
MANTINGAN KEMBALI ke dalam tokonya. Ia menyiapkan sekeping emas. Baginya, itu bukanlah jumlah yang memberatkan. Namun kali ini, Mantingan juga menyertakan sebuah Lontar Sihir sebagai hadiah. Bukan hadiah sebenarnya. Lontar Sihir itu adalah Lontar Pelacak. Tampang mantranya seperti Lontar Penyerang. Dapat dikatakan bahwa ini adalah salah satu dari sekian banyaknya Lontar Penyamar.
Tentu saja Mantingan akan memanfaatkan setiap kesempatan dengan sebaik mungkin. Bahkan kesempatan kecil pun patut dimanfaatkan. Sebab dalam kesempatan kecil, seringkali terdapat kesempatan besar. Mungkin saja keberuntungan akan berpihak kepadanya.
Dengan menghadiahkan sebuah “Lontar Penyerang” kepada si pria tua itu, maka Mantingan akan lebih mudah menemukan letak markas mereka. Ia berpikir, bahwa lontar yang ia berikan akan diselidiki lebih lanjut, sehingga tidak berhenti di balai desa saja. Lontar Pelacak itu akan dibawa sampai markas rahasia mereka.
Ataukah justru balai desa-lah yang merupakan markas mereka sekarang? Mantingan tidak mengetahui. Maka dari itu, dikirimlah Lontar Pelacak untuk memastikan itu. Beruntunglah keserakahan mendorong si orang tua untuk datang meminta pajak.
Mantingan kembali menuju pintu. Menemui si pria tua yang masih saja tersenyum datar. Mantingan memberikannya sekeping emas dan selembar Lontar Sihir.
“Simpan Lontar Sihir ini baik-baik, jangan sampai mereka tahu. Dan gunakanlah jika memang benar-benar terpaksa.”
Si pria tau mengangguk dalam-dalam. “Nasihat Anak sahaya dengarkan dan sahaya pahami. Sekarang, saya minta diri. Perlu mengambil pajak dari yang lainnya.”
Mantingan mengangguk pelan. “Silakan, silakan.”
Setelah pria tua itu pergi, kembali Mantingan menutup pintu tokonya. Sekali ia menggeleng pelan sebelum meneruskan pekerjaannya.
***
PADA MALAM harinya, Bidadari Sungai Utara tiba di kediaman Mantingan. Gadis itu meminta maaf karena datang terlalu lambat, ada banyak urusan mendadak yang mesti diselesaikannya terlebih dahulu. Mantingan tidak mempermasalahkan itu dan langsung mengajak Bidadari Sungai Utara masuk ke dalam kamarnya selepas menyapa anak-anak.
__ADS_1
Di sana, Mantingan telah menyediakan banyak lontar-lontar yang akan digunakannya untuk mencatat rencana yang telah disusun. Di belakang meja itu pula, telah disediakan dua bangku. Yang semulanya satu bangku saja.
Di sanalah Mantingan mulai menyusun rencana bersama Bidadari Sungai Utara di belakang meja.
“Sebelum itu, daku harus menyampaikan permohonan maaf karena telah mengganggu Saudari untuk urusan yang sebenarnya tidak perlu melibatkan dikau.”
Sembari melepas cadarnya, Bidadari Sungai Utara tersenyum. “Bukan apa-apa. Ini demi kebaikan kita bersama.”
Hendaknya Mantingan tidak berbasa-basi lagi. “Malam ini juga, kita harus meninjau markas mereka. Sudah daku dapatkan letak markas perampok-perampok itu menggunakan suatu Lontar Pelacak.”
Di wajah Bidadari Sungai Utara, jelas terpampang keterkejutan. “Diriku benar-benar tidak siap. Daku mengira, kita di sini hanya untuk menyusun rencana, sedang pelaksanaannya bisa di kemudian hari.”
Mantingan menggeleng pelang. “Bukankah daku sudah katakan kemarin hari?”
“Kesiapan seorang pendekar bisa didapatkan kapan saja,” berkata Mantingan. “Saudari bisa menyiapkan diri sembari menyusun rencana.”
Tiada lain pilihannya selain menyetujui saja. Maka masuklah mereka pada pembicaraan inti.
“Pagi tadi, tak lama setelah engkau pergi ke Toko Obat Wira, daku pergi ke Toko Kana-Kina untuk memastikan kualitas barang yang akan dijual. Pria tua yang mengaku merupakan seorang jawatan desa itu datang kembali. Meminta pajak. Kali ini sekeping emas. Kesempatan itu kumanfaatkan dengan memberinya Lontar Pelacak. Kukatakan saja itu merupakan Lontar Penyerang.
“Saat ini, dapat kurasakan Lontar Pelacak itu berhenti bergerak. Semulanya, ia hanya bergerak di sekitaran desa, namun kini sudah berada di luar desa. Kurasa begitu. Kita hanya perlu mengikuti tuntunan dari pasangan Lontar Pelacak itu yang ada di tanganku sekarang ini.” Mantingan menunjukkan sebuah Lontar Sihir yang penuh dengan guratan-guratan aneh. “Apakah ada yang tidak dimengerti oleh dikau?”
__ADS_1
Bidadari Sungai Utara menggeleng pelan. Semuanya telah ia mengerti. Mantingan melanjutkan.
“Ketiadaan cahaya pada malam hari akan membantu kita melakukan pengintaian secara sembunyi-sembunyi. Pertanyaanku adalah, apakah Saudari hendak ikut dalam melaksanakan darma ini?”
Tanpa ragu, Bidadari Sungai Utara mengangguk. “Daku harus menjaga dikau. Itulah darmaku.”
Mantingan tersenyum. “Kalau memang seperti itu keyakinan Saudari, maka kita akan bincangkan lebih lengkapnya tentang pengintaian ini.”
Maka mereka berbicara hal yang lebih penting daripada inti pembicaraan itu. Keduanya bertampang amat serius. Mencatat segala yang perlu dicatat. Segala kata yang diucapkan adalah kata terpenting. Tidak pantas dilewatkan.
Maka hingga tengah malam itu, rencana telah tersusun matang. Dikarenakan tugas pengintaian adalah tugas kecil, maka tidak membutuhkan banyak waktu untuk menyusun segenap rencananya. Mantingan juga hanya bicara seperlunya tanpa basa-basi.
Mereka segera meninggalkan rumah. Kana dan Kina sudah lama terlelap di kamarnya masing-masing. Sungguhlah seluruh bagian rumah telah ditempeli Lontar Penjebak. Bahkan untuk pendekar ahli sihir sekalipun mustahil dapat masuk. Sedangkan Kana dan Kina aman sekalipun mereka keluar dari kamarnya, darah mereka telah dikenali Lontar Sihir-Lontar Sihir yang ada di rumah itu.
Tentulah Mantingan tidak akan meninggalkan mereka tanpa pengamanan ganda. Seluruh mantra sihir yang dipasang merupakan mantra terbaik. Jangan sampai Kana dan Kina terkena imbas kepentingan-kepentingan golongan hitam.
Mantingan dan Bidadari Sungai Utara melesat di kegelapan malam. Sungguhlah Mantingan tidak menggunakan tenaga dalam. Sedikitpun tidak. Namun, dirinya dapat melesat cepat mengimbangi Bidadari Sungai Utara. Itu disebabkan karena dirinya berhasil mempelajari filsafat-filsafat yang terkandung di dalam Kitab Teratai. Kitab itu benar-benar berisi arti kehidupan yang dapat Mantingan terapkan ke dalam ilmu persilatan.
Keduanya masih terus melesat di bawah bayang-bayang rembulan. Sekilas mereka hanya akan tampak seperti bayangan kabur berwarna putih—yang menurut orang awam tidak patut dipermasalahkan. Namun bagi pendekar-pendekar yang mencari kesempurnaan lewat pertarungan, kelebatan bayangan dapat diartikan tantangan bertarung.
Mantingan tidak mau menerima tantangan bertarung saat ini. Bahkan jika dirinya tidak sedang menjalankan darma, Mantingan tetap tidak mau. Kesempurnaan hidup bukanlah didapat dengan saling membunuh. Sedangkan begitulah prinsip hidup yang dipegang hampir seluruh pendekar di sungai telaga persilatan. Prinsip yang menurutnya amat-sangat konyol.
__ADS_1
Kesempurnaan hidup tidak bisa diraih sendirian. Harus bersama-sama. Kesempurnaan hidup adalah saat seseorang tidak perlu mati-matian dalam mendapatkan sesuatu. Ada orang lain yang akan memberikannya. Sedangkan ia memberikan sesuatu kepada orang lain juga.