Sang Musafir

Sang Musafir
Mengapa Kau Tidak Berhenti Saja dari Kependekaran?


__ADS_3

BIDADARI SUNGAI Utara paham bagaimana perasaan Mantingan, jadi ia hanya menganggukkan kepala. Jalanan tiba-tiba menanjak, melewati bebatuan yang cukup terjal. Bidadari Sungai Utara menggunakan ilmu meringankan tubuh dan melompat-lompat dengan ringan.


Bebatuan yang curam itu membentuk bukit yang lumayan tinggi. Hanya ada beberapa pohon pinus yang bisa tumbuh di bukit itu karena kurangnya tempat untuk akar dapat merambat.


“Mantingan.” Bidadari Sungai Utara terdengar memanggilnya, Mantingan tidak menoleh tetapi memberi isyarat bahwa dirinya akan mendengarkan. “Mengapa kau tidak berhenti saja dari dunia kependekar?”


Mendengar itu, Mantingan menghela napas panjang. Bukan suatu hal yang mudah untuk dapat keluar dari dunia persilatan dan berhenti menjadi pendekar. Seharusnya Bidadari Sungai Utara tahu tentang itu. Pendekar yang sudah terlanjur berkecimpung di dalam dunia persilatan akan sangat sulit keluar dari cengkeraman urusan di dunia itu. Bagaikan setelah menjadi pendekar, seseorang tidak dapat melepaskan diri dari rantai yang mengikatnya. Maka dari itu, seseorang harus memikirkan matang-matang keputusannya untuk menjadi pendekar.


Kini Mantingan sudah terlanjur berkecimpung di dunia persilatan, banyak musuh yang kemungkinan besar masih mencarinya. Seperti Penginapan Tanah yang sepertinya tidak melepas api dendam setelah Mantingan membunuh anggota-anggota mereka dalam peperangan. Perbuatan Mantingan itu sama saja mempermalukan Penginapan Tanah. Terlebih masih ada Perguruan Getih Asin yang mungkin saja masih memburunya.


Terlebih pula, Mantingan masih membutuhkan kekuatan seorang pendekar untuk melindungi diri sendiri dalam pengembaraan menemukan Kembangmas. Tentu ia tidak lupa tujuan yang sebenarnya. Kembangmas tetap harus ditemukan, cepat atau lambat. Setelah Kembangmas ditemukan, barulah saat itu secara perlahan Mantingan melepaskan diri dari keterikatannya dengan dunia persilatan.


“Itu tidak mudah.”


Bidadari Sungai Utara belum merasa puas dengan jawaban dari Mantingan itu. “Mantingan, aku sudah menceritakan padamu banyak hal tentang diriku. Mengapa kau tidak menceritakan tentang dirimu juga? Tentang mengapa kau bisa sampai di Penginapan Purnama Merah, dan tentang alasan mengapa dirimu harus pergi ke utara? Ceritakan juga padaku tentang pengembaraanmu sebelum bertemu denganku.”


Mantingan berhenti di salah satu batuan yang menukik ke atas. Di sana angin berembus cukup kuat, mengibarkan rambut dan pakaian Mantingan selayaknya bendera. Mantingan menoleh ke arah Bidadari Sungai Utara yang masih terus berusaha mendaki bukit.


Lalu ia berkata, “Saudari Sungai Utara, lebih baik engkau tidak mengetahuinya.”


“Kalau kau memiliki masa lalu yang buruk untuk diceritakan, aku tidak mengapa mendengarkannya.” Bidadari Sungai Utara berkata santai. “Itu bukan masalah.”

__ADS_1


“Aku bercerita pun tidak ada gunanya dalam perjalanan kita ini.” Mantingan melompat dari batu yang ia pijak itu, melayang ke bongkahan batu besar lainnya.


“Setidaknya perjalanan ini tidak akan membosankan, cerita tentang petualangan pastinya tidak membosankan. Apalagi yang aku dengarkan adalah kisah nyata, kisah tentang dirimu, Mantingan."


“Semakin sedikit kau mengetahuinya,” kata Mantingan dengan senyum lebar menghiasi wajahnya. “Maka semakin baik.”


Bidadari Sungai Utara berdecak kesal. “Memangnya apa yang salah dengan dirimu?”


“Ada sesuatu tentang diriku yang hendaknya tidak perlu kau ketahui.”


“Memangnya kenapa?”


“Itu juga termasuk ke dalamnya.”


Jalanan mulai menurun, namun masih berbatu. Angin masih berembus sedikit kencang. Dalam ketinggian seperti ini, Mantingan memanfaatkan situasi dengan melihat ke seluruh penjuru langit tanpa terhalang oleh pepohonan. Mantingan mengencangkan rahang wajahnya ketika melihat penjuru langit sebelah barat hitam-kelabu. Tanda akan turun hujan. Bahkan dalam beberapa kesempatan Mantingan dapat melihat kilauan petir di sana. Bukan hal yang cukup baik.


Bidadari Sungai Utara juga melihat gumpalan awan hitam di langit sebelah barat itu. Langsung saja sikap dasarnya membuat tubuh menggigil ngeri. Sikap dasar yang sering cemas dan takut berlebihan. Hujan tidak akan membunuhnya hanya dengan satu guyuran saja, bahkan badai sekalipun akan sangat sulit membunuh seorang pendekar seperti dirinya.


Awalnya, tidak ada yang Mantingan khawatirkan jika hujan datang membawa badai sekalipun, selain bajunya yang basah tak ada lagi yang perlu dikhawatirkan. Namun, kini Mantingan memiliki sedikit kekhawatiran mengingat sifat terlalu manja dari Bidadari Sungai Utara pasti akan membuat hujan kecil terasa seperti badai besar.


“Mantingan, apakah kita perlu kembali ke rumah Nenek Genih?”

__ADS_1


Mantingan sudah menebak ucapan yang akan keluar dari mulut Bidadari Sungai Utara selalu seperti itu. Tanpa perlu terkejut lagi, Mantingan menggeleng sekaligus mengatakan, “Rumah Nenek Genih sudah jauh, tidak mungkin kita kembali.”


“Tapi, bagaimana jika badai ....”


“Saudari, kau pasti bisa menghadapi ketakutanmu ini.” Mantingan tiba-tiba menunjukkan senyum hangatnya. “Hujan kecil tidak akan membuat kita sakit.”


Bidadari Sungai Utara ingin mengucap sesuatu, tetapi ucapannya itu tidak pernah tersampaikan. Hanya tercekat sampai tenggorokannya saja, tidak lebih. Bidadari Sungai Utara memahami apa yang ia harus hadapi: ketakutannya yang berlebihan.


Kalau dipikir-pikir lagi olehnya, ia sendiri memang takut pada hujan deras di tengah hutan sepi yang seolah tidak berujung. Di tengah hutan, jarang sekali nampak keberadaan manusia yang bisa menolong mereka jika terjadi sesuatu. Tak jarang juga ada pohon yang tumbang di kala hujan deras, sedikit saja kelengahan akan membunuhnya.


Akan tetapi, Bidadari Sungai Utara merasa perlu melawan semua ketakutannya. Hanya ada sedikit kemungkinan semua peristiwa itu dapat terjadi.


Perjalanan baru bisa dikatakan sebagai perjalanan yang berbahaya jika di dalam perjalanannya sering menemukan marabahaya mengancam jiwa, yang besar kemungkinannya akan membunuh seseorang. Itulah baru diibaratkan perjalanan berbahaya.


Jika diibaratkan sebagai sebuah dadu, tiga dari enam permukaan adalah tanda kematian. Dengan kata lain, tiga dari enam kemungkinan adalah kematian. Barulah itu dapat disebut sebagai perjalanan berbahaya.


Perjalanan yang sangat berbahaya adalah lima dari enam permukaan adalah tanda kematian. Lima dari enam kemungkinan adalah kematian. Di mana perjalanan itu penuh dengan marabahaya, yang tak jarang menuntut pengorbanan.


Tetapi yang mereka hadapi saat ini hanya satu dari enam permukaan yang bertanda kematian. Sama sekali kecil kemungkinan mereka akan mati di tempat ini. Ketakutan Bidadari Sungai Utara sangat berlebihan, beruntung gadis itu menyadari kesalahannya.


Bidadari Sungai Utara mengangguk mantap. Mantingan turut mengangguk, tersenyum senang. Mereka kembali melanjutkan perjalanan, menuruni medan jalan yang sedikit curam ke bawah. Sedangkan itu, awan hitam-kelabu dari barat terus bergerak ke arah timur.

__ADS_1


Selama di perjalanan itu, Mantingan dan Bidadari Sungai Utara beberapa kali bersinggungan dengan rusa hutan yang masih mencari tempat untuk berlindung dari hujan. Tatapan Bidadari Sungai Utara melihat rusa itu dengan tetapan penuh harap.


__ADS_2