
“Bapak Pendekar, ketahuilah bahwa daku tidak akan segan-segan lagi jikalau Bapak sampai menyentuhn perempuan itu. Sekarang, katakan di mana dia!”
PENDEKAR TONGKAT BADAI tertawa keras. Kali ini tawanya tidak lagi terdengar ramah. Tawaan cabul. Mantingan mengalirkan tenaga dalam yang jumlahnya bukan sedikit ke telinganya. Jelas ia mengetahui bahwa gelegar tawa itu bukanlah tawa biasa.
“Diriku tidak pernah mengalami penghinaan seperti ini sebelumnya,” kata pendekar tua itu setelah berhenti tertawa. “Tetapi akhirnya, dikau membuatku mencicipi rasa kehinaan ini. Sungguh terlalu, padahal diriku tidak ingin mencicipinya. Dikau tahu apa yang akan didapatkan setelah melakukan semua ini?”
Mantingan menahan gejolak amarahnya. Dirinya memilih untuk tidak membayangkan keadaan Bidadari Sungai Utara. Sebab hal itu dapat memancingnya untuk bertindak secara gegabah. Pemuda itu merasa harus tetap tenang, meskipun dalam keadaan terburuk sekalipun. Maka berkatalah ia tanpa kemarahan, “Diriku tidak mengerti jalan pikirmu, Bapak. Menurutku, Bapak tidak sedang dalam kedudukan yang menguntungkan. Bapak mengetahui bahwa diriku bisa membaca pertanda, bukan?”
“Jelas diriku mengetahui hal itu, Anak. Engkau telah bertindak curang pada pria tua sepertiku ini. Dasar biadab tidak tahu malu.”
“Daku tidak akan menyurutkan langkah barang sejengkal saja, Bapak. Jadi, mengapakah Bapak tidak melepaskan Bidadari Sungai Utara sebelum diriku berubah pikiran?”
“Mengapakah orang tua sepertiku ini harus menuruti permintaan celeng ingusan sepertimu?”
Mantingan tersenyum dingin. “Ketahuilah sekali lagi, Bapak tidak sedang dalam kedudukan yang menguntungkan. Agaknya nasib tidak sedang memihaki Bapak. Daku sudah berusaha sopan dengan menawarkan kedamaian, yang mana penawaran itu lebih menguntungkan Bapak ketimbang diriku sendiri.”
Pendekar Tongkat Badai tertawa pelan sambil mengelus janggut panjangnya. “Lebih menguntungkan lagi jika diriku mendapatkan perawan secantik Bidadari Sungai Utara.”
“Bapak tidak perlu repot-repot menculik Bidadari Sungai Utara untuk mendapat tebusan dari orang lain. Kemarikanlah perempuan itu, akan kuberikan 15.000 keping emas sebagai tebusan.”
“Hahahaha! Penawaran yang teramat sangat menggiurkan di mata banyak orang, Anak. Tetapi sama sekali tidak menggiurkan di mataku. Sampai-sampai daku ingin muntah setelah dikau mengatakan itu.” Orang tua itu mengangkat tongkatnya untuk menunjuk Mantingan. “Hai, ketahuilah! Diriku menculiknya bukan untuk mendapatkan uang tebusan. Kulihat kecantikan dara itu ... aduhai, bagaikan bidadari kahyangan turun ke bumi. Oh, sungguh tak dapat kulepaskan dirinya hanya untuk 15.000 keping emas. Dibandingkan dengan Bidadari Sungai Utara, semua uang itu akan tampak seperti recehan tidak berguna."
Mantingan menyunggingkan senyumnya lebar. Bukan senyum senang. Itu adalah senyum kemarahan. Kemarahan yang besarnya bukan alang kepalang!
__ADS_1
“Selama nyawaku masih dikandung badan, Bapak tidak akan bisa memiliki Bidadari Sungai Utara.”
“Untuk itulah diriku pergi ke tempat hina dina ini, Anak. Daku datang untuk memotong sebatang nyawamu.” Pendekar Tongkat Badai membalasnya pula dengan senyuman lebar. “Agar dapat kumiliki Bidadari Sungai Utara tanpa cacing-cacing pengacau.”
Mantingan tersenyum semakin lebar. “Lalu, bagaimanakah jika diriku lebih dahulu membunuh Bapak?”
“Anak, itu sah-sah saja. Sebab dalam sebuah pertarungan antar-pendekar, kematian sudah menjadi hal yang biasa.”
Mantingan kembali memasang kuda-kudanya. Sebelum benar-benar menyerang, dirinya berkata, “Daku menganggap ini lebih dari sekadar petarungan sesama pendekar.”
“Ya. Jikalau dikau menganggap ini bukan pertarungan sesama pendekar, maka tidak ada peraturan sungai telaga persilatan di antara kita. Orang tua ini akan memakai segala cara untuk mengalahkanmu, Anak!”
Mantingan mengentak kakinya kuat-kuat. Tubuhnya meluncur ke depan, Kiai Guru Kedai terhunus tajam. Memecah udara. Pendekar Tongkat Badai tidak sedikitpun beranjak dari kedudukannya, alih-alih justru tersenyum lebar.
Tiga kali bunga api terpercik di ruangan itu. Mantingan terseret mundur. Pedangnya bergetar. Tangannya kebas setelah menghadapi tiga serangan kejut. Mantingan mengangkat pandangannya. Tiga pendekar parobaya berdiri tak jauh di depannya. Ketiganya menatap Mantingan bengis dengan menghunus kelewang.
Mantingan kemudian menatap tajam ke arah Pendekar Tongkat Badai sebelum berkata sama tajam, “Hanya pengecut besar yang menyukai ketidakseimbangan.”
Tidak marah, pendekar tua itu justru tertawa lebar. “Inilah Tiga Pengemis dari Utara. Seandainya dikau tahu, mereka adalah tiga sekawan yang kebal aturan. Dan bukankah tadi daku sudah katakan, daku akan memakai segala cara untuk mengalahkanmu. Tak peduli dengan pertarungan seimbang, atau dengan pertarungan tidak seimbang.”
Mantingan tersenyum samar, sama seperti gerakannya yang samar-samar ketika mengeluarkan beberapa Lontar Sihir Penyerang dari dalam pundi-pundinya.
Tanpa banyak bicara lagi, Mantingan melemparkan lima lembar Lontar Sihir Penjerat Elang serta sebuah Lontar Sihir Cahaya. Enam buah lontar tersebut melesat begitu cepatnya. Pendekar Tongkat Badai dan Tiga Pengemis dari Utara hanya bisa mempersiapkan pedang untuk menangkis seluruh lontar tersebut.
__ADS_1
Namun, mereka tidak menyangka sebelumnya jika enam lontar tersebut meledak di udara. Ketika sinar terang membutakan mata.
Tetapi bagi mereka, itu bukan kekalahan.
Sebagai pendekar yang terlatih, mereka mengetahui cara untuk keluar dari gelanggang pertarungan dengan mata tertutup.
Masih menghunus kelewang, mereka melompat mundur secara serentak. Mereka jelas merasakan bahwa tubuhnya hanya bergerak beberapa langkah saja. Sesuatu telah menahan mereka.
Saat itulah, Mantingan maju menyerang. Meskipun jaring-jaring dari mantranya cukup mengganggu, setidaknya ia masih memiliki penglihatan yang jelas. Tanpa perlu berlama-lama lagi, Mantingan memerangi salah satu pendekar yang paling dekat dengannya.
Mantingan masih harus menghadapi tangkisan-tangkisan dari lawannya. Walau sebenar-benarnya, Mantingan sama sekali tidak menahan seluruh kekuatan.
Segenap kemampuan telah ia kerahkan.
Sungguh luar biasa, lawannya itu mengandalkan ilmu pendengaran tajam untuk melacak arah serangan Mantingan.
Hanya pendekar-pendekar terlatih yang dapat menangkis serangan beruntun hanya dengan memanfaatkan ilmu pendengaran dan kewaspadaannya. Tidak perlu diragukan lagi seberapa berpengalamannya Tiga Pengemis dari Utara yang Mantingan hadapi. Mungkin, sudah tidak terhitung lagi berapa banyak pertarungan yang mereka ikuti.
Namun, biar bagaimanapun, Mantingan tetap mengungguli kedudukan. Setelah menemukan sedikit celah pertahanan dari pendekar itu, Mantingan menyelipkan pedangnya ke dalam. Menghunjam jantung hingga tembus ke punggung. Setelah pedang dicabut, pendekar itu terkapar tak bernyawa.
Mantingan beralih menuju tiga lawan yang tersisa, namun melawan mereka tidak akan semudah yang diperkirakan. Imbas dari Lontar Sihir Cahaya telah menghilang, sehingga mata mereka yang buta sementara itu mendapatkan kembali penglihatannya.
Mereka melihat kawannya terkapar bersimbah darah. Sebagai pendekar ahli mereka tidak mudah terpancing amarahnya dan bertindak gegabah. Selayaknya sikap para pendekar ahli, mereka melesat menuju tempat yang sama teruntuk membentuk barisan pertahanan.
__ADS_1