Sang Musafir

Sang Musafir
Bunga Aroma Kematian yang Ditemukan Munding


__ADS_3

“Akan kutunggu kedatanganmu di Koying, Pahlawan Man.”


SESOSOK tubuh Puan Kekelaman memudar perlahan. Sebelum pintu kembali terbuka. Obor-obor padam. Mantingan segera beranjak keluar, Wilguna sudah menunggunya di sana.


Meski tampak sekali bahwa Wilguna ingin mengetahui hasil dari perbincangan antara Mantingan dengan Puan Kekelaman, tetapi perempuan tua itu tetap menjaga sikap dengan tidak bertanya. Dia tidak wajib mengetahuinya, atau bahkan tidak boleh mengetahuinya.


“Kemarilah, Pahlawan Man, biar daku bantu dikau mencarikan tanaman obat yang sekiranya cocok untuk kerbaumu. Jangan meragukan kualitasnya, toko ini selalu menyajikan yang terbaik dari yang terbaik.”


Mantingan tertawa ringan. Dirinya mulai bisa bersantai sekarang. “Apakah toko Nenek ini juga termasuk ke dalam jaringan bawah tanah Puan Kekelaman?”


Wilguna menganggukkan kepala sambil tersenyum lebar. “Toko ini sengaja dibuat untuk kepentingan kami. Uang hasil menjual tanaman obat digunakan untuk kepentingan kami pula.”


Mantingan mengangguk pelan. Paham. Wilguna kemudian membawanya kembali ke lantai atas, memilih tanaman-tanaman obat.


“Ini Bunga Aroma Kematian berusia lima puluh tahun. Siapa pun mengetahui bahwa rasanya jauh dari kata enak, tetapi khasiatnya dalam menyembuhkan luka sangatlah luar biasa.” Wilguna menjelaskan sambil menggenggam sebatang Bunga Aroma Kematian yang telah mengering. “Daku hanya memiliki satu, dan ini saja sudah tidak segar. Untukmu, daku akan melepaskannya seharga 200 keping emas. Sedang harga aslinya adalah 300 keping emas. Apakah dikau mau?”


Mantingan menggeleng pelan. “Bunga itu memang banyak manfaatnya, Nenek, tetapi daku masih memiliki banyak Bunga Aroma Kematian.”


Wilguna tidak membenarkan, dirinya kembali menjelaskan, “Bunga Aroma Kematian memang tumbuh dengan sangat cepat, jumlahnya tiada terhingga, tetapi bunga ini mati dengan sangat cepat pula. Tidak banyak yang bisa bertahan hingga satu tahun. Sedangkan yang kumiliki saat ini telah berusia lima puluh tahun, khasiatnya jauh lebih besar 50 kali lipat, dan sungguh tidak banyak orang menjual Bunga Aroma Kematian dengan usia sepanjang ini ....”


“Tetapi yang daku miliki terlihat telah berusia lebih dari seratus tahun, Nenek.”

__ADS_1


Mantingan kemudian menurunkan bundelan yang tercangklong punggungnya, ia tidak keberatan sama sekali untuk menunjukkannya kepada Wilguna. Berbincang tentang bunga-bunga obat, Mantingan merasa seperti kembali ke masa lalu.


Ia mengeluarkan bertangkai-tangkai Bunga Aroma Kematian. Jumlahnya dua puluh. Tampak jauh lebih segar ketimbang bunga yang ada di tangan Wilguna.


“Cobalah Nenek lihat ini.” Mantingan menyerahkan beberapa tangkai. Wilguna menerimanya dengan penasaran.


“Ini ....” Wilguna terus mengamati bunga itu dengan tatapan tidak percaya. Tangannya mulai bergemetar. “Ini ... ini benar-benar Bunga Aroma Kematian berusia ratusan tahun, salah satunya bahkan lebih dari itu ....”


Mantingan menelan ludahnya. Lebih dari ratusan tahun? Bukankah itu sama saja berarti ribuan tahun? Jika perkiraan Wilguna tepat, maka alangkah luar biasanya Munding Caraka yang telah menemukan bunga itu!


“Bunga-bunga ini dipotong tanpa alat atau cara khusus. Kualitasnya berkurang, tetapi itu tidak banyak berpengaruh! Di manakah dikau menemukannya?” Wilguna beralih menatap Mantingan, kali ini dengan pandangan berapi-api.


“Bukan daku yang menemukannya, tetapi kerbauku.” Mantingan menjawab dengan sedikit gugup.


Mantingan mengangguk.


“Astaga! Pantas saja tangkai bunga-bunga ini tidak terlihat telah dipotong dengan alat dan cara istimewa. Rupa-rupanya, memang bukan manusia yang menemukannya!” Wilguna tertawa lepas untuk sejenak. Seolah hal tidak masuk akal itu adalah lelucon yang masuk akal. “Pahlawan Man, bunga yang kaubawa ini sangatlah berharga. Harganya kutaksir dapat mencapai 500 keping emas untuk setiap tangkainya, tetapi itu jika dikau menjualnya ke orang lain. Tetapi jika dikau menjualnya kepadaku, akan kubeli 600 keping emas untuk setiap tangkai Bunga Aroma Kematian yang dikau punya. Bagaimana?”


“Daku tidak bisa menjual semuanya, Nenek,” jawab Mantingan, “beberapa tangkai bunga itu mungkin saja akan daku butuhkan di masa mendatang.”


“Ah, urusan mudah! Daku akan membeli semua yang ingin dikau jual saja.”

__ADS_1


Mantingan tersenyum tipis sebelum menyimpan kembali lima tangkai Bunga Aroma Kematian ke dalam bundelannya, sedangkan sisanya diserahkan kepada Wilguna.


Perempuan tua itu menerima semua bunga itu dengan teramat sangat bersemangat. Bagaikan anak kecil yang diberi bebuahan segar. Dia kemudian berkata, “Tunggu sebentar di sini, Pahlawan Man. Daku akan memeriksa seluruh bunga ini untuk mengetahui usianya. Jika kutemukan ada yang berusia lebih dari seribu tahun, akan kuberikan bayaran tambahan.”


Mantingan menganggukkan kepalanya. Percaya. Wilguna kemudian membawa 15 tangkai Bunga Aroma Kematian itu menuju ruangan lain. Sedangkan Mantingan tetap menunggu sembari melihat tanaman-tanaman obat yang berjejer di sana.


***


“Tiga belas bunga berusia ratusan tahun, dan dua lainnya berusia ribuan tahun. Semua itu berharga 9.800 keping emas, akan kubayar dengan sepuluh Batu. Apakah dikau memiliki 200 keping emas sebagai uang kembalian?”


MANTINGAN mengangguk. Merogoh pundi-pundi yang dikhususkan untuk menyimpan uang, lalu menyerahkan dua ikatan keping-keping emas. Satu ikatan berisi seratus keping emas.


Setelah menerimanya, Wilguna lekas menyerahkan sepuluh Batu yang telah disiapkannya sedari tadi. Namun, Mantingan hanya menerima sembilan batu saja. Wilguna menatap bingung.


“Nenek, tolong pilihkan tanaman apa saja yang sekiranya enak dan sehat untuk kerbau. Satu Batu itu untuk membayarnya.” Mantingan menjelaskan dengan senyum hangat yang tidak berkurang sedikitpun dari wajahnya. “Dan mohonlah Nenek sedikit lebih cepat, kawanku sudah menunggu. Jika dia tidak menemukanku dalam beberapa saat lagi saja, maka seluruh pasar ini dapat menjadi gempar karenanya.”


Wilguna kembali menyimpan sebongkah Batu itu ke dalam saku bajunya. Tanpa berkata-kata lagi, dirinya berkelebat. Dengan kecepatan penuh. Sampai-sampai, ruangan yang amat sangat tertutup itu menjadi bersemilir oleh angin.


Dalam lima embusan napas, perempuan itu telah kembali berdiri di hadapannya dengan membawa banyak sekali tetumbuhan. Saking banyaknya, sampai harus dipikul di pundak. Wilguna tampak seperti baru saja mengambil rumput di kaki gunung!


“Semua tanaman ini enak dan sangat menyehatkan buat hewan ternak. Ini adalah semua yang kupunya. Tetapi ini semua masih kurang banyak, daku tetap harus menyiapkan uang kembalian sebesar 300 keping emas.”

__ADS_1


Mantingan menggaruk kepalanya yang tidak gatal dengan senyum canggung di wajahnya. Ia tidak yakin apakah Munding Caraka mampu menghabiskan seluruh tetumbuhan itu, tetapi ia tetap mengambil semuanya beserta uang kembalian berupa 200 keping emas. Itu adalah uang yang tadi diberikannya.



__ADS_2