Sang Musafir

Sang Musafir
Beribu-ribu Pendekar


__ADS_3

“Mantingan ....”


SAYUP-SAYUP pemuda itu mendengar suara perempuan memanggilnya. Dan ketika dirinya melesat cepat mengikuti arah suara itu, dirinya tidak menemukan apa pun. Bahkan sebenar-benarnyalah, ia tak tahu dari mana suara itu berasal.


“MANTINGAN!”


Saat itulah Mantingan tersadar, suara itu tidak berasal dari arah mata angin manapun, melainkan dari dalam pikirannya sendiri. Suara yang semulanya dikira berasal dari Bidadari Sungai Utara itu tiada lain dan tiada bukan adalah suara Rara.


Mantingan segera memperbaiki arah jalannya ke sedia kala, tetapi dirinya masih sempat membalas panggilan Rara, “Rara maafkanlah diriku, tetapi aku tidak punya banyak waktu.”


“Teruslah bergerak, Mantingan. Semoga aku tidak mengganggumu.” Suara Rara semakin jelas adanya. “Diriku hanya ingin mengingatkanmu, ingatkah bahwa tindakanmu tadi sangatlah bertentangan dengan janjimu pada Kenanga? Jujur, diriku tidak suka dengan apa yang kamu lakukan tadi.”


“Biarlah itu, Rara, keselamatan Bidadari Sungai Utara jauh lebih penting ketimbang janjiku pada Kenanga.” Mantingan berkata tanpa mengurangi lajunya sedikitpun. “Lagi pula, tidak banyak yang kubunuh.”


“Saat kamu diliput kemarahan, engkau tidak akan menyadari apa pun selain kebencian dan kemarahanmu itu sendiri. Kamu tidak akan menyadari bahwa betapapun musuh-musuhmu adalah manusia.”


“Mereka bukan manusia.” Mantingan terus melesat. “Manusia tidak melalukan apa yang mereka perbuat. Mereka adalah iblis dengan wujud manusia, aku merasa membunuh mereka adalah keputusan yang tepat. Dengan membunuh sebagian kecil manusia untuk menyelamatkan sebagian besar manusia.”


“Diriku mengingatkanmu untuk tidak menyesal nantinya. Bukankah kamu sering dilanda penyesalan mendalam tak berujung dan merasa bersalah atas apa yang tidak kamu lakukan? Kumohon Mantingan tidak seperti itu lagi, karena aku akan sangat bersedih hati melihatmu tertunduk lemas tanpa harapan. Jadilah Mantingan yang selalu kukenal, Mantingan yang dipenuhi kehangatan, harapan, dan semangat.”


“Bisakah kamu selalu menemaniku sampai semua ini selesai?” Mantingan bertanya di dalam benaknya. Penuh harapan. Akan jadi pertarungan yang menenangkan jika Rara ada di sisinya.


“Maafkan diriku ini, Mantingan. Sesungguhnya aku tidak bisa menemanimu melewati malam yang panjang ini. Seperti yang aku katakan tadi, saat angkara murka menguasai di atas dirimu, di saat itulah pikiranmu penuh oleh kebencian. Tidak ada ruang bagiku untuk menduduki pikiranmu.”


“Rara, aku berjanji tidak akan marah sekalipun ribuan musuh mengepungku dengan senjata beracun dan siasat penuh kecurangan. Tetapi bagaimana bisa aku melakukan itu jika tidak ada dirimu di dekatku?”


“Percayalah padaku, wahai Mantingan, semua akan baik-baik saja.”


Saat itulah suara Rara menghilang. Mantingan bisa merasakan kekosongan di dalam benaknya bersamaan dengan kepergian Rara.


Mantingan teringat ucapannya dahulu, “Tersenyumlah pada mereka yang tidak lagi dimiliki.”


Maka Mantingan tersenyum. Mendamaikan hatinya yang dirundung kemarahan tingkat tinggi. Kembali Mantingan menambah kecepatan lajunya.


Ketika dirinya mulai memasuki daerah pesawahan, dapat terlihat hal yang teramat-sangat mengerikan jauh dari pandangannya.


Desa Lonceng Angin diterangi cahaya jingga, terang benderang dan berkelap-kelip. Asap hitam membumbung tinggi ke langit, terbiaskan cahaya api.


Mantingan merasakan jantungnya berpacu cepat. Antara rasa kemarahan, kecewaan, dan penyesalan bersatu-padu menjadi satu.


Pertanda apakah yang dirinya lihat saat ini? Sinar jingga terang benderang menghiasi seluruh Desa Lonceng Angin. Asap hitam membumbung tinggi. Jelas baginya, bahkan jelas pula bagi semuanya. Desa Lonceng Angin dibakar. Dan benar, dibakar bukannya terbakar.


Kebakaran itu meluas, bahkan rumah yang jaraknya berjauhan pun terkena imbas api, jelas bukan kebakaran yang tidak disengaja.


Kembali dada Mantingan sesak oleh kemarahan. Dipenuhi oleh bara kemarahan yang kini meledak-ledak. Tidak pernah Mantingan mengalami kemarahan yang begitu besar seperti ini sejak kematian Rara empat tahun lalu.


Ketika kemarahannya itu semakin menjadi-jadi, gerombolan pendekar musuh berlarian di atas pematang sawah menuju ke tempat Mantingan berdiri. Malanglah nasib mereka, datang di waktu yang sangat tidak tepat.


Seketika Mantingan dikerumuni ratusan pendekar berkeahlian cukup tinggi. Dan ratusan pendekar berkeahlian rendah berada di barisan belakang. Maka dapat dikatakan, saat ini Mantingan dikepung lebih dari seribu pendekar.


Mantingan tetap diam. Kepalanya yang tertunduk ditutupi caping. Bibirnya menyunggingkan senyum mengerikan.

__ADS_1


Kali ini, Mantingan tidak akan menawarkan perdamaian. Sudah jelas baginya untuk memerangi Perkumpulan Pengemis Laut. Maka ketika pendekar-pendekar bertampang pengemis itu maju menyerang, Mantingan tidak lagi menahan dirinya.


Darah tertumpah di atas pesawahan itu. Membasahi padi yang siap panen. Pedang Kiai Kedai kembali dibasuh darah. Belum lagi tubuh Mantingan yang telah lengket oleh cairan tersebut. Mantingan tidak melaju mundur, betapapun dirinya terus maju. Membunuh musuh sebanyak yang bisa dijangkau.


Sungguh saat itu Mantingan telah diliput kemarahan yang teramat besar. Benarlah perkataan orang bijak, bahwa kemarahan hanya akan membawa mala petaka.


Benarlah bahwa kemarahan dapat membutakan siapa pun dari apa pun. Begitulah yang terjadi atas diri Mantingan saat ini. Ia telah membuat malapetaka yang sungguh akan disesalinya.


Namun dalam benaknya, ia memiliki alasan yang kuat.


Bahwa Bidadari Sungai Utara harus segera diselamatkan.


Dan bahwa Perkumpulan Pengemis Laut tidak bisa dibiarkan berbuat seenak jidat begitu saja. Pun bahwa kekacauan di Negeri Taruma harus segera dihentikan.


Mantingan terus melesat maju. Tidak ada jalan keluar baginya selain membunuh musuh yang menghalangi. Kiri, kanan, atas, bahkan bawah tertutupi tubuh musuh yang berniat buruk kepadanya.


Jikalau dirinya berhenti menyerang satu tarikan napas saja, maka kematian akan menghunusnya dari segala macam arah. Percuma menangkis, jumlah kematian terlalu banyak. Kematian-kematian itu haruslah dibunuh, jikalau tidak ingin berbalik membunuhnya. Maka tiadalah dirinya memiliki pilihan lain.


Gurunya pernah berkata, “Saat engkau telah terjerumus ke dalam segala hiruk-pikuk sungai telaga persilatan, maka akan sulit engkau melepaskan diri.”


Mantingan terus melaju tanpa peduli sudah berapa banyak musuh yang ia bunuh. Meskipun dirinya sama sekali tidak mengetahui di manakah letak Bidadari Sungai Utara ditahan. Namun pemuda itu berharap dengan kesungguhan diri, Bidadari Sungai Utara ditahan di balai desa.


Mantingan mulai memasuki desa. Pendekar-pendekar masih terus mengerubuninya dari segala macam arah. Sungguhlah, Mantingan tidak bisa bergerak terlalu cepat jika terus dihalangi seperti ini. Kecepatannya hanya sebatas orang berlari cepat, sedangkan Pendekar Tongkat Badai mungkin sudah melesat cepat membawa Bidadari Sungai Utara bersamanya.


Memikirkan hal itu, Mantingan mulai mencari cara lain untuk menumbangkan musuh-musuhnya lebih cepat. Bidadari Sungai Utara harus terselamatkan, walaupun itu dapat berarti kematian!


***


TENTU DI keadaan seperti itu, Mantingan telah jauh-jauh memikirkan keselamatan Kana dan Kina. Di dalam maupun di luar rumah Ibu Wira, telah terpasang berbagai macam Lontar Sihir Penjebak.


Maka kini, bergeraklah ia menuju balai desa tanpa perlu memikirkan keselamatan Kana dan Kina. Namun, jumlah musuh masih terlalu banyak. Mantingan tidak dapat melihat apa pun selain tubuh musuh-musuhnya.


Mantingan mulai merasakan kebas di lengannya. Ia membaca pertanda buruk. Tenaga dalamnya telah mencapai ambang batas. Tenaga luarnya pun tak tersisa banyak. Mantingan mulai khawatir, kekuatan musuh semakin bertambah banyak.


Untuk pertama kalinya, Mantingan melangkah surut. Musuh yang menghalangi jalan di depannya sungguh tak bisa dilawan. Bahkan kini, pasukan di belakangnya pun menekannya untuk maju ke depan. Semula-mula ia merasa telah berada di atas angin, tetapi kini merasa sedang berada di tengah-tengah pusaran angin topan!


Harapan untuk menyelamatkan Bidadari Sungai Utara telah sirna tak bersisa. Bahkan harapan untuk keselamatannya sendiri mulai habis. Pandangan mata Mantingan buyar, tangan dan kakinya mati rasa.


Lalu seluruh tubuhnya mati rasa. Mantingan hampir-hampir terjatuh jika tidak ingat kematian. Bukan hanya kematiannya, tetapi kematian Bidadari Sungai Utara yang akan lebih mengerikan, begitu pula kematian Kana dan Kina yang tak dapat dibayangkannya!


Dengan menekan sedikit gelora semangatnya, Mantingan kembali melaju. Mengandalkan tenaga dalam cadangan yang teramat sedikit, ia menebas musuh.


Mantingan melepaskan puluhan Jurus Tapak Angin Darah ke segala arah. Setelah ratusan musuh terlontar jauh tanpa nyawa dalam raga, Mantingan kembali melepaskan selusin Lontar Sihir Penyerang, membunuh lebih dari 200 musuh Dan dalam sekali kelebatan, Mantingan telah menyambar ratusan kepala musuh yang berada di sekitarnya.


Kiranya saat itu mayat-mayat manusia bertumpukan. Akan tetapi dengan begitu, tercipta tanah lapang di sekitar Mantingan untuk bergerak bebas. Maka dengan mengandalkan tenaga cadangan yang semakin menipis, Mantingan melesatkan diri ke atas langit.


Untuk pertama kalinya sejak pengepungan di pematang sawah beberapa saat yang lalu, Mantingan dapat terbebas dari jeratan pasukan musuh. Ia melayang cepat tanpa bisa terkejar, berlentingan dari satu atap ke atap yang lain.


Ia tahu jalan menuju balai desa, maka bergegaslah ia pergi ke sana.


Tak butuh waktu lama bagi Mantingan untuk dapat melihat rupa balai desa. Bangunan-bangunan di sekitarnya telah habis terbakar, hanya bangunan itu saja yang masih utuh tanpa tanda-tanda kebakaran.

__ADS_1


Mantingan melihat kelebatan bayang-bayang hitam melesat melalui jendela bangunan itu menuju pedalaman hutan di belakangnya. Kemampuan Mantingan dalam membaca tanda membuatnya berhasil memastikan bahwa bayangan hitam itu melarikan Bidadari Sungai Utara.


Sungguh pemuda itu dapat merasakannya, bahkan kini penciumannya dapat menangkap aroma gadis itu!


Tanpa pikir panjang lagi, Mantingan melesat sekuat tenaga mengejar bayangan hitam tersebut. Dan agaknya, si bayangan itu telah menyadari seseorang tengah mengejarnya, maka naluri memacunya untuk bergerak lebih cepat.


Bayangan itu kemudian berbelok ke arah timur. Dirinya mengelilingi desa. Jelas tidak ingin bergerak terlalu dari pasukannya. Mantingan tidak membiarkan orang itu berkehendak sesuka hati yang akan merugikannya, maka ia mengirimkan belasan racun beracun. Akan tetapi, kecepatan racun beracun sungguh tidak bisa mengimbangi laju bayangan itu maupun Mantingan sekalipun, tertinggal di belakang.


Mantingan tiada pilihan lagi selain menikam bayangan itu dengan pedangnya sendiri, Pedang Kiai Kedai.


Sekali lagi Mantingan menapak di tanah, kecepatannya bertambah pesat. Udara terasa tajam menggesek kulit wajahnya hingga lecet, tetapi tiada peduli, Pedang Kiai Kedai tetap menikam lawannya.


Dalam sekejap mata, bayangan itu meluncur membentur tanah kuat-kuat. Sebentar kemudian, bayangan itu terpisah menjadi dua. Satu bayangan tetap berdebam-debam di permukaan tanah, sedang bayangan lainnya telah melambung hingga terlampaui pucuk pohon tertinggi.


Mantingan memijak tanah kuat-kuat sebelum melesat ke atas. Meluncur ke arah sesosok bayangan hitam itu. Arkian, mendekapnya kuat-kuat. Seakan tidak ada yang lebih erat ketimbang itu. Ia menutup mata. Merasakan uraian rambut menggelitik wajahnya. Mantingan mengembuskan napas lega, sesudah itu tersenyum lebar. Seolah tidak masalah jika mati sesampainya di bawah.


Mantingan melayang turun dengan ringan bersama Bidadari Sungai Utara dalam pelukan. Setelah kakinya menyentuh tanah, barulah saat itu Mantingan membuka matanya. Dilihatnya wajah damai Bidadari Sungai Utara tanpa cadar. Meskipun tak sadarkan diri, betapapun gadis itu tetap terlihat cantik.


Bidadari Sungai Utara telah terselamatkan, maka semangatnya menukik turun dengan tajamnya. Pandangan matanya kembali buyar. Tubuhnya mati rasa. Mantingan bersimpuh lutut dengan Bidadari Sungai Utara di gendongannya


Diangkatnya kembali Pedang Kiai Kedai. Dilihatnya ke hadapan, musuh telah datang dengan kemarahannya. Seakan pemimpinnya telah tewas dibunuh Mantingan. Maka Mantingan tersenyum, mungkin ini untuk yang terakhir kalinya.


Tiba-tiba tendengarannya menangkap suara kelebat angin dari arah belakang. Telah datang serangan dari belakang. Mantingan dengan segenap tenaga berbalik ke belakang. Berteriak kuat membawa duka yang mendalam. Menanti bayangan-bayangan hitam datang untuk menikamnya. Membawa mereka untuk mati bersamanya.


Namun yang ia lihat bukanlah bayangan hitam, melainkan bayangan putih. Lebih-lebih bayangan-bayangan itu terbang meninggalkannya. Melesat menuju barisan musuh.


Mantingan berbalik badan dengan tenaga luarnya. Dengan pandangan buram sekalipun, Mantingan tetap dapat melihat apa yang terjadi di depannya. Sebuah pertempuran sengit. Telinganya menangkap denting senjata dan jerit kematian.


***


MANTINGAN BANGKIT. Tubuhnya dibasahi peluh. Baru saja dirinya bermimpi buruk. Selintas kemudian ia mendapati diri di kamarnya.


Apakah pertempuran di tengah kelamnya malam itu hanyalah mimpi buruk, dan penyelamatan Desa Lonceng Angin masih belum dilakukan?


Namun, agaknya tidak begitu. Mantingan melihat bebat melintang di bahu hingga pinggangnya yang bertelanjang dada.


Kicau burung terdengar bersahutan bersamaan dengan sinar mentari pagi yang masuk melalui jendela. Angin sepoi-sepoi menggerakkan tirai, turut membawa udara segar ke dalam ruangan. Mantingan menarik napas panjang.


Sungguh dirinya merasa enggan untuk turun dari rajangnya. Ia masih belum siap menerima segala sesuatu yang telah terjadi. Tidak siap membayangkan kehancuran desa yang disebabkan olehnya. Tidak siap pula harus menerima kenyataan bahwa dirinya telah membunuh ratusan musuh malam itu.


Terdiamlah dirinya tanpa berbuat apa-apa selain memandangi tirai jendela yang bergoyang-goyang.


Tak berselang lama dari itu, pintu kamar dibuka. Bidadari Sungai Utara masuk ke dalam. Dirinya termenung, begitu terkejut menyadari Mantingan sadarkan diri. Namun pemuda itu sama sekali tidak menyapanya, hanya terdiam bersandar di kepala kasur.


Bidadari Sungai Utara menghampirinya dengan perasaan suka cita. Setelah menaruh nampan makanan yang dibawanya di atas meja, gadis itu memeluk Mantingan erat.


“Saudara! Kutahu Saudara pasti akan datang menjemputku! Daku tahu itu!” Bidadari Sungai Utara mempererat rangkulannya, matanya berlinangan penuh haru. “Jangan pernah tinggalkan daku lagi, jangan pernah!”


Mantingan tetap terdiam, namun menyunggingkan senyum hangatnya. Membiarkan Bidadari Sungai Utara memeluknya hingga beberapa lama. Baru setelah itu dirinya bertanya, “Apakah yang telah terjadi padamu tadi malam?”


___

__ADS_1


catatan:


Bagaimana kesanmu terhadap episode ini? Tuliskan di kolom komentar!


__ADS_2