
"Itu berarti kau adalah pendekar yang sebenarnya sangat cerdik. Kau saja yang tidak menyadarinya. Di tanahku nan jauh di Champa sana, pendekar yang cerdik dianggap lebih tinggi ketimbang pendekar ahli.”
“Tetap saja aku tidak cukup memumpuni untuk melindungimu. Jika aku gagal nantinya, bisa-bisa Javadvipa dianggap memulai masalah dengan negeri Champa.”
MANTINGAN tentu tidak mau menyulut masalah antara Taruma dan Champa. Cukuplah gejolak yang disebabkan pendekar-pendekar dalam negeri, jangan sampai terjadi silang sengketa dengan negeri seberang.
“Pendekar yang mempunyai nama Mantingan, aku mengira kau adalah orang baik. Tetapi sepertinya aku salah menduga.”
“Saudari, sesungguhnya aku melakukan ini demi kebaikanmu juga. Carilah pendekar lain yang cukup kuat kemampuannya.”
“Tidak ada pendekar yang sebaik dirimu.”
“Tadi kaukata kalau kau salah menilaiku.”
“Mungkin tidak, jadi tolonglah aku.”
“Tetapi izinkan aku bertanya.”
“Sebutkan saja, pendekar yang bernama Mantingan.”
Mantingan menarik napas sejenak. “Mengapa harus aku? Banyak pendekar lain yang lebih kuat dan lebih baik dariku.”
“Kau tidak bisa menilai dirimu sendiri. Kau itu pendekar yang baik, tahu? Kau membunuh demi kebaikan, bayangkan bagaimana Pendekar Cakar Emas kau biarkan berkeliaran, pasti banyak orang yang yang bersedih. Lalu saat kau bersinggungan dengan gadis pelayan yang menurutku sangat cantik, matamu sama sekali tidak menunjukkan ***** sedikitpun. Kau menanggapinya biasa-biasa saja seolah kau menanggapi pria lain. Bahkan dari matamu saat menatapnya, kau seakan-akan tidak mengagumi kecantikannya. Tadi diam-diam aku mengintip.
“Maka dari itu aku memilihmu. Tidak semua pendekar akan bisa menahan diri ketika melihat diriku. Bukannya aku bermaksud sombong, tapi boleh aku akui kecantikanku lebih dari perempuan cantik sekalipun. Aku harap, dengan bersamamu, aku bisa terlindung dari ancaman luar sekaligus ancaman dalam.”
“Saudari terlalu berlebihan. Aku tetaplah pria, ada baiknya kau tidak menaruh banyak kepercayaan padaku.”
“Aku belum mencoba, maka aku masih belum tahu. Jadi berdasarkan hal itu, biarlah aku mencoba.”
“Mencoba?”
“Ya, aku akan datang ke ruanganmu.”
“Jangan.”
“Mengapa?”
Mantingan mengembuskan napas perlahan. Bercakap-cakap dengan perempuan yang menyebut dirinya Bidadari Sungai Utara sangat melelahkan. Mantingan tidak bisa mencapai suatu kesepakatan, yang ada bicara dan bicara. Apakah perempuan itu tidak lelah terus berbicara?
“Aku sedang sibuk.” Begitu jawaban singkat Mantingan, berharap orang dari Champa itu berhenti bicara.
__ADS_1
“Sedang apa?”
“Menulis.”
“Menulis apa?”
“Kisah perjalanan.”
“Perjalanan siapa?”
“Perjalananku.”
“Kalau begitu, kau cukup berpengalaman dalam hal jalan-jalan. Kau pasti pelancong. Bagi pelancong hebat sepertimu, bukan masalah besar mengantarku sampai pelabuhan.”
“Aku bukan pelancong, aku tidak hebat, dan aku tidak bisa mengantarmu.”
“Lalu untuk apa kau tulis kisahmu jika itu bukan kisah hebat? Jikalau kau hebat, kau pasti bisa mengantarku.”
“Tidak bisa. Demi kebaikanmu.”
“Ah, kau terlalu merendah, kau pasti bisa.”
Lama tidak terdengar suara perempuan di sebelah kamarnya. Mantingan awalnya mengira perempuan itu akhirnya mengerti dan tidak mau memaksa lagi, tetapi nyatanya Bidadari Sungai Utara kembali buka suara. Mantingan kembali kesal, tetapi segera berubah setelah mendengar kalimat akhir perempuan itu.
“Aku tidak biasa memohon seperti ini. Tetapi aku sudah berjanji pada kekasihku di Champa, bahwa aku tidak akan mati selama di Javadvipa. Bodohnya, dia percaya-percaya saja dan mengharap begitu banyak. Apa pun aku lakukan untuknya, termasuk memohon padamu seperti ini. Pendekar yang bernama Mantingan, maafkan aku jika terlalu memaksamu. Kau bisa melupakannya.”
Mantingan terdiam beberapa saat untuk mengambil putusan. Jika Bidadari Sungai Utara melakukan ini untuk kekasihnya, maka Mantingan kembali mengingat Rara. Jika perempuan itu mati, bagaimana dengan kekasih Bidadari Sungai Utara di Champa sana?
Apakah ia akan bersedih hati seperti apa yang pernah Mantingan rasakan? Sungguh kesedihan itu sangatlah menyakitkan, dan jika tidak bisa diatasi dengan baik akan berbahaya. Bisa saja akan ada dendam kesumat dari kekasihnya di Champa, sehingga dia pergi ke Javadvipa untuk menuntaskan dendamnya.
Jika Mantingan ada Kiai Guru Kedai yang menahannya, bagaimana dengan kekasih Bidadari Sungai Utara di Champa?
Mungkin akan tetap ada kemungkinan Bidadari Sungai Utara mati walau Mantingan mengawalnya sekalipun. Tetapi akan lebih berbahaya jika dia berlama-lama di sini.
“Datanglah ke ruanganku, biar aku uji diriku sendiri.” Mantingan akhirnya berkata.
“Apa kau sungguh-sungguh?”
“Ya, datang saja. Pintu tidak dikunci.”
Tidak terdengar suara bidadari rawa itu sampai akhirnya terdengar ketukan di pintu.
__ADS_1
“Masuk saja ....”
“Apa kau yakin?”
“YA."
Setelah mendengar Mantingan kehilangan kesabarannya, Bidadari Sungai Utara tidak berlama-lama lagi untuk membuka pintu.
Setelah pintu terbuka, Mantingan menoleh untuk melihat rupa bidadari rawa-rawa itu, tetapi segera ia mengalihkan pandangnya.
Ia berdeham beberapa kali, berhasil menyulut rasa heran gadis itu.
“Kau harus tetap memakai cadar di perjalanan nanti. Pakai juga baju yang lebih besar.” Mantingan berkata tanpa menatapnya.
“Jadi kau mau mengantarku?”
“Anggap saja begitu.”
“Tapi mengapa aku haru pakai baju besar? Jika mengenakan cadar, itu masuk akal. Namun, baju besar ... bukankah aku sedang tidak memakai baju yang ketat?”
“Ya, memang tidak. Tapi kau harus tetap pakai baju yang lebih besar.”
“Aku cantik, ya?”
Mantingan tersedak ludahnya sendiri saat mendengar hal itu. “Anggap saja begitu.”
“Ya, orang-orang sering bilang begitu. Kekasihku juga sering mengatakan itu. Tapi untuk sekarang, kau harus tetap melihatku dulu. Aku khawatir suatu hari nanti kau tidak bisa menahan diri.”
“Itu tidak perlu.”
“Aku rasa perlu. Sekarang, lihatlah.”
Mantingan berpikir beberapa saat. Menurut penuturan Kiai Guru Kedai, mata Mantingan tidak boleh sering-sering disuguhkan pemandangan wanita cantik, kecuali Mantingan ada keperluan atau Mantingan ada istri.
Mantingan tahu melihati Bidadari Sungai Utara itu tidak baik. Tetapi bukankah ini masuk dalam suatu kepentingan? Mantingan bisa membiasakan diri dengan kecantikan Bidadari Sungai Utara itu.
Maka perlahan-lahan Mantingan menolehkan kepala. Takut-takut ia menatapnya. Seperti menatap hantu. Tetapi bukan hantu. Itu bidadari. Maksudnya bukan bidadari, mungkin jelmaan bidadari?
Mungkin pria lain akan kehilangan akal setelah melihatnya. Tetapi bagi Mantingan, bidadari rawa-rawa itu bisa dikatakan “cukup cantik” saja.
“Oh, ternyata tidak terlalu cantik.” Mantingan tersenyum canggung.
__ADS_1