Sang Musafir

Sang Musafir
Bidadari Sungai Utara Tidak Sadarkan Diri


__ADS_3

KETIKA MANTINGAN membuka kedua matanya, ia melihat pepohonan lebat yang telah tersiram terangnya sinar sang surya. Lalu mengadah ke arah langit, matahari berada di ufuk tengah. Menandakan bahwa pagi telah lama terlewati.


Mantingan melihat ke sekitarnya. Hampir seluruh tanah telah menjadi lumpur, beberapa bahkan menjadi genangan air. Hanya tanah di bawah pohon saja yang setidak-tidaknya masih cukup keras untuk dipijak.


Mantingan mengangkat alisnya ketika melihat Bidadari Sungai Utara bersandar tepat di sebelah kanannya dalam keadaan tertidur. Betapa keadaan Bidadari Sungai Utara tidak lebih buruk ketimbang keadaanya.


Pemuda itu tidak berniat membangunkannya. Pastilah gadis itu kelelahan setelah melalui pertarungan menguras tenaga tadi malam.


Mantingan mencoba untuk menggerakkan badan. Seluruhnya dapat digerakkan tanpa hambatan meski masih terasa sedikit sakit, tetapi itu bukan masalah besar. Mantingan tersenyum.


“Sepertinya aku bergerak terlalu jauh dari jalanan ....” Mantingan bergumam pada dirinya sendiri. Tiba-tiba saja senyumnya menjadi sedih. “Rara, di manakah engkau malam tadi?”


Diingatnya segala kejadian yang berlangsung malam tadi. Ketika pertarungan selalu berakhir oleh kematian salah satu pihak. Di manakah Rara pada waktu Mantingan membutuhkan kehadirannya? Apakah gadis yang bersemayam di alam pikirannya itu telah merajuk jadi memutuskan untuk tidak memunculkan diri lagi?


Jelasnya, Mantingan merasa sedih. Sedih rasanya harus mengingat kematian Rara di tepi pantai ketika senja waktu itu. Mantingan tidak benar-benar bisa melupakannya. Terkadang ia berdamai dengan kenangan itu, terkadang pula tidak. Di antara segala kenangan, hanya kenangan ini yang sulit sekali didamaikan olehnya. Sesekali, Mantingan masih berpikir bahwa kematian Rara adalah takdir yang tidak adil.


Tetapi kini, Mantingan harus bisa mengesampingkan segala perasaannya. Terdapat masalah yang lebih penting untuk diurusnya segera.


Mantingan duduk bersila dengan bentuk teratai. Sebelum pergi meninggalkan tempat ini, Mantingan akan memulai samadi guna mengisi ulang tenaga dalamnya. Meskipun seluruh tubuh dapat digerakkan dengan baik, bukan berarti tenaga dalamnya telah pulih sepenuhnya. Lagi pula, Mantingan masih mengalami sejumlah luka dalam yang setidak-tidaknya mesti mendapatkan penanganan ringan sebelum mendapat pengobatan di Perguruan Angin Putih.


***

__ADS_1


SETELAH DIRASA cukup, Mantingan kembali membuka kelopak matanya. Tubuhnya terasa jauh lebih segar dan bugar daripada sebelum melakukan samadi. Tetapi betapa disadarinya bahwa langit telah menjingga, tanda senja telah datang. Segera Mantingan melirik ke samping kanannya, betapa ia dibuat terkejut ketika melihat Bidadari Sungai Utara masih tertidur bersandar pada batang pohon.


Apakah masih dapat dikatakan tertidur jika sedari malam sampai senjakala di hari kemudian belum terbangun pula? Ini lebih dari sekadar tidur biasa. Bidadari Sungai Utara tak sadarkan diri!


Dengan perasaan teramat gelisah, Mantingan bergegas menepuk-nepuk bahu gadis itu. Tidak ada tanggapan. Semakin gelisah dibuatnya.


Mantingan meletakkan telapak tangannya di bahu gadis itu, cepat-cepat ia mengalirkan tenaga prana pada tubuh Bidadari Sungai Utara untuk mengetahui penyebab apakah yang membuat gadis ini tak sadarkan diri.


Mantingan sebenarnya serba sedikit dalam mengetahui ilmu pengobatan dan penyembuhan. Tetapi selama berada di Desa Lonceng Angin, Bidadari Sungai Utara mengajarinya keterampilan menggunakan tenaga prana untuk menyembuhkan berbagai macam luka luar maupun luka dalam. Dengan bakat yang diturunkan darah leluhur, Mantingan dengan cepat menyerap semua pengajaran yang diberikan Bidadari Sungai Utara dan mampu mempraktikkannya dengan sempurna.


Segeralah setelah Mantingan mengalirkan tenaga prana ke dalam tubuh gadis itu melalui bahunya, ia menemukan bahwa Bidadari Sungai Utara tidak memiliki luka apa pun selain kehabisan tenaga dalam.


Pemuda itu mengernyitkan dahinya. "Apakah yang telah terjadi kepadamu, Sasmita?"


Banyak dugaan yang muncul di kepalanya. Namun masih tidak dapat dipastikan mana yang terbenar, sebab Bidadari Sungai Utara tidaklah bangun dan memberi pernyataan. Jelas saja.


Tanpa banyak berpikir lagi, Mantingan mengalirkan setengah dari tenaga dalamnya untuk Bidadari Sungai Utara. Sementara itu, langit di ufuk barat semakin menjingga, sedangkan berwarna keunguan di ufuk timur. Mega-mega tipis mengambang di langit. Terlihat tidak bergerak, seolah tiada angin yang menyentuh mereka.


Setelah menerima sedikit tenaga dalam dari Mantingan, Bidadari Sungai Utara telah mampu membuka matanya. Dipandanginya Mantingan dengan tatapan sayu. Bukan hanya tatapannya, senyumannya yang ditampilkannya pun begitu lemah.


Mantingan membelai kepala gadis itu dan berkata, “Terima kasih telah menolongku kemarin malam. Marilah kita bergegas dari tempat ini sebelum senja menjadi malam.”

__ADS_1


Bidadari Sungai Utara tidak membalas. Tetapi ketika mata-mata mereka saling bersitatap, maka terjadilah percakapan yang tak dapat didengar siapapun jua selain mereka saja.


“Baiklah, izinkan daku untuk menggendongmu, Saudari.” Dengan gerakan cepat namun tidak kasar, Mantingan mengangkat tubuh Bidadari Sungai Utara ke atas punggungnya.


Setelah menyelipkan Pedang Kiai Kedai ke sabuk di pinggangnya, Mantingan mulai berjalan pergi dari tempat itu. Sambil terus melangkahkan kaki, Mantingan berujar, “Maafkan daku, Sasmita. Hanya sedikit tenaga dalam yang bisa kuberikan kepadamu. Lebihnya akan kuberikan padamu jika daku menemukan tempat yang mengandung banyak tenaga dalam. Bertahanlah.”


Mantingan mengembuskan napas panjang. Betapa harus diakui bahwa tenaga dalamnya saat ini tidaklah tersisa terlalu banyak. Inilah yang membuat Bidadari Sungai Utara tidak dapat berjalan, bahkan tidak pula untuk sekadar berucap sepatah kata. Hal ini juga yang membuat Mantingan memutuskan untuk tidak melesat secepat pendekar lainnya. Ia perlu menyiagakan tenaga dalamnya untuk pertarungan yang tidak terduga.


Sembari berjalan, sebenarnya Mantingan sedang mengumpulkan tenaga dari pepohonan di sekitarnya. Tempat Mantingan bersamadi sebelumnya bukanlah tempat yang mengandung banyak tenaga dalam untuk diserap. Maka dengan terus berjalan, Mantingan dapat menyerap lebih banyak tenaga dalam.


Bidadari Sungai Utara tidak menunjukkan jawaban apa pun. Dari jalan napasnya yang teratur, dapat Mantingan ketahui bahwa gadis itu kembali terlelap.


***


TELAH BEGITU lama sejak pertama kali Mantingan meninggalkan hutan. Berandalkan jejak-jejak yang ditinggalkan rombongan, kedua kakinya terus melangkah. Tiada dirasa lelah meskipun Bidadari Sungai Utara tidak pernah turun dari atas punggungnya.


Langit tidak lagi dipenuhi dengan semburat jingga, melainkan dipenuhi dengan ratusan bintang indah. Menandakan berapa lama Mantingan telah berjalan. Namun ada sisi baiknya pula, dari senjakala hingga waktu malam, Mantingan berhasil mengumpulkan banyak tenaga dalam. Tetapi tidak cukup banyak untuk dapat membuatnya melesat dalam jarak yang jauh.


Lebih-lebih, sebagian besar dari tenaga dalam yang ia kumpulkan itu dialirkan kepada Bidadari Sungai Utara. Hal ini dilakukannya untuk memastikan Bidadari Sungai Utara tidak mati. Bagi seorang pendekar yang kehabisan tenaga dalam, kematian selalu membayang-bayang, dapat menjemput kapan saja tanpa memberi tanda-tanda.


Sampai kini, Mantingan masih juga mencari alasan mengapa Bidadari Sungai Utara dapat kehabisan tenaga dalam. Apakah gadis itu bertempur saat Mantingan tak sadarkan diri? Atau justru berkelebat sejauh-jauhnya untuk mencari pertolongan?

__ADS_1



__ADS_2