
SENJAKALA baru saja usai. Api unggun yang dibuat oleh Mantingan masih berkobar-kobar dengan cukup besar. Sedikit banyak mendatangkan nyamuk yang barang tentu sangat tertarik dengan cahaya terang.
Mantingan memendarkan sedikit tenaga dalam ke seluruh tubuhnya agar kebal dari tiada seekor pun nyamuk berhasil menembus kulitnya. Sedangkan Munding tampak tidak peduli sekalipun menjadi santapan empuk bagi ratusan nyamuk, kerbau itu terlela dengan begitu pulas.
Untuk sejenak, Mantingan menghela napas panjang. Hampir tidak ada hal yang dapat dilakukannya di sini selain hanya menatapi api unggun yang menjilat-jilat udara. Dalam ketermenungan, dirinya berusaha agar kewaspadaannya tidak mengendur barang sedikitpun, sekaligus pula menjaga pikirannya untuk tidak melayang pada Bidadari Sungai Utara.
Sekali lagi Mantingan mengembuskan napas panjang. Tangannya meraih sebatang dahan kering yang hendaknya dilemparkan ke api unggun untuk menjaga nyalanya. Namun sebelum Mantingan bisa melakukan itu, tetiba saja dirinya merasakan hawa dingin yang teramat menusuk punggungnya. Tak sampai seperkian kedip mata kemudian, teredengarlah suara kelebatan serta kersak dedaunan dari arah belakangnya!
Mantingan—yang beruntungnya masih tetap menjaga kewaspadaan—segera melenting tinggi ke atas. Melayang di atas pucuk-pucuk pepohonan tinggi. Sekelebat bayangan berukuran besar dan panjang melesat cepat tepat di bawahnya, yang saking cepatnya itu membuat mata Mantingan sekalipun hanya mampu menangkap kelebatan bayang-bayangnya saja!
Kelebatan bayang-bayang itu menghilang ditelan kegelapan hutan. Mantingan segera mengejarnya tanpa pikir panjang lagi, menghilang pula ditelan kegelapan dengan kecepatan yang lebih cepat dari cepat.
Lupakanlah Munding untuk sejenak, kerbau itu memiliki kemampuan yang lebih dari cukup untuk melindungi dirinya sendiri.
Sedangkan itu, Mantingan terus melesat di antara pepohonan lebat nan rapat di bawah kegelapan yang telah benar-benar kelam. Betapakah tidak begitu bila langit malam tertutup sempurna oleh gumpalan awan mendung yang teramat tebal, hingga rembulan dan bintang-gemintang tidak dapat menunjukkan kecermelangannya?
Mengikuti gerak bayang-bayang yang bahkan mampu bergerak lebih cepat daripada kecepatan pikiran bukanlah perkara yang sama sekali mudah. Ditambah lagi dengan tantang besar berupa batang-batang pepohonan yang bagai ada di mana saja.
__ADS_1
Bila Mantingan tidak cukup cepat, maka sangat mungkin dirinya akan kehilangan siluman aneh itu. Dan bila Mantingan tidak cukup memusatkan pikirannya, maka sangat mungkin dirinya akan mati konyol sebab menghantam batang pohon. Memadukan kecepatan serta pemusatan pikiran, bukankah itu sangat sulit sekaligus berbahaya dalam situasi seperti sekarang ini?
Mantingan menarik Pedang Kiai Kedai di sabuk pinggangnya sebelum menebaskannya melintang ke depan. Menghancurkan sebatang pohon besar hingga seribu serpihan, yang memang harus segera dihancurkan sebab telah benar-benar tidak dapat dihindarinya lagi.
Hingga tibalah bayangan itu memasuki sebuah lubang gelap berukuran besar yang sungguh Mantingan yakini sebagai gua tempat persembunyian makhluk itu. Tanpa ragu-ragu lagi, Mantingan melesat masuk ke dalamnya sembari menarik Pedang Savrinadeya di punggungnya, berniat menghabisi siluman itu langsung di sarangnya!
Namun ketika Mantingan melesat seberapa jauh ke dalam gua, ia tidak menemukan tanda-tanda kehidupan semacam apa pun di sana. Tiada hawa panas, tiada aroma. Gua itu bagai tidak pernah didatangi makhluk hidup semacam apa pun sampai dirinya datang ke sini.
Apakah Mantingan telah dijebak?
Gawat! Mantingan lekas menghentikan lajunya ketika Ilmu Mendengar Tetesan Embun menangkap keberadaan permata-permata tajam yang menutupi seluruh lorong gua. Kaki Mantingan menapak dasaran gua yang berupa dinding batu, terseret jauh hingga alas kakinya habis. Namun, itu saja tidak akan cukup menghentikan gerak lajunya yang teramat sangat cepat.
Tidak perlu banyak waktu bagi Mantingan untuk menyadari bahwa siluman bayang-bayang itu berniat menjebaknya di tempat ini. Segera ia mengambil tindakan dengan menyalakan beberapa Lontar Sihir Cahaya. Ditempelkanlah semua lontar itu pada dinding gua. Lantas bersiap menghadapi serangan dengan sepasang pedang di kedua tangan.
Apa pun yang terjadi, Mantingan sama sekali tidak takut mati!
Barang sesaat kemudian, terdengarlah suara mendesis dari mulut gua, yang diikuti oleh kelebatan bayang-bayang berukuran panjang dan besar yang menerjang masuk.
__ADS_1
Dengan Ilmu Mendengar Tetesan Embun yang dikuasainya, Mantingan mampu melihat wujud bayang-bayang itu sebagai ular! Betapa pun, bukanlah sembarang ular yang sebab memiliki ukuran yang amat besar dan panjang. Bahkan saking besarnya, badan ular siluman itu memenuhi lorong gua hampir keseluruhannya, tidak memungkinkan bagi siapa pun untuk dapat lolos setelah masuk ke dalam gua ini termasuk pula Mantingan!
Namun bagai tidak memiliki penyebab, tetiba saja seulas senyum lebar tercipta di bibir Mantingan. Begitu lebar hingga deretan giginya tampak. Begitu kentara dengan keadaan yang ada saat ini. Duhai, apakah itu adalah senyum putus asa sebab tidak memiliki harapan sama sekali?
Tetapi nyatanya tidak. Itu bukan senyum putus asa. Sama sekali bukan. Justru itulah senyum penuh kemenangan!
Ketika kepala ular itu hanya tinggal satu tombak darinya, tiba-tiba seluruh Lontar Sihir Cahaya yang terpasang di dinding gua itu meledak. Mencipta cahaya yang bukan main terangnya. Pula menyebabkan keterbutaan meski hanya untuk sesaat.
Ular siluman itu tidak sempat menutup mata, dan adakah kiranya seekor ular memiliki kelopak mata?
Mantingan sempat menutup mata, tetapi memang tidak dapat dipungkiri bahwa ledakan cahaya dari semua lontar itu akan tetap berdampak bahkan setelah menutup mata. Mantingan merasakan seluruh pandangan matanya jadi memutih.
Namun apalah arti pandangan mata bila dirinya masih memiliki Ilmu Mendengar Tetesan Embun yang bahkan dapat lebih baik dari sekadar penglihatan menggunakan mata?
Dengan tuntunan Ilmu Mendengar Tetesan Embun itulah Mantingan mengarahkan lengan kirinya ke depan. Terarah tepat menuju kepala ular siluman itu. Lantas tak lebih dari sekedip mata kemudian, meluncurlah ribuan pisau terbang dari telapak tangannya itu. Sungguhlah berjumlah ribuan, sebab betapa pun Mantingan menerapkan Ilmu Menyambung Ruang yang dapat memindahkan banyak benda sekaligus dari suatu tempat ke tempatnya berada, dan yang dipindahkannya kali ini adalah ribuan pisau batu yang semulanya ia simpan di dalam gua pertapaannya.
Ribuan pisau batu yang dilesatkan dengan kecepatan teramat tinggi itu tak elak lagi menancap seluruhnya pada kepala siluman ular. Menghancurkannya dalam seketika, hingga tidak lagi menyerupai bentuk apa pun. Ular siluman itu mati dalam seketika!
__ADS_1
Ketika Mantingan baru hendak bernafas lega, tetiba saja didengarnya suara pecahan yang luar biasa ingar-bingar di belakangnya. Jantungnya sempat berhenti untuk sesaat, lantas kembali berdegup dengan jauh lebih cepat ketimbang sebelumnya!
Dengan perasaan cemas, Mantingan berbalik cepat ke belakang. Duhai, betapa terkejutnya ia! Seorang wanita yang teramat sangat jelita berdiri tepat di hadapannya dengan hanya mengenakan setengah pakaian!