
MANTINGAN terbebas dari segala tuduhan, bahkan pula dihadiahkan 200 keping emas sebab dianggap telah cukup berjasa menjaga keamanan istana. Ia dipersilakan untuk kembali mengikuti Perhelatan Cinta di Lingkungan Seribu Rumah Istana.
Kini Mantingan dengan cemas membuka pintu rumah yang dipinjamkan padanya, saat itulah ia langsung berjumpa dengan Chitra Anggini yang nyatanya-nyatanya sudah menunggunya di ruang depan sedari lama.
"Kau tidak mengapa?" Mantingan langsung bertanya, tetapi kemudian alisnya berkerut sebab Chitra Anggini mundur beberapa langkah dengan sorot tatap mengancam.
"Siapa dikau? Ada keperluan apa?" Gadis itu balik bertanya.
Mantingan terdiam beberapa saat sebelum menyadari sesuatu. Bukankah wajahnya kini telah berubah setelah mengenakan alat sihir pemberian Puan Kekelaman?
"Jangan bercanda, ini adalah aku." Namun secepat itu dirinya menyampaikan pesan dalam tatapan mata, 'inilah wajah baruku.'
Chitra Anggini tidak lagi meragu. Hanya dengan Mantingan dirinya dapat bercakap melalui tatapan mata. Maka sebab mempertimbangkan bahwa segenap rumah telah dipasangi mantra penangkap suara, berkatalah Chitra Anggini, "Aku tidak mengenalimu. Terakhir aku mengenalimu adalah kemarin malam, saat kau berkelebat pergi begitu saja dan tak kunjung kembali hingga pagi seperti ini. Ke mana saja kamu?"
"Aku tidak berbuat macam-macam dengan perempuan lain, jangan berpikiran seperti itu." Mantingan tersenyum tipis, hampir tidak percaya betapa dirinya harus menjalani segenap sandiwara ini!
"Masuklah terlebih dahulu."
Mantingan masuk tanpa banyak bertanya; Chitra Anggini langsung menutup pintu.
"Kamu baik-baik saja?" Mantingan kembali bertanya.
"Lihatlah sendiri. Apakah aku terlihat tidak baik-baik saja?"
Mantingan tersenyum tipis. Selama Chitra Anggini masih menjawab dengan ketus, sinis, dan dingin, maka jelaslah berarti bahwa perempuan itu masih baik-baik saja.
"Kau pergi ke mana tadi malam?" Chitra Anggini ganti bertanya.
"Aku ditahan di penjara bawah tanah istana."
__ADS_1
"Apa mereka menyiksamu?"
Mantingan menggeleng. "Mereka justru berlaku sangat baik kepadaku."
Perempuan itu menghela napas panjang pada akhirnya. "Semalaman suntuk aku memikirkanmu."
"Apalah artinya aku ini bagimu, Chitra?"
Pertanyaan tersebut berhasil membuat Chitra Anggini mengangkat wajahnya dan menatap pemuda itu lebih bersungguh-sungguh. Namun, tiada kunjung jawaban keluar dari mulutnya.
"Sekalipun aku mati, maka kau harus meneruskan apa yang sudah sepatutnya kau lakukan. Aku bukanlah penghalang bagi dirimu," lanjut Mantingan.
"Kita adalah kawan seperjalanan. Akan berat bagiku meneruskan segala-galanya tanpa dirimu, bukan?"
Mantingan mengerutkan kening. Hampir-hampir tidak mengerti dengan apa yang dikatakan Chitra Anggini.
Namun, perempuan itu menggelengkan kepalanya sambil berkata, "Lupakan. Saat ini, ada satu hal yang jauh lebih penting ketimbang hanya bercakap-cakap saja."
"Tidur," jawabnya, "ini adalah perintah dari puan di balik kekelaman itu. Kita harus beristirahat. Bergantian. Tidak perlu mengikuti kegiatan perhelatan untuk hari ini."
Mantingan ingin membantah, tetapi ia sama sekali tidak menemukan alasan yang tepat. Kiai Guru Kedai pun telah mengingatkan kepadanya bahwa pendekar tetap membutuhkan tidur untuk menjaga kewaspadaannya. Menjadi pendekar bukan berarti tidak tidur sama sekali.
"Tidurlah terlebih dahulu, aku akan menjagamu," kata Chitra Anggini kemudian, "jangan membantah. Semalaman sudah aku bersamadhi sambil menunggumu datang, saat ini aku tidak terlalu mengantuk."
Maka kini, Mantingan sama sekali tidak memiliki alasan apa pun untuk membantah! Lagi pula, memangnya apatah lagi yang mesti dibantahnya?
***
DALAM lelap tidurnya, kembali Mantingan tersedot ke dalam alam mimpi yang pernah disambanginya. Semuanya menjingga. Jingga dedaunan yang terbang tersapu angin bagaikan segerombolan kupu-kupu. Jingga langit yang meremang bagaikan senjakala. Jingga semua pepohonan yang berbaris rapi bagaikan memang ada yang sengaja menanamnya. Termasuk pula jingga pakaian perempuan yang kini berdiri tepat di hadapannya.
__ADS_1
"Kenanga." Mantingan berkata lirih, hingga hampir-hampir suaranya tak dapat didengar bahkan oleh telinganya sendiri. Betapa ia masih mengenal perempuan itu meski telah terlampau lama waktu berlalu. Dialah Kenanga. Dalang di balik pengembaraannya yang sungguh amat sangat panjang ini. "Maafkan daku." Mantingan menundukkan kepala. Malu menunjukkan wajahnya pada gadis malang itu.
"Apakah yang perlu dimaafkan, Kangmas?" Suara lembut itu kembali didengarnya.
"Daku membuatmu menunggu terlalu lama. Telah kulanggar semua janji yang dahulu kuucapkan di hadapanmu sedemikian mudahnya." Mantingan mengatakan dengan sejernih-jernihnya, bahwa tiada satupun yang hendak disembunyikan atau dilebih-lebihkan olehnya.
"Tidak. Itulah yang memang harus Kangmas jalani, meski memanglah tidak sebentar waktunya. Tetapi aku sungguh tidak mengapa di sini, akan selalu kunantikan kedatangan Kangmas, seberapa pun lamanya." Kenanga mengangkat wajah Mantingan. "Tujuanmu itu akan tercapai sebentar lagi, Kangmas, pengembaraanmu yang sangat panjang ini akan berakhir segera."
Mantingan menatap perempuan itu dengan mata basah. Siapakah lagi yang dapat sekadar menjadi tempatnya bersandar meski untuk sejenak saja? Siapakah lagi yang dapat menyemangatinya dengan sekadar satu-dua patah kata saja? Siapakah lagi kiranya yang dapat begitu setelah Bidadari Sungai Utara pergi meninggalkannya?
"Cukup tergarkanlah dirimu, Kangmas. Jalani segala sesuatu yang memang perlu engkau jalani. Yakinlah pada tujuan itu dan usahakanlah yang terbaik, maka sungguh seisi alam semesta akan bersatu-padu membantu dirimu." Kenanga menyungguhkan senyum hangatnya, membuat rasa haru Mantingan meluap-luap dengan sedemikian hebatnya.
Namun sebelum sempat dirinya menangis, menumpahkan segala sesuatunya, bayangan Kenanga tetiba saja memudar. Segala kejinggaan itu turut memudar. Tiada lagi yang tersisa.
Ketika ia membuka mata, sekujur tubuhnya telah berkeringat. Memendarkan pandang ke sekitar, dilihatnya Chitra Anggini yang sedang duduk sambil membaca kitab tidak jauh dari ranjangnya. Melihat pemuda itu telah terbangun, Chitra Anggini langsung menutup kitabnya.
“Sudah tidak mengantuk?” tanyanya.
“Aku hampir tidak pernah mengantuk.” Mantingan bangkit duduk. “Sekarang, kautidurlah.”
“Orang suruhan Puan Kekelaman telah datang beberapa saat lalu membawakan peta istana sekaligus rencana-rencana penyusupan yang tersalin di beberapa lembar lontar.”
Mantingan melebarkan matanya. Bagaimana bisa Chitra Anggini mengatakan hal tersebut dengan sedemikian mudahnya, sedangkan telah jelas rumah yang mereka tinggali saat ini dipasangi mantra sihir penangkap suara?
Seolah mengetahui apa yang Mantingan pikirkan, Chitra Anggini kembali berkata, “Orang itu sekaligus melepas seluruh mantra sihir yang ada di sini, bahkan menggantinya dengan mantra kedap suara. Kita bebas membicarakan apa pun.”
Mantingan mengembuskan napas lega, sebelum berkata, “Di mana lontar-lontar berisi rencana tersebut?”
“Di laci itu,” jawab Chitra Anggini sambil menunjuk lemari laci di sebelah ranjang.
__ADS_1
Mantingan bergegas menghampiri dan membuka laci yang memang hanya terdapat satu buah itu. Ditemukannya seikat lontar berisi aksara-aksara yang padat.