Sang Musafir

Sang Musafir
Keuntungan, Canang, dan Sendaren


__ADS_3

MANTINGAN kembali ke dalam kamarnya membawa kitab karya sastra yang tadi dibacanya itu serta seekor ikan segar yang terbungkus di dalam daun talas.


Ia meletakkan dua benda itu di atas meja, sebelum menduduki bangku yang ada di belakangnya. Mantingan menarik napas panjang lalu membuka bungkusan ikan secara perlahan-lahan.


Setelah bungkusan daun talas itu terbuka, terpampanglah seekor ikan mati namun masih segar yang tidak Mantingan ketahui jenisnya sama sekali. Dilihatnya perut ikan itu sebenarnya telah teriris hingga ke dalam, tetapi dijahit kembali menggunakan benang tipis khusus dengan rapi. Berkemungkinan besar, hal ini dilakukan agar lontar berisi pesan di dalam badan ikan itu tidak terberai keluar.


Mantingan mengambil sebilah belati kecil sebelum mengiris ikan malang itu, memutus benang-benang tipis yang semulanya merekatkan perut ikan. Mantingan kemudian menarik sebuah lontar berukuran kecil dari dalamnya.


Pemuda itu mengelap cairan darah pada lontar tersebut sebelum mulai membacanya.


Segala yang telah terjadi


maka biarlah begitu


kami telah mengetahuinya dan kami menjagamu


pelayaran dalam sepuluh hari ke depan


Lembar lontar yang berisi pesan teramat singkat padat dan jelas itu membuat Mantingan sedikit berlega hati.


Surat itu mengisyaratkan bahwa Padepokan Angin Putih telah mengetahui musuh seperti apakah yang sedang menjadi ancaman Mantingan saat ini, yaitu Kelompok Pedang Intan. Mereka pula berkata akan menjaganya, yang mungkin saja dilakukan dengan pengamatan dari jauh serta penyediaan lebih banyak pendekar ahli dari Perguruan Angin Putih.


Mantingan menyimpan lembar lontar itu baik-baik di dalam bundelannya. Surat selanjutnya akan datang lima hari lagi, yang sangat berkemungkinan besar menjadi surat yang terakhir sebelum pelayaran.


Pemuda itu kemudian menyadari. Dalam waktu sepuluh hari, atau mungkin sebelas-duabelas hari lagi jika terdapat penundaan, ia akan berpisah dengan Bidadari Sungai Utara di tengah lautan luas. Betapa pun, itu tidak dapat dihindarinya lagi. Mantingan menarik napas dingin, bertekad kuat untuk memastikan keselamatan Bidadari Sungai Utara sampai hari keberangkatannya.


Mantingan kemudian mulai mengambil selembar demi selembar Lontar Sihir kosong untuk dimantrai menjadi Lontar Sihir Cahaya. Sembari melakukan itu, Mantingan pula melatih Ilmu Mendengar Tetesan Embun.


***

__ADS_1


KETIKA siang perlahan-lahan beranjak menjadi senjakala, Mantingan dikejutkan oleh suara kentungan dipukul berkali-kali yang sebentar kemudian disusul oleh suara keributan yang terdengar cukup kuat sampai ke dalam kamarnya.


Kewaspadaannya meningkat tajam dalam seketika!


Ingin mengetahui apa yang sedang terjadi sebenarnya di luar sana, Mantingan menjulurkan kepalanya di balik tirai jendela.


Dalam sekejap, raut wajahnya berubah menjadi amat sangat buruk.


Puluhan pendekar berpakaian serba putih yang bersenjatakan pedang terlihat berkelebatan di udara membentuk suatu barisan ke arah dermaga. Dilihatnya pula pendekar yang menjaga menara terus memukul kentungan dan canang besar, bahkan salah satunya menarik busur untuk melepas panah sendaren ke arah selatan.


Mantingan tahu, apa pun yang terjadi sudah pastilah amat sangat buruk. Tiga peringatan dibunyikan sekaligus dalam satu waktu. Tanpa banyak pikir lagi, Mantingan memapas Pedang Kiai Kedai dan segera berdiri dari bangkunya.


Namun, Mantingan yang hendak berkelebat keluar jendela itu harus tertahan gerakannya. Sebab entah dari mana, seseorang bertopeng hinggap tepat di bingkai jendela kamarnya.


“Pasukan Topeng Putih ....” Mantingan berkata pelan sebelum bertanya cepat-cepat, “apakah yang sedang berlangsung?”


“Bagaimana bisa?” Mantingan mempertanyakan. “Daku diminta untuk diam di sini tanpa mengetahui sama sekali tentang apa yang sedang berlangsung? Begitukah maksud pimpinan padepokan?”


“Terjadi penyerangan, Saudara.” Dia berkata pelan dan singkat. “Penyerangan yang kami yakin mampu menahannya dengan kekuatan kami sendiri. Jika Saudara turun tangan membantu kami, itu justru akan berbahaya buat rencana kedepannya.”


Mantingan terdiam barang sejenak. Ia pun menyadari kebenaran dari perkataan pendekar itu, bahwasanya kerahasiaannya sungguh harus dijaga hingga hari keberangkatan Bidadari Sungai Utara ke Champa.


Mantingan memutuskan untuk tidak membantah, sebab itu sama sekali tiada berguna.


“Mantingan!” Pintu kamar tiba-tiba terbuka. Bidadari Sungai Utara, Kana, dan Kina masuk ke dalam dengan perasan buncah. Tetapi ketika mereka melihat Mantingan sedang berdiri tenang di hadapan seseorang, ketiganya langsung terdiam.


Mantingan memberi tanda pada mereka sebelum melanjutkan pembicaraannya dengan pendekar dari Pasukan Topeng Putih itu.


“Seperti apa dan berapa banyak musuh banyak yang datang, Saudara?”

__ADS_1


“Mereka agaknya merupakan penyamun laut. Yang terlihat, mereka datang dengan lima kapal berukuran sedang dari arah utara.”


“Adakah kemungkinan bahwa ini disebabkan oleh karena kebocoran rencana atau justru memiliki sangkut pautnya dengan Kelompok Pedang Intan?”


Pendekar bertopeng itu kemudian menggelengkan kepalanya pelan. “Pertanyaan Saudara adalah juga pertanyaan kami semua yang belum terjawab. Tetapi melihat dari jumlah kapal musuh yang datang menyerang, sepertinya mereka tidak meniatkan kedua hal itu.”


Mantingan kembali berpikir sejenak sebelum kembali bertanya, “Seberapa besar kemungkinan kalian dapat menang?”


“Sangat mungkin, Saudara. Hampir dapat dipastikan bahwa kita akan menang tanpa kejatuhan banyak korban. Jika saja mereka menyerang di hari-hari lain, kemungkinan kita dapat menang dari mereka tidak lebih dari setengahnya. Tetapi sekarang, kekuatan di pelabuhan ditambah untuk memastikan keberhasilan rencana.”


“Baiklah, daku mengerti.” Mantingan menganggukkan kepalanya, kali ini ia bercakap dengan Ilmu Membisik Angin. “Tetapi jika keadaan telah benar-benar mendesak kalian, daku akan ikut campur dalam pertempuran. Karena jika pelabuhan ini hancur, maka rencana besar kita berkemungkinan pula untuk hancur.”


Pendekar itu balas mengangguk. “Daku ditugaskan untuk menjaga Saudara sampai keadaan tidak lagi mengancam. Jika membutuhkan sesuatu, daku ada di atap penginapan atau di dalam rimbunnya pepohonan. Saudara cukup melambaikan tangan keluar jendela untuk meminta bantuan.”


“Ya. Itu juga berlaku untukmu.”


Di balik topengnya, pendekar itu menyeringai pedih. Betapa dirinya harus tetap menawarkan bantuan kepada Mantingan meski telah tahu bahwa kekuatan Mantingan berada teramat jauh di atasnya, justru dialah yang membutuhkan bantuan dari pemuda itu.


Setelah tidak ada lagi yang harus disampaikannya, pendekar bertopeng putih itu berkelebat pergi.


Mantingan menarik napas panjang sebelum merapatkan tirai jendela agar orang luar tidak mudah melihat masuk ke dalam kamarnya, meskipun agaknya itu percuma saja jikalau angin masih berembus dengan kencang.


“Apakah yang terjadi, Saudara?” Tibalah Bidadari Sungai Utara mendapatkan gilirannya untuk bertanya.


“Pelabuhan diserang, Saudari,” jawab Mantingan melalui bisikan angin, ia tidak ingin anak-anak mendengarnya sebab barang tentu kabar seperti ini akan membuat mereka ketakutan. “Hanya lima kapal musuh yang datang menyerang, sedangkan Padepokan Angin Putih sudah pasti menyimpan belasan kapal perang dengan pendekar-pendekar tangguh di dalamnya. Semuanya akan baik-baik saja, tetapi kuminta engkau tetap berwaspada dan mengutamakan keselamatan anak-anak. Untuk keselamatanmu sendiri, biar daku yang mengutamakannya.”


Tanpa Mantingan sadari, perkataannya itu telah begitu menancap dalam benak Bidadari Sungai Utara. Gadis itu mengangguk pasti dengan tekad yang kuat.


__ADS_1


__ADS_2