
BEGITULAH PAMAN Bala telah berpura-pura membeli suatu racun murahan dari toko penjual racun. Sungguh walaupun racun yang dibelinya adalah racun paling murah di antara racun lainnya, tetap saja bagi Mantingan harganya cukup mahal.
Racun yang Paman Bala beli berharga 50 keping emas untuk satu bumbung kecil. Paman Bala tidak memiliki kesempatan untuk menjelaskan kandungan racun yang ia beli tersebut. Hanya dengan sekali lirikan mata saja, Paman Bala mengisyaratkan bahwa racun itu adalah racun yang sangat mematikan.
Mereka kembali meneruskan pencarian. Kali ini bergerak lambat-lambat saja dan seolah sedang memperhatikan satu per satu barang yang dijual. Mantingan lebih sering melihat ke kirinya, di mana orang-orang akan melihat tindakan Mantingan itu sebagai tindakan yang wajar, akan tetapi tidak ada seorangpun yang mengetahui bahwa Mantingan sedang bercakap-cakap dengan Rara di sebelah kirinya.
“Pasar ini sangat berbahaya, Mantingan,” kata Rara, “sebenarnyalah sudah ada yang mengetahui bahwa engkau adalah pria yang menyamar sebagai seorang wanita, tetapi mereka memilih untuk tidak ikut campur. Jangan sampai membuat mereka tertarik padamu."
Mantingan mengangguk mengerti. “Mungkin mereka menyadari bahwa aku sedang menyamar, tetapi mungkin saja mereka tidak mengetahui bahwa aku adalah Mantingan yang tengah membawa Bidadari Sungai Utara dalam perjalanannya.”
“Mungkin tidak ada yang mengenalmu.” Rara tersenyum. “Atau mungkin saja, sudah ada yang mengenal dirimu. Tetapi bagi mereka, hadiah menangkap Bidadari Sungai Utara sangatlah sedikit untuk dapat membuat mereka menggerakkan tangan. Sadarilah Mantingan, masih banyak pendekar ahli di sungai telaga persilatan. Dan ingatlah terus pepatah yang sering kau dengar dari Kiai Guru Kedai: di atas langit, masih ada langit.”
Mantingan mengangguk paham. Itu sama saja berarti, ia tidak bisa cepat-cepat berpuas diri. Memang banyak pujian yang datang bagai hujan deras kepadanya, akan tetapi pujian itu sesungguhnya sangat berbahaya karena dapat membuat seseorang cepat berpuas diri. Mantingan mengerti kedudukannya di sini sangatlah lemah, sekali memilih langkah yang salah sudah dapat mengantar nyawanya ke alam baka.
“Pasar Layar Malaya Bawah Tanah ini sepertinya bukanlah pasar rahasia terbesar di Dwipantara. Namun, mungkin saja yang terbesar di Javadvipa. Aku mengingatkanmu untuk selalu meningkatkan kemampuan diri agar dapat bersaing dengan mereka.”
Sekali lagi Mantingan mengangguk di dalam lubuk pikirannya. Saran dari Rara benar-benar cermat dan tepat sehingga bisa diterima.
“Kalau terjadi sesuatu yang berbahaya,” katanya kemudian sebelum menghela napas panjang. “Kamu lari saja, ya? Walau itu berarti harus meninggalkan Paman Bala. Yang terpenting adalah nyawamu.”
__ADS_1
Kali ini Mantingan tidak mengangguk. Bukannya saran Rara tidak dapat diterima, justru saran itu dapat diartikan sebagai saran terbaik. Mantingan tidak memiliki hubungan kekerabatan dengan Paman Bala. Sekalipun mereka sudah berkenalan dan akan memiliki hubungan dagang, tetapi tetap saja itu semua tak akan terjadi jika Paman Bala tidak memaksa Mantingan masuk ke dalam rumahnya. Bahkan saat Mantingan ingin pergi berbelanja, Paman Bala pun memaksa Mantingan agar menyerahkan urusan itu pada putrinya.
Namun biar bagaimana pun, Mantingan tahu jika meninggalkan Paman Bala adalah tindakan yang tidak baik. Mantingan bisa dianggap turut bertanggungjawab atas hilangnya anak Paman Bala itu. Meninggalkan mereka dalam situasi berbahaya sama saja seperti sikap seorang pengecut.
Maka dari itulah Mantingan diam saja. Tanpa mengangguk ataupun menggeleng.
Paman Bala kembali membuat gerakan yang seolah-olah tak sengaja menyenggol Mantingan. Tidak perlu salah paham lagi, Mantingan telah paham apa maksud sebenarnya dari Paman Bala. Terlebih saat Paman Bala kembali meraba kantungnya dan mengeluarkan sedikit ujung lontar pengaturnya.
Putri Paman Bala kembali terpantau.
Betapapun, memang sangat sulit mempercayai putri Paman Bala bisa berada di dalam sini. Dugaan Paman Bala yang cepat dan tepat itu dikagumi oleh Mantingan. Terbukti Paman Bala telah memiliki banyak pengalaman dalam dunia perdagangan, baik itu perdagangan secara buka-bukaan ataupun perdagangan secara tertutup.
Paman Bala berjalan seolah telah menghapal betul seluk beluk pasar bawah tanah ini. Hanya dengan mengandalkan tuntunan dari lontar pengatur. Mereka terus bergerak tanpa banyak terhenti. Tidak terkesan terburu-buru sekaligus tidak terkesan terlalu lambat. Tidak ada satupun yang menaruh curiga pada keduanya.
Setelah berjalan lama di antara lorong-lorong pasar, Paman Bala kembali menyenggol Mantingan. “Toko itu seharusnya ada di dekat sini.”
Mantingan mengetahui apa yang dimaksud “toko” oleh Paman Bala, lantas ia mengangguk pelan. Selayaknya sikap perempuan saat sedang mengangguk. Paman Bala berjalan sedikit lebih pelan dan lebih mencermati toko-toko di sekitarnya.
Kini ada sesuatu yang membingungkan keduanya. Sekalipun telah ditemukan keberadaan putri Paman Bala, lalu bagaimanakah cara membawanya keluar dari pasar bawah tanah yang penuh dengan pendekar ahli ini?
__ADS_1
Mereka tidak membuat rencana itu, mereka hanya memusatkan perhatian untuk dapat masuk dan menyamar tanpa ketahuan. Namun untuk mengeluarkan putri Paman Bala dari dalam pasar, mereka masih belum memikirkan caranya.
“Sebenarnya itu sudah salah langkah, Mantingan,” kata Rara di sebelahnya. “Tapi bisa saja Paman Bala telah memikirkan cara itu dan lupa mengabarinya padamu.”
Mantingan membalas dalam benaknya. “Aku harap begitu.”
“Dan kehadiranmu di sini boleh dikata hanya membebani Paman Bala.” Perkataan Rara yang berikutnya seolah betul-betul mencengangkan Mantingan.
Kembali Mantingan berkata dalam benaknya, “Lalu mengapakah aku harus ada di sini?”
“Kau sendiri yang memaksa. Paman Bala tentu tidak enak jika menolak permintaan orang seperti dirimu.”
Mantingan mulai menyadari kesalahannya. Ia terlalu memaksa, terlalu berharap bisa menjadi pahlawan bagi semua orang. Namun, ia melupakan bahwa untuk menyelamatkan orang pun mestilah memiliki perhitungan yang matang. Atau tidak, hasilnya akan seperti yang Mantingan rasakan saat ini.
Namun memang tidak ada waktu untuk menyesal dan tidak ada jalan untuk mundur. Paman Bala telah lebih dahulu melirik Mantingan. Lirikan itu dipahami oleh Mantingan. Putri Paman Bala telah ditemukan tempat keberadaannya.
“Ratna, kita akan berkunjung sebentar ke toko di ujung lorong buntu itu.”
Mantingan hanya mengangguk pelan. Ucapan Paman Bala sungguh jelas artinya. Di depan mereka adalah lorong buntu. Seperti lorong buntu di pasar-pasar pada umumnya, adalah tempat paling kumuh di bandingkan yang lainnya.
__ADS_1
Terdapat sejumlah besar sampah dan lumut yang mengotori pojok lorong tersebut. Dengan nuansa hitam-kelabu akibat tidak adanya cahaya obor yang menyala di sana, menjadikan lorong sebagai tempat terindah bagi nyamuk untuk berhuni. Dan jangan lupa, untuk sementara nama Mantingan adalah Ratna.