
MANTINGAN membuka matanya setelah sekian lama terbenam dalam samadhinya. Ia hampir saja melupakan bahwa Kina mungkin saja masih menunggunya setelah sekian lama berlalu.
Maka lekaslah pemuda itu bangkit berdiri dari atas batu pipih berukuran besar di tengah rimba itu sebelum melesat secepat mungkin ke arah Pelabuhan Angin Putih.
***
MUNGKIN kali ini kemarahan Kina kepada Mantingan tidak bohongan lagi. Terlihat tampang wajah gadis kecil itu memerah muda. Bibirnya cemberut. Tatapan matanya dipalingkan ke sembarang arah, asal tidak ke arah Mantingan.
Di depan Kina adalah lembar-lembar lontar kosong dengan sebuah alat pengutik. Namun, ada beberapa lontar yang telah ditulisi aksara-aksara meskipun tidak rapi, Mantingan mengira bahwa itu ditulis oleh Kina saat anak itu bosan menunggunya.
Mantingan dibuat serba salah dengan sikap Kina, meski ia sendiri memang mengakui bahwa kemarahan Kina adalah suatu hal yang benar-benar wajar.
“Marilah Kina.” Mantingan berkata lembut sebelum mengambil selembar lontar kosong dan alat pengutik yang tergeletak begitu saja di atas lantai kayu. “Lihat dan ikutilah caraku menulis.”
Kina tidak menanggapi, bahkan sekadar melirik saja tidak. Mantingan hanya tersenyum samar dan mulai menulis di atas selembar daun lontar kering itu.
Setelah beberapa saat berlalu, Mantingan memperlihatkan apa yang telah ditulisnya kepada Kina. “Lihatlah apa yang telah kutulis ini, Kina.”
Kina masih tidak menanggapinya. Acuh tak acuh sikapnya. Benar-benar tidak memberi muka kepada Mantingan barang sedikitpun.
Mantingan akhirnya yang membacakan isi lontar itu. “Yang tertulis di sini adalah: janganlah merajuk, wahai Kina yang cantik dan mempesona bagai sekuntum bunga melati ketika pagi segar menyambutnya. Kak Maman telah melakukan kesalahan, tetapi bukankah sekuntum melati selalu murah hati memberikan maafnya bagai memberikan kelopaknya pada seseorang?”
Setelah mendengar itu, Kina memberi sedikit perhatiannya kepada Mantingan. Matanya melirik sebentar, tertuju pada lontar yang biar bagaimanapun masih ada di tangan Mantingan.
Dari sekadar melirik, Kina mulai menatap. Dan perlahan, cemberut di bibirnya berganti menjadi senyuman manis.
“Kak Maman menuliskan ini untuk Kina?” tanyanya kemudian.
“Ya.” Mantingan kembai berkata dengan lembut. “Adakah di ruangan ini yang lebih cantik ketimbang Kina?”
Senyum anak itu semakin mengembang dan pipinya bersemu merah. Malu-malu dirinya bertanya, “Apakah boleh Kina simpan lontar itu?”
__ADS_1
Mantingan mengulurkan lontar di tangannya, Kina langsung meraih dan menggenggamnya erat-erat.
“Kak Maman, bolehkah sekarang mengajari Kina menulis kata-kata seindah ini dengan aksara yang pula sama indahnya?”
Mantingan tersenyum sambil berucap, “Perhatikanlah.”
Ketika pemuda itu memulai pelajaran menulisnya dengan Kina, seorang gadis muda memperhatikannya dari sudut pintu ruangan. Betapa kemudian bibir gadis itu telah terkembang senyum penuh haru.
Bidadari Sungai Utara tahu betul bahwa jika ia membatalkan perjalanannya ke Champa, dan tetap tinggal di Javadvipa bersama Mantingan, maka ia dapat meraih sebuah rumah tangga yang amat sangat damai dan membahagiakan. Namun betapa pun Bidadari Sungai Utara juga mengetahui, bahwa kebahagiaan itu tidak akan bisa bertahan lama.
Dirinya dan Mantingan adalah orang dari dunia persilatan. Itu adalah dunia tanpa cinta, kedamaian, dan kasih sayang.
***
PADA malam harinya, Mantingan membuka Kitab Tetesan Embun untuk mempelajarinya sekali lagi.
Mantingan masih berharap banyak untuk dapat memperluas daerah jangkauan Ilmu Mendengar Tetesan Embun. Ia bisa menuai banyak keuntungan jika berhasil mencapainya, maka dari Mantingan berusaha berlatih sekeras yang ia bisa sekarang.
Jendela di kamarnya terbuka. Membiarkan angin laut masuk ke dalam. Tirai jendelanya berkibar selaras dengan dorongan angin.
Deburan ombak mencium batas pantai terdengar begitu kentara. Malam itu, pelabuhan dapat dikatakan sedang sepi sejak kabar yang beredar siang tadi, bahwasanya kapal-kapal penyamun kembali muncul dengan rombongan yang sedikit lebih banyak daripada sebelumnya.
Betapa pun ancaman seperti itu memang patut diwaspadai betul-betul jika tidak ingin jadi celaka. Pihak Pelabuhan Angin Putih telah melarang keberangkatan seluruh pelayaran kecuali dari balatentara di pelabuhan itu.
Pihak Pelabuhan Angin Putih juga menyiagakan dua kapal bersenjata lengkap yang buang sauh di dekat bibir pantai guna bersiaga dari serangan mendadak di malam hari.
Dapat terlihat pula beberapa pendekar berdiri di atas menara pelabuhan. Mereka memantau segala macam pergerakan. Baik itu yang berasal dari daratan maupun dari lautan. Pendekar-pendekar itu telah dipersenjatai busur panjang dan tombak lempar. Mereka pula dapat memukul canang, kentungan buluh, maupun anak panah sendaren jika terjadi sesuatu yang membahayakan atau sekadar mencurigakan.
Mantingan pun secara tidak langsung menjaga keamanan pelabuhan. Sebab ketika ia berlatih mempraktikkan Ilmu Mendengar Tetesan Embun secara penuh, maka hampir segala suara yang ada di pelabuhan itu dapat didengar olehnya. Termasuk jika itu suara kelebatan halus sekalipun.
Kini, banyak sekali yang dapat Mantingan dengar. Meski ia sendiri pun mengakui, bahwa beberapa suara di antaranya bersifat pribadi dan mendengarkannya bukanlah suatu tindakan yang terpuji. Tetapi Mantingan selalu berusaha melupakan suara-suara itu.
__ADS_1
Dikarenakan keadaan pelabuhan sungguhlah amat sangat sepi dan sunyi, Mantingan dapat mendengar suara dari kedai di sebelah lain pelabuhan yang telah menjadi perhatiannya sejak kemarin hari.
Namun, pelabuhan yang sepi lagi sunyi juga itu berarti tidak ada banyak orang di dalamnya. Sehingga di kedai itu pula tidak nampak kedatangan seorang pun pengunjung.
Mantingan tidak masalah, memang bukan itu tujuannya mempergunakan Ilmu Mendengar Tetesan Embun saat ini.
Semalaman penuh Mantingan mempraktikkan Ilmu Mendengar Tetesan Embun hingga ketika fajar hadir, ia terengah-engah. Hampir kehabisan tenaga dalam. Bahkan kini telinganya mulai terasa panas setelah menggunakan ilmu pendengaran tajam semalaman penuh, tiada henti.
Mantingan beranjak berdiri dari tempatnya duduk. Dipandanginyalah pemandangan pelabuhan dari balik tirai jendela. Tampak bahwa pelabuhan mulai kembali dipadati kerumunan manusia.
Ketika Mantingan baru saja hendak merebahkan diri di atas kasurnya, tiba-tiba saja terdengar suara ketukan di pintunya. Dengan mata yang terasa mulai memberatkan, Mantingan menjawab seadanya, “Siapakah dan ada apakah?”
“Ini daku.” Suara Bidadari Sungai Utara yang terdengar.
“Masuklah, pintu sama sekali tidak dikunci.”
Bidadari Sungai Utara masuk ke dalam kamarnya sebelum kembali menutup pintu. Mantingan mengangkat alisnya ketika ia melihat penampilan Bidadari Sungai Utara.
“Engkau tampak sangat berbeda dengan topeng dan baju hitam itu.” Mantingan tersenyum canggung sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
Penampilan Bidadari Sungai Utara yang baru justru membuat gadis itu semakin mencolok ketimbang sebelumnya. Namun mau berbuat apa jikalau Bidadari Sungai Utara telah ditakdirkan untuk selalu mencolok?
Mantingan meneruskan perkataannya, “Ada apakah, Saudari?”
“Siriku dan anak-anak membutuhkan sarapan. Engkau harus membelikan kami beberapa makanan.”
“Apakah engkau tidak memiliki uang, Saudari? Sungguh daku membutuhkan tidur sekarang juga.”
“Tidak, Saudara. Daku memiliki sedikit uang, tetapi itu sengaja daku khususkan untuk berjaga-jaga sahaja.” Bidadari Sungai Utara yang kini bertopeng itu kemudian menggeleng pelan. “Begini saja, daku akan membeli makanan di bawah. Engkau tidak perlu bergerak dari tempat tidurmu. Tetapi, daku akan mengambil uangmu. Bagaimana?”
__ADS_1