Sang Musafir

Sang Musafir
Kehadiran Dara


__ADS_3

PAGI menjelang. Mantingan membuka mata dengan kesadarannya. Dirasakannya sebuah benda ramping merangkulnya, terasa seperti tangan manusia! Mata Mantingan lekas menoleh ke samping. Terbialak!


Itu adalah tangan Chitra Anggini. Perempuan itu memang tertidur pulas, tetapi kedua lengannya merangkul Mantingan dari samping!


Mantingan sebenarnya ingin segera melompat pergi dari ranjang itu, tetapi betapa disadarinya bahwa hal itu hanya akan membuat Chitra Anggini terbangun dalam keadaan terkejut. Jika sudah seperti itu, pastilah dia akan mengamuk!


Lebih-lebih lagi, wajah Chitra Anggini yang teramat damai itu bagai memberi larangan keras bagi siapa pun yang hendak membangunkannya. Kulitnya yang sewarna langsat tampak bersinar, meski pencahayaan kamar itu remang-remang sebab hanya ada satu buah obor yang masih menyala. Bibirnya terkatup dalam senyuman khidmat. Matanya terpejam sempurna. Napasnya teratur.


Setelah semua itu, siapakah kiranya yang tega membangunkannya?


Mantingan tersenyum tipis. Tangan kirinya bergerak mengelus rambut Chitra Anggini dengan lembut. Penuh kehangatan.


Namun betapa pun kasih sayang yang Mantingan tunjukkan pada perempuan itu, Mantingan tidak pernah menganggap Chitra Anggini lebih dari seorang adik yang mesti dilindungi dengan segenap jiwa dan raga. Tidak juga kurang.


Akankah Chitra Anggini kecewa dengan kenyataan itu? Entahlah. Sudah dua kali Mantingan jatuh cinta pada dua wanita yang berbeda. Rasa-rasanya, ia tidak akan bisa jatuh cinta untuk yang ketiga kalinya.


Ia memang menyayangi Chitra Anggini, tetapi dengan pemahaman yang berbeda. Kasih sayang seorang kakak kepada adiknya.


Menyadari bahwa Mantingan sedang mengelus rambutnya, raut wajah Chitra Anggini berubah menjadi masam. “Sudah kukatakan bahwa aku tidak suka kausentuh, bukan?”


“Rambutmu berantakan.” Mantingan tersenyum kaku. Beralasan. “Lagi pula, lihatlah saat ini tanganmu sedang berada di mana.”


Chitra Anggini melirik kedua tangannya sendiri, sebelum kembali menatap langsung ke wajah Mantingan. Tidak terlihat tanda-tanda rasa malu barang sedikitpun pada diri perempuan itu. Wajahnya tidak memerah. Pandangan matanya tidak berpindah. Bahkan, pelukan itu semakin erat adanya!


“Udara di kotaraja terlalu dingin,” katanya sambil memejamkan mata. “Aku masih mengantuk.”


“Tidurlah sepulas dan selama yang kaukehendaki, tetapi lepaskan aku sekarang.” Mantingan berkata dengan suara keras. Tegas. Tidak mau dibantah.


“Bersantailah barang sejenak. Kita masih memiliki waktu tiga hari lagi di tempat terkutuk ini. Lagi pula, memangnya kamu hendak pergi ke mana? Tiada sesuatupun di pusat penampungan ini, dan pagi masih terlampau dingin. Tetaplah di sini bersama Chitra, berkemul di dalam selimut.”


Mantingan mengangkat kedua alisnya dengan mulut sedikit terbuka. Agaknya masih cukup sulit mempercayai apa yang dikatakan perempuan itu.


“Chitra, sebagai wanita, kau memiliki sikap yang terlalu malas.” Mantingan menggeleng pelan sebelum mencoba bergeser ke pinggiran ranjang. Namun, Chitra Anggini menariknya kembali.


“Jangan pergi.”


“Chitra, jangan membuatku marah. Ini tidak benar.” Mantingan mulai bersungguh-sungguh, tetapi agaknya sikap itu tidak mampu dimengerti oleh Chitra Anggini yang kesadarannya belum pulih semua.

__ADS_1


“Jangan membuatku marah juga, Mantingan. Kau jelek sekali sikapnya, selalu meninggalkan wanita setelah membuatnya jatuh cinta. Kau perlakukan Rara seperti itu; Lien pun mengalami nasib buruk yang tak jauh berbeda dengannya. Setelah ini kauhendak mengecewakan wanita lagi, wahai Pahlawan Man yang durjana dan tidak tampan sama sekali? Siapa lagi wanita yang hendak kaubuat kecewa, siapa lagi ....”


Mantingan mengembuskan napas panjang. Betapa diketahuinya bahwa Chitra Anggini mengucapkan semua itu dalam keadaan setengah sadar. Memang bagusnya tidak dimasukkan ke dalam perasaan.


Untuk dapat lepas dari pelukan Chitra Anggini tanpa membuat perempuan itu kecewa, Mantingan merasa bahwa pemaksaan tidak akan banyak berguna. Diambillah jalan kelembutan, seperti yang pernah dilakukan Sasmita kepadanya, yakni dengan mengalirkan tenaga prana pada tubuh Chitra Anggini hingga perempuan itu terlelap dengan sepulas-pulasnya.


“Mantingan, ini ....”


Chitra Anggini tidak sempat menuntaskan perkataannya. Perempuan itu lunglai. Tenaganya merosot, tidak lagi merangkul Mantingan terlalu erat. Usailah dia. Tertidur pulas.


Mantingan masih mengalirkan tenaga prana pada Chitra Anggini hingga beberapa saat sebelum akhirnya melepaskan diri dari rangkulan perempuan itu.


Mantingan memperbaiki letak selimut hingga sempurna menutupi tubuh itu hingga batas leher gadis itu. Tersenyum sambil menggelengkan kepala, Mantingan melangkah pergi dari kamarnya.


...****************...


SEBENARNYA, tiada banyak hal yang bisa Mantingan dapatkan setelah ia keluar dari asramanya. Ini benar-benar merupakan tempat karantina. Sepanjang jalan setapak yang Mantingan lalui, ia hanya menemukan tabib-tabib yang berlalu-lalang sambil mendekap lembaran-lembaran lontar yang berisi catatan kesehatan penghuni penampungan.


Pemeriksaan kesehatan memang dilaksanakan secara berkala setiap pagi hari, di mana keadaan tubuh seseorang bersih. Mantingan sendiri telah diperiksa sesaat sebelum dirinya meninggalkan asrama, dan hasilnya cukup baik.


Pendatang yang sedang dikarantina sementara tidak diperkenankan keluar dari penampungan. Kecuali jika terjadi suatu urusan yang teramat sangat mendesak, dengan mesti mengurus segala macam surat-menyurat sebelum mendapatkan izin untuk keluar dari penampungan.


Akan tetapi, tempat-tempat itu jarang dikunjungi. Benar-benar sepi. Para pendatang lebih senang menghabiskan waktu di kamar mereka masing-masing untuk membaca kitab-kitab yang ada di perpustakaan.


Menurut Chitra Anggini, alasan lain yang menyebabkan tempat-tempat hiburan di dalam pusat penampungan sementara sepi pengunjung adalah karena kegemerlapan kotaraja terlalu bersinar terang, sangat terang, hingga sinarnya itu menutupi sinar tiga tempat hiburan yang ada di pusat penampungan ini.


Ketika tengah malam tadi, Chitra Anggini berkata kepadanya, “Di tengah-tengah kotaraja, kamu akan menemukan banyak tempat hiburan yang jauh lebih luar biasa ketimbang tempat hiburan yang ada di sini. Perbedaannya sangat kentara. Mereka menggunakan mantra-mantra sihir untuk menciptakan suatu pemandangan yang teramat mengagumkan. Pelayanannya luar biasa memuaskan. Ah, masih ada banyak sekali hal-hal mengagumkan lainnya yang tidak dapat kujelaskan semuanya. Pokoknya jika kamu menyempatkan diri untuk berkunjung ke sana, kau akan mendapatkan pengalaman baru yang lain dari biasanya. Sungguh, kau tidak akan menyesal.”


Mantingan sebenarnya tidak mengetahui apakah dirinya memiliki kesempatan untuk berkunjung ke tempat-tempat itu atau tidak. Betapa pun, mereka tidak boleh menunda penyelamatan Tapa Balian lebih lama lagi. Dan sekalipun pada akhirnya telah berhasil menyelamatkan Tapa Balian dengan merebut pula pusaka Sepasang Pedang Rembulan yang kini kembali membayang-bayangi dunia persilatan.


“Wahai, penjual lontar!”


Mantingan menghentikan langkahnya. Termenung beberapa saat. Bukanlah makna dari isi panggilan itu yang membuatnya terkejut, sebab betapa pun ia bukan dan merasa tidak pernah menjadi penjual lontar, melainkan suara itulah yang menjadi satu-satunya penyebab Mantingan merasa harus menghentikan langkah.


Suara itu ... mengapa ia seperti telah sangat mengenalnya?


Mantingan baru hendak berbalik untuk melihat siapa gerangan pemilik suara itu, ketika tubuhnya dirangkul kuat-kuat dari arah belakang. Dengan deraian air mata yang langsung jatuh dan membasahi pundak pemuda itu. Mantingan sempurna mematung ketika menyadari siapa yang sedang memeluknya saat ini.

__ADS_1


“Nyai Dara ....”


***


KEINDAHAN taman di pusat penampungan itu sungguh tidak sepantasnya dipandang sebelah mata. Jika boleh dikata, maka ini adalah taman terindah yang pernah Mantingan kunjungi sekaligus datangi, setelah taman di Perguruan Angin Putih berupa telaga besar yang sebenar-benarnyalah tidak terlalu tepat untuk menyebutnya sebagai sebuah taman.


Taman ini memiliki banyak tanaman-tanaman hias, kolam-kolam penuh teratai dan ikan, serta pepohonan yang menghasilkan bunga asana dan campaka yang kuning-kemuning menebar keharuman khas, pepohonan yang menghasilkan bermacam-macam jenis buah, serta berbagai macam jenis burung bertubuh indah yang sengaja dibiarkan bebas.


Angin merambat pelan di taman itu. Memberikan rasa sejuk yang menenteramkan. Menggugurkan empat-lima daun asana dari tangkainya.


Di salah satu bangku panjang di taman itu, duduklah dua orang muda-mudi dengan tentram dan khidmat. Menikmati segala-galanya yang ada di taman itu sebelum memulai pembicaraan.


“Sudah berapa lama kita tidak bertemu?” Mantingan bertanya sambil tersenyum hangat. Pertanyaan untuk sekadar basa-basi, ia masih pertemuan terakhirnya dengan perempuan di sebelahnya itu.


“Lebih dari lima purnama, Mantingan.” Dara menjawab dengan sedikit kaku. Duhai, betapa dirinya masih tidak percaya akan bertemu dengan Mantingan di tempat seperti ini setelah mengerahkan segala daya dan upaya untuk mencari pemuda itu ke seluruh penjuru Dwipantara!


“Maafkan daku yang telah menghilang begitu saja, Nyai, mendustai perjanjian dagang yang pernah kubuat sebelumnya.” Mantingan berkata dengan suara rendah.


Apa yang dikatakannya itu bukanlah omong kosong. Dari lubuk benak yang terdalam, dirinya memang benar-benar menyesal telah menghilang begitu saja tanpa memberi kabar semacam apa pun kepada Dara.


Bukankah mereka memiliki perjanjian dagang yang telah diakadkan dengan tetesan darah sebagai tanda telah bersumpah mati?


Dan lihatlah, Mantingan tidak menetapi janji dagangnya dengan Dara. Ia tidak lagi memasok Lontar Sihir Cahaya yang telah dijanjikannya kepada perserikatan dagang milik Dara. Betapa menyesalnya Mantingan, sebab dalam keadaan seperti ini pun tidaklah terlalu memungkinkan baginya untuk memenuhi pesanan Lontar Sihir. Ia pergi ke kotaraja bukan untuk berdagang.


“Tidak perlu dipikirkan sama sekali, Mantingan. Kehadiranmu di sini telah membayar semuanya.” Dara tersenyum tulus. “Tetapi harus Dara katakan kepadamu, Lontar Sihir buatanmu itu adalah benda yang paling dicari di perserikatan dagangku. Untuk selembar lontarnya, mereka bersedia menawar dengan harga yang sangat mahal: menembus dua ribu keping emas!”


Mantingan tidak terlalu terkejut ketika mendengar jumlah tersebut. Namun, ia sangat senang. Setidaknya itu dapat membayar sedikit rasa bersalahnya.


“Ketika daku memutuskan untuk melelang lima lontar terakhir, harganya melonjak tajam. Sepuluh ribu keping emas untuk setiap lembarnya!”


Mantingan mengangguk pelan dengan senyum mengembang di wajahnya.


“Aku hanya akan mengambil keuntungan sepersepuluh, maka—”


“Simpan saja seluruh uang itu, Dara. Setelah merusak perjanjian kita, daku merasa tidak berhak menerima barang sekeping perunggu pun darimu. Anggaplah pula itu sebagai akhir dari kerjasama dagang kita, Dara.”


Kini Dara mengerutkan dahi. “Akhir kerjasama? Mantingan, dikau tidak bermaksud ….”

__ADS_1


Ketika Dara sudah tidak mampu melanjutkan perkataan lagi, di sanalah Mantingan menganggukkan kepala. Sembari memasang senyum lembut, Mantingan menjelaskan, “Daku memiliki banyak tugas yang belum kuselesaikan, Dara. Untuk waktu yang cukup panjang nantinya, daku merasa tidak bisa menjual Lontar Sihir kepadamu. Daku tidak bisa mengatakan kepadamu di tempat ini, tetapi kuharap dikau akan bersedia mendengarkannya di asramaku nanti.


__ADS_2