Sang Musafir

Sang Musafir
Keindahan dalam Pertaruhan Nyawa


__ADS_3

PRIA TUA itu kembali melancarkan serangan mematikan. Belasan pisau terbang meluncur begitu derasnya membelah udara menuju pemuda di puncak bukit seberang itu.


Lagi-lagi Mantingan mampu mengatasi seluruh pisau terbang yang dilesatkan kepadanya itu dengan sangat mudah. Bahkan kini, belasan pisau tersebut dikirimkan kembali pada pemiliknya dengan kecepatan dua kali lipat lebih cepat.


Kini pria sepuh itu hanya dapat menangkis dan merelakan belasan pisau terbang tersebut melayang entah ke mana. Tidak satupun pisau dapat ditangkap dan disimpannya. Semua menghilang begitu saja di balik kegulitaan malam.


Untuk beberapa lama, Mantingan dan pria sepuh yang masih tidak mau menyebutkan nama maupun julukannya itu hanya diam laksana dua arca manusia yang dibangun tepat di kedua puncak bukit tersebut.


Sedangkan itu, jauh di kaki bukit sana, Kana melirik dua sosok tersebut dari balik dahan pohon besar. Awalnya, anak itu sama sekali tidak bersembunyi di belakang pepohonan. Tetapi setelah sebilah pisau terbang yang berasal entah dari mana tiba-tiba menancap hanya beberapa jengkal saja dari ujung kakinya, Kana segera memutuskan untuk bersembunyi. Kana berpikir, bisa saja itu adalah serangan nyasar, tetapi bisa pula tidak!


Matanya memancarkan sinar kagum. Kedua pendekar itu mirip dengan sebuah adegan di dalam kitab kisah kependekaran yang pernah dibacanya, manakala kedua pendekar sebenarnya saling mengirim serangan mematikan meskipun tampak diam-diam saja di tempatnya!


Kana tidak mengetahui apakah yang sebenarnya mereka berdua lakukan. Tetapi ia tahu, bahwa apa pun itu, pastilah teramat sangat menakjubkan jika ia bisa melihatnya. Seketika, terciptalah keinginan di dalam lubuk benaknya yang terdalam, untuk menjadi pendekar sesakti mereka. Dengan kemampuan seperti itu, sudah pasti dirinya tidak akan bersembunyi di balik dahan pepohonan melainkan ikut bertarung membantu Mantingan.


Kana mengepalkan tangannya penuh tekad yang tidak akan mudah digoyahkan oleh siapapun juga!


Sementara Kana diliputi oleh tekad dan impiannya, pertarungan kembali berlanjut. Pria sepuh itu melesatkan sebilah pisau ke arah Mantingan. Benar, hanya sebuah pisau terbang. Tetapi betapapun mata Mantingan dapat melihat bahwa sebilah pisau itu bukanlah pisau sembarangan!


Maka dengan secepat dan sekuat yang bisa ia lakukan, Mantingan menangkis pisau tersebut dengan Pedang Kiai Kedai. Dikarenakan lawannya hanya mengirim sebuah pisau saja, maka bukan tidak mungkin bagi Mantingan untuk membalikkannya ke arah pria sepuh itu.


Tetapi begitu Mantingan berhasil menangkis dan membalikkan arah pisau tersebut kepada pemiliknya, kakinya terseret satu langkah ke belakang. Pedangnya berdengung akibat beradu dengan bilah pisau yang ternyata begitu keras dan kuat itu. Belum sempat Mantingan berpikir, pisau tersebut telah dikembalikan lawan dengan kecepatan yang semakin meningkat.

__ADS_1


Mantingan memilih untuk membalikkan pisau itu ke arah lawannya. Begitu disayangkan jika pisau yang sedemikian kuat itu hanya dihindari saja, sebab Mantingan merasa memiliki kemampuan untuk mengarahkan pisau terbang itu kembali ke pemiliknya bahkan meningkatkan kecepatan pisau tersebut.


Maka begitulah pertarungan terjadi dengan saling melesatkan sebilah pisau yang sama secara bergantia-gantian. Kecepatan laju pisau itu semakin lama semakin meningkat, begitu pula dengan daya hancurnya yang semakin lama semakin mematikan saja.


Mantingan menggunakan pedangnya, sedangkan sang pria sepuh menggunakan sebilah pisau panjang. Memunculkan banyak lelatu api tatkala bilah beradu bilah. Menghasilkan pemandangan yang dapat dikatakan indah, bagaikan sebuah pertunjukan permainan api yang biasanya dibayar mahal. Tetapi sungguh, keduanya tidak berminat sama sekali untuk menghasilkan sebuah pertunjukan indah. Segala pemandangan yang tersaji dihasilkan secara alamiah dari sebuah pertaruhan nyawa.


***


HINGGA PADA akhirnya pisau itu melenceng jauh ketika Mantingan berusaha menangkisnya. Bukan karena dirinya tidak mampu untuk mengarahkan pisau itu dengan benar, melainkan pisau itulah yang telah melengkung karena mendapatkan benturan terus-menerus tanpa ada jeda.


Pertarungan telah berlangsung amat sangat lama. Dari mulai dini malam itu, hingga fajar merekah di ufuk timur.


Tetapi tidak hanya Mantingan, lawannya pun bersimpuh lutut akibat tidak mampu menahan kelelahan. Betapa sebenarnya ia masih tidak menyangka bahwa pendekar berusia muda seperti Mantingan mampu mengimbanginya.


Mereka seakan tiada memiliki kemampuan lagi untuk melanjutkan pertarungan. Bahkan untuk bergerak barang selangkah saja, dirasa tidak mampu.


“Engkau memiliki keahlian yang sangat tinggi.” Sayup-sayup, terdengarlah suara sang pria sepuh. “Di usia muda ... engkau mampu mengimbangiku. Bagaimanakah kiranya saat engkau seusiaku nanti?”


Mantingan tidak menanggapi itu, ia masih berusaha mengatur jalan napasnya. Meskipun terkesan tidak penting, mengatur jalannya pernapasan sebenar-benarnya begitu dibutuhkan jika mau mengungguli lawan.


“Tetapi, daku tak akan menyerah. Jika daku terbunuh di sini, maka daku harus mati setelah mati-matian memberikan perlawanan.” Pendekar tua itu kembali berkata sebelum menggerakkan tangannya.

__ADS_1


Mantingan dapat melihat bahwa pria tua itu kembali mengeluarkan sebilah pisau terbang. Ketika itulah, Mantingan kembali mengangkat pedangnya.


“Bapak Pendekar ...,” ujarnya setengah mendesis, “daku juga ... akan memberikan perlawanan terakhir.”


Pisau itu dilesatkan. Jauh lebih cepat ketimbang pisau-pisau sebelumnya. Mantingan berteriak keras sambil mengayunkan pedangnya sekuat tenaga.


PENG!


Bilah pisau itu berbenturan dengan pedangnya. Mencipta suara yang begitu memekakkan telinga. Pisau itu berbalik dengan kecepatan berkali-kali lipat daripada kecepatan sebelumnya. Pria sepuh yang telah kehabisan tenaga itu tidak akan bisa menangkisnya untuk kali ini.


Namun siapakah kiranya yang akan menyangka jika bilah pisau yang melesat teramat cepat itu ternyata tidak mengenai sasarannya? Betapapun hal itu tidak dinyana sebelumnya, tetapi pisau tersebut hanya melesat tepat di celah antara daun telinga dengan kepalanya. Meski berdekatan dengan rambut sang pria sepuh itu, tiada barang sehelai pun rambut yang terpotong karenanya.


Pisau itu terus meluncur dengan laju yang melebihi kecepatan kilat. Hingga dengan tepat menyambar seekor burung di tengah-tengah kawanannya.


Mantingan kembali membuang napasnya, sedangkan sang pria sepuh tergugu di puncak bukit sebelah utara itu. Matanya mencerminkan keterkejutan yang teramat besar. Tak percaya bahwa pisau itu tiada menancap batok kepalanya dan malah mengenai seekor burung yang hendak mencari makan.


Pria sepuh itu mengeluarkan sebilah pisau terbangnya. Tetapi bukan untuk melesatkannya kepada Mantingan—dia tidak berkecukupan tenaga untuk melakukan hal itu. Kini mengangkatnya tinggi-tinggi dengan bilah menghadap ke bawah. Jelas saja bahwa yang ingin dilakukannya adalah membunuh diri sendiri demi kehormatan!


Tetapi sekuat tenaga Mantingan mencegah hal itu. Ia mengentak kakinya. Berkelebat dengan kecepatan melebihi kilat ke arah sang pria sepuh. Tanah yang dipijakinya berhamburan ke udara sebab Mantingan tidak banyak menggunakan ilmu meringankan tubuh kali ini!


__ADS_1


__ADS_2