
SETELAH MEMBAYAR biaya sarapan dan penginapan, Mantingan beserta rombongannya melanjutkan perjalanan. Mereka tidak berlama-lama lagi, sebab betapa pun kedai merupakan tempat yang paling sering dikunjungi para pendekar telaga persilatan.
Kuda kembali melaju secepat angin seolah tiada seekor pun dari mereka yang mengenal lelah sedikitpun.
Meninggalkan wilayah Gunung Manik, mereka sampai di wilayah Giri. Melewati jalur yang melintasi lembah-lembah perbukitan. Menyusuri jalan berlumpur yang berdekatan dengan rawa-rawa. Melintasi setapak jalan di tengah hamparan sawah luas. Menyeberangi sungai dengan jasa pendayung rakit.
Bergerak dari arah Giri, kini mereka berada di sebelah selatan Bumi Sagandu; atau lebih tepatnya, mereka sedang beristirahat di dalam sebuah kedai kecil di puncak bukit.
Dari kedai itu, mereka dapat melihat hamparan pemandangan yang keindahannya seolah tiada tara. Pegunungan hijau terlihat jauh di ujung barat sana, beberapa terlihat di ujung timur. Perbukitan yang naik-turun mengisi daratan kosong, dan jalanan melintas di antara lembah-lembahnya menuju ke dua arah: utara dan selatan.
Mereka berada di atas serambi kedai. Menikmati makan siang sambil minum minuman segar. Pemilik kedainya sangat baik hati dan tidak perhitungan, sehingga mereka diberikan minuman secara cuma-cuma.
Kuda-kuda terlihat tertambat di kaki bukit. Kuda-kuda itu tidak mungkin jika dibawa naik sampai ke kedai yang berada di puncak bukit sebab jalanan bersebelahan dengan jurang dan ukurannya terlalu kecil untuk kaki-kaki kuda. Kendati demikian, telah disediakan pancang untuk menambatkan hewan-hewan ternak bagi para pelanggan—yang biasanya merupakan gembala kelelahan—yang hendak berkunjung ke kedai makan di puncak bukit itu.
Ketika Mantingan baru saja selesai menyantap hidangan makan siangnya, seorang pendekar Pasukan Topeng Putih menghampiri dan menyapanya.
“Selamat pagi, Saudara Man. Daku ingin melapor.”
“Selamat pagi, Saudara,” balas Mantingan menyapa pula. Ia lalu menunjuk sebuah kursi kosong di sisi lain mejanya. “Duduklah di sana.”
“Terima kasih, Saudara.” Pendekar itu lekas menduduki kursi yang Mantingan tunjukkan untuknya. “Saudara, daku mendapat laporan dari telik sandi Perguruan Angin Putih yang kebetulan melewati jalur ini. Jika Saudara melihat, maka tadi kami bertemu di kaki bukit.”
Mantingan menganggukkan kepalanya. Dirinya memang melihat pendekar itu bercakap-cakap dengan seorang penunggang kuda di kaki bukit. Namun ia tidak mengira bahwa penunggang itu merupakan telik sandi karena orang itu sama sekali tidak menyoren pedang atau berpenampilan seperti orang-orang di rimba persilatan.
__ADS_1
Mantingan kemudian membuka suara. “Apakah laporan yang telah engkau terima, Saudara?”
Tanpa berbasa-basi lagi, pendekar itu segera memaparkan, “Laut di sebelah utara Bumi Sagandu sedang tidak aman, Saudara. Belakangan ini, para telik sandi yang sedang meronda di laut melihat peningkatan lalu-lalang kapal penyamun di wilayah itu. Ini adalah kabar buruk, Saudara, sebab sepertinya kita harus menunda keberangkatan.”
“Apakah rencana kita sudah terbaca musuh?”
Pendekar itu menggeleng pelan. “Kemungkinan besar mereka telah membaca rencana kita sangatlah kecil, Saudara. Sebab kita tidak membuat begitu banyak pergerakan di wilayah pelabuhan. Mereka tidak memiliki alasan untuk curiga pada kita.”
Mantingan mengerti. Jika perjalanan tidak ditunda hingga akhirnya seluruh rencana terbaca musuh, seluruh rencana penyergapan berkemungkinan besar akan hancur berantakan.
“Sampai kapankah pelayaran harus ditunda, Saudara?”
“Tidak ada yang mengetahuinya secara pasti bahkan Ketua Rama sekalipun, tetapi kemungkinannya adalah satu-dua pekan. Tidak begitu lama, sebab kapal perang musuh tidak akan berani bergerak dalam rombongan yang besar. Mereka selalu bergerak hanya dengan dua-tiga kapal dalam satu rombongannya, dengan cara seperti itu mereka dapat mengurangi kerugian jika terserang.”
Mantingan menganggukkan kepalanya. Sebenarnya, kabar itu tidaklah terlalu buruk. Menunggu satu-dua pekan, bukanlah masalah.
Mantingan mengerti bahwa memang tidak berlebihan jika pendekar di depannya itu menyampaikan kepadanya kabar seperti ini yang—yang sebenar-benarnyalah tak terdengar penting sama sekali. Sebab betapa pun, dalam sebuah perjalanan penuh kerahasiaan, penundaan barang sehari saja dapat mengubah segala-galanya. Lantas bagaimanakah dengan pelayaran Bidadari Sungai Utara yang dapat ditunda hingga paling lama dua pekan?
Setelah pendekar di hadapannya itu pergi, Mantingan mulai menyusun rencana untuk kedepannya, dengan mempertimbangkan segala kemungkinan yang dapat menimpa rombongannya. Siang itu, ia tidak bisa minum teh dengan tenang.
Namun betapa pun setelah Mantingan berpikir, perjalanan harus tetap dilanjutkan, sebab malam tidak akan menunggu Mantingan selesai berpikir. Siang ini, sebelum senjakala datang, mereka sudah harus pergi. Kuda kembali melaju di atas jalanan. Menyibak debu yang terbias matahari petang. Membelah udara kering di musim kemarau itu.
Malam nanti, mereka tidak berniat untuk singgah atau menginap. Pemilik kedai yang mereka kunjungi tadi telah memberitahu Mantingan bahwa wilayah Bumi Sagandu lebih aman dilewati justru ketika malam telah tiba. Mantingan telah mempercayai pemilik kedai yang baik hati itu, sehingga dirinya meminta rombongan untuk terus bergerak di malam hari dan baru akan beristirahat setelah matahari timbul.
__ADS_1
Namun, Mantingan lupa menanyakan alasan mengapa malam justru lebih aman ketimbang pagi dan siang pada pemilik kedai itu. Sekalipun ia mengingatnya, Mantingan tidak akan sampai hati mencurigai pak tua ringkih yang sangat ramah itu. Tetapi sayang seribu sayang, Mantingan masih pula tidak menyadari hal ini hingga sekarang.
Dapatkah Mantingan dikatakan telah begitu lengahnya sehingga tidak menyadari bahaya yang begitu mengancam rombongannya saat ini, sedangkan hampir seluruh pikirannya dipakai untuk menyusun segala rencana perjalanan untuk kedepannya?
Dapatkah Mantingan sempat memikirkan bahaya nyata yang tengah mengancamnya sedang ia hanya memikirkan bahaya tidak nyata yang sama sekali belum dihadapinya?
Kali ini Mantingan melakukan sebuah kesalahan, dan sayangnya ia sama sekali tidak menyadari hal itu hingga sekarang.
Di balik keremangan senjakala, pasang-pasang mata penuh nafsu menatapnya sambil menjilat bibir.
***
KETIKA petang tiba di penghujung, dan malam agaknya sebentar lagi akan menggantikannya, ketika itulah Mantingan merasakan sesuatu yang mengancam dari arah belakangnya.
Saat merasakannya, Mantingan langsung melirik ke belakang. Tetapi sungguh, tidak ada sesuatu yang kelihatannya membahayakan. Hanya pepohonan yang menghintam akibat keremangan senja.
Tentu saja Mantingan tidak cukup bodoh untuk tidak menyadari bahwa telah ada sesuatu yang aneh di sekelilingnya. Perasaan ini bukanlah berasal makhluk halus atau siluman menyeramkan. Bukan pula dari hewan buas. Ini adalah perasaan mengancam yang berasal dari manusia!
Mantingan kemudian melirik Bidadari Sungai Utara, Kana, dan kesepuluh pendekar dari Pasukan Topeng Putih. Dilihatnya, tidak satupun dari mereka merasakan hal yang sama seperti yang ia rasakan saat ini. Perasan mengancam, mereka tidak merasakan itu.
Maka Mantingan pun membiarkannya saja, setidaknya untuk saat ini. Sebab ancaman bahaya itu mungkin saja dapat dilalui dengan terus memacu kuda, dan justru akan menghampiri jika mereka berhenti memacu di sini.
Namun semakin lama, ancaman bahaya yang Mantingan rasakan kian kentara. Dapatkah yang lain merasakannya juga? Mantingan lihat, mereka masih tidak merasakannya; sama sekali tidak ada tampang kekhawatiran pada raut wajah mereka.
__ADS_1
Perlukah Mantingan memberitahu mereka yang tentunya justru akan membuat mereka buncah dan ketakutan?