
Apakah yang saat ini Mantingan temukan selain kebingungannya memilih jalan? Ia telah berkali-kali membuka peta, tetapi peta itu sama sekali tidak memuat jalan-jalan kecil dan hanya memuat jalan-jalan utama saja.
Mantingan tentu tidak cukup bodoh untuk lewat di jalan utama tanpa perhitungan. Pada musim perang seperti ini, jalan-jalan utama sering terjadi sengketa berdarah. Jika tidak benar-benar terpaksa, Mantingan menghindari jalan utama.
Tetapi setelah dua hari tersesat, Mantingan tidak juga sampai di wilayah tujuannya. Ia hanya berputar-putar, kadang ke utara, kadang pula ke selatan. Jarang-jarang ia bergerak ke barat. Daerah putarannya itu di sekitar Purwakerta, Pura Dalem, dan Karang Sindulan. Itu adalah wilayah-wilayah yang bersinggungan dengan Sundapura, sedangkan jalan menuju Sundapura terdapat penyekatan, hanya kereta-kereta pengadaan perbekalan saja yang dibolehkan masuk.
Kini Mantingan berada di hutan buluh yang sangat teduh. Sambil minum air segar, ia duduk bersila di tanah dengan peta di hadapannya. Teliti pemuda itu mencermati peta, ia mulai membuat perhitungan-perhitungan.
Karena Sundapura sama sekali tidak boleh dimasuki, jalan-jalan menuju barat dialihkan ke wilayah-wilayah di sekitarnya.
Jika saat ini Mantingan berada di Purwakerta, maka ia harus berjalan ke selatan menuju Karang Sindulan, melintasi Agrabinta, kemudian kembali berbelok ke utara menuju Kelapa Larang, baru kemudian ke Cigede. Atau dari Karang Sindulan, melewati Agrabinta, lalu Tanjung Kidul. Itulah dua jalan utama yang harus Mantingan pilih mana yang terbaik.
Sepertinya soal keselamatan, dua jalan utama itu sama-sama tidak terlalu selamat. Maka Mantingan membuat keputusan berdasarkan hitungan jarak. Mantingan akhirnya memutuskan untuk melewati jalan utama pertama, jalur yang dinamai olehnya Jalur Utara—karena jalur itu berada di sisi utara.
Di dalam peta tersebut, Mantingan bisa melihat letak kota-kota kecil di sekitar Jalur Utara. Tetapi itu tidak bisa dijadikan patokan kebenaran. Kota-kota kecil sering kali bermunculan, sebelum beberapa belas tahun kemudian lenyap.
Mantingan tidak tahu apakah keberadaan banyak kota berpengaruh pada meningkatnya keamanan atau malah sebaliknya. Tetapi ia tidak mau terlalu memusingkan hal itu. Sekiranya diri Mantingan cukup yakin dengan kekuatannya, sehingga bisa melindungi dirinya sendiri jika terlibat pada suatu yang tidak diinginkan nantinya. Ia juga memiliki kekuatan untuk melarikan diri.
“Apa yang kaulakukan di kebun buluhku, Bocah?”
Mantingan mendongakkan kepala saat ia dikejutkan. Seorang pria tua berdiri di depannya dengan menggotong cangkul dan menyoren golok kebun. Tampang wajah pria tua itu tidak terlalu baik.
“Maafkan, Bapak, sahaya hanya numpang istirahat sebentar di sini.” Mantingan lekas berdiri dan hendak menyalami pria tua itu sebagai bentuk penghormatan.
Bukannya menjabat tangan Mantingan, pria tua itu dengan bengis menatap Mantingan dari atas sampai bawah. “Kau pendekar?”
__ADS_1
Mantingan tersenyum kaku. “Bisa dibilang seperti itu, Bapak.”
“Hendak buat kekacauan lagi?”
“Sahaya tidak ingin berbuat kekacauan di sini, Bapak, sahaya akan lekas pergi dari sini.”
“Mau buat kekacauan di mana lagi?” Ucapan pria tua itu menghentikan gerak Mantingan.
Senyum Mantingan seketika memudar. “Apa yang Bapak maksud?"
“Kalian pendekar-pendekar selalu membuat kekacauan di mana-mana! Membunuh seenak jidat, tak pandang bulu. Menjarah ladang-ladang mengatasnamakan kerajaan. Menindas orang-orang miskin seperti kami ini. Apakah itu tidak cukup dikatakan sebagai kekacauan hingga engkau ingin membuat kekacauan yang lebih parah lagi?!”
Mantingan terdiam sejenak. Kini ia berhadapan langsung dengan korban perang. Memang benar jika perang sangat berdampak besar pada masyarakat. Selalu ada korban yang jatuh di masa peperangan, kerugian masyarakat yang dihasilkan juga tidak sedikit. Mantingan tidak bisa menyalahkan pak tua yang marah-marah padanya itu.
“Bapak, sama seperti manusia lainnya, sungai telaga persilatan diisi oleh pendekar baik dan pendekar jahat. Tidak semua pendekar bersikap jahat seperti apa yang Bapak bilang barusan itu ....”
Mantingan tetap tenang. “Bapak, ini adalah musim peperangan. Dengan atau tanpa adanya pendekar, peperangan akan tetap merugikan.”
“Tapi yang terjadi hari ini disebabkan oleh kalian, bodoh!”
Mantingan mengembuskan napasnya panjang sebelum tersenyum hangat. Siapakah yang tidak luluh ketika melihat senyuman tulus dari Mantingan? Pak tua yang marah-marah itu tidak tersinggung dengan senyum Mantingan, ia malah melihat betapa jernihnya hati Mantingan. Senyum yang bagai mentari pagi, bersinar tanpa menuntut balas.
“Bapak, sahaya minta maaf atas kerugian yang menimpa Bapak. Mungkin saja Bapak telah kehilangan sesuatu yang tidak bisa didapatkan lagi, sahaya tahu betapa menyakitkan dan menyesakkan dada yang Bapak rasakan.” Mantingan tersenyum sedih. “Kita sama-sama mengetahui hal itu tidak mungkin dapat dikembalikan lagi, dan waktu tidak bisa diputar untuk memperbaiki apa yang kita sesali. Betapa hal itu membuat dada terasa sempit, membuat kita kehilangan harapan, sebelum akhirnya api dendam membara.”
Mantingan terdiam beberapa saat untuk melihat tanggapan pak tua di depannya itu. Bisa dikatakan sebagai perkembangan yang baik, pria tua itu tidak membantah ucapan Mantingan. Tubuhnya mematung, seolah ucapan Mantingan itu telak menyentuh hatinya.
__ADS_1
“Bapak, kita dapat berdamai dengan semua itu. Menerima segalanya sebagai bagian cerita dalam hidup. Lalu dengan perasaan senang menyunggingkan senyum pada mereka yang tidak lagi kita miliki. Bapak bisa terus bersama mereka, selama jiwa mereka telah menancap betul pada jiwa Bapak.”
Mantingan seakan mengulang kembali kejadian di mana Rara terbaring bersimbah darah di tepi pantai. Tetapi Rara tidak benar-benar meninggalkan pemuda itu, jiwa Rara telah menancap pada jiwa Mantingan. Dengan pengenalan menyeluruh pada sifat Rara, Mantingan bisa membayangkan bagaimana Rara berjalan di sampingnya.
Begitulah yang dimaksud dengan jiwa yang menancap ke jiwa. Dengan mengenal orang yang disayangi, meskipun orang itu telah mati, masih dapat didengar bagaimana dia marah atau tertawa. Masih bisa didengar suara langkahnya, terdengar juga senandungnya.
“Bagaimana Anak bisa tahu?” Pak tua itu menyangka Mantingan memiliki kemampuan melihat pikiran orang.
Mantingan menggeleng pelan dan tersenyum. “Saya hanya menebak saja, Bapak.”
Pria tua itu mengembuskan napasnya. “Saya kehilangan seluruh keluarga saya, habis dibunuhi pendekar-pendekar. Saya sedang di ladang saat itu, seharusnya saya ikut mati bersama mereka.” Dari pak tua itu matanya berlinang. Agaknya sungkan untuk menangis. “Tapi Anak telah menyadarkan saya. Mereka memang tidak bisa saya kembalikan lagi, tapi saya bisa merelakan mereka, saya harus berdamai, saya harus tersenyum pada mereka.”
"Sahaya sangat senang jika bisa membantu Bapak."
Orang tua itu tersenyum pada akhirnya. "Terima kasih, Anak Muda."
Mantingan tersenyum lebar, ia mulai berkemas-kemas.
“Hendak ke manakah, Anak? Saya tidak jadi mengusirmu, Anakku, di sinilah sepuas hatimu.”
“Saya harus meneruskan perjalanan, Bapak.” Mantingan selesai berkemas, bangkit berdiri. Dari pundi-pundinya ia merogoh sejumlah keping emas. “Ini tidak banyak, tapi tolong terimalah.”
“Apa ini, Anakku? Dikau tidak buat salah apa-apa atas kematian keluargaku.”
Mantingan menggeleng dan memaksa pak tua itu menerima uangnya. “Yang melenyapkan keluarga Bapak adalah pendekar, dan sahaya adalah pendekar juga. Sahaya merasa bertangggungjawab pada Bapak. Mohon terimalah.”
__ADS_1
Pak tua itu dengan tidak enak hati menerimanya. Tetapi ia tahu, bahwa yang Mantingan berikan bukanlah uangnya, tapi permintaan maafnya.
“Sahaya mohon diri. Bapak, selalulah berbuat kebaikan.” Mantingan menyunggingkan senyum perpisahan sebelum melangkah pergi.