Sang Musafir

Sang Musafir
Tiada Kemustahilan


__ADS_3

MANTINGAN masih duduk di bangkunya. Memesan minuman dan sekadar kudapan di sebuah kedai kecil yang terletak di lantai dasar Penginapan Barisan Bintang. Sambil sesekali menyesap teh pahit di dalam wadah keramik dari Negeri Atap Langit yang bernama tembikar. Di Kotaraja Koying, mudah sekali menemukan barang-barang dari peradaban seberang; semudah menemukan orang-orang asing yang seolah saja berkeliaran di setiap jalanan kotaraja.


Dan tiadalah Mantingan hendak bersantai-santai di tempat ini.


Kewaspadaan tak terlepas sedikitpun dari dirinya.


Caping lebar bertengger di kepalanya, dengan segenap Lontar Sihir yang mampu mencipta bayang-bayang pekat guna menutupi rupa wajahnya dari pandangan orang-orang yang barang tentu tidak dapat dijamin bahwa di antara mereka tidak ada yang berasal dari telaga persilatan.


Jubah hitam lebar dan panjang menyelimuti tubuhnya. Seolah saja mencoba tetap bertahan di tengah gempuran udara dingin kotaraja, walau sebenarnya sebagai pendekar yang memiliki tenaga dalam besar Mantingan sama sekali tidak membutuhkan itu.


Kini dirinya benar-benar sulit dikenali.


Seperti biasa, Mantingan memilih meja di sudut ruangan. Di sanalah ia mampu memantau seisi ruangan tanpa menuai banyak perhatian dari orang lain.


Pemuda itu sedang menunggu seseorang, yang siapakah lagi kiranya jika bukan Rashid? Ada sedikit banyak urusan tentang naskah kitab perjalanannya yang ia merasa harus dibincangkan dengan pria berjanggut panjang itu. Barulah setelah segala urusannya selesai, Mantingan akan pergi ke pusat penampungan kotaraja untuk menjumpai Dara; jatah karantinanya selesai tepat di hari ini.


Ia tidak berharap Chitra Anggini akan ikut bersamanya. Sungguh. Selain berkemungkinan besar perempuan itu akan membuang banyak waktu untuk berdebat dengan Dara, dia pun masih belum terbangun dari tidurnya hingga sekarang.


Bukan hal biasa Chitra Anggini bangun terlambat, jika saja dirinya tidak mengalami sesuatu yang bukan biasa pula sebelumnya. Dia mabuk, dan dalam keadaan seperti itu masih pula memaksakan diri untuk mencari Mantingan ke penjuru kotaraja. Memakan waktu seharian tanpa istirahat. Tersirat rasa penyesalan dalam benak Mantingan, sehingga ia enggan nian mengganggu tidur pulas perempuan itu.


“Maaf membuatmu menunggu lama, Kawan.”


Mantingan menolehkan pandang ketika didengarnya sebuah suara yang ia kenali sebagai suara Rashid. Dan benar saja, pria bersorban itu tampak berjalan ke arahnya dengan langkah kaki cepat. Kelihatan betul rasa tidak enak di wajahnya.

__ADS_1


Mantingan tersenyum sebelum berdiri menyambutnya. “Bukan apa-apa. Diriku bahkan belum selesai menghabiskan setengah cangkir teh yang kupesan.”


Rashid balas tersenyum lebar sambil mengucapkan kalimat maaf satu kali lagi. Setelah itu, dirinya menarik salah satu kursi di meja yang Mantingan tempati. Mereka duduk berhadap-hadapan di sana.


“Kuharap dikau mengerti asalan mengapa diriku datang terlambat, Kawan.”


Mantingan menganggukkan kepalanya pelan. Ia jelas mengerti.


Pagi buta tadi, Mantingan pergi ke kamar Rashid yang terletak tidak seberapa jauh dari kamarnya. Sesampainya di sana, ia terkejut demi melihat seorang perempuan yang hampir tidak mengenakan sehelai busana pun di hadapan pintu kamar Rashid.


Awalnya, Mantingan berniat cabut sesegera mungkin dari tempat itu. Mengira bahwa Rashid membutuhkan waktu “pribadi” dengan perempuan yang tampak betul sebagai bunga raya itu. Namun tepat sebelum putar badan dan berjalan pergi, Mantingan menyadari terdapatnya sesuatu yang aneh.


Perempuan itu mengetuk-ngetuk keras, atau boleh dikata menggedor-gedor pintu kamar Rashid. Itu lebih dari sekadar ketukan tanda ingin masuk secara damai, jelas rupa bahwa itu adalah tindak pemaksaan.


Atas dasar itulah, Mantingan bertanya lantang pada perempuan bunga raya itu. Biarlah pula Rashid mendengarnya.


Perempuan itu menengok ke arahnya dengan tampang wajah kesal teramat. Tidak menjawab, hanya mendesis panjang bagai seekor ular yang merasa terancam oleh keberadaan musuh. Namun beruntunglah, Rashid yang masih mampu mendengar suara Mantingan di luar kamarnya lekas berkata keras-keras.


“Wahai Kawanku yang teramat baik, apakah dikau membutuhkan bantuan dariku?”


Mantingan terdiam beberapa saat, sebelum menjawab, “Benar. Daku hendak bercakap-cakap sebentar denganmu. Boleh dikata, ini cukup penting.”


“Kalau begitu, engkau tunggulah daku di kedai penginapan. Secepat mungkin daku akan menyusul dikau ke sana.”

__ADS_1


Mantingan berjalan pergi dengan kepala penuh pertanyaan. Hinggalah sesampainya di bawah, ia mengetahui apa yang sebenarnya terjadi.


“Bagaimanakah akhirnya?” Kini Mantingan bertanya tentang kejadian itu, sekadar untuk mencairkan suasana.


Rashid berdeham beberapa kali sebelum menjawab, “Daku harus tetap membayar perempuan lacur itu ....”


Mantingan mengangkat alisnya. Agak terkejut pula, meskipun sungguh ia mengetahui bahwa sangat tidak baik jika dirinya mencampuri urusan Rashid. Bukankah memang sudah teramat biasa bagi seorang pria matang yang belum menikah untuk menyewa pelacur?


“Ai, janganlah dikau menjadi salah paham, Kawanku. Meskipun daku membayar perempuan sialan itu, tidaklah sampai daku memakainya. Daku masih setia pada kekasihku di Tanah Jazirah yang pula setia menunggu kepulanganku. Kami akan menikah sebentar lagi, tak sampai hati daku dustakan kesetiannya. Kuharap tidak akan terjadi sesuatu di kotaraja ini maupun di perjalanan pulang nanti yang sekiranya dapat membunuhku.”


Mantingan kembali menganggukkan kepalanya perlahan. Barang sejenak ia melihat ke sekitar untuk sekadar melepaskan diri dari bayang-bayang Bidadari Sungai Utara yang kembali menggelayuti benaknya.


Namun lantai dasar penginapan ini terlalu sepi dan sunyi, sehingga seolahlah bayangan Bidadari Sungai Utara dapat muncul di mana-mana. Mantingan dengan terpaksa menarik pandangannya ke permukaan meja, dengan tanggungan gelagatnya itu mampu dilihat oleh orang cerdas seperti Rashid.


“Di Jazirah tempatku berasal, jarang sekali terjadi pernikahan atas dasar rasa cinta. Hampir semua dari kami dijodohkan dengan anak-anak suku lain yang sama sekali tidak kami kenali. Mau tidak mau, berkenan tidak berkenan, kami harus tetap menerima perjodohan itu, demi tetap terjalinnya hubungan antar-suku. Setiap perjodohan di sukuku berharga nyawa.” Rashid memasang senyum, yang tampak jauh lebih cerah setelah ia menanggalkan pipa cangklongnya untuk pagi ini. “Tetapi diriku menentang itu, Kawan. Daku memiliki cinta sejati. Daku juga memiliki gadis pujaan yang harus kunikahi. Pembangkangan berharga nyawa, maka kami berdua melarikan diri dari kampung suku.


“Sepasukan prajurit berkuda mengejar kami. Sabetan-sabetan kelewang panjang menyertai, yang jika sampai terpapas maka melayanglah nyawa. Dalam keadaan tiada berdaya, kami hanya dapat memegang keyakinan dan harapan besar, bahwa sekuntum bunga cinta dapat tumbuh di keringnya gurun pasir.


“Kami berdua selamat, Kawanku. Sepasukan prajurit berkelewang itu jauh tertinggal di belakang punggung kami. Kuda mereka keletihan, belum diberi air sebanyak mungkin sebelum dipacu kencang untuk menangkap kami. Berbeda dengan kuda kami berdua yang telah diberi makan dan minum sebanyak mungkin, sebab semuanya telah kami buat perencanaannya. Hinggalah kami menjumpai suku pengembara yang sama sekali tidak keberatan menerima kami berdua.”


Mantingan masih pula bergeming, tetapi diangkat pandangannya lurus ke hadapan. Mencari maksud dari ceritera Rashid. Sedangkan orang yang ditatapnya itu melebarkan senyum.


“Kawan, melawan perjodohan yang berharga nyawa di dalam suku barbar tentulah akan tampak sebagai suatu kemustahilan, sama mustahilnya dengan sekuntum bunga cinta yang tumbuh di keringnya padang pasir, tetapi kemustahilan dapat ditawar dengan harapan yang dipadu dengan rangkaian perencanaan matang. Seperti apa yang dikatakan orang-orang bijak, tidak ada sesuatu yang mustahil, sebab kemustahilan selalu dapat dijelaskan, sehingga tidak ada sesuatu apa yang menjadi mustahil.”

__ADS_1


Mantingan menarik napas panjang. Mungkinkah Rashid telah mengetahui bahwa dirinya menaruh segenap cinta kepada Bidadari Sungai Utara? Pulakah Rashid mengetahui bahwa perempuan itu adalah putri Raja Champa yang telah dijodohkan dengan putra mahkota Raja Funan, yang jikalau menentang perjodohan itu bukan saja berharga satu-dua nyawa melainkan ribuan nyawa sebab peperangan?



__ADS_2