
KEDUANYA SALING mengentak kaki ke belakang dalam waktu yang bersamaan.
Saat Bidadari Sungai Utara sampai di ujung lantai kayu gubuk kecil di pinggiran danau itu, kakinya menapak yang langsung membawa tubuhnya naik ke atas atap gubuk. Sedangkan Mantingan terus melayang mundur hingga keluar dari gubuk, tubuhnya perlahan turun ke air. Mantingan menapak air untuk dapat melayang kembali ke atas gubuk.
Berbeda dengan Bidadari Sungai Utara yang karena teterbatasan ilmunya tidak bisa leluasa untuk menyerang, gerakan yang dilakukan Mantingan memungkinkan pemuda itu lebih gencar menyerang. Maka Mantingan meluncur dengan cepatnya ke tempat Bidadari Sungai Utara berada.
Seperti biasanya, Pedang Kiai Kedai tetap tersarung. Mantingan khawatir pedang itu akan melukai Bidadari Sungai Utara, sebab dalam latihan sekalipun terkadang sering terjadi hal yang di luar kendali
Keduanya bertemu di udara. Bidadari Sungai Utara tanpa ragu mencabut pedang yang lalu digunakan untuk menyerang Mantingan dengan bertubi-tubi. Sedangkan Mantingan segera menangkis dengan cepat karena tidak menduga akan diserang balik, ia bahkan tidak sempat mendapat kesempatan menyerang.
Kedua kaki Mantingan menyentuh atap gubuk, masih menangkis serangan bertubi-tubi dari Bidadari Sungai Utara. Sungguh ia tidak sempat menyerang, tidak ada celah yang diberikan Bidadari Sungai Utara, di sisi lain gadis itu juga tidak memiliki celah pertahanan.
Kecepatan bertarung mereka melebihi kecepatan petir, orang biasa akan melihat mereka sebagai wujud kelebatan bayang-bayang saja.
Yang gerakannya paling cepat adalah Bidadari Sungai Utara, gadis itu membuat pertarungan berjalan begitu cepat. Mantingan sendiri sulit mengimbangi kecepatannya.
Mantingan mundur perlahan-lahan, terus tersudut oleh Bidadari Sungai Utara. Sungguh Mantingan tidak menduga kemampuan Bidadari Sungai Utara yang sebenarnya, sehingga tanpa ragu membuka serangan. Kini Mantingan tahu ia telah membuat kesalahan yang cukup besar.
__ADS_1
Mantingan melayang mundur ke atas danau. Bidadari Sungai Utara tidak menyerangnya, tentu gadis itu tadinya sudah berkata bahwa dirinya tidak bisa bertarung di atas air.
Masih dengan maksud melatih Bidadari Sungai Utara, Mantingan mengelilingi gubuk dengan sesekali menapak ke air dan melayang. Bidadari Sungai Utara terus memutar tubuhnya tatkala Mantingan berputar mengelilinginya, matanya menatap Mantingan kesal. Bagaimana tidak? Mantingan terlihat sengaja mencari kelemahan Bidadari Sungai Utara sebelum menyerang.
Begitulah Mantingan terus berputar dan Bidadari Sungai Utara terus menatapnya tanpa satupun dari mereka yang berani menyerang. Kesalahan tadi membuat Mantingan mengambil pelajaran dan tidak membuka serangan sebelum benar-benar menemukan celah pada Bidadari Sungai Utara.
Hujan masih terus mengguyur. Suara rintik hujan masih terus menyertai. Dan riak danau terus tercipta dengan atau tanpa manusia yang mendengarnya. Semakin banyak petir yang menyambar, sesekali menimbulkan suara yang luar biasa keras. Angin bertiup kencang membawa riuh yang mengisi pendengaran.
Manusia biasa mungkin merasa takut dan memilih bergemul dalam selimut di situasi seperti ini. Tetapi berbeda dengan dua muda-mudi yang malah memilih meningkatkan kemampuan diri di tengah danau itu, sungguh saat ini tidak ada rasa takut sedikitpun yang hinggap pada diri mereka, termasuk Bidadari Sungai Utara sendiri.
Sampai pada akhirnya Mantingan menemukan sedikit celah pada pertahanan Bidadari Sungai Utara. Sedikit celah bukan berarti tidak berharga, bahkan sangat berharga. Tetapi itu bagi Mantingan. Berbahaya bagi Bidadari Sungai Utara.
Bidadari Sungai Utara berusaha menahan serangan Mantingan dengan mengirim serangan tapak pula. Tetapi Jurus Tapak Angin Darah bukanlah jurus yang bisa dipandang enteng, kecepatan luncurnya dua kali lipat ketimbang kecepatan luncur jurus tapak lainnya.
Sehingga serangan Tapak Angin Darah telak mengenai Bidadari Sungai Utara bahkan sebelum gadis itu sempat mengulurkan tangan. Bidadari Sungai Utara membeliakkan mata saat sekumpulan angin menubruk perutnya. Perutnya ditekan dengan kekuatan yang besar. Mual dirasa. Sebelum Bidadari Sungai Utara sempat bereaksi lebih jauh, tubuhnya terempas ke belakang. Dorongan angin terlalu besar untuk dapat ditahan.
Mantingan melihat Bidadari Sungai Utara terempas kuat disertai suara ledakan yang keras. Tidak ada yang perlu dikhawatirkan dari suara ledakan karena suara itu tercipta akibat angin dan tenaga dalam yang pecah. Yang harus dikhawatirkan adalah Bidadari Sungai Utara yang sebenarnya tidak bisa menapak di atas air.
__ADS_1
Namun, Mantingan tetap merasa tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Biarlah gadis itu merasakan dinginnya air agar mendapat sedikit pelajaran yang bisa ia gunakan di kemudian hari.
Tubuh Bidadari Sungai Utara mulai jatuh dari udara. Ia berteriak. Tangannya berusaha menggapai sesuatu, sayang yang digapainya hanyalah udara kosong dan air hujan. Tak terelakan tubuh Bidadari Sungai Utara jatuh ke dalam air danau. Air-air bercipratan ke mana-mana, danau bergelombang.
Bidadari Sungai Utara tidak terlihat untuk beberapa lama sebelum akhirnya gadis itu muncul ke permukaan air. Tangannya masih bergerak cepat berusaha menggapai sesuatu, kepalanya timbul tenggelam, samar-samar terdengar teriakannya meminta bantuan.
Mantingan menggelengkan kepalanya pelan. Hanya dengan sekali menapak, dirinya melayang ke tempat Bidadari Sungai Utara yang hampir tenggelam itu. Mudah saja bagi Mantingan untuk menggapai tangan dan menarik Bidadari Sungai Utara dari dalam air. Sekali lagi menapak, Mantingan membawa dirinya dan bidadari rawa itu kembali ke dalam gubuk.
Saat dibawa melayang oleh Mantingan, Bidadari Sungai Utara terbatuk-batuk keras, bahkan tidak berhenti setelah sampai di dalam gubuk sekalipun. Gadis itu terbatuk-batuk beberapa kali lagi dan menatap tajam pada Mantingan yang terlihat tidak peduli.
“Namamu Bidadari Sungai Utara, tetapi berenang saja tidak bisa.”
Bidadari Sungai Utara rela menghentikan batuknya untuk bisa membentak-bentak Mantingan. “Aku tidak siap! Aku kira kau akan menangkapku, ternyata tidak sama sekali!”
Mantingan menggeleng beberapa kali sebelum duduk bersila tak jauh dari Bidadari Sungai Utara. Pelan-pelan tangannya menggapai cangkir teh. “Kau masih tidak bisa menapak di atas air, ilmu meringankan tubuh yang kaukuasai masih tergolong rendah. Tetapi aku mengagumi caramu bertarung.”
Bidadari Sungai Utara mengucap sumpah serapah yang ditunjukkan untuk Mantingan. “Kau ... awas saja, suatu saat nanti aku akan membalasmu. Dan aku benar-benar menyesal telah mengkhawatirkan keadaanmu jika ternyata kau bukanlah pria yang baik. Dasar sombong! Lihat nanti bagaimana aku akan membuatmu basah kuyup.”
__ADS_1
Mantingan menggeleng beberapa kali sebelum mulai menunjukkan sesuatu. Tangan kanannya bergerak ingin menyentuh Bidadari Sungai Utara. Gadis tersebut ingin menghindar, tetapi telapak tangan Mantingan telah lebih dulu menyentuh bahunya. Tiba-tiba saja pakaiannya yang semula basah mengeluarkan banyak uap sebelum akhirnya mengering.