
TIDAK TERDENGAR lagi sahutan dari tamu lelang lainnya. Penawaran seolah-olah akan berhenti di angka 500 keping emas. Mantingan melirik Bidadari Sungai Utara yang juga tampak jengah mengetahui harga barang. Ia sendiri pun berani mengakui bahwa harga barang yang pertama dilelang itu melambung terlalu tinggi. Berpikir pihak lelang telah mengambil keputusan yang salah, seharusnya Payung Kelopak Melati dimasukkan ke dalam salah satu barang istimewa. Mungkin saja dengan begitu, keuntungan yang didapatkan jauh lebih tinggi.
“Apakah tidak ada penawaran lainnya?”
Semua terdiam. Trika mengangkat tangannya dan memberi tanda. Gong dipukul. Trika memasukkan kembali Payung Kelopak Melati ke dalam petinya, sebelum datang seorang pelayan mengantarkan peti itu kepada sang penawar tertinggi.
Berbarengan dengan itu, kembali dua pelayan masuk ke dalam lapangan lelang dengan membawa peti panjang yang kemudian diletakkannya di atas meja.
“Barang selanjutnya yang Trika lelang adalah alat bebunyian dari Negeri Atap Langit, bernama Qin Zheng atau yang biasa kita sebut sebagai kecapi. Para hadirin yang terhormat, ini bukanlah sebuah senjata pusaka. Namun, dapat menciptakan suara denting penenang sukma. Maka dari itu, Trika akan membuka harga mulai dari 100 keping emas.”
“Seratus keping emas!" Terdengar suara lain, yang pastinya bukan suara Mantingan maupun Bidadari Sungai Utara.
“Seratus dua keping emas!”
“Delapan ratus keping emas!”
__ADS_1
Mantingan menoleh pada orang yang telah membuat penawaran harga lima kali lebih besar ketimbang harga aslinya. Yang ternyata orang itu adalah salah satu dari selusin tamu istimewa. Dengan tampangnya yang congkak, ia tersenyum sangat lebar. Mantingan hanya bisa menggeleng pelan. Jelas orang itu bukan menginginkan kecapi yang dilelang Trika, namun menginginkan rasa kagum dari tamu-tamu lelang lainnya. Itu dapat dilihat dari senyuman lebarnya.
Kecapi itu kembali dimasukkan ke dalam peti, seorang pelayan membawakannya menuju panggung istimewa.
“Masuk ke barang ketiga yang Trika lelang ....” Perempuan itu menunggu seorang pelayan yang sedang membawakan sebuah peti kecil. Setelah peti itu sampai di atas meja, barulah Trika melanjutkan, “Kitab Ilmu Tapak Angin Darah adalah kitab ilmu persilatan yang berasal dari Perguruan Angin Putih. Dan yang para hadirin lihat saat ini adalah salinan Kitab Ilmu Tapak Angin Darah! Trika membuka harga mulai dari 400 keping emas!”
Awalnya, Mantingan sempat terkejut saat Trika menyebut nama Kitab Ilmu Tapak Angin Darah, namun setelah mengetahui bahwa itu adalah kitab salinan, Mantingan bisa kembali menyandarkan punggungnya sambil bernapas lega.
Tidak ada yang menawar. Sama sekali tidak ada. Para tamu diam semua. Mereka sama-sama mengetahui bahwa kitab salinan tidak bisa dijamin kebenarannya. Seringkali para penyalin kitab memasukkan ilmu-ilmu menyesatkan di dalam kitab salinannya. Jikalau ilmu-ilmu menyesatkan itu sampai dipraktikkan, maka sudah pasti akan mencederai pengguna kitab itu. Di antara ratusan hadirin lelang, tidak ada yang ingin menghamburkan uang untuk sebuah kitab salinan.
“Sepertinya memang tidak mudah meyakinkan para hadirin, maka barang ini Trika tarik kembali.” Perempuan itu menunjukkan senyumnya sebelum mengembalikan salinan Kitab Ilmu Tapak Angin Darah ke dalam peti. Barang selanjutnya kembali datang.
Pelelangan terus berlanjut. Setelah memasuki 30 barang terakhir, tamu-tamu di panggung istimewa mulai ambil bagian di dalam pelelangan. Mantingan pernah menawar untuk sebuah kitab persilatan, ia memasang harga 200 keping emas, tetapi orang lain menawar harga hingga 250 keping emas, Mantingan memilih untuk tidak melanjutkannya karena ia tidak terlalu membutuhkan kitab itu.
“Para hadirin sekalian yang terhormat, kita mulai memasuki sepuluh barang terakhir. Harga yang akan Trika pasang bukanlah harga yang murah. Jadi kali ini, pastikanlah kecukupan uang sebelum menawar!”
__ADS_1
Dari tribun luar lapangan, terdengar suara gemuruh sorakan penonton. Mereka saling memasang taruhan yang bukan sedikit, yang semula tidak ikut taruhan pun kini pula memasang taruhan.
Sekali lagi, Mantingan hanya bisa menggeleng. Mereka bertaruh untuk kemenangan orang lain. Yang mereka rasakan hanyalah kemenangan semu. Mereka tidak benar-benar menang, dan mereka tahu itu. Terlebih kegiatan taruh-menaruh itu hanyalah kegiatan yang sia-sia, menghamburkan uang untuk urusan yang sebenarnya tidak penting. Namun Mantingan ingat, tidak semua sikap orang dapat diubah atau kendalikannya.
Kesepuluh barang utama itu diantarkan sekaligus ke panggung lelang. Kini meja batu akik di sana telah terisi oleh banyak peti kayu mengilat. Trika tampak tersenyum lebar ketika melihat tamu-tamu istimewa memasang tampang serius.
Mantingan melipat tangan dan kakinya ke depan. Sepertinya, malam ini ia tak akan membeli barang apa pun. Ia memejamkan mata dan mencoba untuk tidur. Membiarkan saja Trika melelang kesepuluh barang yang rerata adalah senjata pusaka itu. Membiarkan pula para tamu di panggung istimewa saling bersahutan melontarkan penawaran.
“Trika akan melelang barang terakhir dari sepuluh barang istimewa. Barang terakhir ini tentu bukan barang biasa. Kami telah memastikan keamanan di sekitar tempat lelang untuk menjamin tidak ada yang bermaksud mencuri barang istimewa ini. Di antara orang-orang yang duduk di sekitar kalian adalah pendekar ahli suruhan kami.” Trika berkata tanpa melepas senyumnya. Lalu perempuan itu membuka peti. Mengangkat barang yang disebutkannya itu tinggi-tinggi ke atas, memastikan agar semua hadirin dapat melihatnya. “Inilah Kitab Teratai!”
Entah apa yang terkandung dalam kitab itu, namun para hadirin mengeluarkan reaksi yang tidak terduga. Mereka berseru tanda terkejut. Bahkan beberapa tamu sampai berdiri untuk melihat kitab itu lebih jelas.
Agaknya Mantingan pernah mendengar Kitab Teratai dari gurunya, namun Kiai Guru Kedai tidak menjelaskan isi kitab itu lebih jauh, selain mengatakan bahwa kitab tersbut mengajarkan tentang keseimbangan dalam hidup.
“Kitab ini sangatlah berharga ....” Bidadari Sungai Utara bergumam dengan nada putus asa.
__ADS_1
Belum sempat Mantingan menanggapi Bidadari Sungai Utara, Trika telah lebih dahulu membuka suara. “Sepertinya para hadirin sekalian mengerti betul tentang kitab ini. Namun biarlah Trika kembali menjelaskannya. Seperti yang sama-sama telah kita ketahui, Kitab Teratai adalah kitab tentang keseimbangan hidup. Kitab ini berasal dari dataran utara, namun bukan dari Negeri Atap Langit.
“Kitab teratai memiliki banyak pelajaran hidup, namun tidak semua orang dapat mengerti. Kabar yang beredar, orang-orang yang berhasil memperdalam ilmu dari Kitab Teratai akan mendapat kedamaian dalam hidupnya. Bahasa yang terkandung di dalamnya sangatlah apik, bagaikan membaca sebuah dongeng sebelum tidur. Namun jika ditelaah lebih dalam, hadirin-hadirin sekalian akan menemukan bergama aturan hidup di dalam dongeng-dongeng itu."