Sang Musafir

Sang Musafir
Berjalan Sendiri


__ADS_3

SEBELUM KABAR tersiar ke mana-mana sampai penjuru Negeri Atap Langit, orang-orang dari luar tidak perlu khawatir untuk datang ke Javadvipa. Walaupun itu merupakan pikiran yang buruk, namun tentu saja akan berakibat baik bagi Mantingan.


Mantingan begitu terlarut-larut di dalam pikirnya, hingga tanpa disadarinya waktu telah lama berlalu. Kana menghampiri Mantingan dan berkata bahwa makan malam sudah siap dan semua menunggunya.


Mantingan beranjak berdiri, namun berjalan lebih lambat dari biasanya. Kepalanya masih penuh, digunakan untuk berpikir keras. Dahinya berkerut. Matanya terlihat tidak sedang menatap apa pun, tapi memiliki sorot yang tajam. Kana meraih tangannya, memintanya untuk berjalan lebih cepat.


Mantingan dan Kana sampai di ruang makan. Ruang makan itu terletak di sebelah dapur, sehingga makanan yang baru selesai dimasak tidak perlu dibawa hingga jauh ke ruangan lain. Bidadari Sungai Utara dan Kina terlihat menunggu di meja makan.


Mantingan dan Kana mengambil tempat duduk yang bersebelahan. Bidadari Sungai Utara tiba-tiba saja berdeham, Kina menatap Mantingan tajam, sedangkan Kana malah menyenggolnya


“Ada apa?” Bertanyalah Mantingan dengan nada heran.


“Apakah Kakak mencintai caping Kakak sampai-sampai harus memakainya saat acara makan bersama seperti ini?” Kana mewakili semua pertanyaan di ruangan itu.


Mantingan baru menyadari kesalahannya, tetapi tetap tenang saat menjawab. “Aku tidak suka menunjukkan wajahnya di depan orang asing. Kalian lanjutkan saja makan malam ini. Aku akan makan di teras, setidaknya kita makan di saat yang bersamaan.”


“Mana bisa seperti itu, Kak Jaya harus makan bersama kami.” Kina mengeluh. “Bukankah wajah Kakak sangatlah tampan? Kak Sasmita, pasti akan terpesona, benar bukan?”


Suasana makan malam itu rusak. Mantingan merasa sangat bersalah, namun memang ia tidak bisa melepas capingnya.


Dan Mantingan akan mengganggu jika tetap memakai caping di atas meja makan.


Sungguh Mantingan merasa sangat bersalah terhadap Kana dan Kina. Mereka tidak banyak mengerti tentang Mantingan dan Bidadari Sungai Utara, namun harus terlibat sampai sejauh ini.


“Tidak apa, Man.”


Keheningan tercipta. Kali ini sungguh hening. Seolah tidak ada yang lebih hening daripada ini.


Benarkah ia tidak salah dengar? Di ruangan itu, tidak ada suara wanita yang lebih dewasa dibandingkan Bidadari Sungai Utara. Suara Kina tidak seperti itu, dan tidak mungkin Kana bisa meniru suara Bidadari Sungai Utara!

__ADS_1


Maka Mantingan butuh kepastian yang lebih. Ia sedikit mengangkat pandangannya. Melirik langsung ke arah Bidadari Sungai Utara yang juga meliriknya.


Tidak salah lagi. Namun, bagaimana bisa?!


Mantingan melihat gadis itu melepas cadarnya secara perlahan. Mengungkap wujud yang ia tutup-tutupi. Kana dan Kina tercekat oleh kecantikannya, namun Mantingan tidak punya cukup perhatian untuk melihat mereka.


Bidadari Sungai Utara menunjukkan senyum tipisnya kepada Mantingan. “Saudara Mantingan, kau bisa makan dengan tenang tanpa perlu memikirkan penyamaran.”


Mantingan terdiam dalam keheningan. Bahkan Kana dan Kina pun begitu terkejutnya hingga tak mampu berkata-kata. Pemuda itu tenggelam ke dalam perenungan dalam-dalam. Apakah harus berbohong ataukah harus mengakui bahwa ia adalah Mantingan.


Pada akhirnya, Mantingan memilih pilihan yang pertama. Melepas caping yang dikira dapat menyamarkan wajahnya. Tersenyumlah ia sambil berkata, “Ayo makan.”


Walau pada akhirnya acara makan malam itu berlangsung sampai tuntas sudah, tetap saja terasa sangat canggung. Tidak satupun dari keempatnya yang banyak mengeluarkan suara. Terlebih antara Mantingan dan Bidadari Sungai Utara.


Selesai makan malam, Kana mengajak Kina untuk langsung naik ke atas. Ia meminta maaf pada Mantingan dan Bidadari Sungai Utara karena tidak bisa membantu mereka membersihkan piring kotor, beralasan bahwa dirinya sudah sangat mengantuk.


Tersisalah dua muda-mudi di ruang makan. Setelah terdiam cukup lama, Bidadari Sungai Utara memilih untuk segera bergerak, mengumpulkan piring-piring kotor di atas meja. Sedangkan Mantingan tetap terdiam, bagaikan patung, bahkan bola matanya pun tidak bergerak. Namun wajahnya tampak sangat serius.


Setelah semua piring terkumpul menjadi satu tumpukan, Bidadari Sungai Utara membawanya ke belakang rumah yang gelap. Dia menggulung lengan bajunya. Mencuci piring di dekat sumur.


Sampai dirinya selesai mencuci dan kembali ke ruang makan pun, Mantingan masih terdiam. Bidadari Sungai Utara mengeringkan tangannya menggunakan tenaga dalam dengan sekali kibasan, lalu mengambil langkah mendekati Mantingan. Menarik kursi dan duduk berseberangan dari pemuda tersebut.


Kembali mereka saling terdiam untuk waktu yang bukan sebentar. Sampailah terdengar suara tarikan napas dari Mantingan, memecah kesunyian mencekam itu.


“Pada awalnya,” bukanya, “aku ingin melatihmu, tapi sepertinya engkau yang berniat melatihku.”


Terbentang jarak waktu yang cukup lama sampai Bidadari Sungai Utara membalas, “Engkau berhasil, Man.”


Mantingan melirik Bidadari Sungai Utara sejurus, sebelum kembali mengarahkan pandang ke tengah meja.

__ADS_1


“Tanpa dirimu melepasku, aku tidak akan menjadi wanita dewasa. Aku akan selalu manja, tak tahu diri." Gadis itu menahan napasnya sejenak. Berusaha mencipta kesunyian.


Kali ini mereka memang tidak banyak cakap. Namun dalam keterdiaman itu, sudah sangat banyak yang dapat mereka pahami.


“Soal di penginapan itu, maafkan aku ....” Kembali Mantingan membuka suara.


“Aku yang seharusnya meminta belas maafmu.” Bidadari Sungai Utara menghadirkan sedikit senyum. “Kuakui saat itu aku bicara yang tidak pantas kepadamu.”


Mantingan terdiam sejenak. Matanya bersitatap dengan mata cokelat gadis itu.


“Aku tidak bisa menjagamu, aku tidak pantas.”


“Bukan dikau yang tidak pantas menjagaku, tapi aku yang tidak pantas engkau jaga. Duhai. Berdirilah barang sejenak, Mantingan.”


Tidak ada pikiran apa pun tentang mengapa gadis itu menyuruhnya berdiri. Tidak ada kecurigaan. Tidak ada keheranan. Mantingan berdiri. Bidadari Sungai Utara turut berdiri, menghampirinya dengan derap langkah yang cepat. Memeluk tubuh Manding. Mendekapnya erat.


Mantingan tidak bergerak. Masih terpaku. Namun dapat ia rasakan bulir air hangat yang mengalir di lehernya.


“Maafkan aku, Mantingan, tetapi biarlah seperti ini. Biarlah yang sudah terjadi tetap terjadi. Aku tahu kau terluka dan tidak mudah bagimu untuk memaafkanku. Maka biarlah aku berjalan tanpamu. Jika kita tetap berjalan bersama, maka kita hanya akan saling menyakiti. Aku akan tetap mencintaimu, sampai waktu yang tidak bisa kutentukan. Tapi maafkanlah daku Mantingan, maafkanlah, aku akan tetap berjalan tanpamu.”


Dekapan Bidadari Sungai Utara semakin erat. Seolah tidak ada yang lebih erat daripada itu. Mantingan dapat merasakan semuanya. Rasa kecewa, rasa haru, rasa senang, semuanya dapat Mantingan rasakan di dalam dekapan itu. Perlahan Mantingan mengangkat tangannya, membalas dekapan itu seraya membelai lembut rambut gadis itu. Membiarkan semua rasa itu tercurah.


Bidadari Sungai Utara tetap akan berjalan dengan kakinya sendiri. Dia akan tetap bekerja di Toko Obat Wira sampai muson timur datang. Dia akan tetap mengobati Mantingan, akan tetap berhubungan dengannya serta dengan Kana dan Kina. Namun sayangnya, mereka tidak akan berjalan di jalan yang sama lagi.


____


catatan penulis:


Jangan protes kalau ini romance. Coba lihat di halaman karya, di sana kita akan sama-sama paham bahwa Sang Musafir masuk ke dalam cerita silat romansa.

__ADS_1


Namun perlu untuk diketahui, bahwa romance yang berusaha saya buat bukanlah romance biasa. Saya akan menulis arti cinta, bukan tentang kenikmatan cinta.


Selamat menikmati episode selanjutnya.


__ADS_2