
LANGKAH Mantingan terhenti ketika indera penciumannya menangkap sebuah aroma yang rasa-rasanya pernah dikenali olehnya. Ketika ia memejamkan mata sambil menarik napas dalam-dalam untuk meresapinya, sadarlah ia bahwa apa yang sedang dihirupnya itu adalah aroma amis darah!
Mantingan mengangkat batang obornya tinggi-tinggi. Menebar cahaya ke sekitar. Hingga ditemukanlah suatu pemandangan yang sama sekali tidak mengenakkan untuk dilihat.
Mayat-mayat dengan anggota tubuh yang tercerai-berai berserakan di sembarang tempat! Kubangan darah tercipta di atas tanah yang semulanya memang telah basah. Percik-percik darah lainnya tersebar ke semak belukar serta pepohonan. Membuat seluruhnya tampak bercorak-corak merah. Sungguh mengerikan!
Tiba-tiba saja Mantingan merasakan suhu udara di sekitarnya menurun tajam. Menusuk hingga bagai hendak menghancurkan tulang-belulang. Mantingan langsung menegang. Bersiaga penuh. Dirinya tahu betul bahwa udara dingin yang dirasakannya saat ini adalah hawa pembunuh yang benar-benar terarah!
Bila seandainya Mantingan tidak mampu menahan hawa pembunuh yang sedemikian besar dan hebat itu, telah menjadi sebuah kepastian bahwa dirinya akan hilang kesadaran hanya dalam seketika!
Mungkinkah hal ini adalah penyebab mengapa para pendekar tingkat ahli sekalipun menjadi tidak berdaya di hadapan Sang Siluman?
Setinggi apa pun tingkat seorang pendekar, tetaplah hilang kesadaran bila tidak mampu menahan terjangan hawa pembunuh sebesar ini.
Mantingan memandang sejurus ke arah kegelapan malam. Di antara pepohonan tinggi nan lebat, ia mampu menemukan asal-usul hawa pembunuh itu. Namun dikarenakan jaraknya cukup jauh, teramat jauh malahan, Mantingan tidak dapat mengetahui bentuk dan rupa sosok yang mengeluarkan hawa pembunuh tersebut.
Tanpa berlama-lama lagi, Mantingan mengeluarkan seluruh hawa pembunuhnya pula, yang kemudian diarahkan menuju sosok "Sang Siluman" di balik kegelapan itu. Setelah membunuh begitu banyak manusia, Mantingan memiliki nafsu pembunuh yang bukan alang-kepalang besarnya.
Begitulah pertarungan jarak jauh dengan hawa pembunuh berjalan dengan teramat sangat sengit sebab kekuatan dua belah pihak berimbang. Mantingan masih berdiri teguh dengan sebatang obor yang mengobarkan api temaram di genggaman tangannya, sedangkan makhluk yang tengah dihadapinya itu masih pula bersembunyi di balik kegelapan.
Keringat mulai bercucuran di sekujur tubuh Mantingan. Meskipun ia mampu mengimbangi hawa pembunuh Sang Siluman, bukan berarti dirinya tidak mendapati kesulitan.
Hawa pembunuh baru dapat tercipta setelah penggunanya memadukan perasaan siaga, was-was, dan hasrat dendam sekaligus. Memadukan ketiganya pada tingkat tertinggi bukanlah suatu hal yang dapat dianggap mudah sama sekali.
Kiai Guru Kedai pernah berkata padanya:
“Kuajarkan dikau untuk selalu bersikap tenang dan lemah lembut, tetapi ada kalanya dikau harus melatih diri agar tetap dapat merasakan api dendam pada saat-saat tertentu. Bila digabungkan dengan rasa was-was, siaga, sekaligus kehendak menindas, maka dikau akan merasakan hasrat seorang pembunuh yang selalu haus darah. Perasaan semacam itu dibutuhkan pula untuk menekan lawan hingga dirinya merasa sangat mungil di hadapanmu.”
Mantingan memejamkan mata barang sejenak sebelum kembali membukanya dengan tatapan yang jauh lebih tajam. Seketika itu pula hawa pembunuhnya meningkat tajam, yang bahkan dampaknya dapat dirasakan langsung oleh tetumbuhan di sekitarnya. Semak belukar dan dedaunan bergoyang-goyang kecil bagai sedang dipermainkan oleh angin, meski sebenarnyalah digontai-gontai oleh hasrat pembunuh Mantingan dan Sang Siluman yang luar biasa besarnya.
__ADS_1
Barang sesaat kemudian, terdengarlah suara jerit parau yang membahana kesunyian malam. Membuat hutan itu seolah terbangun untuk sejenak.
Munding Caraka melenguh panjang, entah merasa takut atau hanya ingin membalas jeritan tersebut, tetapi betapa pun jeritannya itu terdengar amat parau pula.
Sedangkan itu, Mantingan justru lunglai hingga akhirnya jatuh bersimpuh di atas tanah. Napasnya memburu-buru. Keringat dingin semakin deras mengalir. Ia tampak amat kelelahan.
Namun kabar baiknya, pertarungan hasrat pembunuh itu telah berakhir. Dan kali ini, Mantingan keluar sebagai pemenangnya.
Jeritan membahana yang baru saja terdengar itu berasal dari Sang Siluman yang berusaha menarik diri secepat mungkin dari tekanan hawa pembunuh Mantingan. Terkadang kekuatan dapat bertambah dengan berteriak sekeras-kerasnya.
Kiai Guru Kedai pernah berkata padanya suatu ketika:
“Bila dikau mendengar orang bertarung sambil membentak-bentak dengan suara keras, janganlah sampai dikau menganggapnya terlalu berlebihan atau bahkan sampai menghinanya.”
Namun tidak seperti Sang Siluman, Mantingan telah benar-benar kehabisan tenaga. Jangankan untuk berteriak, untuk berbicara dengan suara pelan pun dirinya tidak mampu. Bila dipaksakan, maka kesadarannya akan langsung menghilang. Bukankah akan menjadi hal yang teramat mengerikan bila sampai kehilangan kesadaran di tengah hutan penuh siluman-siluman berbahaya?
Munding mendekati Mantingan sebelum merebahkan badan tepat di belakang punggungnya. Menjadi sandaran bagi tubuh Mantingan yang memang sedang benar-benar membutuhkan tempat bersandar. Betapa pengertiannya kerbau itu!
***
KETIKA matahari baru muncul setengah di ufuk timur, Mantingan membuka matanya dalam posisi bersila.
Semalaman suntuk dirinya tidak tertidur, tidak pula melonggarkan kewaspadaan meski sedikit, hanya sekadar memejamkan mata dan bersamadhi untuk mengisi tenaga dalam yang sebelumnya terkuras habis.
Sambil bersamadhi, Mantingan pula membaca kitab yang diberikan oleh Pendekar Seribu Kitab sesaat sebelum menemui ajalnya. Kitab itu bernama Kitab Menyambung Ruang yang sangat luar biasa. Mantingan membacanya dalam satu malam tanpa membuka mata barang sedikitpun, melainkan dengan Ilmu Mendengar Tetesan Embun. Dengan begitu, dirinya dapat menghabiskan Kitab Ilmu Menyambung Ruang hanya dalam waktu satu malam!
“Kita mesti bergerak sekarang, Munding. Esok hari kita benar-benar harus sudah berada di Pemukiman Kumuh Kotaraja.”
Munding Caraka membuka kedua matanya sambil melenguh pelan. Sama seperti Mantingan, kerbau itu tidak tertidur biar sebentar semalaman tadi. Berbarengan dengan Mantingan, dirinya berdiri.
__ADS_1
“Carilah gua kecil di sekitar sini, Munding.” Mantingan menaiki punggung kerbau itu dengan cepat.
Setelah menyadari bahwa Mantingan sedang terburu-buru, Munding segera membawanya melesat terbang ke langit.
Dari ketinggian, tampaklah hutan yang menyeramkan itu tidak lagi menyeramkan. Justru teramat indah. Tetapi bila dilihat dari bawah, maka itu akan terlihat sangat menyeramkan!
Kemegahan Gunung Kelinci dapat pula terlihat dengan sejelas-jelasnya. Tiada kabut ataupun awan yang menutupi. Benar-benar bersih. Tetapi sungguh, Mantingan tidak memiliki waktu untuk menikmatinya.
Segera setelah menancapkan Ilmu Mata Elang, Mantingan mengarahkan pandangannya ke bawah. Mencari gua yang sekiranya dapat ditinggali untuk sebentar waktu.
“Di sana, Munding!” Mantingan berseru sambil menunjuk ke bawah. Begitu cepat ia menemukan gua yang cocok, seolah kebetulan saja!
“Ongng!” Munding Caraka membalas sambil mengarahkan laju terbangnya ke bawah.
Namun kerbau itu tidak ingin begitu saja turun tanpa sesuatu yang luar biasa. Berpikiran bahwa setidaknya Mantingan dapat tersenyum kali ini, Munding berputar-putar di udara.
“Munding!” Mantingan berseru kaget sambil mencengkeram pelana sekuat mungkin. Jantungnya berdebur kuat. “Apa yang kaulakukan, Munding?!”
Munding hanya mengaum panjang sebelum memutar arah lajunya menjadi ke atas, membuat Mantingan merasa tubuhnya melayang-layang tanpa terikat pada gaya tarik bumi!
“OONGNG!” Lenguhan terakhir Munding Caraka itu menandai bahwa dirinya berhenti bermain-main. Laju terbangnya kembali lamban dan setimbang.
Mengetahui bahwa ternyata Munding sengaja melakukan itu, bukannya karena telah terjadi permasalahan yang teramat genting, Mantingan justru tertawa lepas. Tidak, dirinya tidak marah!
“Lain kali dikau harus melakukan ini lagi, Munding!”
Begitulah tanggapan Mantingan membuat Munding Caraka teramat girang, sebab betapa pun sungguh melebihi apa yang diharapkannya.
___
__ADS_1
catatan:
Episode bulan ini: 18/40