
MEMANG bukan mbejadi hal yang mengherankan jika Kerajaan Koying disebut sebagai peradaban maju. Kerjaan itu telah menguasai Jalur Sutra yang barang tentu akan menjadikannya yang pertama kali dalam mendapatkan segala sesuatunya dari negeri asing sedaripada wilayah-wilayah lain di Dwipantara.
Segala sesuatunya yang disebutkan itu antara lain ialah: pajak berlabuh, ilmu pengetahuan, kabar, perkakas maupun senjata terbarukan, kesempatan menikah dengan saudagar luar, sampai pada ilmu keigamaan.
“Koying mungkin tidak semaju Kota Sunda di Tarumanagara, tetapi kerajaan itu maju dalam hal yang berbeda. Jika saja dirimu adalah pendekar, maka sudah barang tentu akan percaya jika kukatakan bahwa kerajaan itu sebagian besarnya dihuni oleh pendekar dan ahli sihir.”
“Daku hanyalah seorang penyoren pedang cacat yang tidak berdaya, tiada mampu menapaki jalan persilatan setelah kehilangan lengan kanan ini, tetapi daku percaya betul bahwa dunia persilatan bukanlah sekadar dongeng yang dikisahkan dari kedai ke kedai belaka. Daku menyakini bahwa dunia persilatan itu benar-benar ada.”
Dari bawah bayang-bayang caping jeraminya, bibir Gema Samudradvipa mengembang membentuk seulas senyuman lebar. “Daku senang mendengarnya dikau benar-benar mempercayai keberadaan dunia persilatan sebagai wujud yang nyata dan bukan hanya dongeng semata, Kawanku. Tetapi alangkah malangnya takdirmu saat ini.”
“Takdir ini tidak dapat kutepis, Saudara, hanya dapat kuterima saja.” Mantingan pun tersenyum lebar.
Barang sesaat kemudian, terdengar suara decak kagum dari Gema. “Dikau masih dapat tersenyum lebar, wahai Kawanku yang bernama Mantingan? Jika daku menjadi dikau, takkan daku bisa tersenyum saat membincangkan tentang kecacatanku. Lebih-lebih lagi, dikau adalah penyoren pedang, yang tentunya menyadari betapa lengan kanan amat sangat dibutuhkan dalam pertarungan.”
“Selama menjadi diriku masih menjadi penyoren pedang bertubuh lengkap, diriku telah banyak membunuh orang.” Mantingan berkata dengan senyum pahit. “Lengan kananku adalah bayaran yang sekiranya masih kurang untuk menebus segala dosa yang pernah kuperbuat.”
Gema menundukkan wajah dengan dagunya berpangku pada kepalan tangan, sehingga caping jeraminya yang lebar itu telah benar-benar menutupi wajah hingga sampai ke lehernya.
“Dan sebagai penyoren pedang, seharusnya dikau telah mengetahui sedari awal bahwa pedangmu akan melayangkan banyak nyawa.” Terdengar helaan napas dari Gema. “Jika dikau tidak sanggup mengatasi perasaan bersalah yang bagaikan bayangan daripada tubuhmu itu, lebih baik dikau letakkan saja pedangmu.”
Mantingan terdiam dalam kewaspadaan penuh, sebab betapa dirinya merasakan hawa pembunuh keluar dari tubuh Gema Samudradvipa. Meskipun sedang menyamar sebagai penyoren pedang yang payah, tetapi tetap saja naluri kependekarannya tidak akan pernah lepas.
__ADS_1
“Daku hendak menantangmu bertarung,” kata pria bercaping itu kemudian, yang jelas saja membuat Mantingan menjadi teramat sangat waswas. “Tetapi itu hanya kehendak awalku saja. Setelah melihat keadaan dikau yang begitu memprihatinkan, daku merasa tidak pantas untuk menantangmu bertarung. Lebih-lebih lagi, dikau bukanlah pendekar.”
Kini Gema mengangkat wajahnya dengan senyuman. Hawa pembunuh yang awalnya melekat pada tubuh pria itu lantas sirna tiada tersisa. Biarpun begitu, Mantingan tidak mengendurkan kewaspadaannya.
Mengingat bahwa lengan kanannya dipapas pedang lawan manakala kewaspadaannya menurun, sudah barang tentu Mantingan tidak akan melakukan kesalahan yang sama dengan menurunkan tingkat kewaspadaan, meskipun kedudukannya saat ini sedang tidak benar-benar terancam.
Ditambah lagi, bukan sembarang orang bisa mendapatkan hawa pembunuh. Selayaknya Mantingan yang baru mendapatkan hawa pembunuhnya setelah membunuh begitu banyak manusia, maka seharusnya begitulah pula dengan Gema Samudradvipa!
Beruntunglah pemilik kedai datang memecah ketegangan dengan dua mangkuk dengan aroma semerbak berisi sayuran disiram kaldu kambing di tangannya.
“Dikau hendak pergi ke mana, Kawanku?” Gema bertanya selepas pemilik kedai berlalu pergi.
“Daku tidak bertujuan ke tempat manapun jua, tetapi membawa maksud untuk menemukan kayu ulin.”
Mantingan mengibaskan tangannya sambil tersenyum canggung. “Janganlah, Kawan, daku akan merepotkan dikau. Kudengar bahwa pendekar bisa bergerak cepat dengan berkelebat, sedangkan diriku tidak bisa melakukan itu.”
“Apalah itu, daku ini sedang berpuasa untuk tidak menggunakan tenaga dalam. Sehingga pantang bagi diriku untuk berkelebat atau melakukan apa pun yang pendekar lakukan.” Gema tertawa lebar. “Jika dirimu khawatir bahwa ketika dalam keadaan berbahaya daku malah meninggalkanmu dengan berkelebat, maka buanglah jauh-jauh kekhawatiran itu. Sebab meskipun daku ini penampilannya macam sarang kutu, tetapi tetap setia kawan. Tak akan kutinggalkan dikau meski itu berarti kematian bagiku, selama kita masih dalam satu perjalanan.”
Mantingan yang mendengar itu sebenarnya bisa saja merasa terharu, tetapi ia justru menahan perasaan tersebut sebab jelas saja dapat mengurai kewaspadaannya terhadap Gema Samudradvipa. Betapa pun setelah menunjukkan nafsu pembunuhnya, pria bercaping itu benar-benar patut untuk diwaspadai.
Namun, Mantingan tetap menerima ajakan itu untuk menghargai Gema.
__ADS_1
***
“Kita harus berjalan kaki jika hendak memasuki hutan.”
GEMA Samudradvipa kemudian bercerita betapa tanah di Suvarnabhumi bagian timur terlalu basah untuk dapat dilalui tapak-tapak kuda. Maka dari itu kebanyakan pelancong lebih memilih untuk berjalan kaki atau menunggangi kerbau.
“Tetapi menunggangi kerbau pun bukan tanpa kesulitan tersendiri,” lanjutnya, “kerbau tidaklah sejinak dan sepintar kuda.”
Gema kembali bertutur sembari terus melangkah, menjelaskan bahwasanya terdapat jenis kuda yang dapat menaklukkan tanah berlumpur.
“Kuda itu didatangkan dari Javadvipa, atau yang lebih tepatnya ialah Perguruan Angin Putih di Gunung Kubang. Kuda-kuda mereka sangatlah tangguh dan cerdik, mengalahkan segala jenis kuda yang ada di Dwipantara. Hanya saja, kuda-kuda itu tidaklah dijual bebas dan harganya pun amat sangat mahal. Hanya bangsawan penting saja yang boleh mendapatkannya.”
Sudah tentu Mantingan menjadi terkejut ketika mendengar bahwa Perguruan Angin Putih menjual kuda-kudanya ke Suvarnabhumi. Meskipun begitu, ia tidak cukup bodoh dengan menampilkan keterkejutannya itu secara terang-terangan di depan Gema.
“Bahkan di musim kemarau seperti ini, jalanan tetap berlumpur. Belum lagi ketika musim penghujan tiba. Bah! Dikau akan lebih suka berkemul selimut di dalam rumah ketimbang harus menghadapi lumpur-lumpur menjengkelkan itu.”
Mantingan hanya tersenyum tipis tanpa membalas, sebab memang tidak mengetahui harus menanggapi apa.
“Nah, jika jalanannya sudah seperti ini buruknya, lebih baik kita lewat pinggirannya saja!”
Mantingan kemudian mengikuti langkah Gema ke pinggir jalanan yang berumput, sebab betapa pun jalanan di depan mereka amat sangat berlumpur, yang diperburuk lagi dengan jejak-jejak roda pedati serta kotoran kerbau. Tentu siapa pun akan berpikir berulang kali untuk menyentuhkan kakinya dia atas jalanan itu.
__ADS_1