
UNEDITED VERSION
Dara tidak bisa menahan jarinya untuk tidak menggaruk kakinya yang gatal. Dara berdeham beberapa kali, isyarat bagi Mantingan untuk tidak melihatnya. Bagi sebagian perempuan, terlebih pada perempuan terkenal seperti Dara, terlihat sedang menggaruk-garuk kulit bukanlah hal yang cantik.
Mantingan mengalihkan pandangnya dan tersenyum canggung.
“Kalian taruh barang-barang itu di gudang penyimpanan,” kata Dara pada orang-orang suruhannya, tetapi tentu saja mereka tidak mengetahui ruang mana yang merupakan gudang penyimpanan. Semua bangunan terlihat sama-sama saja.
“Di sini, mari ikut daku.” Mantingan mempersilakan mereka untuk berjalan di belakangnya.
Orang-orang suruhan Dara adalah pendekar kota, mereka terbiasa hidup di kota. Tetapi bagi pendekar, kehidupan di rimba liar tetap jadi impian. Melihat bagaimana Mantingan bisa membangun tempat tinggal di pelosok hutan seperti itu membuat takjub pendekar-pendekar itu. Tidak berhenti mereka terperangah pada setiap bangunan sederhana yang dibuat Mantingan, walau sebenarnya bangunan kota jauh lebih bagus ketimbang bangunan Mantingan.
Mantingan berhenti di ruang penyimpanan dan membukakan pintu bagi orang-orang itu untuk masuk. “Silakan letakkan saja di bawah, nanti biar daku rapikan.”
Mereka mengangguk, bergantian memasukkan barang ke ruang penyimpanan. Ruang penyimpanan yang biasanya hanya berisi perkakas dan kayu bakar, kini sudah tampak penuh oleh berbagai bundelan-bundelan berisikan barang yang Mantingan tidak ketahui.
Saat orang terakhir ingin memasukkan barang ke ruang penyimpanan, Mantingan segera menahannya. Bukan dikarenakan ruang penyimpanan telah penuh, melainkan karena orang itu membawa makhluk hidup. Lima ekor ayam yang berada dalam kisa, hanya kepala dan ekor mereka saja yang terlihat.
Mantingan hampir tidak mempercayai apa yang dilihatnya ini. Mereka membawa ayam sampai ke dalam hutan yang sangat jauh ini. Apa yang sebenarnya Dara pikirkan?
“Ayam-ayam itu seharusnya ditaruh di kandang, marilah ikut daku.”
__ADS_1
Mantingan mengarahkan pendekar itu sampai ke kandang buatannya, membukakan pagar kandang lalu melepas lima ayam berbeda jenis kelamin di dalamnya. Mantingan hampir-hampir terharu melihat kandangnya kini terisi. Lebih terharu lagi jika suatu hari nanti ayam-ayam itu berkembang biak, melahirkan anak-anak lucu yang tumbuh dewasa dan akhirnya dimakan Mantingan.
Mereka kembali ke tempat Dara berada. Gadis muda itu tidak terlihat baikan. Bahkan semakin parah. Hidung dan matanya memerah. Jarinya masih saja terus menggaruk.
“Aduh, aku lupa membawa obat gatal.”
Mantingan yang melihat itu merasa harus bertindak. “Apakah Nyai kemarin mengalami hal yang sama?”
Dara mengangguk. “Tetapi kemarin aku segera pergi ke tabib, lalu diberikan obat gatal. Dan sekarang aku lupa membawanya.”
Mantingan berpikir sejenak. Gatal yang dialami Dara adalah wajar bagi orang-orang kota jika mereka masuk ke semak belukar. Berbeda dengan Mantingan yang sudah biasa terkena tanah dan lumpur, hingga kebal terhadap serbuk rumput. Mantingan tidak akan menghina Dara sebagai orang kota, justru yang lebih berpengalaman di hutan harus membantu.
“Nyai, tunggu sebentar di sini.” Tanpa banyak kata lagi, Mantingan berkelebat secepat angin ribut, segera menghilang dari hadapan orang-orang di perkemahannya.
Ia terus melesat melewati pepohonan besar di sampingnya, menapak pada dahan-dahan pohon atau daun yang jatuh untuk kembali melambung. Hingga sampailah Mantingan pada tempat yang ia tuju, yaitu pohon nangka yang terdapat tumbuhan sirih di batangnya.
Mantingan memetik daun sirih beberapa lembar. Merasa jumlah seperti itu sudah cukup, Mantingan hendak melesat pergi. Tetapi sesuatu menahannya. Mantingan mendengar sesuatu yang melesat dari atas kepalanya.
Mantingan mengentak kakinya, hingga ia melompat tinggi ke atas, berlawanan dengan benda itu yang masih terus melesat ke bawah. Dengan gerakan cepat pula, Mantingan menangkap benda yang meluncur padanya itu, berputar beberapa kali di udara sebelum melayang turun.
Mantingan tersenyum melihat benda yang telah di dapatnya. Sebuah nangka besar. Tidak busuk atau rusak, tapi matang. Aromanya semerbak, sangat-sangat harum dibandingkan dengan bau Bunga Aroma Kematian. Untungnya buah sebesar ini tidak jatuh ke tanah, atau pastilah akan pecah terbuyar ke mana-mana.
__ADS_1
Kaki Mantingan kembali menjejak tanah ringan, sesaat kemudian ia mengentak kaki lagi dan melesat ke arah perkemahannya.
Mantingan kembali melesat melewati pepohonan-pepohonan di sekitarnya, sebelum akhirnya sampai pula di dalam perkemahan. Dara terlihat sudah menunggu Mantingan, dan pendekar-pendekar itu membentuk lingkaran di sekitar Dara untuk melindunginya, tetapi badan dan pandangan mereka tidak menghadap Dara.
Kondisi Dara semakin parah ketika Mantingan melihatnya. Tidak hanya mata dan hidungnya saja yang merah, kini kulitnya pula memerah. Gadis muda itu terlihat sangat tersiksa.
“Nyai, ada sungai kecil di dekat sini. Nyai bisa berendam di sana untuk mendinginkan badan. Atau Nyai bisa beristirahat di dalam tenda.”
Dara tidak membalas, ia hanya menggeleng. Karena sepertinya, ia tidak sanggup melangkah ke mana-mana lagi tanpa alasan yang jelas. Maka Mantingan tidak mau banyak bicara lagi, lekas ia bergerak cepat mengambil panci dan mengisinya dengan air di ruang tanam, lalu ia bawa ke tempat api unggun. Kondisi Dara semakin buruk, gadis itu tidak mampu berdiri lagi, terus menggaruk kulitnya.
“Ambil tikar di tenda, jangan biarkan Nyai menyentuh tanah!” Perintah Mantingan jelas mengarah pada siapa. Bergeraklah salah seorang pendekar itu menuju tenda, sedangkan Mantingan masih berusaha menyalakan api.
Mengapa Dara tidak diperkenankan menyentuh tanah? Alasannya cukup jelas, Dara menggaruk-garuk seperti itu pastilah menimbulkan luka. Luka itulah yang akan menyebabkan penyakit lain jika bersentuhan dengan tanah.
Terdapat kendala dalam upaya menyalakan api. Akibat atap ruang penyimpanan yang bocor, juga dikarenakan udara tadi malam sangat lembab, maka kayu bakar di dalamnya pula menjadi basah dan lembab. Mantingan sudah mengupayakan menyiram minyak lalu disulut dengan batu api, tapi api yang menyala tidaklah besar.
Mantingan menarik napasnya. Sekilas ia melirik Dara yang semakin kesakitan. Mantingan membulatkan tekadnya untuk melakukan sesuatu, walau itu cukup berisiko baginya sendiri. Setidaknya itu lebih baik ketimbang melihat Dara begitu tersiksa, gadis yang masih belia itu sudah memberikan begitu banyak untuknya. Dirinya seperti itu juga dikarenakan Mantingan.
Terdapat sebuah cara menyalakan api bagi pendekar-pendekar aliran putih menggunakan tenaga dalam. Ia pernah melihat Kiai Guru Kedai melakukan ini di goa pelatihan, Mantingan pelajari cara kerjanya. Kiai Guru Kedai berkata, bahwa menciptakan api seperti ini bukanlah perkara mudah bagi pendekar pemula. Mantingan tidak berpikiran akan memakai cara itu sekarang, karena sebenarnya itu adalah ilmu aliran putih. Mantingan masih belum mempelajari bagaimana orang-orang aliran hitam menyalakan api menggunakan tenaga dalam.
Tubuh Mantingan akan menolak dan menyebabkan kerusakan pada darah atau kulit. Terlebih lagi, cara menyalakan api ini hanya cocok pada pendekar tinggi saja. Maka, melakukan hal itu bukan tanpa risiko tinggi.
__ADS_1