Sang Musafir

Sang Musafir
Menyerahkan Naskah Kitab Perjalanan


__ADS_3

“Semuanya berjalan dengan baik, bukan?”


CHITRA Anggini bertanya dengan cemas pada Mantingan setelah melihat pemuda itu keluar dengan wajah yang kurang sedap.


“Ada banyak hal yang harus diurus, secepatnya kita pergi dari sini.” Mantingan segera memberi tanda pada Chitra Anggini dengan tatapan matanya, yang langsung dapat diartikan oleh gadis itu sebagai tanda kegentingan.


“Tidak hendak rehat sejenak sambil minum, Anak?” Seorang wanita paruh baya menghampiri mereka sambil berkata ramah. Memanglah tempat pertemuan dengan Puan Kekelaman ada di dalam sebuah kedai teh sekaligus tuak.


“Dia tidak minum tuak, Ibu.” Chitra Anggini menyeringai lebar sambil menyenggol Mantingan di sampingnya, tetapi pemuda itu tidak menanggapinya dengan cukup baik.


“Kita HARUS segera pergi dari sini.” Mantingan memberi penegasan. Menatap Chitra Anggini dengan begitu tajam.


“Ah, baiklah. Jika Anak berdua memang sedang terburu-buru, maka wanita tua ini tidak akan menahan lagi. Pergilah sekarang, dan jika sempat berkunjunglah lagi ke kedai bobrok ini. Semoga kalian diberi keselamatan sampai tujuan!”


Mantingan langsung melangkah pergi. Sama sekali tidak memberi balasan. Sekadar tersenyum pun tidak. Chitra Anggini mengikutinya dengan anggapan baru; keadaan tidaklah genting, hanya saja Mantingan sedang marah. Segenting apa pun keadaannya, tidak biasanya Mantingan bersikap angkuh pada orang yang telah ramah kepadanya.


Setelah mereka keluar dari kedai minum itu dan lantas berjalan di jalanan yang sepi, barulah Chitra Anggini bertanya, “Apa yang membuatmu begitu marah, Mantingan?”


Pemuda yang ditanya itu sayangnya tidak membalas. Hanya menggertak rahang sambil terus melangkahkan kaki cepat-cepat. Sekali lagi Chitra Anggini bertanya dengan pertanyaan yang sama, tetapi pula dengan sedikit penentangan. Seolah saja berkata bahwa dirinya berhak tahu. Mau tidak mau, suka tidak suka, Mantingan membalas pertanyaannya, meski itu bukan berarti jawabannya.


“Aku tidak bisa menjelaskannya di sini, Chitra. Sudah pasti aku akan menceritakan segalanya padamu, tetapi sungguh hal itu tidak dapat kulakukan sekarang.” Mantingan berusaha mengatakannya dengan lembut, meski pandangan matanya tetap tidak dapat mendustakan kemarahannya.


“Kalau begitu, tenangkanlah pikiranmu terlebih dahulu.” Chitra Anggini meremas bahu pemuda itu, menampakkan senyuman prihatin. “Kakakku berkata bahwa seburuk apa pun keadaannya, janganlah sampai terbawa amarah. Betapa pun adanya, kemarahan hanya akan membawa kesengsaraan.”


Mantingan menghela napas panjang sambil menggelengkan kepalanya perlahan. “Kita harus pindah dari Penginapan Barisan Bintang, malam ini juga.”


“Itu urusan mudah, tetapi hendak pindah ke manakah?”

__ADS_1


“Pemukiman Kumuh Kotaraja,” jawab Mantingan. “Di sanalah tempat teraman yang dapat kita tinggali untuk sementara waktu.”


Chitra Anggini terlihat meragu sejenak, tetapi beberapa saat kemudian menganggukkan kepalanya. “Aku paham.”


“Kuharap kau tidak merasa terbebani.” Mantingan meneruskan sambil tertawa pelan, “selama ini aku hanya bisa merepotkanmu saja.”


“Daku persembahkan hidupku untukmu, Mantingan. Ke manapun kakimu melangkah, maka di situlah pula kakiku melangkah. Apa pun yang kaukehendaki, maka itulah pula yang akan kujalani.”


Perkataan itu membuat Mantingan berhenti melangkah. Tatap matanya menyorot langsung wajah Chitra Anggini yang cantik. Berusaha mencari tanda-tanda kebohongan, atau apa pun itu yang dapat menyatakan bahwa perkataannya barusan tidaklah sungguh-sungguh. Namun teramat sayang, Mantingan tidak menemukannya!


Hanya ketulusan belaka yang tampak di wajah Chitra Anggini. Sungguh ketulusan yang teramat suci. Kesungguhan yang kukuh tak tergentarkan. Mantingan merasakan haru meletup-letup di dalam dadanya.


Namun betapa pun, mestilah Mantingan sadari bahwa sumpah Chitra Anggini itu sungguh berlebihan. Benarkah perempuan itu hendak mengikuti setiap langkah Mantingan, yang sama saja telah siap menghadapi semua orang yang memusuhi pemuda itu?


Maut malang-melintang di hadapan Mantingan. Kematian dapat terjadi kapan saja tanpa terduga-duga. Mungkin untuk menyelamatkan dirinya sendiri, Mantingan masih mampu, tetapi tidak mungkin untuk melindungi Chitra Anggini pula.


Betapa seorang pendekar pantang tenggelam dalam penyesalan. Kehidupannya adalah perjalanan menemukan kesempurnaan yang ditempuh dengan pertarungan demi pertarungan. Kematian adalah hal yang sudah teramat biasa, begitu biasa, sehingga tidak lagi perlu menjadi pembahasan.


Pendekar akan meninggalkan hal-hal yang lama sebagai sebuah pembelajaran untuk mencapai kesempurnaan ilmu silat. Kematian kawannya, saudara seperguruan, atau bahkan keluarganya sendiri adalah sesuatu yang tidak perlu disesali.


Namun dapatkah Mantingan berpikiran sedemikian rupa, sedangkan pada dasarnya ia terpaksa menjadi pendekar?


“Sumpahmu terlalu berat, wahai Chitra Anggini yang betul-betul kusayangi.” Mantingan berkata setelah menyelesaikan perenungannya. “Kita adalah kawan seperjalanan, yang betapa pun akan saling membantu satu sama lain. Kau bukanlah pembantuku, dan aku pula bukanlah pembantumu. Tidak ada di antara kita yang memberi bantuan tanpa menerima bantuan. Segala pengorbananmu ini akan kubalas suatu saat nanti.”


Seketika itu pula raut wajah Chitra Anggini berubah menjadi sedih, yang biar bagaimana juga mengiris benak Mantingan. Dengan suara bergetar gadis itu berkata, “Jadilah sebenarnya aku tidak dapat terus mengikuti dirimu?”


Dengan senyum pahit, Mantingan menganggukkan kepalanya. “Benar. Setelah kau berhasil mendapatkan Sepasang Pedang Rembulan, kita akan berpisah. Bukankah begitu kesepakatannya?”

__ADS_1


Entah untuk alasan apa, Chitra Anggini memalingkan wajahnya dari hadapan Mantingan. Kulitnya memerah, bibirnya terbata-bata.


Betapa telah lama gadis itu mengumpulkan keberanian untuk menyampaikan bahwa dirinya hendak mengikuti pengembaraan Mantingan, yang sama saja dengan mengabdikan diri kepadanya, namun kini hanya berbuah penolakan. Tidaklah semanis bayangannya.


“Bukan saatnya kita membahas hal ini.”


Mantingan teringat bahwa masih ada banyak hal yang perlu disampaikan pada Chitra Anggini, termasuk pula tentang Perhelatan Cinta yang harus mereka ikuti. Semakin cepat tiba di Penginapan Barisan Malam, maka akan semakin baik.


***


“Sayang sekali kita tidak lagi dapat berbincang bersama sambil minum teh, Kawan.”


RASHID menggelengkan kepalanya dengan penuh sesal. Setelah menerima seluruh naskah kitab perjalanan Mantingan yang telah selesai dituliskan, dia juga harus menerima kabar kurang menyenangkan tentang rencana kepindahan Mantingan dari Penginapan Barisan Bintang. Namun, Rashid dapat memahami bahwa keputusan itu adalah yang terbaik untuk saat ini.


“Akan daku temui dikau secepatnya setelah tuntas kubaca semua lembaran lontar ini,” lanjut Rashid.


“Tidak perlu.” Mantingan mengibaskan lengannya. “Akan sangat sulit dikau menemukanku di tempat itu, biarlah daku saja yang menemui dikau di sini.”


“Itu perkara mudah.” Rashid tersenyum lebar. “Katakanlah jika dikau membutuhkan bantuanku, Kawan.”


Mantingan menggeleng dan berkata bahwa semuanya dapat teratasi dengan baik. Setelah berbincang-bincang ringan sejenak, Mantingan memutuskan untuk pamit dari kamar Rashid. Tentulah sama berarti pamit dari penginapan itu, sebab setelahnya ia bersama Chitra Anggini akan langsung bergerak menuju Pemukiman Kumuh Kotaraja.


___


catatan:


Episode bulan ini: 4/40

__ADS_1


__ADS_2