
MANTINGAN mengusap wajah gadis itu dengan perlahan, sambil berkata, “Memang tidak perlu diceritakan. Tetapi, katakanlah kepadaku bagaimana Kembangmas bisa membawamu hingga ke tempat ini?”
“Diriku tidak tahu. Daku tak sadarkan diri tepat setelah anak kecil itu membawaku pergi dari Istana Koying. Saat terbangun, daku sudah mendapati diri di penginapan ini.”
Bidadari Sungai Utara kemudian menjelaskan bahwa pengurus penginapan memperlakukannya dengan sangat baik sebab dirinya menyewa kamar istimewa untuk waktu yang tidak sebentar. Sudah pasti Kembangmas yang membayar untuk itu.
“Pada akhirnya, dikau sampai jua di akhir perjalanan.” Bidadari Sungai Utara tersenyum lembut. “Apakah yang akan dikau lakukan selanjutnya?”
Mantingan menarik napas panjang-panjang sebelum bangkit duduk dari ranjang itu. “Daku tidak tahu, Sasmita. Sangat besar inginku meninggalkan dunia persilatan dengan segala kegilaan di dalamnya ini, tetapi daku sadar betul betapa Sepasang Pedang Rembulan menjadi tanggunganku.”
“Kudengar kabar bahwa Pahlawan Man mendapatkan mandat Pemangku Langit, pendekar di atas segala pendekar yang menjaga keseimbangan bumi-langit persilatan. Mengapa sekarang dikau justru ingin mengundurkan diri dari dunia persilatan?” Bidadari Sungai Utara enggan bangkit dari ranjang, hanya menatap Mantingan penuh arti.
“Daku tidak pernah menginginkan hal itu, Sasmita, bahkan menjadi pendekar pun diriku semata-mata terpaksa,” jawab Mantingan dengan jujur, sungguh dirinya ingin berlepas diri dari segala urusan kependekaran.
“Mengapa menurutmu begitu?” Sasmita menatapnya dengan binar penasaran.
“Para pendekar hanya melakukan suatu kesia-siaan. Mereka memiliki kekuatan di atas rata-rata manusia luas yang dapat mereka gunakan untuk tujuan baik, tetapi justrulah mereka gunakan untuk saling menempuri dengan harapan dapat mati dalam kesempurnaan. Sasmita, katakan kepadaku, kesempurnaan semacam apakah yang mereka maksud?”
Menjawablah Bidadari Sungai Utara, “Menjadi lemah hanya akan membuatmu tertindas, Mantingan. Sedangkan jika dikau telah meraih kekuatan, maka mestilah engkau melawan mereka yang pula memiliki kekuatan. Kesempurnaan yang dimaksudkan para pendekar adalah ketika dikau mati di saat seluruh kekuatan telah dikau kerahkan, pula sebagai bukti betapa mereka benar-benar hidup dan mati di jalan persilatan.”
Mantingan menarik napas dingin. Menjadi kuat hanya untuk mati di dalam kekuatan, bukankah yang demikian itu sama saja dengan kesia-siaan? Bila kekuatan ada untuk menyelesaikan suatu permasalahan, maka dunia persilatan justru mengubah kekuatan menjadi permasalahan. Mereka yang dianggap tidak mati dalam pertarungan tak akan pernah dianggap sebagai pendekar sejati.
“Memang di sanalah letak kegilaannya, Mantingan. Tidak banyak orang awam yang ingin menempuh jalan persilatan karena kegilaan itu. Lagi pula, dengan segala kegilaan tersebut, para pendekar akan mencegah dirinya sendiri mencampuri urusan orang-orang awam.” Bidadari Sungai Utara melanjutkan sambil kemudian menarik kedua pundak Mantingan hingga kembali merebah di atas ranjang. “Apakah lagi yang perlu dikau pikirkan? Sasmita-mu ada di sini, hanya untukmu ....”
***
__ADS_1
PAGI itu, di Kedai Seribu Cangkir. Ibu pemilik kedai menaiki anak tangga bersama seorang kepala pelayan di sebelahnya. Pada hari ini, mereka akan melakukan membersihkan seluruh kamar penginapan yang terletak di lantai dua kedai secara benar-benar menyeluruh, hal ini memang telah menjadi kebiasaan Kedai Seribu Cangkir meskipun mereka tetap melakukan pembersihan ringan pada setiap kamar setelah ditempati.
Pembersihan seperti ini tidak lantas membuat mereka menjadi rugi besar, sebab sebagian besar tamu jarang menginap hingga pagi hari, mereka hanya menyewa kamar di malam hari untuk sekadar melepas ‘penat’, mengingat betapa Kedai Seribu Cangkir tetaplah merupakan tempat hiburan malam.
Ketika mereka berdua melintasi satu-satunya pintu kamar yang masih terkunci rapat sedang pada saat itu semestinya seluruh pintu kamar terbuka selebar mungkin, ibu pemilik kedai segera menghentikan langkah. Lekas kepala pelayan di sebelahnya pun turut berhenti.
“Apakah Ibu Lakshmi merindukannya?” tanya perempuan muda kepala pelayan itu.
Tersenyum malu-malu, ibu pemilik kedai yang bernama Lakshmi itu kemudian menjawab, “Daku ini sudah begitu tua, Puspa, jadi untuk apakah daku harus merindukan orang muda itu? Mengada-ada saja pikiranmu ini.”
“Ah, Ibu Lakshmi seharusnya sadar diri. Biarpun sudah berumur, kecantikan Ibu justru semakin bertambah. Sudah beberapa kali daku mengiri pada kecantikan Ibu.” Puspa menjawab dengan pipi bersemu merah.
Mendengar pujian itu, Lakshmi hanya bisa tersenyum. Ucapan Puspa itu tidak sepenuhnya salah, dia memang sedang merindukan Mantingan. Entah apa yang terjadi pada dirinya sendiri, Lakshmi pun tidak mengerti. Rasa kagumnya terhadap Mantingan sungguh membebaninya saat ini.
“Tunggu sebentar, Ibu, biar Puspa carikan.” Perempuan muda itu membuka tas kulit yang sedari tadi dibawanya untuk kemudian mengurut satu demi satu kunci yang tersimpan rapi di dalamnya. “Apakah akhirnya Ibu akan membuka kamar ini setelah dua pekan hanya dikunci?”
“Ya.” Lakshmi menerima kunci dari tangan Puspa. “Meskipun telah kuputuskan untuk tidak menyewakan kamar ini lagi, tetapi jangan sampai dibiarkan terbengkalai begitu saja.”
Mengangguk kecil, Puspa kembali bertanya, “Perlukah Puspa membantu Ibu?”
“Tidak perlu, dikau periksa saja kamar-kamar lainnya, pastikan tiada sesuatu apa pun yang terlewat.” Setelah berkata begitu, Lakshmi berjalan memasuki kamar itu sebelum menguncinya kembali.
Dipandanginya ke sekitar. Debu dan sarang laba-laba melekat di mana-mana. Dirinya menggelengkan kepalanya perlahan sambil tersenyum tipis demi mengingat ketika dirinya mengantarkan Mantingan yang tengah menanggung duka besar selepas kembali dari Istana Koying.
“Anak muda itu terlalu keras terhadap dirinya sendiri.” Sambil mengatakan itu, Lakshmi mulai membuat mantra-mantra sihir di udara.
__ADS_1
Dirinya memang tidak perlu merepotkan diri dengan menyentuh alat bersih-bersih, sebab telah dikuasainya sedikit banyak mantra sihir pembersih ruangan. Memang terdengar sedikit lucu, tetapi begitulah sihir telah melekat dalam kehidupan sehari-hari di kotaraja.
Mantra-mantra sihir itu membentuk bola aksara yang menyebar ke beberapa sudut ruangan. Bola-bola itu kemudian menghisap segala debu dan jaring laba-laba yang berjarak dua hasta dari tempatnya, untuk kemudian diubahnya menjadi bola-bola kecil yang padat.
Selam bola-bola sihir itu bekerja, Lakshmi berjalan-jalan mengelilingi ruangan. Dipastikannya kembali seluruh barang dan peralatan di tempat itu masih dapat digunakan sebagaimana mestinya, kendati dirinya tahu betul betapa kamar ini tidak akan ditempati lagi.
Saat itulah, dirinya menemukan sebuah kantung sutra yang tergeletak di atas meja. Lakshmi mengerutkan dahi. Ia merasa tidak memiliki barang seperti itu di dalam penginapannya. Bila menganggapnya sebagai sampah, maka masihkah kiranya kain sutra yang sedemikian mahal itu dibuang begitu saja oleh Mantingan?
Dengan hati-hati, Lakshmi mengangkat kantung sutra tersebut. Suara bergemertak. Ada sesuatu di dalamnya! Mungkinkah kantung sutra dengan segala isinya ini memang sengaja ditinggalkan Mantingan?
Lakshmi membuka ikatan pada kantung tersebut, demi kemudian ditemukannya puluhan butir batu seukuran ibu jari yang tetap bersinar meski tidak terbias cahaya sedikitpun. Tangan Lakshmi bergemetar hebat, sebagai orang persilatan dirinya tahu betul betapa setiap butir dari batu-batu itu dapat bernilai seribu keping emas!
Selain itu, Lakshmi menemukan selembar lontar di dalamnya. Segera saja perempuan parobaya jelita itu mengambil dan membacanya.
Wahai, ibu pemilik kedai yang tak kuketahui namanya
daku ingin mengucapkan rasa terima kasih yang sedalam-dalamnya
sebab dikau telah menjamuku di penginapanmu dengan amat baik
pula sebab dikau telah sudi bercerita tentang Kiai Kedai kepadaku
kutinggalkan sebagian besar yang kupunya kepadamu
hanya itulah yang dapat kupergunakan untuk membalas segala kebaikanmu
__ADS_1