
TANGAN ramping Bidadari Sungai Utara menyelusup ke bagian belakang kepalanya, yang lalu dengan lembut mengangkatnya. Ketika Mantingan membuka matanya, dilihatnya Bidadari Sungai Utara mengantar secawan ramuan ke tepi bibirnya.
Mantingan merasakan cairan pahit di cawan itu pindah ke dalam mulutnya. Meski rasanya benar-benar jauh dari kata enak, bahkan lebih tinggi daripada kata tidak enak, Mantingan tetap meneguk ramuan di dalam cawan sampai hingga habis.
Tidak mungkin dirinya memuntahkan ramuan yang telah susah payah dibuatkan Bidadari Sungai Utara.
Setelah benar-benar habis isi cawan itu, kepala Mantingan kembali direbahkan di atas bantal.
“Katakanlah kepadaku, apa yang dikau rasakan saat ini? Nakhoda berkata bahwa rasa mualmu tidak akan bertahan lebih dari satu malam, tetapi daku tidak terlalu mempercayai ucapannya itu jika keadaanmu begini.” Bidadari Sungai Utara berkata dengan wajah khawatir.
Mantingan membuka mulut dan berusaha untuk mengeluarkan suara. “Ini ... rasanya ... sangat buruk ....”
Mantingan membeliakkan mata ketika dirasakannya jari-jemari Bidadari Sungai Utara mengelus lembut kepalanya. Diliriknya Bidadari Sungai Utara dengan tatap mempertanyakan, tentu saja sambil meringis juga.
“Tidak ada yang tidak menangis setelah melewati Ayunan Seribu Tangisan Bumi Terbalik itu, Mantingan. Bahkan Ikan Terbang mengaku menangis seribu kali dalam satu malam gara-gara ayunan itu.” Bidadari Sungai Utara berkata hangat sambil terus mengelus kepala Mantingan. “Jika dikau memang ingin menangis, janganlah ditahan lebih lama lagi. Daku akan menemanimu di sini selama yang engkau mau, sehingga engkau tidak menangis sendirian.”
“Apalah, seorang pendekar jantan ... tidak pernah menangis.”
“Kuyakin engkau ingin menangis, Mantingan.”
“Engkau memaksaku untuk menangis ... Sasmita?” Ucapan Mantingan terdengar lebih jelas, tetapi tetap saja diakhiri oleh ringis kesakitan.
“Lihatlah, pria jantan ini mencoba untuk tidak menangis.” Bidadari Sungai Utara tertawa kecil. “Pria jantan adalah pria yang jujur. Jika dia memang ingin menangis, maka menangislah.”
Maka seketika itu pula Mantingan mengucurkan air mata. Sungguh tiada dapat ditahan penderitaan yang disebabkan oleh Ayunan Seribu Tangisan Bumi Terbalik itu!
Mantingan pula tiada dapat lagi membohongi dirinya sendiri. Untuk itulah, ia memilih untuk menangis saja. Melepaskan semuanya. Ayunan itu keramat itu tidak akan pantas mendapatkan namanya jikalau tidak mampu membuat pendekar seperti Mantingan menangis.
Sampailah ketika ia merasakan aliran tenaga hangat masuk ke dalam tubuhnya. Membuatnya seketika terbuai dalam kenyamanan yang tiada duanya. Mantingan segera sadar bahwa Bidadari Sungai Utara tengah mengalirkan tenaga prana.
__ADS_1
“Tidurlah Mantingan ....”
“Tidak!” Mantingan menolak dengan keras. “Daku harus tetap berwaspada. Hentikan ini.”
“Rebahkan seluruh kewaspadaanmu barang sejenak. Daku akan menjagamu di sini. Daku berjanji tidak akan ke mana-mana sampai engkau terbangun.”
Kesadaran Mantingan perlahan mengendur. Ia mengalami perasaan yang pernah ia rasakan sewaktu di Penginapan Bunian Malam beberapa pekan yang lalu. Terombang-ambing di tengah lautan cahaya pudar. Diselimuti kehangatan dan kasih sayang. Diliput rasa aman dari segala macam ancaman.
“Sasmita ... siapakah engkau sebenarnya?” Hanya sepatah kalimat itulah yang mampu diucapkannya sebelum terlelap dalam kenyenyakan.
***
“MANTINGAN! BANGUNLAH!”
MANTINGAN bangkit dari ranjangnya ketika didengarnya suara panggilan itu. Ditolehnya ke sekitar, tidak lagi ia temukan Bidadari Sungai Utara di tempat. Di luar jendela tampak bahwa malam telah tiba. Gulitanya menandakan bahwa malam mungkin saja telah begitu larut.
“Saudari, engkau di mana?!” Mantingan setengah berteriak. Tetapi tidak terdengar balasan. Yang justru didengarnya adalah suara kelebatan yang begitu cepat mengarah kepadanya dari arah pintu kamar!
Mantingan segera memejamkan mata dan melompat mundur. Diedarkannya Ilmu Mendengar Tetesan Embun untuk dapat mengetahui segala macam bentuk benda dalam lima belas tombak darinya.
Mantingan menyambar Pedang Kiai Kedai yang tergeletak di atas ranjangnya. Suara kelebatan itu semakin mendekat, bahkan disertai pula oleh suara desingan logam membelah udara! Mantingan menarik keluar bilah Pedang Kiai Kedai dari sarungnya untuk kemudian digunakannya menangkis serangan berbahaya!
Dalam keterpejaman itu, Mantingan masih mampu memperkirakan rupa pendekar yang menyerangnya saat ini. Bentuk wajah orang itu tidak mampu dikenalinya, akan tetapi dari pakaian yang dikenakannya, Mantingan mengetahui bahwa yang menyerangnya merupakan pendekar dari armada Tarumanagara!
Tidak sempat dipikirkannya alasan pendekar itu menyerangnya ketika Mantingan kembali menghadapi serangan kedua.
Mantingan mengibaskan pedangnya untuk menangkis serangan itu. Namun kali ini, tubuhnya terdorong jauh ke belakang hingga keluar dari jendela kamar menuju lautan luas.
Mantingan tidak serta merta menjadi buncah. Sebab betapa pun, dirinya mampu bertarung di atas air dengan ilmu meringankan tubuh yang tinggi. Mantingan bahkan sengaja tidak menghentikan lajunya untuk dapat lebih mengetahui keadaan di luar kapal.
__ADS_1
Mantingan menapaki air laut yang bergelombang untuk melentingkan tubuhnya jauh-jauh ke atas. Dibukanya mata untuk melihat ke sekitar.
Segera sadarlah dirinya bahwa di atas geladak kapal yang ditumpanginya itu tidak terlihat sesuatu keanehan pun. Obor-obor masih menyala, para pendekar tampak bersenda gurau, dan Ikan Terbang pun masih berdiri di atas anjungannya.
Mantingan kemudian kembali melihat ke bawah, menyadari bahwa pendekar Tarumanagara yang tadi menyerang tidak lantas mengejarnya.
Adakah pendekar itu tidak mampu menapak di atas air? Ataukah justru hal itu disengaja agar dirinya tidak diketahui oleh siapa pun di atas geladak?
Mantingan tidak sempat memikirkan jawabannya saat ia buru-buru melesatkan diri ke atas anjungan. Ikan Terbang yang telah menyadari kehadirannya sejak awal, lekas bertanya.
“Adakah sesuatu yang mengharuskan engkau melenting seperti itu, Saudara Man?” Ikan Terbang memendarkan pandang, pria yang mendekati parobaya itu mengetahui apa pun jawabannya pastilah sangat buruk.
“Seorang pendekar berpakaian seperti prajurit Tarumanagara menyerangku di kamar. Bidadari Sungai Utara pula menghilang.” Mantingan berusaha menjawab setenang mungkin. “Engkau tidak melihat sesuatupun yang mencurigakan dari atas sini, wahai Ikan Terbang?”
“Sama sekali tidak.” Ikan Terbang menjawab singkat sebelum mengangkat tangannya tinggi-tinggi, kemudian berseru dengan lantang, “Kelewang Samodra disusupi! Pendekar yang telah mencapai tingkat Pencetak Inti masuklah ke geladak dasar! Yang lain pergilah ke pinggiran geladak dan tebarkanlah pandang, laporkan segala pergerakan yang tidak wajar! Pasukan pemanah naiklah ke atas pasak layar serta bersiagalah untuk menembak dengan aba-aba! Pasukan pengawas, kirim sandi tanda bahaya tingkat kedua pada seluruh armada!”
Maka begitulah setelah Ikan Terbang memberikan perintah, Kapal Kelewang Samodra menjadi amat sangat sibuk. Hampir seluruh pendekar yang di dalamnya bergerak untuk melaksanakan tugas mereka masing-masing.
___
catatan:
Sesuai dengan janji, saya akan meneruskan cerita ini sampai tamat.
Berikut ada kiriman fanart Bidadari Sungai Utara dari Kenes Kaneishia S :
__ADS_1