bisa melihatnya.”
“Ruangan ini hanya dipasangi satu obor, itu saja di langit-langit ruangan. Sudah semestinya wajahku tertutup bayangan.”
“Bolehkah aku melihatnya?”
“Jangan, nanti Saudari kecewa dengan rupaku.”
“Aku bukan seseorang yang memandang orang lain dari bentuk dan rupanya.”
“Aku tidak berani mengecewakan Saudari yang telah membantuku.” Mantingan membalik badannya dengan cepat. “Aku akan kembali di sini esok hari, sampai jumpa!”
***
MANTINGAN MENGAMBIL kembali barang bawaannya yang ia titipkan kepada penjual pakaian. Di sana, Mantingan memberikan sekeping uang emas lagi sebagai ucapan terima kasih.
__ADS_1
“Arah menuju desa ke manakah, Paman?”
“Saudara, di selatan pasar adalah desa. Itulah desa tempat saya tinggal. Di desa itu telah ada penginapan dan kedai makan besar, karena pelancong yang berkunjung sudah cukup banyak.”
“Tidak, Paman, saya tidak berniat menginap di sana. Justru sebaliknya, saya ingin membeli rumah dan berkebun.”
Penjual pakaian berpikir beberapa saat. “Itu juga ada. Di sisi timur desa ada rumah yang dijual pemiliknya. Di sana ada sebidang tanah, tetapi kulihat penuh semak belukar. Apakah itu tidak mengapa?”
Mantingan tersenyum dan menganggukkan kepalanya. “Itu bukan masalah. Di manakah kediaman penjual rumah itu?”
Penjual pakaian kemudian menjelaskan rincian menuju kediaman penjual rumah pada Mantingan. Mantingan tidak mendapatkan gambaran terlalu banyak soal arah jalan, tetapi cukup mendapat gambaran mengenai bentuk kediaman sang penjual rumah.
Sekali lagi Mantingan berterimakasih pada penjual pakaian itu sebelum melanjutkan perjalanan.
***
“Sebenarnya tanah itu sudah lama saya tinggalkan, jadinya terbengkalai. Menjualnya pun seperti tidak ada gunanya.”
DI ATAS bangku itu, Mantingan mengernyitkan dahi. Di depannya adalah sang penjual rumah. Angin sejuk menerpa tubuh mereka di teras rumah itu.
“Maksud Bapak?”
“Saya akan merasa lebih baik jika meminjamkan tanah itu pada engkau.”
“Bapak, saya akan banyak merombak rumah dan tanah Bapak. Banyak yang akan saya kurangi dan banyak pula yang akan saya tambah. Apakah Bapak yakin?”
“Asalkan perubahan itu ke arah yang lebih baik, saya sangat yakin. Tadi engkau berkata ingin berkebun di sana, bukan?”
“Ya, Bapak, saya ingin menanam aneka bunga untuk pengobatan.”
“Itu perubahan yang baik, daripada sepetak lahan itu hanya ditumbuhi semak belukar saja.”
__ADS_1
Mantingan tersenyum hangat. “Terima kasih banyak, Bapak. Saya akan merawat lahan dan rumah Bapak dengan baik.”
“Ya, ya. Engkau bisa langsung masuk ke rumah itu. Saya memang sengaja tidak menguncinya. Dan jika ada orang di dalam rumah itu, saya berkata padamu untuk tidak mengusirnya kecuali dalam keadaan yang sangat-sangat terpaksa."