
Apakah Mantingan menginginkan diri menjadi pendekar? Tentu saja tidak. Seandainya dunia penuh dengan kedamaian, Mantingan bisa tenang mengembara ke mana saja. Seandainya juga dunia penuh dengan kedamaian, Rara tidak akan terbunuh. Seandainya dunia penuh kedamaian, Mantingan tidak akan dipenuhi dendam seperti ini.
Api dendam itu tidak juga redup, dan kesedihannya tidak juga surut. Jika saja kesedihan Mantingan diumpamakan sebagai air di dalam kepalanya, maka kepala Mantingan saat ini telah dipenuhi oleh air. Dengan api yang berkobar di dalam air itu.
Bisa dikatakan saat ini bahwa Mantingan sebenarnya akan terpaksa menjadi pendekar.
Tetapi Mantingan tidak akan menantang pendekar lain untuk bertarung dengannya, jika seandainya ia jadi pendekar nantinya. Mantingan ingin jadi pendekar hanya untuk melindungi dirinya sendiri dan orang-orang tersayang, dan agar tugasnya tidak diganggu gugat.
Pada akhirnya Mantingan melangkahkan kaki ke dalam hutan setelah lama berpikir.
Kicau burung bersahutan, berhinggapan di dahan dan reranting mencari tanda-tanda keberadaan air. Pohon-pohon bergoyang pelan diembus angin kemarau. Hutan itu seperti tengah menangisi ketidakhadiran hujan.
***
Mantingan menatap lurus ke depannya. Ia menemukan beberapa prajurit bersenjata lengkap. Mereka terlihat menjaga jalanan itu, hal sama seperti yang pernah Mantingan jumpai di perbatasan Sundapura.
Mereka sudah menatap Mantingan sedari Mantingan masih jauh tadi, dan inilah waktunya Mantingan menghadapi mereka.
Menghadapi mereka bukanlah berarti bertarung dengan kekerasan. Mantingan akan menghadapi mereka dengan cara yang paling damai.
Mantingan tidak memiliki kartu pengenal diri, yang itu artinya ia tidak bisa melewati jalan ini kecuali menyelinap ke dalam hutan. Namun Mantingan tidak dapat melakukan itu, karena prajurit-prajurit di depan sudah terlanjur melihat dirinya, maka tak ada kesempatan untuk menghindar. Lagipula, Mantingan tidak berniat menghindar kali ini.
“Selamat pagi.” Salah satu prajurit maju. “Bisakah engkau tunjukkan kartu pengenal diri?”
“Saya tidak memilikinya.”
Prajurit itu menatapnya curiga. “Tidak punya?”
“Ya,” jawab Mantingan. “Tetapi sahaya ingin membuatnya, bagaimana caranya saya bisa membuat kartu identitas?”
Prajurit itu kemudian nenatap Mantingan dari atas sampai bawah lalu menganggukkan kepala, Mantingan tidak terlihat seperti orang golongan hitam yang mukanya sangar dan penuh nafsu pembunuh. Dapat dilihat olehnya bahwa Mantingan memiliki wajah lembut, tetapi wajah itu ditutupi oleh sesuatu yang tak bisa ia jelaskan hingga Mantingan terlihat tidak bersahabat.
“Jika memang engkau belum memiliki kartu pengenal dan ingin membuatnya, maka kami bisa membuatkannya untuk engkau,” katanya. “Tetapi itu memerlukan sedikit uang.”
Mantingan mengernyitkan dahi, menatap heran prajurit di depannya itu dengan heran.
__ADS_1
“Tidak, tidak. Diriku tidak sedang minta uang sogokan, tetapi memang inilah cara untuk mendapatkan kartu identitas, setidaknya untuk saat ini.”
“Berapa banyak uang yang perlu aku keluarkan?”
“Jumlahnya tidaklah banyak, hanya sekeping perak saja, karena ini adalah layanan untuk rakyat.” Prajurit itu mengelus dagunya. "Seandainya engkau membuat kartu pengenal diri di kampung asalmu, maka tidaklah butuh uang sekeping pun. Tetapi biarlah."
Mantingan mengangguk, mengeluarkan satu keping perak dari pundi-pundinya dan memberikan itu pada si prajurit.
“Baiklah, akan ada beberapa pertanyaan yang musti engkau jawab di sana.” Prajurit itu menunjuk tempat rekan-rekan lainnya berkumpul.
Mantingan mengikuti prajurit itu. Sampai di sana, ia menjawab setiap pertanyaan dengan jujur. Mulai dari namanya, perkiraan hari lahir, nama ibu dan bapak, hingga segalanya yang menyangkut kepentingan pengenal.
Buntelan milik Mantingan juga digeledah, dan betapa mereka terkejut saat melihat banyak keping emas di dalam buntelan itu.
Jelas saja mereka menaruh curiga pada Mantingan, uang sebanyak ini akan sulit dipercaya jika yang membawanya hanya seorang pengembara seperti Mantingan.
“Dari manakah engkau mendapat uang ini?”
“Adakah itu sangat perlu kujawab?”
“Maaf, tetapi pertanyaan ini memang sangat perlu engkau jawab.”
Mantingan mengembuskan napas panjang. Tidak mungkin dirinya mengatakan sejujurnya bahwa ia mendapatkan uang-uang itu dari Birawa, yang lalu mereka akan bertanya di mana letak rumah Birawa itu. Sungguh mereka tidak akan pernah menemukan rumah Birawa, karena terdapat sirep penyamar yang hanya dapat ditembus oleh orang yang telah diizinkan Birawa.
Mantingan tentu bisa menemukan rumah Birawa, karena Birawa telah mengizinkannya. Tetapi tidak sama halnya dengan prajurit-prajurit itu.
Jika Mantingan menjawab jujur, perjalanannya akan memakan waktu lebih banyak lagi. Bahkan ada kemungkinan dirinya dijebloskan ke dalam penjara.
“Apakah salah jika aku berkata bahwa aku adalah pendekar yang baru turun gunung?"
Prajurit-prajurit itu saling berpandangan.
“Pendekar aliran putih, bukan?”
“Aliran merdeka.”
__ADS_1
Kembali mereka saling bertatapan, lalu mengangguk.
“Dapatkah engkau pastikan bahwa dirimu tidak akan mengacau di dalam kota? Engkau pasti mengetahui, bahwa akan ada pendekar dari kerajaan yang akan menghabisimu jika kau mengacau. Engkau terlihat seperti orang baik, dan aku harap tidak salah menilai.”
“Ya, tujuan perjalananku saat ini adalah Gunung Kubang. Aku hanya melintasi daerah ini, dan kemungkinannya kecil jika aku mampir ke kota.”
“Baguslah. Engkau semakin meyakinkan diriku bahwa dirimu adalah pendekar yang baik. Silakan lewat, dan selamat datang di Pura Dalem.”
Mantingan kembali berjalan, meninggalkan prajurit-prajurit di belakangnya yang masih terus berjaga entah sampai kapan.
Saat ini dirinya berada dalam wilayah yang lebih aman, sebab pastinya banyak penjagaan dari prajurit-prajurit kota hingga orang-orang golongan hitam tersaring. Bahkan di hutan pun ada penjagaan dari prajurit-prajurit hutan, tetapi sikap mereka lebih tidak ramah ketimbang prajurit yang menjaga di jalan.
***
Mantingan tidak mengetahui sudah sampai di mana dirinya saat ini, tetapi langit telah gelap. Bulan menggantung cerah di langit bersama bintang-bintang.
Dipandanginya ke sekitar. Di sekitarnya itu penuh dengan puing-puing batu bata dan beberapa bangunan yang dibiarkan rusak. Mantingan tahu, bahwa dirinya berada di sebuah komplek percandian tua yang telah lama tak terurus.
Sebenarnya ini adalah tempat yang indah untuk berkemah, tetapi bukanlah tempat yang aman. Bisa saja akan datang perampok-perampok nanti malam, maka dari itu dirinya memilih untuk tidak lama-lama berada di sini. Tempat ini terlalu mencolok.
Jikapun tetap berjalan, tidaklah aman.
Mantingan baru ingin masuk ke dalam hutan untuk mendirikan tenda, tetapi ia melihat titik cahaya dari kejauhan. Itu bukanlah desa seperti yang kemarin Mantingan temukan, karena titik-titik cahaya yang ia lihat saat ini tidaklah banyak.
Kemungkinan besar, titik cahaya itu berasal dari sebuah kedai yang biasa didirikan pada tepi jalan. Akan tetapi, siapakah yang masih membuka kedainya di malam hari dan pada kondisi tidak aman seperti ini?
Mantingan memutuskan untuk mengunjungi kedai itu. Jika memang masih buka, mereka pasti menerima tamu untuk menginap. Mantingan akan tetap melihat kondisi keamanan di kedai itu. Siapa pun yang masih membuka kedai itu pastinya memiliki kepercayaan diri dengan kekuatan yang ia miliki.
Semakin Mantingan mendekat, semakin dilihat rupa kedai itu. Sebenarnyalah kedai itu adalah kedai yang sederhana. Tampak seperti kedai-kedai pada umumnya. Di dalam kedai itu terang oleh pelita, sedang dua obor diletakkan di depan pintu masuk. Pintu kedai itu terbuka, mengartikan bahwa kedai itu masih menerima tamu.
“Jika engkau ingin tetap masuk, maka dikau tidak diperkenankan keluar hingga hari jadi terang.”
___
catatan:
__ADS_1
Follow IG @westreversed untuk melihat lebih banyak ilustrasi.