
TEPAT sebelum tubuh gadis itu menyentuh pasir pantai dengan segala ketidakberdayaannya, Mantingan cepat memapasnya ke dalam rengkuhan. Direbahkannya Chitra Anggini sebelum ia mulai menyalurkan limpahan tenaga prana yang tak terkira jumlahnya pada perempuan itu.
“Bagaimana kamu lepas dari totokanku?! Chitra!”
Mantingan terus mengalirkan tenaga prana tanpa henti. Semakin banyak. Menjadi yang terbanyak dari yang pernah dikeluarkannya. Chitra Anggini tidak boleh mati. Chitra Anggini tidak boleh mati! Hanya itu yang ada di pikirannya saat ini.
“Mengapa kamu nekat menyerangku dengan kecepatan seperti itu?! Kamu tahu aku tidak mungkin bisa membunuhmu!”
Dilihatnya kemudian bibir tipis perempuan itu menghadirkan senyum menggetirkan perasaan bagi siapa pun yang melihatnya.
“Aku tahu, Mantingan. Sungguh-sungguh kutahu kamu tidak akan sampai hati mencelakaiku, apalagi bila sampai membunuhku, maka aku sengaja mencuri Sepasang Pedang Rembulan agar dapat bergerak secepat pikiran, sehingga tidaklah kamu mampu melihat wajahku, dan tidaklah pula kamu akan menyangka bahwa aku memiliki kemampuan yang sedemikian itu. Dengan demikiannya, bukankah kamu baru akan mengeluarkan kemampuan kamu yang sesungguh-sungguhnya?”
Mantingan menggelengkan kepalanya berkali-kali. Sungguh tidak pernah disangkanya betapa Chitra Anggini mampu melepas totokannya, pula lebih tidak menyangka lagi bila perempuan itu memiliki kelihaian memainkan pedang sedemikian hebatnya, sehingga sangkaan tentang lawan yang tadi menyerang itu adalah sebenar-benarnya pencuri Sepasang Pedang Rembulan.
Sangkaan seperti itu membuat Mantingan tidak lagi memiliki niatan lain, selain untuk menang dan membunuh lawannya. Tiadalah sekalipun terpikirkan untuk membiarkan sepasang pedang mestika itu menghunjam dadanya, sehingga kekalahan dan kematiannya pun menjadi suatu kepastian. Tidak sedikitpun.
“Aku telah lama mencintai dikau, Mantingan, sejak pertemuan kita yang pertama-tama ketika aku mengadangmu di tengah belantara rimba sewaktu itu. Aku tidak peduli tentang seberapa banyak gadis lain yang pula mencintai dikau, tetapi cintaku tetap tidak akan pernah berubah, sebab kurasa tidak seorangpun jatuh cinta kepadamu sebagaimana kejatuhanku. Tetapi pada Bidadari Sungai Utara dengan segala kelebihannya yang sungguh-sungguh mencintaimu, daku yang teramat buruk dan hina ini merasa terkalahkan. Lebih baik daku mati di tanganmu sedaripada harus menanggung cemburu ....
“Duhai, tidaklah perlu wajahmu menjadi sedih seperti itu, sebab keadaan yang semacam sekarang memang telah lama kuinginkan sejak dahulu. Ketika kuketahui kamu tidak akan menjadi milikku, bagai telah putuslah sudah seluruh pengharapanku, tetapi ini adalah harapanku yang terakhir, yakni untuk mati di tanganmu.
__ADS_1
“Daku amat berterimakasih pada dikau karena memenuhi harapan itu, Mantingan. Jika ada kehidupan selanjutnya, akan kucari orang yang sungguh mirip denganmu, dan kuharap pada saat itu daku telah pantas menyandingi dikau.”
Mata Chitra Anggini terpejam lamat-lamat. Dadanya berhenti naik-turun. Memang tiada pengharapan apa pun, tenaga prana hanya mampu membuatnya hidup sedikit lebih lama lagi. Tusukan Pedang Savrinadeya tepat mengenai jantung perempuan itu.
“Jangan mati, Chitra ... jangan mati ....” Mantingan mendekap tubuh Chitra Anggini erat-erat. Tangisnya tak mampu ditahan lagi. “Tidaklah mungkin aku sengaja membunuhmu, Chitra. Tidaklah mungkin.”
Namun, hayat Chitra Anggini memang telah lepas dari raganya. Tidak lagi mampu diajak berbicara.
Semakin erat Mantingan memeluk tubuh kawan seperjalanannya yang masih terasa hangat itu. Tidaklah mampu dirinya berkata-kata lagi. Tidaklah mampu dirinya berteriak keras menyebut nama gadis itu, mengumandangkannya pada langit. Tidaklah mampu dirinya beranjak atau bergeser dari kedudukan itu. Tidaklah mampu dirinya mengatasi ketidakmampuan itu. Segala-galanya benar-benar terasa kosong, hampa, tiada.
Hanya air matanya saja yang semakin deras mengalir. Mulutnya yang meringis bagai menahan sakit di badan. Tangannya yang mencengkeram kuat bagai tak ingin melepaskan apa pun yang digenggamnya, buat selama-lamanya.
Diingatnya kembali betapa di kediaman Tapa Balian ia telah berhasil menotok jalan darah Chitra Anggini, dan gadis itu sama sekali tidak berdaya untuk melepasnya.
Diingatnya pula betapa kemampuan Chitra Anggini memainkan pedang amatlah buruk, sebab memang senjata utama gadis itu adalah dedaunan yang bahkan dapat menjadi lebih tajam dari pedang mestika sekalipun.
Bagaimana mungkin Chitra Anggini mampu dan tahan menyembunyikan seluruh kemampuannya selama ini?
Matahari beranjak tinggi. Separuh dari badannya telah menyembul dari lautan, bergerak amat lambat seolah sedang berusaha keras melepas diri dari jeratan tali-tali nelayan yang tersangkut di terumbu karang, yang sedemikian lambatnya hingga bagai tidak bergerak sama sekali. Sinarnya membuat bayangan Mantingan yang tengah memeluk tubuh terkulai Chitra Anggini itu memanjang di pasir pantai. Tetesan air matanya tampak bagai embun pagi segar yang menjanjikan keceriaan.
__ADS_1
Begitulah bukan akhir kisah dari kebanyakan kawan seperjalanan? Dihikayatkan bahwa banyak sekali dari mereka yang pada akhirnya menempuri satu sama lain ketika telah sampai di ujung pulau karena memang harus menghentikan pengembaraan, sehingga salah satu dari mereka atau bahkan kedua-duanya akan terbaring tanpa nyawa di atas hamparan pasir pantai.
Bukankah yang demikian itu terjadi pada mereka berdua saat ini?
Mantingan mendengar suara derap langkah kaki yang mengendap-endap dari belakangnya. Seberkas nafsu pembunuh bersemilir. Dapat ia rasakan beberapa golok sedang terhunus ke arahnya, yang dapat ditebaskan ke lehernya kapan saja jika dikehendaki.
Namun, Mantingan tidak bergeser sejengkal pun dari tempatnya. Biarlah orang-orang itu menebas lehernya. Biarlah nyawanya melayang saat ini pula. Biarlah semuanya terjadi, ia sama sekali tidak peduli.
Lantas kemudian, suara derap langkah beberapa pasang kaki itu tiba-tiba saja berhenti. Terdengar suara dari orang-orang itu yang agaknya sedang berunding setengah berdebat, barang tentu dengan bahasa yang benar-benar berbeda. Hingga beberapa saat berlalu, hanya ada satu orang yang mendekati Mantingan.
“Pendekar dari dunia luar ...,” desis orang itu dengan pelafasan yang terdengar kaku. “Apakah tidak pernah datang pemberitahuan kepadamu untuk tidak mengunjungi pulau ini?”
Mantingan tidak menjawab. Bahkan lebih dari itu, dirinya sama sekali tak dapat mendengar suara apa pun lagi. Terbenam dalam lautan duka di dalam kepalanya sendiri. Terpisah dari gagasan, terpisah dari pikiran, terpisah dari segala-galanya.
“Aku pernah mendengar kisah tentang pasangan pendekar yang saling bebunuhan di tepi pantai setelah mengakhiri pengembaraannya. Kami akan menghormati kekasihmu dan menguburnya secara layak, tetapi kami harus tetap menangkapmu karena telah melanggar aturan.”
Orang itu mengulurkan lengannya dan menepuk pundak Mantingan sebelum pemuda itu menjadi tidak sadarkan diri.
JILID 7: "Duka Praha di Kotaraja" selesai.
__ADS_1