Sang Musafir

Sang Musafir
Pusaka Penebar Sengsara


__ADS_3

“Pendekar Pedang Lurus tentunya mengetahui maksud dari perkataan penempa itu. Untuknya, dia menjawab, ‘Untuk memiliki sepasang pedang cantik ini, daku rela menyerahkan seluruh hartaku kepadamu. Katakanlah saja berapa banyak yang dikau butuhkan, wahai penempa handal yang sungguh tiada dapat terbandingi oleh penempa di negeri manapun.’


“‘Sebenarnyalah sungguh diriku merasa sangat tidak enak untuk meminta uang kepada dirimu, wahai pendekar sakti mandraguna yang tiada dapat terbandingi oleh pendekar manapun jua. Tetapi kurasa tidak mengenakan kalau pedang ini kulepas begitu saja kepada dikau, sebab dapat mencoreng nama besar dikau jika kabar itu sampai tersebar luas. Sungguh daku hanya tidak ingin mencoreng nama dikau.’


“‘Ya, daku tahu betul apa maksudmu. Saat ini, dikau hanya perlu mengatakan jumlah uang yang dikau kehendaki, wahai Bapak Penempa Besi!’


“Maka begitulah si penempa besi menjawab dengan sedikit keraguan dalam benaknya, ‘Daku hanya menghendaki sepuluh ribu keping emas, wahai Pendekar Pedang Lurus yang teramat sangat terhormat! Janganlah sampai pedang ini tampak begitu murah untuk dapat bersanding denganmu.’


“Pendekar Pedang Lurus tertawa senang sekali, ‘Akan daku bayar! Dikau tunggulah di sini dan jaga pedang itu baik-baik. Esok hari, daku akan kembali dengan pedati penuh keping emas!’”


***


“Keesokan harinya, Pendekar Pedang Lurus benar-benar datang dengan sebuah pedati kerbau yang penuh dengan keping emas. Penempa itu langsung menyerahkan sepasang pusaka ciptaannya itu kepada Pendekar Pedang Lurus tanpa merasa perlu menghitung jumlah keping emas yang ada di pedati itu. Pasti lebih dari sepuluh ribu keping emas.


“Begitulah Pendekar Pedang Lurus membawa kedua pedang itu dalam pengembaraannya di dunia persilatan. Kini, sungguh tiada lawan yang dapat mengalahkannya. Semua yang berani menantangnya, akan mati di tempat dalam hitungan sekejap mata.


“Menjadi tak terkalahkan bukanlah selalu menjadi hal yang menyenangkan, begitulah pula dengan pandangan Pendekar Pedang Lurus sebagai pendekar yang haus mencari keparipurnaan. Dikau pastinya tahu betul, Mantingan, bahwa keparipurnaan dalam dunia persilatan selalu berarti mati dalam pertarungan.


“Dengan dirinya tidak terkalahkan, Pendekar Pedang Lurus mulai jenuh. Kini, dia tidak hanya menempuri pendekar-pendekar aliran hitam yang menantangnya saja. Dia mulai menantang banyak pendekar kenamaan tanpa peduli apakah pendekar yang ditantangnya itu beraliran hitam atau putih. Selama ada pendekar yang dianggap mampu meladeninya bertarung, makan Pendekar Pedang Lurus akan menantangnya.

__ADS_1


“Dalam keadaan seperti itu, dirinya sama sekali tidak sempat berbuat kebaikan. Kakinya melangkah ke segala tempat, tetapi bukan lagi menuju desa-desa kekeringan yang membutuhkan bantuan, melainkan perguruan-perguruan silat besar yang menyimpan banyak murid berbakat.


“Sejauh kakinya melangkah, sejauh itu pula belum pernah ada pendekar yang mampu mengalahkannya. Tidak terhitung lagi berapa nyawa pendekar berbakat yang tewas di bilah kedua pedangnya itu. Pendekar Pedang Lurus semakin tidak puas, bahkan ketidakpuasannya itu berujung pada kemarahan.


“Dia menulis sebuah pernyataan terbuka untuk dunia persilatan di Dwipantara. Beginilah: Diriku bersama sepasang pedangku belum pernah terkalahkan, sedangkan telah tak dapat kuhitung berapa banyak pendekar yang kusempurnakan hidupnya. Daku menuntut untuk dikalahkan; daku menuntut untuk disempurnakan. Jika kalian masih mengaku sebagai pendekar yang mencari jalan kesempurnaan dalam pertarungan, maka temuilah diriku, dan kita akan bertarung hingga salah satunya menjadi sempurna.


“Pendekar Pedang Lurus juga menganggap bahwa masih banyak pendekar-pendekar kuat yang memiliki kemampuan untuk mengalahkannya, tetapi memilih untuk bersembunyi demi menghindari segala tantangan bertarung. Untuk mereka, Pendekar Pedang Lurus menyebutnya sebagai pecundang terbesar.


“Pernyataan itu cukup menggemparkan dunia persilatan, sebab belum pernah ada pendekar yang secara luas menyatakan bahwa dirinya bersedia ditantang. Dikau tahu betul bahwa pendekar-pendekar biasanya berkelana tak tentu arah hingga menemukan pendekar lain yang dianggap cukup kuat untuk mengalahkannya. Dunia persilatan menganggap itu sebagai kesombongan tak termaafkan.


“Memanglah setelah pernyataan itu, Pendekar Pedang Lurus menghadapi banyak tantangan bertarung yang kali ini datang dari para mahaguru persilatan. Namun seperti yang telah dikau tebak, tidak pernah ada yang berhasil mengalahkan Pendekar Pedang Lurus. Berkat pusakanya itu, dia menjadi tidak terkalahkan.


“Maka begitulah Pendekar Pedang Lurus yang semulanya menjunjung tinggi keadilan telah berbalik menjadi iblis yang tiada dapat dihentikan. Dia kembali mendatangi desa demi desa yang dilanda kekeringan dan kelaparan. Tetapi kini tidak untuk menolong mereka, melainkan untuk membantainya. Tanpa ampun. Tanpa pandang usia. Tanpa pandang bulu. Semuanya ditumpas habis. Wanita mengalami nasib yang teramat sangat mengerikan di tangannya; yang gadis dilecehkan di depan mayat ibu-bapaknya; yang sudah bersuami dilecehkan di depan mayat suaminya. Semua wanita itu pada akhirnya tetap dibunuh, tetapi penderitaan yang mereka rasakan sungguh membuat siapa pun lebih rela melihat mereka mati ketimbang melanjutkan hidup.


“Namun betapa pun hebatnya tupai melompat, pada akhirnya akan jatuh jua. Begitulah pula yang terjadi dengan Pendekar Pedang Lurus, sepak terjangnya yang mengerikan di dunia persilatan maupun dunia awam itu harus terhenti di tangan seorang pendekar.”


SAAT itulah, Mantingan bertanya, “Siapakah gerangan orang itu hingga mampu mengalahkan Pendekar Pedang Lurus yang seharusnya tidak terkalahkan itu, Guru?”


Gurunya itu tersenyum dan menjawab, “Dia bukanlah siapa-siapa. Hanya pendekar dari negeri seberang yang sungguh tidak terlalu memahami dunia persilatan. Tingkat kemampuannya memang berada di bawah Pendekar Pedang Lurus, tetapi dia telah menyusun perencanaan dan siasat matang-matang sehingga dapat mengalahkan pendekar yang seharusnya tidak dapat dikalahkan itu.”

__ADS_1


Mantingan kembali bertanya sebab tidak puas dengan jawaban itu, “Siapakah nama pendekar itu, Guru?”


“Namanya bukanlah suatu hal yang penting. Dikau tidak boleh memandang seseorang karena namanya, melainkan tindakannya. Itulah hal yang terpenting.”


Maka begitulah Mantingan tidak bertanya lagi pada gurunya.


“Kesepakatan untuk mendapatkan pusaka incaran kami bersama-sama, Pahlawan Man.” Begitulah Kartika memecah lamunan Mantingan yang teramat sangat mendalam.


“Dikau berencana menyuap diriku?” Mantingan bertanya dengan nada heran. “Tidak akan berhasil.”


“Daku tidak berniat menyuap dikau.” Kartika menggeleng pelan sebelum memalingkan kepalanya ke arah sungai. “Dikau tidak mengerti seberapa berharganya pusaka itu bagi kami.”


“Dan dikau pula tidak mengerti seberapa berharganya Tapa Balian bagiku.”


“Ini tidak akan sampai mencelakakan pria tua itu, Pahlawan Man.” Kartika menarik napas dalam-dalam. Dia terdiam sejenak, membiarkan suara riak dan desir angin menggantikannya. “Seandainya dikau hendak tahu, kami tidak akan menjual pusaka itu setelah berhasil merebutnya.”


“Dikau berbicara tentang apa yang belum terjadi.” Mantingan membalas dingin. “Pendekar manapun mengetahui bahwa segala perkataan jaringan bawah tanah tidaklah dapat selalu dipercaya.”


Kartika melirik Mantingan di sebelahnya dengan sepintas. “Meskipun diriku termasuk pendekar dunia persilatan jaringan bawah tanah, tetapi bukanlah berarti diriku tidak memiliki perasaan. Pahlawan Man, dikau telah menyelamatkan hidupku dua kali meski hal itu membahayakan keselamatan nyawamu sendiri. Dikau juga telah menyelamatkan segenap anak asuhku di saat diriku terpojok oleh Pendekar Kelewang Berdarah. Atas semua jasamu kepada kami, tidak mungkin diriku tega membohongimu.”

__ADS_1


Mantingan mengembuskan napas panjang. Meskipun perkataan Kartika itu terdengar amat tulus, tetap saja kebenarannya tidak bisa dipastikan. Terlalu banyak tabir yang menutupi kebenaran tentang sikap dan sifat para pendekar dunia persilatan bawah tanah.


__ADS_2