Sang Musafir

Sang Musafir
Terdesak Menuju Sudut


__ADS_3

KETIKA nafsu pembunuh Mantingan telah menyebar ke seluruh ruangan, empat pendekar itu merasakan hawa dingin luar biasa menyelimuti tubuh mereka hingga gerakan pun secara tiba-tiba menjadi kaku. Tubuh mereka bagai telah dibekukan halimun gunung!


Mereka pula merasakan beban berat telah menimpa punggungnya, bagaikan tengah menggotong sebongkah batu berukuran besar yang terdapat di tepi sungai.


Bagi mereka yang telah mencapai tingkat amat tinggi dalam ilmu persilatan, nafsu pembunuh yang dikeluarkan Mantingan tidaklah sampai membuat mereka sampai sangat ketakutan setengah mati hingga tiada mampu berbuat apa-apa selain menggigil dan termenung. Akan tetapi, nafsu pembunuh itu tetap saja memberikan beban yang bukan main beratnya kepada mereka.


Mantingan terus bergerak ke atas. Aula penginapan di lantai pertama itu untungnya cukup tinggi untuk dapat membuatnya lebih leluasa berlentingan bagai belalang di ilalang.


Sedang musuh-musuhnya itu tidak dapat bergerak lebih tinggi lagi, sebab rasa beban di punggung mereka terlalu besar untuk mampu ditanggung.


Mantingan kembali mendarat ringan di atas lantai penginapan tak lama setelah empat orang musuhnya, bersamaan pula dengan berdebamnya Bidadari Sungai Utara di halaman penginapan.


Kini punggung empat pendekar dari Kelompok Pedang Intan itu membungkuk sedikit akibat tekanan nafsu pembunuh dari Mantingan. Mereka tidak dapat menggerakkan anggota badan dengan leluasa seperti biasanya, mereka merasa seperti memakai zirah besi yang teramat ketat.


Nafsu pembunuh itu merupakan alasan mengapa Mantingan mengambil tindakan dengan mengempaskan Bidadari Sungai Utara jauh-jauh dari lantai pertama penginapan. Betapa pun, nafsu pembunuh yang dikeluarkannya saat ini akan menjadi memberikan dampak panjang yang besar dan mengerikan.


Jika Bidadari Sungai Utara tidak bisa menahannya, Mantingan takut gadis itu menjadi gila, atau bahkan sampai membunuh dirinya sendiri akibat selalu merasa seperti terancam dan diawasi oleh sesuatu yang mengerikan namun tidak dapat dijelaskan.


Sedangkan empat musuhnya itu masih tidak dapat mengetahui daya semacam apakah yang telah Mantingan berikan kepada mereka, tetapi mereka telah bertindak benar dengan saling merapatkan diri membentuk sebuah baris pertahanan.


Mantingan tersenyum tipis. Ini adalah bagiannya untuk menyerang. Meski hanya berandalkan tangan kosong dan sedikit tenaga dalam, Mantingan tidak memiliki alasan untuk ragu menyerang musuhnya. Lihatlah bagaimana dirinya dapat mengungguli mereka dalam hal nafsu pembunuh.

__ADS_1


Mantingan melancarkan serangan kilat. Berkali-kali menapak udara kosong dengan tangannya. Belasan Tapak Angin Darah meluncur ke arah lawan-lawannya yang membentuk garis pertahanan dengan kecepatan tak terkirakan.


Mantingan sangat yakin, mereka tidak cukup nekad dengan menghadapi serangannya dan lebih memilih untuk menghindar saja. Maka dari itu, seluruh Jurus Tapak Angin yang dikirimkannya itu hanya mengandung kekuatan kecil saja dan dimaksudkan sebagai serangan pengecoh.


Benar sesuai dugaan Mantingan, empat pendekar itu membubarkan barisan. Berpencar ke segala arah untuk menghindari belasan serangan tapak tersebut. Mereka sama sekali tahu bahwa keberuntungan tidak akan berpihak pada mereka jika memutuskan untuk nekad menghadapi gempuran belasan gelombang angin tersebut.


Mantingan menarik kedua tangannya ke belakang pinggang untuk melancarkan serangan yang sebenarnya, setidak-tidaknya pada salah satu pendekar yang sedang melayang di udara. Namun ia lekas menariknya kembali karena mendapatkan serangan yang tiada terduga.


Belasan jarum dan pisau beracun dilesatkan secara bersamaan oleh keempat musuhnya. Mereka bahkan sempat untuk melakukan itu ketika masih di bawah tekanan besar nafsu pembunuh, bukankah itu memang di luar dugaannya?


Mantingan pun terpaksa melentingkan tubuhnya ke belakang secepat mungkin. Telapak tangannya mengibaskan sedikit gelombang angin untuk kemudian membalikkan seluruh jarum serta pisau yang dikirimkan musuh-musuhnya.


Akan tetapi, sudah barang ketetapan bahwa Mantingan tidak cukup cepat untuk membalikkan benda-benda mematikan itu kepada pemiliknya. Sudah tentu mereka pula berlentingan untuk menghindari serangan balik itu.


Pukulan tapak maut itu berhasil mengenai musuhnya dengan cukup telak meski orang itu hampir berhasil memecahkan gelombang angin itu secara keseluruhan, sayangnya dia hanya mengurangi sedikit dari daya mematikan Tapak Angin Darah itu.


Selagi orang itu terempas kuat di udara, Mantingan kembali menghadapi serangan beruntun berupa belasan pisau terbang.


Tentu saja serangan itu dapat menjadi serangan yang sangat amat mematikan. Betapa pun, Mantingan tidak dapat membuat gerakan lincah untuk menghindari pisau-pisau itu selama ia masih berada di udara.


Kaki Mantingan tidak memiliki pijakan sama sekali, dan udara kosong bukanlah sesuatu yang cukup keras serta kuat untuk dapat dijadikan pijakan.

__ADS_1


Akan tetapi, janganlah lupakan Mantingan bahwa dapat memutarbalikkan arah serang pisau-pisau tersebut menjadi kembali ke pemiliknya dengan kecepatan dua kali semudah mengibaskan tangannya saja. Jika ia bisa melakukan itu, untuk apakah Mantingan menghindar?


Pisau-pisau itu berbalik arah. Kibasan tangan Mantingan yang terlihat enteng dan ringan itu ternyata membawa angin yang sangat besar hasil dari percampuran Ilmu Mengendalikan Angin, Jurus Tapak Angin Darah, serta pula Jurus Membelah Angin. Begitulah pisau-pisau tersebut berbalik membahayakan pemiliknya sendiri.


Akan tetapi meskipun belasan pisau terbang itu melesat dengan kecepatan tiada terkira, hanya ada sebilah pisau saja yang mengenai sasaran. Itupun tidak berdampak terlalu banyak, sebab mereka telah mempertimbangkan matang-matang untuk tidak lagi mengirimkan benda-benda beracun kepada Mantingan.


Semua kejadian itu sebenarnyalah hanya berlangsung lima kejap mata saja. Orang-orang awam yang menonton dari luar penginapan sebenarnya tidak mendapatkan apa pun selain kelebatan-kelebatan yang kabur. Namun ketika sesosok tubuh jatuh dari udara, mereka lantas tercengang.


Sementara itu, pertarungan terus berlanjut.


Ketiga musuh yang masih bertahan kini menyerang Mantingan menggunakan ilmu andalan mereka, yang tidak lain dan tidak bukan adalah ilmu berpedang.


Mereka menyerang Mantingan secara bersamaan dari tiga penjuru yang berbeda. Keadaan dengan cepat berbalik tajam, saat ini Mantingan menjadi pihak yang tersudutkan.


Serangan lawan begitu beruntun dan tidak satu kalipun mereka mengirim serangan ringan. Semuanya merupakan serangan yang mematikan!


Pedang yang mereka gunakan tergolong pedang yang besar dan berat. Mantingan hanya bisa menghindari serangan itu tanpa berani menghadapinya, ia tahu bahwa tidak akan mudah menangkis serangan mereka meski sekarang menggunakan Pedang Kiai Kedai sekalipun.


Namun karena terus menghindar itulah, secara perlahan-lahan Mantingan dipojokkan ke sudut ruangan. Mantingan berusaha bertahan sekuat yang bisa ia lakukan. Sebab telah begitu jelas diketahuinya, bahwa nyawanya akan melayang ketika dirinya sampai di sudut ruangan itu.


Mantingan semakin terdesak. Waktunya pun tidak tersisa terlalu banyak. Mengharapkan bantuan dari Bidadari Sungai Utara adalah sesuatu yang sebenarnya tidak boleh diharapkan sama sekali.

__ADS_1


Apakah kiranya yang harus Mantingan lakukan untuk menyelamatkan nyawanya sendiri yang berarti pula menyelamatkan nyawa Bidadari Sungai Utara? Sebab ia tahu, jika nyawanya habis di sini, maka nyawa Bidadari Sungai Utara pun pula demikian!



__ADS_2