Sang Musafir

Sang Musafir
Pedang Baru untuk Bidadari Sungai Utara


__ADS_3

“Pedang ini, sangat bagus.” Mantingan berdecak kagum. “Meskipun hanya pedang kayu, jika digunakan dengan tepat maka akan menjadi senjata yang mematikan.”


Si penjual senjata tersenyum dan mengangguk. Bangga. “Tiadalah satupun pedang abal-abal yang kujual di sini. Daku membuatnya dengan sangat teliti. Bahkan untuk pedang kayu ini, daku memerlukan lima hari untuk menyempurnakannya.”


Mantingan turut tersenyum. “Berapakah harga pedang ini, Bapak?”


“Cukup sepuluh keping perak,” kata si penjual.


“Bapak butuh waktu lima hari untuk membuat pedang ini, lalu mengapakah harganya sangat murah?” Mantingan bertanya. Terheran.


“Karena biar bagaimanapun, pedang ini hanyalah pedang kayu. Pedang kayu pada lazimnya memang dijual sangat murah.”


“Tetapi pedang kayu yang Bapak buat ini sangatlah berbeda. Bisa kubilang, ini adalah sebuah mahakarya.” Mantingan kembali memandangi pedang kayu di tangannya.


“Sebuah mahakarya?” Si penjual lalu tertawa terbahak-bahak. “Jika memang engkau mau menyebutnya begitu, maka daku hanya bisa setuju. Akan tetapi, untuk membuat pedang kayu yang dikau pegang itu, daku hanya membutuhkan beberapa keping perunggu saja.”


“Daku tidak setuju, Bapak. Biarlah daku membayar lebih.” Mantingan merogoh kantung pundi-pundi di pinggangnya. Tidak mau si penjual senjata itu membantah sekali lagi. Menurut Mantingan, meskipun pedang itu hanyalah pedang kayu, akan tetapi sungguh luar biasa hasilnya wujudnya. Pedang itu mengilat, tetapi tidak licin. Tidak pula terlalu berserat. Pastilah kayu sembarangan.


Mantingan mengeluarkan sekeping emas. Mengulurkannya pada si penjual senjata. Tanpa menolak lagi, orang tua itu segera menyimpan sekeping emas ke dalam kantungnya.


“Apakah ada lagi yang ingin engkau beli di sini, Anak Muda?”


Mantingan mengangguk. Lalu menoleh ke belakang. Tempat Bidadari Sungai Utara berada. Gadis itu hanya mengangkat alisnya. Tidak mengerti arti tatapan Mantingan. Namun kemudian, Mantingan lekas berkata, “Saudari bisa memilih senjata apa saja di sini. Kelewang yang dipakai Saudari sudah tidak memumpuni jika dipakai dalam suatu pertarungan. Bukankah akan berbahaya ketika senjata itu tiba-tiba patah?”


Segera Bidadari Sungai Utara menggeleng. “Jangan. Daku tidak ingin merepotkan Saudara.”


“Tidak merepotkan. Hitung-hitung, ini sebagai tanda terima kasihku atas sikap lembut selama Saudari merawat diriku. Pilihlah senjata manapun yang Saudari kehendaki. Niscaya daku akan membayarnya.”

__ADS_1


Bidadari Sungai Utara seakan tidak dapat menolak. Dirinya dan Mantingan boleh dikata dekat. Lebih-lebih, ada sebuah pedang yang sedari tadi gadis itu pandangi. Jelas ia menginginkannya.


“Terima kasih, Saudara. Biarkan daku lihat-lihat terlebih dahulu.”


Mantingan tersenyum dan mengangguk. Kembali memutar pandangan ke depan. “Adakah Bapak memiliki jarum Cap Capung?”


“Jangan engkau tanyakan ada atau ketiadaan benda seperti itu. Sudah lazimnya sebuah toko senjata menjual jarum terbang, lebih-lebih Cap Capung. Dikau mau kuambilkan berapa bungkus?”


“Satu bungkus sepertinya cukup, Bapak.” Mantingan berkata setelah berpikir beberapa saat.


“Baiklah. Tunggu sebentar di sini, daku akan kembali.”


Si penjual senjata kembali masuk ke ruangan di dalam toko. Sembari menunggu, Mantingan menghampiri Bidadari Sungai Utara yang tidak jauh darinya. Gadis itu tidak seperti biasanya. Di matanya, terlihat kesungguhan. Dia memandang sebuah pedang berwarna putih yang tergantung di dinding toko.


Sarung pedang itu merupakan kayu berwarna putih yang dipolesi sampang hingga mengilat. Sedangkan bilah pedang barang tentu tidak terlihat, tertutup oleh sarung pedang. Sedangkan gagang pedangnya lebih panjang ketimbang gagang pedang pada umumnya. Ditaruhnya pedang itu di atas dinding telah mengisyaratkan suatu hal. Senjata istimewa.


Bidadari Sungai Utara mengangkat bahunya. “Daku rasa tidak.”


“Lalu mengapakah dikau memandanginya terus-terusan?”


“Ya. Sebenarnya daku menginginkan pedang itu,” kata Bidadari Sungai Utara pada akhirnya. “Tetap kupikir-pikir lagi, bukankah pedang lamaku masih ada bersamamu?”


Mantingan tersenyum tipis. Menepis ingatan tentang masa lampau. “Ya. Daku masih menyimpannya. Lupa memberikannya padamu, maafkanlah.”


“Daku pakai saja pedang lama itu.”


Mantingan kemudian mengernyitkan dahi, dirinya cukup terheran-heran. “Semua senjata yang dijual di toko ini bukan senjata abal-abal, Saudari. Apakah dikau yakin tidak mau mengambil pedang itu dan memakai pedang yang lama?”

__ADS_1


“Ini kulakukan untuk berhemat, Saudara. Daku masih belum membutuhkan pedang baru.”


“Tetapi Saudari akan menghadapi pertarungan. Jika Saudari memutuskan untuk memakai pedang, maka pedang itu haruslah yang terbaik. Soal harga, jangan pikirkan itu, biarkan daku yang menanggungnya.”


Bidadari Sungai Utara menatap Mantingan penuh arti. Lalu berkatalah dirinya, “Jikalau memang begitu, maka daku akan mengambil ini.”


Mantingan tersenyum hangat. Lalu dirinya membalas, “Maka ambillah.”


Bertepatan dengan itu, si penjual senjata keluar dari ruangannya. Tiga bungkus jarum terbang ada di tangannya. Dengan cepat penjual itu menghampiri Mantingan dan Bidadari Sungai Utara.


“Inilah sebungkus jarum Cap Capung, Anak. Untukmu 90 keping emas saja.”


Mantingan menerima sebungkus jarum itu dan membayar. Memanglah jarum Cap Capung berharga sangat mahal. Mantingan pernah membelinya di Pasar Ayam Jago seharga 100 keping emas. Kini hanya 90 keping emas. Ucapan si penjual senjata bukan omong kosong belaka.


Setelah menerima bayaran, pak tua itu bertolak pinggang melihati Bidadari Sungai Utara yang sedang menurunkan sebilah pedang putih dari atas dinding. Orang itu bergumam kepada orang di sebelahnya, Mantingan.


“Pilihan yang bagus. Pilihan yang bagus. Senjata itu daku tempa selama seribu hari penuh. Dikarenakan harganya, tidak banyak orang yang berminat membelinya.”


Dan seketika saat itu pula, Mantingan mendadak khawatir. Memang boleh dikata pilihan Bidadari Sungai Utara adalah pilihan yang bagus, dan pilihan yang bagus adalah harga yang mahal. Mantingan sudah berjanji akan membayar segala senjata yang hendak dibeli gadis tersebut, tetapi ia khawatir tidak bisa membayar senjata yang satu itu.


“Berapakah harganya, Bapak?”


“Tujuh ratus keping emas.”


Mantingan membeliakkan matanya. Begitu santai bapak penjual senjata saat mengucapkan harganya. Seolah hanya menjual kacang-kacangan. Atau kudapan ringan. Namun, yang sebenarnya ia maksud adalah pedang berharga mahal! Mantingan hampir-hampir tak percaya.


“Daku tidak membawa uang sebanyak itu, Bapak.” Mantingan bergumam. Sangat pelan. Seolah tidak ada yang lebih pelan daripada itu. Untuk memastikan bahwa Bidadari Sungai Utara sama sekali tidak mendengarnya. Dan beruntunglah gadis itu sama sekali tidak mendengarnya, ia terlihat membolak-balikkan pedang tersebut.

__ADS_1


Tak lama kemudian, terdengarlah jawaban, “Engkau bisa membawanya terlebih dahulu. Bayarlah nanti. Daku yakin engkau memiliki banyak uang.”


__ADS_2