Sang Musafir

Sang Musafir
Meladeni Tantangan Bertarung


__ADS_3

Dua puluh lima pendekar itu melesat menuruni tebing. Setelah berhasil menuruni bukit, mereka kembali melesat menjadi bayang-bayang putih.


Kali ini mereka tidak terlalu cepat melaju, karena itu akan sangat membuang tenaga dalam. Mereka melaju dengan kecepatan sedang, tidak terlalu pelan juga tidak terlalu cepat.


Perkiraan waktu yang dibutuhkan untuk mencapai tempat tujuan adalah sekitar dini hari. Memang itu bisa dianggap tidak memenuhi tantangan pertarungan akibat keterlambatan, tetapi Mantingan malah berharap begitu. Semoga saja pendekar yang menantangnya tak sabar menunggu dan pergi dari sana, sehingga tidak perlu darah sampai tertumpah.


***


Dua lusin Pendekar Topeng Putih bersembunyi di dalam rimbunnya pohon yang terpencar di sekitar Mantingan. Dengan Ilmu Penyamar Angin yang mereka miliki, keberadaan mereka hampir tidak bisa diendus oleh lawan. Ilmu itu memungkinkan bau tubuh mereka tidak tercium, ilmu itu juga bisa menyamarkan suara napas mereka sebagai suara angin biasa.


Sedangkan Mantingan, pada dini hari itu telah maju selangkah mendekati musuhnya. Jaraknya dengan lawannya itu hanya tersisa beberapa depa saja. Mantingan menarik napas panjang.


Dugaannya salah jika ia mengira lawannya adalah orang yang tidak sabaran. Pendekar yang menantang itu nyatanya cukup sabar menunggu Mantingan. Namun, Mantingan masih harus menerima makian keras dari lawannya itu.


“Tidak perlu banyak bicara lagi,” kata Mantingan yang mulai bosan mendengar semua makian yang ditujukan padanya. “Sekarang aku ingin kau meyakinkan dirimu lagi, apakah pertarungan ini benar-benar harus terjadi?”


“Anak Muda sialan yang tidak tahu diri, engkau sudah terlambat datang dan sekarang minta pertarungan dibatalkan. Aku tetap pada pilihanku. Kau bergabung dengan Padepokan Getih Asin atau bertarung denganku sampai mati. Perlu diingat bahwa engkau telah membunuh murid-murid Padepokan Getih Asin kemarin malam, aku tidak mungkin membebaskanmu begitu saja.”


Mantingan mengembuskan napasnya. “Pendekar-pendekar itu yang menyerang dan membahayakan nyawaku, sudah barang tentu aku harus melindungi diriku sendiri, terlebih aku membawa teman wanita. Jika kau berada di posisiku, sudah pasti engkau akan melawan, bukan?”


“Tentu saja aku akan melawan demi keselamatan diriku sendiri, tetapi aku tidak sepertimu yang tidak punya keberanian mempertanggungjawabkan apa yang telah engkau sebabkan.”


“Apa maksudmu? Kau sudah berkata bahwa jasad-jasad itu kau yang mengurus.”

__ADS_1


“Mereka hanyalah jasad, tidak lagi bernilai. Tetapi engkau telah merengut hidup mereka yang bisa dikatakan cukup bernilai bagi Padepokan Getih Asin. Barang tentu kau harus mengganti mereka, dengan engkau bergabung bersama kami.” Pendekar itu kemudian tertawa. “Sudah aku pastikan engkau akan mendapatkan banyak keuntungan di Padepokan Getih Asin. Untuk pendekar setingkat dirimu, kau bisa mendapatkan banyak obat-obatan, keping emas, pusaka, budak, dan jangan lupakan soal perawan-perawan cantik.”


Ingin sekali Mantingan meludahi orang itu. Dengan tenaga dalam, Mantingan bisa melukai orang itu hanya dengan meludahinya saja. Akan tetapi, ia ingat pesan gurunya yang mengatakan untuk tidak mudah terpancing amarahnya.


Mantingan hanya bisa menahan gejolak amarahnya dengan menggertak gigi. Dirinya tetaplah manusia, ia masih perlu belajar untuk bisa menghadapi segala situasi dengan tenang.


“Jawabanku tetap sama.”


“Ya sudah kalau begitu, bertarung saja!”


Tiada banyak pilihan lain, Mantingan akhirnya menerima tantangan bertarung itu secara resmi. Sebelum mereka memulai pertarungan, sesuai dengan kesopanan, mereka saling menghaturkan hormat senjata.


Lawan Mantingan langsung pasang kuda-kuda, tangannya bersiap menarik pedang panjang di punggungnya. Mantingan tidak memasang kuda-kuda, ia berdiri tegap. Meskipun ia terlihat seperti tidak siap dan menyepelekan lawan, tetapi sebenarnya Mantingan berada dalam kondisi siap bertarung. Kuda-kudanya adalah dengan berdiri tegap, selayaknya ilmu yang diturunkan Kiai Guru Kedai.


Mantingan yang semulanya berdiri tegap juga mulai bergerak. Ia tidak bergerak mundur, melainkan bergerak maju untuk langsung menyambut serangan lawan. Dengan kecepatan tak kasat mata, mereka bertemu di udara, saling mengadu pedang satu kali.


Tubuh mereka kembali terpisahkan jarak. Dari pertukaran serangan itu, Mantingan bisa mengetahui sampai mana kekuatan lawannya. Benar bahwa kekuatan lawannya itu berimbang dengan kekuatannya. Tangan Mantingan terasa kebas dan pedangnya bergetar ringan imbas dari pertukaran serangan itu.


Tanpa Mantingan ketahui, pendekar yang menjadi lawannya itu juga mengalami hal yang sedemikian, bahkan lebih parah lagi. Telapak tangannya membiru dan pedangnya bergetar hebat. Bahkan dia mulai khawatir tidak bisa memenangkan pertempuran setelah melihat sendiri kekuatan Mantingan.


Mereka berbalik, melesat, dan kembali menukar serangan di udara. Kali ini mereka melakukannya tidak hanya sekali saja. Dalam satu kejapan mata, mereka telah menukar lebih dari dua puluh serangan!


Kini diketahui bahwa kekuatan dua pendekar itu tidaklah berimbang. Mantingan dalam segi kekuatan jauh lebih besar. Akan tetapi, dalam segi pengalaman, pendekar yang menjadi lawannya itu jauh lebih tinggi. Mantingan tidak banyak memiliki pengalaman bertarung, sedangkan lawannya telah banyak memenangkan pertarungan. Hal itu membuat pertarungan ini menjadi berimbang.

__ADS_1


“Siapakah namamu, Pendekar Muda?”


“Siapakah namaku itu tidak penting.” Mantingan enggan perhatiannya terpecah.


“Jika seandainya aku dikalahkan olehmu, aku tidak mau mati penasaran.”


Mantingan tidak menjawab. Ia jelas mengetahui keberadaan puluhan pendekar yang mengepung dirinya, lawannya itu tidak berniat kalah sama sekali. Ia menanyakan nama Mantingan adalah untuk mengetahui siapa saja kerabat-kerabat atau saudaranya, yang akan mereka bunuh sampai akarnya agar api dendam tidak membara.


Pertarungan terus berlanjut. Setidaknya mereka telah menukar lebih dari seratus serangan.


Mantingan bukannya terpojok, ia malah menguasai pertarungan. Mantingan tidak langsung mengalahkan lawannya, ia ingin menjadikannya sebagai bahan latihan. Mantingan sadar bahwa kurang pengalaman adalah suatu hal yang cukup merugikan, ia berniat menambah pengalaman dengan memperpanjang pertarungan itu.


Tentu saja hal tersebut terlihat oleh puluhan pendekar dari Padepokan Getih Asin yang lainnya. Mereka tidak dapat menahan geramnya terhadap Mantingan, langsung melesat maju membantu kawannya itu.


Mantingan yang menyadari pergerakan itu langsung mengambil tindakan dengan membunuh lawan di hadapannya itu. Dengan satu tusukan di jantung, orang yang masih belum diketahui namanya itu mati.


Melihat Mantingan membunuh kawannya itu dengan sangat mudah, puluhan pendekar bertingkat rendah yang bertugas melindunginya itu menjadi gentar. Mereka tidak bisa lagi mundur, sudah kandung maju.


Sedangkan dua lusin Pendekar Topeng Putih menahan diri. Mereka hanya ditugaskan membantu jika Mantingan berada dalam kondisi terdesak.


Mantingan membalik badannya, menghadapi pendekar yang paling dekat darinya. Ia menyunggingkan senyum kejam.


Sungguh cepat pertempuran tak kasat mata itu. Mantingan dalam sekali kelebatan bisa melumpuhkan lebih dari lima pendekar bergolongan hitam. Gerakannya secepat kilat, tidak bisa ditangkis oleh puluhan pendekar yang menjadi lawannya itu.

__ADS_1


__ADS_2