
“Jangan melamun, Kawan!”
DARI atas sana, Gema Samudradvipa kembali berseru. Tampak sekali kerisauan dari raut wajahnya.
“Maafkan daku, Kawan!” Mantingan balas berseru sambil melambai-lambaikan tangannya ke atas. “Lanjutkanlah! Daku akan menjauh.”
“Ambillah jarak yang cukup jauh dan janganlah melamun sedikitpun.” Gema kembali mengangkat pedangnya, bersiap menebas batang kayu ulin lagi. “Berapa depa lagi panjang kayu yang harus kutebas, Kawan?”
Mantingan mulai memperkirakan berapa jumlah kayu yang sekiranya dibutuhkan. Jumlahnya harus mencukupi kebutuhan dirinya sendiri dan pula kebutuhan Gema.
“Daku mungkin hanya mengambil sepanjang dua depa saja, Kawan. Tetapi maafkanlah, daku sungguh tidak mengetahui berapa banyak kayu yang dikau butuhkan saat ini.” Mantingan kemudian berkata sesuai dengan hasil perkiraannya, bahwa memang tidak diperlukan terlalu banyak kayu untuk membuat sebuah Golek Jiwa dengan ukuran setengah depa. Namun, dirinya tidak berani memperkirakan berapa banyak kayu yang dibutuhkan oleh kawannya itu.
“Baiklah! Jikalau begitu, akan kutebas sekitar tiga depa lagi,” kata Gema, “daku hanya menuruti pesanan orang; dua depa kayu ulin.”
Sambil mulai menebas dan menjatuhkan kayu-kayu ulin ke bawah, Gema bercerita bahwa dirinya ingin mempelajari sebuah ilmu persilatan yang menuntutnya untuk berpuasa serta membeli beberapa bahan sihir yang harganya cukup tinggi. Gema memilih bekerja serabutan asalkan tidak menjadi pendekar bayaran, dan pada hari inilah dirinya mendapat pesanan kayu ulin dari orang di kota.
“Meski hasil yang kudapat tidaklah sebanyak hasil seorang pendekar bayaran, tetapi biarlah. Sebab kuingat sebuah pepatah yang hingga kini kujadikan panutan: ‘sedikit-sedikit lama-lama menjadi gunung’.”
Gema menebaskan pedangnya. Sebatang kayu melayang jatuh dengan kecepatan yang sangat lambat jika dibandingkan dengan kecepatan mata seorang pendekar. Kemudian mencium permukaan tanah. Berdebum, menghamburkan butiran-butiran tanah dan batu. Sebelum diam, bergeming, bagai tiada merasakan sakit meski setelah ditebas dan terjun jatuh dari ketinggian.
Dapatkah dikatakan bahwa tetumbuhan merupakan satu-satunya makhluk yang tiada memiliki rasa sakit barang sedikitpun?
Namun, bagaimanakah jikalau nyatanya tetumbuhan juga memiliki rasa sakit seperti halnya makhluk-makhluk lain? Apakah mereka akan meringis, berteriak keras, atau bahkan marah untuk menyuarakan rasa sakit mereka?
Meski tidak diketahui apakah tetumbuhan memiliki rasa sakit atau tidak, tetapi telah betul-betul diketahui bahwa tetumbuhan tidak memiliki mulut untuk menyuarakan apa pun yang sedang mereka rasakan.
Mantingan kemudian teringat betapa banyaknya batang pohon yang ditebang untuk membangun perkotaan ataupun perdesaan. Belum lagi banyaknya batang pohon terbakar akibat pembukaan lahan yang cepat. Siapakah kiranya yang akan menjadi mulut pengganti untuk menyampaikan rasa sakit mereka? Apakah mesti menunggu hingga alam mewakilkan pepohonan dengan bencananya yang seringkali diumpati manusia?
“Itu yang terakhir!” Gema memecah perenungan Mantingan, tampak pria itu mulai bergerak menuruni pohon dengan merosot begitu saja pada batang bundar yang teramat sangat mulus.
__ADS_1
Maka Mantingan tidak menunggu lebih lama lagi, segera bergerak mengumpulkan batang-batang kayu ulin yang terjerembab di tanah.
***
“Daku mendapat laporan dari suruhan Chitra Anggini, Kiai.” Rama meletakkan cangkir tehnya dia atas meja dengan tenang dan penuh penghayatan, hingga tidak sedikitpun air teh di dalam cangkir itu bergoyang. “Dia telah sampai di Suvarnabhumi. Menyamar menjadi seorang pendekar bayaran yang menyamar lagi menjadi wanita wayang.”
“Penyamaran berlapis penyamaran. Penyamaran di atas penyamaran” Kiai Kedai menimpali. “Dia benar-benar dilatih menjadi pendekar aliran hitam oleh si kempot itu.”
Rama terbatuk-batuk pelan. “Kedai, bisakah kita tidak membahas pendekar tua bernama Anggini itu untuk satu hari saja?”
“Daku mulai menyesal tidak menikah sewaktu muda, Rama.” Kiai Kedai mengembuskan napas panjang, sedangkan Rama memijat kepalanya. “Semoga saja Mantingan tidak mengikuti jejakku.”
“Kedai, kesampingkanlah segala perkara tentang—”
“Tentang cinta maksudmu, heh?” Kiai Kedai memotong tajam, membuat Rama kembali memijat kepalanya yang mulai terasa pening. “Dikau sudah menikah, Rama, bahkan sudah punya anak pula. Dikau tidak akan pernah merasakan apa yang diriku rasakan.”
“Dikau masih belum terlambat untuk menikah, Kedai.” Rama membetulkan letak duduknya sebelum berkata dengan lebih bersungguh-sungguh, “pikirkan tentang Chitra Anggini, Kedai. Kurasa dirinya membutuhkan salah satu dari kita untuk membantunya. Dikau adalah guru dari Mantingan, Kedai, maka dikau yang sekiranya paling pantas untuk membantu Chitra.”
“Kedai, membantu Chitra Anggini sama saja dengan membantu Mantingan.”
Kiai Kedai menggelengkan kepala sambil memejamkan mata. Tidak mau tahu. “Jangan campuri urusan muda-mudi.”
Rama terdiam sejenak. Betapa dirinya mengetahui bahwa Kiai Kedai telah bersungguh-sungguh dengan perkataannya. Namun betapa pula dirinya merasa tidak bisa membiarkan Mantingan—murid terbaik Perguruan Angin Putih itu—dalam bahaya tanpa memberi sokongan yang sekiranya cukup berarti.
Namun sebelum Rama membantah, Kiai Kedai telah lebih dahulu buka suara.
“Bukankah hidup hanyalah perkara tentang mengambil pelajaran sebanyak-banyaknya, Rama?”
Rama menganggukkan kepalanya pelan.
__ADS_1
“Bagaimanakah kiranya muda-mudi dapat mengambil pelajaran sebanyak-banyaknya jikalau kita sebagai tua-tui selalu memanjakan mereka?”
“Mantingan tidak akan bisa belajar jika dia mati, Kedai.”
“Maka di situlah hidupnya telah paripurna.” Kiai Kedai menarik napas panjang sambil tersenyum lebar. “Itulah yang sekarang ada dalam dunia persilatan. Seseorang diwajibkan mencari pelajaran sebanyak-banyaknya selama hidup, dan kewajibannya itu baru akan sempurna setelah dirinya mati. Tetapi dalam dunia persilatan, seseorang baru akan sempurna setelah mati di tangan lawan, sebab pertarungan yang telah sampai ambang kematian adalah pertarungan yang sebenar-benarnya pertarungan, yang sungguh baru akan dirasakan seorang pendekar sesaat sebelum dirinya mati di tangan musuh sehingga tidak pernah terbahasakan.”
Rama menghela napas panjang dan hanya bisa mengangguk pelan. Kemudian dia menoleh ke samping kanan. Menghadap permukaan danau yang mulai menjingga diterpa lembayung senjakala. Kiranya apa yang dikatakan Kiai Kedai memanglah merupakan suatu kebenaran.
“Tetapi jika Mantingan kembali ke Javadvipa, maka jagalah dia, Rama.” Kiai Kedai memecah keheningan yang tercipta ketika tiada satupun yang berbicara.
Rama beralih menatap wajah sepuh Kiai Kedai dengan dahi berkerut bingung.
“Daku akan meninggalkan Dwipantara untuk sementara waktu.”
“Ke manakah kali ini dikau akan mengajak jalan-jalan bundelanmu itu, Kedai?” tanya Rama sesaat setelah dirinya mengetahui bahwa Kiai Kedai akan pergi mengembara. Memang sudah terlalu biasa Kiai Kedai meninggalkan Javadvipa.
“Ke Champa.” Kiai Kedai melebarkan senyum. “Daku harus memastikan pernikahan Bidadari Sungai Utara, demi menjaga kesejahteraan Javadvipa.”
Rama terdiam sejenak karena belum mengerti betul semua yang dikatakan Kiai Kedai. “Mengapakah demi kesejahteraan Javadvipa?”
Kiai Kedai tersenyum lebar sambil menjelaskan, “Betapa pun, cinta gadis itu telah dan masih jua tersangkut pada diri Mantingan seorang. Jika tidak benar-benar dijaga olehku, dia akan kembali ke Javadvipa dan mencari Mantingan sampai dapat, dan dikau pastinya mengetahui bahwa hal itu dapat kembali memicu kekacauan yang lebih besar di Tarumanagara bahkan pula di Suvarnabhumi.”
Rama tercekat barang sesaat. “Apa yang dikau katakan itu memanglah benar, tetapi ... Kedai, dikau mengkhianati murid sendiri.”
Kiai Kedai tertawa lepas. “Sedaripada Javadvipa kembali kacau balau, daku lebih merelakan muridku yang satu-satunya itu putus cinta.”
____
catatan:
__ADS_1
SBDS telah update!