
Setitik harapan muncul bersamaan dengan bergetarnya cincin pemberian Arkawidya ketika mentari fajar menyentuhnya.
Perlahan cincin itu bercahaya putih terang. Butiran-butiran cahaya putih mengalir dari jari Mantingan, melewati lengannya, bermuara pada jantungnya.
Tubuh Mantingan seakan dirombak habis-habisan. Tulang-tulangnya berderak, mematahkan seluruhnya, lalu disambungkan lagi dalam sekejap mata. Tulang tengkorak yang pecah itu kembali merapat, tidak ada lagi keretakan. Syaraf-syaraf di otak Mantingan yang terputus kembali tersambung.
Luka tusuk di dadanya menutup, begitu juga dengan organ dalam yang pulih.
Saat cincin pemberian Arkawidya itu meledak, Mantingan dibangkitkan. Ia seperti baru saja terbangun dari mimpi buruk. Dadanya naik turun tidak keruan, tubuhnya mengucurkan keringat deras.
Mantingan bangun dari tidurnya. Perutnya tiba-tiba bergejolak, sampai akhirnya pemuda itu memuntahkan sesuatu dari mulutnya. Darah hitam.
Tidak hanya itu, keringat Mantingan juga berupa cairan lengket kehitaman.
Mantingan tidak sempat memikirkan tentang cairan berwarna hitam itu. Ia sangat heran, ingatannya menyatakan bahwa dirinya telah mati tadi malam!
Tapi lihatlah sekarang, Mantingan masih dapat membuka matanya dan bernapas. Tidak mungkin ini surga atau neraka, nyatanya pemuda itu melihat abu sisa bakaran bangunan-bangunan di perkemahannya.
Jelas dirinya hidup kembali. Tapi siapakah yang menghidupkan dirinya?
Mantingan teringat bagaimana ia merasakan sesuatu meledak di jarinya. Langsung saja Mantingan mengangkat tangan kanannya, terkejut dirinya saat tidak melihat cincin Arkawidya lagi di jarinya itu.
Mantingan juga merasakan, bagaimana jarinya itu masih mengalirkan sisa-sisa tenaga ke jantungnya.
__ADS_1
Tak perlu banyak pikir lagi bagi Mantingan untuk menyadari apa yang telah terjadi.
Sedari awal ia sudah menebak, bahwa cincin yang diberikan oleh Arkawidya bukanlah cincin biasa. Tebakan itu terbukti benar adanya, cincin Arkawidya telah menyelamatkan nyawanya, mengembalikan hidupnya.
Cincin ini diberikan sebagai ungkapan terima kasih, tetapi lihatlah seberapa berharganya cincin tersebut. Arkawidya telah membuktikan sendiri bagaimana caranya berterimakasih. Tetapi Mantingan masih merasa ini terlalu berharga.
Jika saja cincin tersebut masih dimiliki oleh Arkawidya, bukankah nyawa wanita itu tidak jadi melayang? Cincin ajaib itu diberikan pada Mantingan, agar dapat menyelamatkan hidup pemuda itu sewaktu-waktu.
Mantingan sebenarnya masih dilanda kebingungan, tapi saat ia mengingat betapa Arkawidya telah banyak berkorban untuknya, diam-diam ia berterimakasih pada perempuan itu. Tetapi dalam hal ini, berterimakasih dengan ucapan saja tidaklah cukup.
Mantingan bertekad tidak akan menyia-nyiakan hidupnya lagi.
Ia akan melanjutkan jalan ceritanya. Meskipun itu berarti dirinya harus membunuh. Mantingan tidak akan menerima tantangan bertarung jika itu tidak benar-benar bermanfaat. Mantingan tidak akan membunuh jika nyawanya atau nyawa orang tersayangnya benar-benar terancam. Dan jika nanti dirinya membunuh, tidak ada penyesalan dalam dirinya.
Mantingan tidak memilih jalannya hidupnya menjadi warga biasa, ia ingin menjadi orang luar biasa. Kisahnya akan terus dilanjutkan. Semesta telah memberinya kesempatan kedua untuk memperbaiki kesalahannya.
Mantingan bangkit berdiri dan menyebarkan pandang. Semua bangunan di perkemahannya telah berubah menjadi abu dan rata dengan tanah. Hampir tidak ada yang tersisa kecuali puing-puing. Tanaman-tanamannya yang berisi bunga mahal itu habis terbakar. Gudang penyimpanannya terbakar beserta isi-isinya.
Diri Mantingan saat ini tidaklah diliput kemarahan maupun kekecewaan. Ia menganggap semua ini adalah keberuntungan. Ia telah disadarkan, tentang betapa tidak bersyukurnya dia. Biarlah ia kehilangan bunga-bunganya yang berharga, sekalipun juga uangnya tidak masalah. Lagi pula, ia tidak berniat lagi membangun perkemahan di sini. Dirinya akan melanjutkan petualangan, menjadi seorang pengembara sejati dan pendekar bermanfaat.
Di dalam tendanya, Mantingan menemukan bundelannya masih utuh tanpa hangus sedikitpun, begitu juga dengan pakaian lamanya. Barang-barang yang diberikan Kenanga memang memiliki bahan yang tahan api, entah apa nama bahan tersebut.
Barang-barang di dalam bundelan Mantingan masih utuh, termasuk dengan dua puluh bongkahan batu itu, peta dan seratusan keping emas. Pedang Kiai Kedai juga masih terselamatkan, walau sepertinya sarung pedang hitam itu harus diganti dengan yang baru.
__ADS_1
Mantingan mengangkat pandangan. Matanya menatap tajam, seolah api telah membara di dalam matanya yang jernih itu. Kakinya akan melangkah terus ke barat, menuju Suvarnadvipa, tempat di mana Kembangmas terakhir dijumpai.
Dan bicara-bicara soal tujuannya, Mantingan tetap pada tujuan lama. Menemukan Kembangmas tetaplah menjadi tujuannya. Karena harapan Kenanga adalah harapan dirinya.
Perlu diingat saat Mantingan berkelana bebas seperti ini, Kenanga justru terkurung tanpa bisa ke mana-mana di dunianya. Mantingan telah berjanji pada gadis itu sebelumnya, bahwa ia akan bertaruh nyawa demi kebebasan dirinya.
Mantingan lalu tersadar bahwa tadi ia memuntahkan darah hitam, juga mengeluarkan keringat lengket berwarna hitam. Pemuda itu tahu betul bahwa sesuatu yang hitam jika keluar dari tubuh tidaklah baik. Terlebih hal ini biasa dialami sejumlah pendekar yang berhasil mengeluarkan racun dari tubuhnya.
Mantingan menduga kalau pedang yang digunakan untuk menyerangnya itu telah dilapisi racun. Racun tersebut berhasil dikeluarkan berkat kekuatan dari cincin Arkawidya. Cairan hitam yang dikeluarkan oleh tubuhnya itu tetap berbahaya, Mantingan harus membersihkan tubuhnya sesegera mungkin.
Jadilah saat itu Mantingan pergi ke tepi sungai kecil di dekat perkemahannya untuk membersihkan diri.
Rakit di tepi sungai itu tidak luput dari serangan, turut dibakar tanpa ampun. Mantingan langsung saja menceburkan dirinya ke dalam sungai. Butuh waktu lama serta penanganan khusus sampai cairan yang melekat di tubuhnya itu benar-benar bersih.
Setelah memastikan tubuhnya telah bersih dari racun, Mantingan keluar dari sungai. Baju yang Mantingan pakai sebelumnya juga harus dibuang di tempat yang aman agar tidak membahayakan orang lain. Mantingan kembali dan berganti baju dengan baju yang ada di bundelannya.
Dalam kondisi tubuh yang telah segar itu, Mantingan berniat mengambil beberapa barang yang mungkin bisa diselamatkan, hasilnya tidak ada yang ia dapatkan. Mantingan mengembuskan napas panjang sebelum memutuskan untuk memulai perjalanannya.
Tetapi sebelum itu, Mantingan lebih dulu menyiapkan pesan-pesan jika nanti Seta datang untuk membeli bunga hasil panen Mantingan. Di pesan yang tertulis di atas lontar itu berisi apa yang perlu disampaikan saja, bahwa dirinya akan meneruskan perjalanannya ke Suvarnadvipa.
Disoren pedang di pinggangnya, diikatkan bundelan di punggungnya. Mantingan mengangguk mantap sebelum mulai melangkahkan kakinya keluar perkemahan.
Beberapa monyet dan hewan hutan menatap kepergian Mantingan dengan tatapan yang sulit diartikan. Memangnya siapa yang cukup pandai mengartikan arti pandangan hewan sebenarnya? Tetapi dapat dirasakan bagaimana mereka tidak terlalu merelakan kepergian Mantingan. Bagi mereka, Mantingan adalah satu-satunya manusia yang masih memiliki kasih sayang pada hewan dan lingkungan sekitarnya sehingga kepergiannya cukup disesalkan. Entah sudah berapa kali Mantingan memberi makan burung tanpa menambah jebakan sama sekali, entah sudah berapa kali Mantingan memberi kacang-kacangan pada tupai, memberi buah pada musang, beberapa bunga berkualitas bagus untuk rusa. Semua itu Mantingan berikan dengan senyuman hangat, sehangat mentari pagi—bersinar tanpa menuntut balasan
__ADS_1