Sang Musafir

Sang Musafir
Memunculkan Bertumpuk-Tumpuk Daging


__ADS_3

“Benarkah dia Pahlawan Muda Dermawan yang dahulu pernah membagikan kita makanan, dan kini datang untuk berbagi lagi?”


“Mana daku tahu! Tidak satupun dari kita ada yang pernah bertemu dengannya, lantas bagaimana daku bisa tahu bahwa dia adalah Pahlawan Muda Dermawan itu?”


“Ah, kalian tidak perlu meragukan lelaki muda itu. Sikapnya benar-benar mencerminkan kepahlawanan. Meskipun dirinya ternyata bukan pahlawan muda yang kemarin membagikan kita bertumpuk-tumpuk daging lezat itu, setidaknya dia bisa menjadi pahlawan muda yang baru!”


“Eh, bagaimana bisa dikau mengatakannya lelaki muda bila wajahnya saja tidak bisa kita lihat? Bagaimanakah jika orang itu telah berusia lanjut, sehingga sungguh tidak sopan bila kita memanggilnya anak muda?”


MANTINGAN dengan cepat menjadi perbincangan orang-orang yang mengikutinya di belakang, yang kini bahkan telah mencapai ratusan orang, tetapi masih belum pula pemuda itu menyadari kehadiran mereka.


Pikirannya masih berlarut-larut pada dambaan hatinya yang jauh nian di seberang negeri, Bidadari Sungai Utara; atau Pham Lien; atau yang selalu dikenalnya sebagai Sasmita. Betapa sekuat tenaga ia kerahkan untuk melupakan gadis itu, tetapi tetap saja kenangannya menguak kembali di suatu ketika, seperti saat ini misalnya.


Bidadari Sungai Utara tidak dapat benar-benar dilupakan olehnya!


Mantingan terus berjalan hingga tanpa terasa telah tiba di halaman Penginapan Permata Malam. Tampak ratusan orang memenuhi tempat itu, tentulah setelah Chitra Anggini meminta mereka berkumpul segera untuk mendapatkan daging secara cuma-cuma. Perhatian orang-orang itu segera teralihkan menuju Mantingan yang tampak diikuti ratusan orang lainnya.


Sontak saja Mantingan tersadar dari lamunannya. Dipandanginya ratusan manusia yang pula sedang memandanginya dengan binar harapan di mata mereka. Segera ia menarik napas panjang, jelaslah mengetahui apa yang mesti dilakukan, meski kesedihan masih berkesiur di dalam kepalanya.


Setelah mengenakan kalung berupa lencana Perhelatan Cinta Kotaraja, yang betapa pada lencana tersebut telah tercetak lambang istana, Mantingan segera buka suara dengan tenaga dalam yang turut menyertai pula sehingga suaranya dapat didengar jelas oleh semua orang yang ada di tempat itu!

__ADS_1


“Berbarislah dengan teratur, dan jangan sampai terjadi keributan seperti kemarin hari!”


Mantingan telah mendengar cerita dari Chitra Anggini bahwa telah terjadi sedikit keributan saat dirinya membagikan makanan. Tentulah ia tidak menginginkan hal itu terjadi lagi.


“Kami semua telah bersepakat untuk tidak bersikap bodoh dengan menciptakan keributan seperti kemarin, wahai pahlawan muda yang dermawan! Kami mengetahui bahwa kami semua akan mendapatkan berkat yang engkau berikan tanpa satupun terlewat, jadi kami tidak perlu mengkhawatirkan apa pun lagi!”


Mantingan mengangguk puas sebelum meminta agar orang-orang di sekitarnya memberi sedikit ruang. Menuruti permintaan pemuda itu, mereka bergegas menjauh, bahkan lebih jauh dari yang diminta, meski sungguhlah tidak sungguh mengerti dengan apa yang ingin diperbuat oleh pemuda itu.


Setelah mendapatkan ruang kosong berupa persegi dengan masing-masing panjang sisinya berkisaran sepuluh langkah, Mantingan segera menempatkan diri di salah satu ujung petak persegi tersebut. Lantas tangan kirinya mengibas, bagai lambaian ekor ikan, dan tetiba saja muncul segunungan potongan-potongan daging besar di hadapannya!


Alangkah terkejutnya orang-orang di sekitar pemuda itu setelah melihat hal yang sungguh tak masuk akal bagi mereka! Napas-napas tertahan, bahkan berteriak ngeri tidak mampu jua. Mereka terlalu terkejut!


Siapa pun dalam keadaan lapar teramat bila melihat potongan-potongan daging tersebut, pastilah akan menjadi liar dan beringas, terlebih ketika mengetahui bahwa perut yang sedang lapar bukan hanya berjumlah satu atau dua saja. Namun, para penduduk yang telah menanti di sana tidaklah bersikap sedemikian. Selain karena keterkejutan masih mengisi pikiran, mereka tidak pula merasa perlu berebut makanan. Dengan jumlah sebanyak itu, seisi Pemukiman Kumuh Kotaraja dapat dibuat kenyang karenanya!


Lagi pula, mereka memiliki satu pendirian yang sama, bahwa sesama orang miskin adalah saudara, dan oleh sebab itu mereka tidak boleh serakah serta mencuri apa yang seharusnya milik saudara mereka.


Sedangkan itu, Mantingan yang telah selesai menghitung jumlah keseluruhan kepala keluarga yang ada di tempat itu menggunakan Ilmu Mendengar Tetesan Embun, segera berkata lantang, “Setiap kepala keluarga ambillah dua potong daging. Selain dari kepala keluarga, maka tidak diperkenankan mengambil bagian. Jika terdapat sisa, maka bagikanlah di antara kalian dengan adil. Namun sebelum itu, sahaya pula ingin membagikan ini ....”


Mantingan kembali mengibaskan lengan kirinya, maka seketika itu muncullah kotak-kotak kayu yang membuat para penduduk penasaran dengan isi di dalamnya.

__ADS_1


“Di dalam kotak-kotak ini terdapat berbagai benih tanaman pengobatan, lengkap dengan panduan tentang tata-cara menanamnya. Tetapi ini tidak kubagikan kepada orang-orang tertentu saja, melainkan kepada semua penduduk di tempat ini untuk ditanam dan dirawat bersama. Setelah memasuki waktu panen, kalian dapat menjualnya dengan harga yang cukup mahal di pasaran, sehingga untuk sementara kalian tidak perlu mencari pekerjaan di kotaraja.”


Juru hikayat di kotaraja pernah didengarnya menggaungkan suatu pepatah:


Bila ingin menghidupi orang satu hari saja


berilah seekor ikan


bila ingin menghidupi orang selamanya


berilah kail, jala, atau jebakan


Mantingan kemudian menunjuk pemuda ringkih penjaga penginapan yang berdiri tak seberapa jauh darinya. Tak perlu waktu lama, orang itu segera menghampirinya dengan berlari kecil.


“Ada sesuatu apakah yang Pahlawan butuhkan dari hamba sahaya? Sedapat mungkin sahaya penuhi.”


Bagaimanakah kiranya Mantingan menyikapi sebutan atas dirinya seperti itu? Sungguh ia tidak meminta rasa hormat dari mereka, sebab betapa yang dilakukannya saat ini menyangkut kepentingan tertentu. Namun jika ia menolak disebut sedemikian, maka tentulah mereka akan meminta namanya, dan justru itulah letak bahayanya!


“Tolong dikau awasi pembagian daging ini, Saudara. Bersikaplah tegas bila dikau melihat ada yang melanggar peraturan, dan janganlah segan untuk memanggilku bila melihat tanda-tanda keributan. Daku andalkan dikau, Saudara.” Mantingan tersenyum lembut sambil menepuk, pundak pemuda itu, yang tanpa disadari telah meninggalkan sebuah kesan yang begitu hebatnya bagi orang itu!

__ADS_1


“Pahlawan, amanatmu ini akan sahaya jaga sungguh-sungguh!” Begitulah si pemuda ringkih menunduk dalam-dalam sambil menjura layaknya orang dari telaga sungai persilatan, dengan matanya yang berair penuh haru.


__ADS_2